JEJE (Perfect Boyfriend)

JEJE (Perfect Boyfriend)
jomblo sejak zigot



"woyy pagi-pagi ngelamun aja"


"anj*ing kaget njir" ucap jordan sembari mengelus pelan dadanya, lucas ini bener-bener ya kalau nggak ngegas sehari aja kelihatannya nggak afdol.


"sengaja, ntar loe kesambet kalau bengong mulu" ucap lucas sembari ngeloyor pergi.


"loe kenapa sih jo?" ucap dery sembari menepuk bahu jordan.


"gapapa"


"terus kenapa muka di tekuk gitu"


"ngantuk gue"


"emang nggak tidur?"


"tidur tadi habis subuh"


"buset loe ronda apa gimana?"


"main game ama si jovan"


"elah bocah kurang kerjaan"


"pergi kemana si titan tadi?"


"biasa nyamperin si yuqi"


"oh"


"ehh iya gimana si jihan?"


"gimana apanya?"


"haduh masih aja pura-pura goblok" ucap hedery sembari memutar bola matanya malas.


"ya pertanyaan loe nggak jelas"


"maksud gue gimana loe tertarik nggak?"


"biasa aja" jawab jordan sembari kembali membuka bukunya yang tadi sempat ia abaikan.


sedangkan dery tampak melongo dengan jawaban jordan. bisa-bisanya temannya itu bilang kalau jihan biasa aja, padahal jihan termasuk cewek terpopuler di angkatan mereka. dery bener-bener nggak habis fikir sama jordan, apa hatinya terbuat dari batu sampai-sampai gadis cantik seperti jihan nggak mampu meruntuhkan pertahanannya.


"ngapain loe lihatin gue sambil mlongo gitu, udah kayak orang goblok aja"


"loe tuh yang goblok, jihan cantiknya kebangetan gitu loe bilang biasa aja, mata loe suek jo"


"bachott"


"kenapa sih betah banget jomblo, loe jomblo sejak zigot bocah. percuma kegantengan loe"


"bachot lu bocah. gue kan udah pernah bilang kalau gue nggak bakal pacaran sebelum abang gue punya pacar"


"yaudah loe suruh bang jeff cari cewek"


"abang gue lagi deket sama kak jessica, tapi bodohnya abang gue lelet banget nggak mau gerak cepet"


"iya sama kayak elo goblok" ucap dery sembari menoyor kepala jordan.


"pala gue nih, di fitrahin ama bokap gue. jangan asal noyor aja lu"


"abisnya gue gemes ama loe''


******


teng.... teng.... teng


bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaringnya. sebenarnya belum masuk jam pulang sekolah, akan tetapi para guru beserta staf sedang mengadakan rapat jadi seluruh siswa-siswi Sma galapagos dipulangkan terlebih dahulu.


"jes gue duluan ya" ucap siska sembari bangkit dari kursinya.


"pasti mau kencan" ucap jessica sembari menghembuskan nafasnya pelan, padahal barus aja jessica hendak mengajak sahabatnya itu pergi ke mall.


setelah kepergian siska, jessica kembali mengemasi barang-barangnya.


"hai mau pulang bareng nggak?"


"jeff, emang nggak ngerepotin?"


"enggak lah"


"mau deh kalau gitu" ucap jessica sembari tersenyum manis.


"astaga cantik banget sih anaknya deny"


"jeff, papa aku itu" ucap jessica sembari mendelik tajam menatap jeff, jessica benar-benar tidak habis fikir ketika jeff memanggil papanya tanpa embel-embel om atau apapun.


"iya papa kamu, calon mertua aku kan!"


"apaan sih" ucap jessica sembari memalingkan mukanya, padahal jeff hanya ngomong seperti itu tapi mampu membuat jessica blushing.


"udah ayo pulang, bentar lagi ujan"


"arga mana?"


"udah ada aku masih nyariin yang lainnya"


"kan biasanya kalian pulang bareng"


"arga pulang duluan, katanya mau jemput tante sila di rumah nenek"


"oh gitu, yaudah ayo kita pulang" ucap jessica sembari menggandeng tangan jeff keluar dari kelas.


"ciee jessica kelihatannya udah move on ya dari aldo" ucap atiqah si ratu gosip yang satu kelas sama aldo.


"diem loe atikah"


"atiqah pakek Q ya jessica"


"bodo amat. mau qiuu-qiuu mau apapun terserah loe atikah" ucap jessica sembari kembali berjalan dan menarik tangan jeff, sebelum dia dibuat gila dengan atiqah.


"kenapa sih kamu kalau sama atiqah sensi banget"


"atiqah itu emang jenis spesies yang suka bikin darah tinggi jeff"


"oh gitu" ucap jeff sembari manggut-manggut.


