
Senyuman yang terpancar oleh sang gadis berperawakan kurus tinggi ini selalu menjadi pilihan kebahagiaan Ikhsan. Sejak kelas XI Ikhsan telah jatuh hati pada Olaf dengan khas kesederhanaan. Namun sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan. Olaf hanya menganggap Ikhsan tak lebih dari sekedar teman. Olaf juga tak merespon serius sebagian perasaan Ikhsan. Beginilah Olaf alasannya benar-benar membuat Ikhsan selalu terinspirasi mengejar Olaf.
Pagi ini, pemandangan pertama Ikhsan membuat paginya teramat semangat.
"Hai Olaf, gimana badan lo gak capek kan?" tutur Ikhsan sambil memegang pundak Olaf.
Olaf mengangkat pundaknya menjauhi tangan Ikhsan. "Apaan sih! Gak usah megang-megang. Gue gak papa kok."
"Jutek amat baru pagi, Neng geulis," seru Ikhsan.
"Bodo amat," tandas Olaf.
"Eh, btw, Laf, lo gak bareng Sisi tadi perginya?" tanya Ikhsan mencoba menarik perhatian Olaf.
"Enggak, gue pergi sendiri. Sisi emang belum datang ya?" tanya Olaf.
Ikhsan menggeleng lalu berkata. "Belum, biasa tuh anak jam segini udah datang."
"Iya nih, dia ketiduran gak sih!" ujar Olaf gelisah sambil menggigiti jarinya sejenak.
Ikhsan yang melihat tingkah Olaf care kepada sahabatnya, Sisi membuatnya semakin termotivasi untuk mendapatkan hati Olaf.
Jam tujuh tepat, lonceng sekolah berbunyi. Seluruh siswa di persilahkan masuk ke kelas masing-masing. Olaf beriringan bersama Ikhsan memasuki kelas tanpa Sisi.
Pelajaran pertama dimulai namun Sisi belum juga datang di kelasnya. Tiap menit Olaf mengecek ponselnya melihat kabar dari Sisi. Namun nihil tak ada balasan sama sekali darinya.
Sarah dan Riri pun melihat kegelisahan Olaf lalu bertanya. "Lo mikirin Sisi ya?" bisik Sarah disela-sela Bu Rena menjelaskan materi.
"Iya nih, dia gak balas chat gue dari tadi. Soalnya kan kemarin kami baru masuk kerja. Dia pasti kecapekan," gumam Olaf membalas pelan.
"Eh seriusan? Kalian udah masuk kerja ya kemarin? Gimana rasanya?" tanya Riri histeris tanpa melihat situasi saat ini.
"Hus! Pelan-pelan ngomongnya Ri." bisik Olaf mengedepankan jari telunjuknya ke bibir.
Semua siswa melirik Riri, dia telah menjadi pusat perhatian sekitar termasuk Bu Rena menoleh ke arah Riri.
Olaf menepuk kepalanya sambil bergumam. "Waduh, bisa berabe nih kita."
Bu Rena menghampiri mereka bertiga. Lalu menanyakan materi yang telah dijelaskannya tadi.
"OLAF, RIRI, SARAH! Apa yang kalian bicarakan? Saya sudah memperhatikan kalian sejak tadi," bentak Bu Rena.
Bu Rena memang terkenal killer di seluruh kelas. Baginya yang bersalah tetap salah dan akan mendapatkan hukuman.
"Oke, saya akan bertanya kepada kalian. Jelaskan materi yang telah saya jelaskan tadi?!" tanya Bu Rena tegas.
Bersyukur sekali, Sarah masih memperhatikan lebih kurang dari yang dijelaskan Bu Rena lalu Sarah menjawab mewakili Olaf dan Riri.
"Materi tadi ialah definisi menurut para ahli bahwa bumi itu bulat."
Sarah selamat menjawab pertanyaan Rena.
Lalu Bu Rena kembali memusatkan pertanyaan pada Olaf dan Riri.
"Kalian berdua, saya akan bertanya jelaskan definisi bahwa bumi itu bulat menurut Samuel Rowbotham?"
Olaf ternganga tak bisa menjawab pertanyaan Bu Rena. Begitu pun juga Riri dia kebingungan menjawabnya.
Ikhsan memandang Olaf lalu berbisik mencoba memberitahu jawabannya.
Olaf mengernyitkan dahi, tak mengerti apa yang dikatakan Ikhsan. Ikhsan sepertinya tak terima jika Olaf akan dihukum oleh Bu Rena.
