
"Mak supi yuk laper nih" ucap Galang sembari mengelus perutnya.
"Gas" timpal Bayu.
Siang tadi mereka memang melewatkan makan siang karena harus mengerjakan tugas dari pak Bambang.
"Sialan gara-gara pak tuyul gue kelaparan" ucap Heru kesal.
"Emang paling bang*at tuh si botak"-doni.
"Rasanya pengen gue kulitin tuh palanya yang kinclong. Bisa-bisanya nyuruh ngerjain tugas segitu banyak dan habis istirahat udah harus di kumpulin"-ciko.
"hey udah jangan marah-marah terus. Nggak baik tau ngata-ngatain guru kayak gitu"-keyra.
"Ckkk manusia satu ini stok sabarnya emang selalu berlebihan"-cahyo.
"Key loe tuh kalau punya stok sabar bagi-bagi napa ama kita-kita"-siska
"Udah-udah dari pada kalian ngedumel Mulu mending kita langsung gas warung Mak supi"-jeff.
"Gas" ucap Doni penuh dengan semangat.
Kini rombongan siswa-siswi kelas 12 IPA 1 tengah menuju warung pecel lele Mak supi.
Sesampainya di warung makan Mak supi mereka semua disambut dengan ramah oleh sang pemilik warung.
"Wah datang rame-rame gini pada kangen sama mamak ya!" Ucap Mak supi dengan penuh percaya diri.
"Kita laper Mak. Ngapain juga kangen sama mamak"-ciko.
"Ealah mas Ciko, mulutnya suka jujur banget. Nggak bisa apa bikin mamak seneng dikit"
"Kagak Mak. Bohong dosa soalnya"
"Kata siapa bohong dosa ko?"-doni.
"Kata nenek gue. Gue sih nurut aja, padahal gue sendiri kagak tau tuh bentukannya dosa kayak apa" jawab Ciko dengan entengnya.
"Makanya bersyukur karena Allah tutupin dosa-dosa kalian. Coba kalau Allah perlihatkan dosa-dosa kalian, bakal kayak apa bentukan kalian"
"Iya pak ustadz Jeffry" ucap Arsya dan doni secara bersamaan.
Setelah pesanan mereka datang, mereka semua segera melahap makanan masing-masing. Mereka nampak makan dengan lahapnya sudah seperti orang yang tidak makan selama satu Minggu saja.
"Alhamdulillah kenyang" ucap doni sembari mengelus perutnya yang menjadi agak sedikit membuncit karena kekenyangan.
*****
Setelah selesai makan mereka pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing-masing, karena langit sudah mulai gelap.
"Jeff aku pengen itu" ucap Jessica sembari menunjuk penjual ikan di seberang jalan.
"Yaudah aku beliin, kamu tunggu bentar ya" ucap Jeff sembari mengacak gemas puncak kepala Jessica.
"No, aku beli sendiri. Kamu tunggu bentar" ujar Jessica sembari berlalu pergi.
"Lah mau kemana tuh bocah?"-doni
"Beli ikan"
"Buset udah kayak bocah aja si Jessica, untung cakep" timpal Nayla sembari menyandarkan kepalanya di pundak Heru.
"Capek?" Tanya Heru kepada Nayla.
"Ngantuk" jawab Nayla sembari mengeratkan pelukannya.
"Yaudah bobok"
"Jessi awas" teriak Arga begitu melihat sebuah mobil sport melaju dengan kecepatan tinggi, sedangkan kini Jessica sudah berada tepat ditengah jalan sembari menenteng ikan yang baru saja ia beli.
Dengan sekuat tenaga Jeff berlari kearah Jessica dan langsung mendorong gadis itu.
"BRUK" semua mata tertuju pada Jeff ketika tubuh cowok itu tertabrak dengan kerasnya bahkan sampai terpental cukup jauh.
"JEFF" teriak mereka semua secara bersamaan.
Sedangkan Jessica yang masih syok hanya bisa diam mematung sembari menatap sang kekasih yang kini sudah bersimpah darah.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya Arga berlari dan langsung memeluk tubuh Jeff.
"Jeff loe harus bertahan ya, loe nggak boleh ninggalin gue sendirian" ucap Arga dengan suara bergetar, sekuat tenaga ia membendung air matanya agar tidak keluar namun usahanya sia-sia air mata itu tetap saja jatuh mengalir membasahi pipinya.
"Hey kembaran gue kenapa cengeng gini sih. Nanti kalau gue nggak ada, gue titip kesayangan gue ya" ucap Jeff dengan lirih.
"Loe ngomong apa sih bang*at" ucap Doni dengan emosi. "Bereng*sek ayo kita bawa Jeff ke rumah sakit njing, jangan pada diam aja" ucap Doni sekali lagi.
