
"salah putra saya sebenarnya apa?" Tanya ayah agung sembari menatap ketiga pria dihadapannya, disampingnya juga ada Angga papanya Arga.
"Putra anda dengan nekatnya menyuruh geng motor untuk menghajar kedua putra saya. Setelahnya putri anda berusaha mencelakai kekasih putra saya, sampai akhirnya membuat putra saya berbaring di rumah sakit dan nggak sadarkan diri sudah seminggu ini" ucap ayah menggebu-gebu sembari menatap dua pria seumuran dengannya dan satu anak muda.
"Pak agung maafkan putra saya, dia terlalu dibutakan oleh cinta" ucap Aldi papanya Aldo.
"Apa dengan cara kekerasan seperti kemarin bisa buat kamu dapetin hati Jessica lagi?" Kini Angga juga angkat bicara, jujur ia juga sama kesalnya dengan agung. "Kelakuan kamu itu sudah seperti preman saja, saya akan perkarakan pengeroyokan itu ke pihak berwajib. Enak saja kamu udah buat putra saya babak belur, dan kamu masih bisa enak-enakan"
"Tolong pak Angga jangan laporkan putra saya" mohon Aldi.
"Enak saja kamu. Putra saya babak belur gara-gara putra kamu. Dua lawan 20 orang, kamu bisa bayangkan nggak bagaimana wajah kedua putra kami" ucap Angga menggebu-gebu sembari menggebrak meja.
"Tenang ngga" ucap ayah agung sembari mengelus punggung papa Angga pelan.
"Aku benar-benar kesal Gung. Bisa-bisanya didunia ini ada manusia nggak tau diri seperti mereka"
"Lantas apa alasan putri kamu ingin mencelakai kekasih putra saya?" Tanya ayah agung kepada daddy-nya Lisa.
"Putri saya terbakar api cemburu pak. Karena Aldo meskipun sudah menjalin hubungan dengan putri saya selama bertahun-tahun tapi malah berselingkuh dengan Jessica"
"Mana mungkin Jessica selingkuh dengan Aldo, sedangkan Jessica adalah kekasih putra saya" bela ayah agung.
"Itu jauh sebelum Jessica menjadi kekasih putra pak agung. Jadi sebelum berpacaran dengan Jeff, Jessica sempat berpacaran dengan Aldo. Padahal waktu itu status Aldo masih menjadi kekasih Lisa putri saya"
"Kelakuan kamu dan pacar kamu benar-benar seperti bocah, padahal dengan usia kalian saat ini sudah tidak bisa dikatakan sebagai bocah. Kalau sampai putra angkat saya kenapa-kenapa, saya pastikan keluarga kalian akan menderita" ucap papa Angga penuh dengan penekanan. "Gung ayo pulang, buang-buang waktu ngomong sama manusia yang kelakuannya kayak setan" ucap papa Angga sembari menarik tangan ayah agung, untuk segera meninggalkan cafe tempat mereka berada sekarang.
*******
"Jess makan dulu" ucap Arga yang baru saja kembali dari kantin rumahsakit bersama dengan jordan.
"Gue belum laper pak ketos"
"Ckk loe harus jaga kesehatan Jess. Gue nggak mau Jeff sedih kalau loe nyiksa diri kayak gini"
"Iya kak makan, kakak jadi kurusan sekarang" timpal Jevan yang sedang asyik memakan makanannya sembari duduk di sofa bersama dengan jordan dan juga Jovan.
"Kak makan, kalau kakak sakit Abang pasti bakal sedih. Aku suapin ya" kini Jovan juga angkat bicara, pria dingin itu bangkit dari duduknya dan langsung berjongkok disamping Jessica.
Jessica tersenyum melihat tingkah manis Jovan. Adik Jeff yang satu itu terkenal sangat cuek, tapi lihatlah sekarang ia sangat manis sekali membuat Jessica gemas sendiri.
"Nggak usah dek, kakak bisa makan sendiri" ucap Jessica sembari menangkup kedua pipi Jovan.
"Aku nggak mau kakak sakit, cukup Abang aja yang sakit. Jangan ada lagi" ucap Jovan dengan berkaca-kaca, sejujurnya ia sangat merindukan abangnya. Ini sudah hari ke-9 setelah insiden itu, akan tetapi abangnya masih saja seperti enggan untuk membuka matanya.
Tubuhnya yang biasanya kuat kini terlihat pucat dan mengurus. Tubuh itu sudah tidak Sekokoh waktu dulu sering menggendong dirinya, Jevan, ataupun mas Jordan. Jovan benar-benar rindu abangnya.
"Abang bangun, aku kangen" lirih Jovan sembari menunduk.