"Yaudah, mulai detik ini. Ibu akan hukum kalian! Pergi ke perpustakaan lalu bikin resensi materi yang sudah saya jelaskan tadi!" cercah Bu Rena.
Olaf menunduk pasrah lalu dia membawa buku tulis dan peralatan lainnya bersama Riri ke perpustakaan.
Bu Rena naik darah lalu memberikan informasi kepada seluruh siswa. "Baiklah, anak-anak, hari ini kita akan kuis mendadak."
Seluruh siswa di kelas mendadak riuh dan sebal. Bu Rena memang guru yang akan selalu dibenci oleh semua siswa dengan sikap killer dan pelit akan nilai.
***
Olaf berjalan mencari buku geografi untuk mencatat sejumlah buku. Diambilnya beberapa buku lalu datang menghampiri Riri yang sudah duduk di meja bulat berjejer ini.
"Ri, menurut lo kita salah gak sih?" tanya Olaf sebal kepada Bu Rena.
"Hm, kalau gak salah, kenapa kita malah harus dihukum kayak gini. Apes banget dah, tapi ya Bu Rena mah emang gitu orangnya," balas Riri.
"Bete banget gak sih, udah nilai ulangan gue di kurangin satu poin karena tulisannya acak-acakan," tukas Olaf.
"Gilak ya, tuh orang harus perfect banget pembawaannya. Mana bisa gitu semua," caci Riri.
Walaupun mereka berdua berbincang begitu, tangannya tetap fokus untuk menulis ringkasan yang telah disuruh Bu Rena. Selama masih kelas Bu Rena berlangsung, mereka akan tetap harus berada di perpustakaan.
Beberapa menit kemudian mereka telah siap mengerjakan tugas. Riri memandang sekitar.
"Banyak juga yang terlambat hari ini ya," ucap Riri menyenggol tangan Olaf.
Olaf masih sibuk memperhatikan ponselnya. Sambil menoleh kanan kiri sudut perpustakaan.
"Laf, gue ngomong, lo dengerin gak sih!" cerca Riri.
Olaf mengangguk sedangkan matanya masih fokus mondar-mandir mencari orang.
"Lo cariin siapa sih?" tanya Riri penasaran.
"Sisi," balas Olaf.
"Dia telat? Lo tau dari mana?" tanya Riri.
"Iya dia baru bales chat gue," balas Olaf lagi.
Sementara Olaf sibuk mencari keberadaan Sisi. Ikhsan sudah datang bersama Sisi mendatangi Olaf dan Riri.
"Hoi, udah siap belum tugasnya?" kejut Ikhsan.
Olaf mendelik terkejut. "Sisi?! Ah lo dari mana aja sih? Kok bisa telat gini?" ucap Olaf sambil menarik tangan Sisi.
"Gue terlambat bangun nih tadi! Ngantuk banget," ucap Sisi.
"Yaelah lo sih, kalau alarm hidup tuh jangan ditunda lagi," tandas Olaf.
"Heh lo aja begitu, emang benar ya nasehati orang itu mudah tapi ngelakuin yang benar itu sulit," tutur Sisi.
Olaf hanya tersenyum mengiyakan perkataan Sisi. Riri hanya bingung mengapa dia menjadi orang yang tak dianggap berada di sini bersama Ikhsan.
"HEH?! Kalian berdua emang dasar gue sama Riri benar-benar dianggurin dari tadi," bantah Ikhsan.
Olaf dan Sisi sontak melihat ke arah Ikhsan dan Riri.
"Abisnya lo ngapain sih di sini, San?" tanya Olaf kesal.
Sisi membantah perkataan Ikhsan. "Lo gak boleh gitu sama Ikhsan, gini-gini dia yang pertama nemuin gue di perpustakaan."
"Idih, gue ke sini mau ngeliat Olaf bukan cari lo," tandas Ikhsan.
Riri hanya tertawa kecil mendengar percakapan sederhana mereka. Intinya ada yang menyukai tapi tidak suka. Giliran ada yang suka malah tidak disukai. Memang rumit jika sudah melibatkan perasaan.
"Dasar semua kalian bucin!" tandas Riri.
Olaf menjulurkan lidah. "Ogah, mereka berdua aja yang bucin. Gue enggak. Titik."
Lonceng pergantian pelajaran sudah berbunyi. Mereka berempat meninggalkan perpustakaan dan melanjutkan pelajaran selanjutnya. Semoga selanjutnya tidak ada yang bermasalah seperti Olaf dan Riri ketika pelajaran pertama tadi.
***
Pekanbaru, 15 April 2020
by, Indahoalkaf