Dengan segera Arga menggendong tubuh Jeff dan membawanya masuk kedalam mobil Doni, di belakangnya ada Jessica yang sudah menangis gadis itu tidak berbicara apa-apa namun air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
"Sya loe bawa motor Arga, dan loe Yo bawa motor Jeff" perintah Heru kepada Arsya dan juga Cahyo.
Dengan segera mereka mengikuti mobil Doni yang tengah membawa Jeff menuju rumah sakit terdekat. Dan sebagian lagi tetap stay di TKP karena pelakunya telah langsung ditangkap oleh mereka.
Disepanjang perjalanan air mata Jessica tak pernah berhenti mengalir, tubuhnya pun bergetar dengan hebatnya.
"Heyy cantik jangan nangis" ucap Jeff lirih.
"Kamu harus janji sama aku, kamu harus bertahan. Kamu nggak boleh ninggalin aku sendirian" ucap Jessica dengan suara seraknya.
"Aku janji sayang" jawab Jeff dengan tersenyum. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki Jeff berusaha menghapus air mata jessica, Jeff paling benci melihat gadisnya menangis. Karena ini untuk pertama kalinya ia melihat Jessica menangis sampai sesegukan.
"Bertahan, kita sebentar lagi sampai" ucap Arga sembari menggenggam sebelah tangan Jeff.
"Hey kembaran loe harus janji sama gue. Jagain gadis gue kalau gue nggak ada"
"Anj*Ng loe ngomong apa sih Jeff" ucap Arga emosi bahkan urat-urat pada lehernya terlihat menonjol.
"Jeff loe sekali lagi ngomong yang nggak-nggak gue bunuh loe" ucap Doni penuh dengan penekanan. sedari tadi cowok itu juga diselimuti rasa cemas, bahkan Doni membawa mobil sudah seperti orang yang kesetanan.
Setelah sampai di rumah sakit Arga segera menggendong tubuh Jeff sedangkan Doni sudah berlari terlebih dahulu untuk meminta bantuan.
"Sus tolong teman saya sus" ucap Doni dengan paniknya.
"Ini kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya perawat yang baru saja Doni panggil.
"Teman saya tertabrak mobil, tolong"-doni.
"Tolong kakak saya sus" ucap Arga sembari meletakkan Jeff diatas blangkar.
Dengan segera Jeff dibawa masuk kedalam UGD.
"Mohon tunggu dulu di luar" ucap salah satu suster begitu Arga ingin menerobos masuk.
"Tapi saya pengen menemani kakak saya sus"
"Mas nya tenang saja. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan kakak anda. Mohon tunggu dulu di luar" ucap sang suster sembari mulai menutup pintu UGD.
"Kita doain yang terbaik buat Jeff" ucap Doni sembari menepuk pundak Arga.
Sementara Jessica sudah duduk di kursi tunggu. Tubuhnya bergetar hebat, baju dan rok sekolahnya sudah penuh dengan noda darah.
"Tuhan tolong selamatkan Jeff. Aku nggak bisa hidup tanpa dia" lirih Jessica sembari meremat rok yang tengah ia kenakan. Seragam sekolah yang sekarang ia kenakan penuh dengan noda merah, begitupula dengan Arga seragam cowok itu juga tak jauh berbeda dari Jessica.
Semua orang yang berada dirumah sakit nampak terlihat kacau apalagi dokter yang menangani Jeff sedari tadi tak kunjung keluar.
"Arga gimana keadaan Jeff dek?" Tanya kak ital yang baru saja datang bersama dengan bang kai.
"Aku belum tau kak. Dokternya belum keluar juga dari tadi" jawab Arga masih dengan memeluk kedua lututnya, tubuhnya masih nampak bergetar ada rasa takut pada diri Arga, sungguh ia takut jika Jeff kenapa-napa.
Tanpa aba-aba kak ital langsung berjongkok dan langsung memeluk Arga. Dapat Arga rasakan bahwa tubuh kak ital sama seperti dirinya.
"Kak aku harus bilang apa ke ayah. Aku nggak bisa jagain Jeff" ucap Arga dengan suara bergetar, air matanya lagi-lagi lolos begitu saja.
"Kamu belum kabari ayah?" Tanya kak ital sembari mengurai pelukannya, dengan segera Arga menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan kak ital.
"Aku baru hubungi kakak. Bahkan aku juga belum kabarin adik-adik kak"
"Kamu bisa tolong aku hubungi ayah dan adik-adik" ucap kak ital sembari melirik bang kai yang kini tengah memeluk keyra yang sedari tadi juga terus menangis.
"Iya sayang" jawab kai.
Dengan segera kai pun menghubungi ayah agung dan juga adik-adik kak ital yang lainnya.
"Gimana kak?" Tanya keyra setelah kau selesai menghubungi keluarga krystal.
"Ayah dan yang lain akan segera kemari"
Tak lama pintu ruang rawat Jeff terbuka nampak seorang dokter keluar dengan wajah lesu.