Jovan menunduk bukan tanpa alasan, ia berusaha menyembunyikan air matanya yang kini sudah mulai menetes. Dari awal Jovan tidak pernah menangis, karena Jeff pernah bilang kalau anak laki-laki itu nggak boleh cengeng. Dan Jovan adalah adik Jeff yang paling susah untuk menangis, tidak seperti si bontot Jevan yang akan menangis jika kondisi hatinya buruk atau ketika ia sedang terharu.
"Jangan nangis, anak cowok nggak boleh cengeng" ucap Arga sembari ikut berjongkok dan merangkul Jovan.
"Mas tau. Mas juga merasakan hal yang sama, tapi kita harus kuat dek. Jeff pasti sedih kalau lihat kita sedih kayak gini, mas udah pernah bilang kan jangan sampai kita nangis didekat Jeff. Dia bakal ikutan nangis kalau denger kita nangis"
Jovan mengangguk sembari menyembunyikan kepalanya pada dada bidang Arga, ia berusaha menyembunyikan tangisnya disana. Pelukan Arga hangat, sama nyamannya dengan pelukan Jeff.
Tak jauh dari situ, Jevan yang tengah duduk di sofa juga ikut menangis melihat saudara kembarnya tengah menangis. Jevan pun juga ikut memeluk Jordan yang kini duduk disampingnya.
"Cengeng banget sih bontot"
"Kangen Abang mas"
"Ckk drama banget sih kalian berdua" ucap Jordan sembari berdecak kesal, sejujurnya saja hati Jordan seperti tengah diremat oleh tangan tak kasat mata ketika melihat kedua adiknya menangis seperti ini, hatinya benar-benar sesak. Rasanya ia juga ingin ikutan menangis, akan tetapi adiknya butuh dirinya, Jordan berusaha kuat untuk kedua adik-adiknya.
"emangnya mas Jordan nggak kangen sama Abang?" Tanya Jevan sembari mengurai peluknya.
"Kangen" jawab Jordan lirih, bahkan mungkin disini Jordan yang paling terpukul, karena selama ini Jordan yang paling dekat dengan Jeff.
"Gue nggak pernah lihat loe nangis mas" ucap Jovan sembari mengurai peluknya dengan Arga.
"Loe nggak tau gimana hancurnya gue jov. Sesedih apapun gue, gue berusaha buat tahan biar nggak nangis. Gue nggak mau kelihatan lemah di depan kalian atau pun didepan kakak"
Dengan segera Jevan memeluk Jordan kembali. Jevan paham betul bagaimana hancurnya Jordan, karena memang masnya itu yang paling dekat sama Abang.
"Nangis aja mas, jangan ditahan"
"Keluarin dek, cowok nangis bukan berarti lemah kan. Terkadang kita juga perlu nangis, agar lebih lega" ucap Arga sembari menepuk pundak Jordan.
"Nggak mas. Abang pernah bilang kalau anak cowok itu nggak boleh cengeng. Gue nggak mau nangis, gue tau Abang kuat, Abang pasti bakal sembuh dan berkumpul lagi bareng kita"
"Itu pasti" jawab Arga sembari menarik Jordan dan juga Jevan kedalam pelukannya.
********
"pak saya mohon jangan lakukan ini" mohon Aldi sembari berjongkok dihadapan Angga.
setelah kembali dari cafe, Angga langsung mengakusisi perusahaan milik keluarga Aldo. papa Angga terlampau kesal, beliau bukan ayah agung yang mempunyai hati sesabar malaikat.
"pergi dari hadapan saya, dan nikmatilah saat-saat terakhirmu bersama putramu sebelum dia diseret ke kantor polisi"
"saya mohon, maafkan kesalahan putra saya"
"apa dengan saya memaafkan putra kamu, putra angkat saya bisa sehat kembali dan nggak bergantung dengan alat-alat itu. Bahakan kini hidup Jeff hanya bergantung pada alat-alat medis itu"
"tapi Jeff masuk rumah sakit bukan kesalahan putra saya pak"
"kamu belum sadar juga, kalau sumber masalah ini adalah putramu yang bodoh itu. pergi, saya tidak mau melihat mukamu lagi" final papa Angga sembari pergi meninggalkan papanya Aldo.
"saya pastikan putramu dan juga kekasihnya akan mendekam di penjara, tidak peduli walaupun mereka masih dibawah umur" ucap Suho yang kebetulan tengah berkunjung ke perusahaan papa Angga.
"pak saya mohon jangan, Aldo adalah putra saya satu-satunya" ucap Aldi dengan memelas, namun itu sama sekali tidak membuat Suho goyah. mas Suho akan tetap dengan pendiriannya, mengingat hal itu telah membuat nyawa adik iparnya nyaris melayang, bahkan kini nyawa Jeff berada diujung tanduk. Suho hanya bisa berharap semoga Tuhan memberikan keajaibannya untuk Jeff.