"kok kamu tau sih kalau aku suka sensi sama atikah?"


"apa sih yang nggak aku tau dari kamu"


"gombal" ucap jessica sembari mencubit gemas pipi bolong jeff.


"yahh ujan. kita disini aja dulu ya, aku tadi nggak bawa mobil. nanti kalau hujan-hujanan kamu sakit" ucap jeff ketika hujan tiba-tiba saja turun dengan derasnya.


"gapapa ayo pulang, aku suka hujan" jawab jessica sembari menarik tangan jeff untuk menerobos derasnya hujan.


setalah membiarkan tubuhnya terguyur air hujan jessica malah menari-nari layakkan anak kecil. jeff benar-benar nggak ngerti dengan gadis cantik di depannya itu, kenapa gadis cantik itu terlihat bahagia sekali ketika sedang main hujan-hujanan.


"jessi jangan kayak gitu nanti kamu jatuh"


"kamu nggak suka hujan sih jeff, makannya kamu nggak bisa menikmatinya"


jeff rasa jessica benar, semenjak kepergian bunda jeff paling anti dengan yang namanya hujan. anti ya bukan benci, padahal dulu jeff paling suka dengan yang namanya hujan dan senja. akan tetapi setelah kepergian bunda, jeff seperti tidak bersahabat dengan hujan.


itu semua bukan tanpa alasan. karena dulu sewaktu bunda pergi menghadap sang pencipta hujan juga turun dengan derasnya, seolah-olah langit juga ikut menangis atas kepergian bunda.


"mungkin kamu benar" ucap jeff setelah sekian lama bungkam.


"kasih aku alasan kenapa kamu nggak suka hujan" ucap jessica sembari berdiri tepat di depan jeff dan menatap mata cowok itu.


"karena hujan mengingatkan aku akan sakitnya kehilangan"


"kehilangan?" beo jessica.


"iya kehilangan"


"kehilangan apa?" tanya jessica dengan was-was entah mengapa ia takut kalau jeff akan menyebutkan nama gadis lain.


"kehilangan bunda. dulu sewaktu bunda pergi, langit juga ikut menangis"


"kamu harus ikhlas jeff"


"aku sudah ikhlas jess, tapi aku belum bisa melupakan kejadian itu"


jessica segera memeluk jeff, berusahan menyalurkan kekuatannya untuk cowok itu.


"kamu harus belajar berdamai dengan keadaan, ada aku disini"


degg


jantung jeff mencelos mendengar ucapan jessica, entah mengapa ia merasakan kehangatan dihatinya.


"apa kamu yakin mau berada di samping aku?" tanya jeff sembari membalas pelukan jessica.


"iya aku mau"


"serius"


"serius jeff" ucap jessica sembari mengurai pelukannya.


"kalau begitu jadilah kekasihku"


apa? barusan jeff meminta dirinya untuk menjadi kekasihnya. apa jessica tidak salah dengar, oh Tuhan rasanya jantung jessica seperti mau melompat saja.


"kamu tadi bilang apa jeff?" tanya jessica siapa tau saja ia tadi salah dengar.


"apa kamu mau jadi kekasihku? menjadi wanitaku?"


"apa kamu serius?"


"aku sangat serius"


jessica menatap mata jeff berusaha mencari kebohongan didalamnya namun hasilnya nihil, jessica tidak menemukannya. tatapan jeff mengatakan kalau cowok itu tengah bersungguh-sungguh.


"kamu nggak perlu jawab sekarang jessi" ucap jeff sembari mengelus pelan pipi jessica.


"a,,,, aku..."


"aku kan udah bilang, kamu nggak perlu jawab sekarang" ucap jeff memotong ucapan jessica.


"hihh aku belum selesai ngomong, main potong aja" ucap Jessica sembari memukul lengan jeff.


"hehe iya maaf" ucap jeff sembari terkekeh.


"aku mau jadi pacar kamu"


"kamu serius?"


"duarius" ucap jessica sembari tersenyum.


"mulai sekarang kamu milikku, kamu wanitaku" ucap jeff sembari memeluk jessica dan membawanya berputar-putar layakkan film Bollywood.


sedangkan dari lantai dua ada aldo yang mengawasi keduanya dengan tatapan sengit, bahkan ia mengepalkan tangannya.


"brengsek, dulu gue yang selalu nemenin jessica hujan-hujanan. gue yang selalu bisa nikmati senyum manisnya, tapi semenjak ada cowok brengsek itu semuanya jadi berubah" gumam aldo sembari mengepalkan kedua tangannya.