JEJE (Perfect Boyfriend)

JEJE (Perfect Boyfriend)
tak ingin egois



Usai pulang sekolah Jessica langsung pergi menuju rumah sakit. Ini sudah hampir seminggu, akan tetapi Jeff masih enggan membuka matanya. Dan selama itu pula Jessica selalu menemaninya, bersama dengan arga. Namun hari ini mereka memutuskan untuk masuk sekolah setelah kemarin kak Irene marah besar karena Arga dan Jessica sangat keras kepala dan nggak mau masuk sekolah.


"Hai sayang apakabar? Kamu belum juga buka mata kamu? Belum cukup juga tidurnya. Aku kangen Jepri" ucap Jessica sembari mengelus rambut Jeff.


Kekasihnya yang selalu menyambutnya dengan senyum manis itu sekarang terlihat sangat mengenaskan. Wajahnya pucat dan terdapat beberapa lebam di pipinya, walaupun begitu tak mengurangi kadar ketampanan Jeff. Jeff benar-benar sempurna, mungkin Tuhan menciptakannya ketika sedang bahagia, ya itu fikir Jessica.


Karena kalau boleh jujur Jessica selalu terpesona akan wajah tampan itu, itu benar-benar sangat sempurna menurut Jessica.


"Bangun sayang aku kangen. Biasanya kamu selalu tersenyum ke aku, tapi sekarang kamu hanya menutup mata kamu" ucap Jessica sembari meneteskan air mata, hingga membasahi tangan Jeff yang kini tengah ia genggam.


"Kak Abang ikut nangis" ucap Jevan yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat kedua sudut mata abangnya basah dan mengalir buliran air mata.


"Jeff sayang kamu dengar aku?" Tanya Jessica sembari mengelus rambut Jeff.


Ini memang untuk pertama kalinya Jessica menangis di depan Jeff. Karena biasanya Arga akan melarangnya untuk menangis. Arga selalu bilang 'jeff bakal sedih kalau lihat loe kayak gini Jessica, dia paling nggak suka lihat kamu nangis. Jadi jangan nangis di depan dia ya'


Selama ini Jessica masih bisa menahan untuk tidak menangis di depan Jeff. Namun kali ini ia gagal, hatinya kembali diremas ketika ingat bahwa kekasihnya itu telah menutup mata hampir satu Minggu.


"Sayang aku tau kamu denger aku, ayo dong buka mata kamu. Aku bener-bener kangen sama kamu, apa kamu nggak kangen sama aku?"


Yang kini Jessica lihat air mata itu semakin sering jatuh, namun tak ada tanda-tanda kekasihnya itu akan membuka mata.


"Jangan terlalu dipaksain buat buka mata kamu kalau itu sulit. Aku akan tetap nungguin kamu kok, aku janji sama kamu" ujar Jessica sembari mencium pipi Jeff.


Jessica tak ingin egois. Ia tak ingin membebani Jeff, selama Jeff masih ada sampingnya itu lebih dari cukup. Sekarang yang perlu ia lakukan adalah semakin sering berdoa meminta kepada Tuhan, supaya Tuhan lekas memberi kesembuhan untuk Jeff.


"Aku tau kamu kuat. Dan asal kamu tau aku wanita yang beruntung karena bisa dapetin hati kamu"


"Mas aku pengen satu yang kayak kak Jessica" ucap Jevan sembari memeluk Arga yang entah kapan datangnya, karena Jessica terlalu fokus kepada Jeff.


"Cheryl mau kamu kemanain?"


"Buang aja. Aku maunya yang kayak kak Jessica" jawab Jevan dengan manja.


"Palelu dibuang. Loe fikir anak orang sampah dek" Arga menempeleng kepala Jevan dengan gemas, bisa-bisanya si bontot itu ngomongnya asal nyeplos saja.


*******


"Loe tau nggak yang loe lakuin ini bener-bener gila"


"Loe terlalu nekat. Gimana kalau Jeff mati, hukuman loe bisa berat"


"Loe tenang aja. Bokap gue pasti bisa keluarin gue dari sini"


"Bokap loe nggak ada apa-apanya dibandingkan keluarga yaunatama" ucap bambam dengan kesalnya.


"Sekaya apa sih dia?"


"Bahkan satu sekolah kita nggak akan ada yang bisa nandingin kekayaan keluarga yaunatama" bambam benar-benar pusing menghadapi manusia yang kini duduk dihadapannya. "Apalagi keluarga Gultom juga ada di pihak mereka"


"Siapa keluarga Gultom?"


"Keluarganya Arga. Masih ditambah lagi ada keluarga Davis, dan keluarga tunggal"


"Siapa lagi mereka?"


"Keluarga Davis keluarganya Jessica, dan keluarga tunggal keluarganya Bayu. Loe lupain kalau empat keluarga itu adalah pengusaha terkenal dan mempunyai kekuasaan tinggi Lisa"


Lisa benar-benar tak memikirkan hal itu. Yang ia pikirkan waktu itu hanya ingin melenyapkan Jessica, agar gadis itu tak menggangu Aldo lagi. Namun hasil perbuatan nekatnya itu sekarang berbuntut panjang. Bahkan sampai saat ini Daddynya maupun Aldo sama sekali belum menjenguk dirinya, hanya bambam yang mau melihatnya. Ini sudah kedua kalinya bambam menjenguknya setelah hampir satu Minggu mendekam di penjara.


"Bokap loe gimana?"


"Belum kesini"


"Iyalah. Lebih baik Bokap loe kehilangan loe, dari pada harus bangkrut dalam hitungan detik"


"Maksud loe?"


"Jangan goblok Lisa, dengan kekuasaan yang dimiliki keluarga yaunatama, mereka bisa buat keluarga loe bangkrut hanya dalam hitungan detik" ucap bambam dengan tersenyum smirk.


"Sialan" umpat Lisa dengan kesal.


"Gue balik dulu. Gue cuma bisa berdoa, semoga loe nggak membusuk di penjara Lisa" ucap bambam dengan menepuk pundak Lisa sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan kantor polisi.


"Gue nyesel Tuhan. Tolong, gue masih pengen hidup bahagia" monolog Lisa dengan menjambak rambut nya sendiri.