"Dok gimana keadaan Jeff?" Tanya Arga sembari bangkit dari duduknya. Kedua tangannya meremas pundak dokter yang tadi menangani Jeff. "Dok jawab saya, gimana keadaan jeff. Dia baik-baik aja kan dok?"
"Pasien mengalami benturan yang cukup keras, dan juga kehilangan cukup banyak darah. Pasien mengalami koma" jawab dokter itu dengan wajah yang nampak lemah.
"Nggak, dokter bohong. Jeff pasti baik-baik aja" ucap Arga sembari menerobos masuk, sedangkan yang lainnya nampak menangis begitu mendengar penuturan dokter.
Keyra sedari tadi tak pernah melepas pelukannya kepada Jessica, temannya itu memang tidak menangis lagi tapi keyra tau kalau Jessica sangat hancur saat ini, tatapan matanya pun nampak kosong.
"Jess kita doain aja yang terbaik buat Jeff ya. Karena saat ini hanya itu yang kita bisa" ucap keyra sembari membelai lembut rambut Jessica.
Namun Jessica sama sekali tidak meresponnya, dia hanya diam sembari menerawang jauh kedepan. Entah apa yang saat ini Jessica pikiran.
"Kak Abang gimana?" Tanya Jordan, dan si kembar yang baru saja datang dengan nafas terengah-engah.
"Abang kalian koma" jawab kai dengan lirih, sedangkan kak ital hanya menangis dalam pelukan bang kai, sungguh kabar dari dokter tadi membuatnya hancur.
"Abang" desah Jevan sembari meluruhkan tubuhnya ke lantai, rasanya semua ini seperti mimpi. Pagi tadi ia masih bisa bercanda bersama abangnya, bahkan beberapa jam lalu mereka masih bertemu di sekolah.
Masih dapat Jevan lihat senyum meneduhkan milik abangnya. Namun sekarang ini apa! Abangnya terkulai lemah di rumah sakit, bahkan dokter mengatakan bahwa abangnya koma.
Dengan perlahan Jordan berjongkok dan langsung memeluk adik bungsunya. Sebenarnya ia sama hancurnya dengan Jevan, tapi sekuat tenaga Jordan berusaha agar tidak terlihat lemah didepan kakak, dan juga kedua adiknya.
"Kita doain yang terbaik buat Abang ya"
"Abang pasti selamat kan mas? Abang nggak akan ninggalin kita kan, Abang bakal jagain kita kayak biasanya kan mas" tanya Jevan kepada Jordan, dengan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya.
"Loe ngomong apa sih Van. Abang bukan orang yang lemah, Abang pasti bakal sembuh" ucap Jovan sembari mencengkram kerah baju kembarannya.
"Gue takut jov. Gue takut Abang nyusulin bunda, gue nggak mau kehilangan lagi"
Cengkraman tangan Jovan pada kerah baju Jevan mulai melemah. Kalau boleh jujur Jovan juga menakutkan hal itu, ia juga takut jika Abang pergi menyusul bunda, Jovan juga nggak ingin kehilangan lagi.
******
Sementara itu didalam ruang rawat Jeff Arga nampak berdiri di belakang pintu. Seolah kakinya mengeras, untuk berjalan saja sulit.
Dari tempatnya berdiri sekarang dapat Arga lihat Jeff terbaring lemah, dengan alat-alat medis yang menempel pada tubuhnya.
"Jeff bangun, jangan buat gue takut. Gue mohon buka mata loe jeff"
Dengan susah payah Arga berusaha melangkahkan kakinya mendekat pada ranjang Jeff.
Dengan lembut diusapnya kepala Jeff, air matanya kembali mengalir deras. Sungguh Arga hancur, bagi Arga Jeff sudah seperti saudaranya sendiri.
"Bangun Jeff, loe pernah bilang kalau nanti pengen bangun rumah di dekat rumah gue. Loe juga pernah bilang kalau loe mau mainin bell rumah gue ketika kita sudah tua nanti, tapi lihat diri loe sekarang. Gue mohon bangun, kita belum wujudin impian itu"
Panjang lebar Arga berbicara namun rasanya sia-sia ia seperti bicara pada angin, karena Jeff yang ada didepannya sekarang sama sekali tidak meresponnya.
"Loe harus bangun, loe lihat wanita yang loe cintai sekarang lagi hancur karena kondisi loe yang kayak gini"
"BANGUN JEFF" teriak Arga seperti orang kesetanan. "Gue tau loe susah buat buka mata loe, tapi loe denger semua omongan gue kan men. Gue tau loe kuat" racau Arga sembari memeluk lengan kanan Jeff.
Tanpa sepengetahuan Arga air mata meremas melewati sudut mata Jeff. Mungkin saja Arga benar, Jeff memang berat untuk membuka matanya, tapi sedari tadi Jeff mendengar apa saja perkataan Arga.