Innocent Wife

Innocent Wife
eps 9~Kalau Kamu Sakit



Azura tidak ingat kapan dia tertidur. Tidak juga ingat kenapa dia bisa bangun di tempat ini.


Kamar Axel.


"Dih ... baru bangun. Dasar kebo!" cerca Axel sebagai pengganti sapaan selamat paginya.


Azura mencebik sebal. Perempuan itu hendak bangkit duduk. Tapi, tengkuk yang kaku juga kepala yang nyeri serta berat membuatnya menghentikan gerakan.


"Gausah sok-sok'an mau bangun! Baring aja dulu, lagi sakit juga." Axel mengomel lagi.


Azura yang merasa tenggorokannya kering dan sakit, hanya diam saja. Ingin balas memaki tapi kondisinya tidak memungkinkan. Terlebih, nyeri di kepalanya malah makin menjadi begitu perempuan itu bergerak barang secenti saja dari posisi semula.


"Tuh, sarapan dulu!" suruh Axel sambil menunjuk senampan bubur, air putih juga tablet obat di atas meja.


Azura melirik sekilas sebelum kemudian memejamkan mata lagi. Kepalanya benar-benar pusing. Tenggorokannya bahkan terlalu sakit untuk sekedar mengeluarkan suara.


Selain memiliki banyak kemiripan dalam hal sifat, Azura rupanya juga mewarisi penyakit sang Mama; Maag dan anemia.


"Mau makan mie."


Entah kenapa, kalimat pertama yang ingin dilontarkan Azura adalah hal itu. Malas melihat reaksi Axel, perempuan itu semakin merapatkan selimut dan menutup benda lembut dan tebal itu hingga sebatas pipinya.


"Kamu ini beneran nggak punya isi kepala, ya? Seenggaknya kamu punya otak meski sedikit di dalem sana, kan?"


Okey, tidak perlu dilihat. Karena sifat menyebalkan Axel bahkan mampu dirasakan hanya dengan mendengar omelan pedas pria itu.


"Padahal cabe lagi mahal, bisa-bisanya kamu ngomong pedes terus."


Gumaman Azura seketika membuat Axel menghentikan dumelannya. Pria itu beralih duduk di sisi ranjang dan memandang wajah pucat sang istri lekat.


Axel pikir, pagi ini perempuan itu bakal terlihat jauh lebih baik dari semalam. Tapi, tebakannya justru salah besar. Azura bahkan terlihat seperti mayat hidup sekarang.


"Ayo bangun bentar! Makan dulu habis itu minum obat. Mau sembuh kan?" tanya Axel yang diangguki Azura dengan patuh.


Dengan susah payah, perempuan itu bangkit duduk kemudian bersandar di sandaran ranjang. Matanya menyorot Axel sayu membuat Axel yang sedari tadi terus mengomel akhirnya tidak tega juga.


"Ayo cepet habisin makanannya!" perintah pria itu sambil meletakkan semangkuk bubur ayam di pangkuan Azura.


Azura menoleh ke arah Axel dan bubur ayam bergantian. Ingin mengatakan sesuatu tapi tangan Axel sudah lebih dulu mengambil alih bubur ayam di pangkuannya lagi.


"Aku---"


Terpotong.


"Kamu mau disuapin? Yaudah sini kusuapin!" Axel bertanya dan malah menjawab sendiri.


Pria itu menyendokkan bubur ayam di tangannya dan menyodorkan tepat di depan mulut Azura.


"Tapi, Xel. Aku ... mmmm."


Terlambat. Pria bermanik biru itu bahkan sudah menjejalkan sesendok makanan lembek itu ke mulut sang istri.


Azura yang perlahan menelan makanan tersebut, beberapa detik kemudian mual-mual. Axel yang melihatnya, malah kelimpungan panik.


"Kamu kenapa?" tanya pria itu apalagi begitu Azura menyingkirkan selimut dan berlari menuju kamar mandi.


Axel meletakkan mangkuk bubur di meja dan segera mengejar Azura. Rupanya perempuan itu tengah muntah-muntah begitu banyak. Axel bahkan berani menebak kalau seluruh makanan yang sudah masuk ke tubuh perempuan itu sejak kemarin ikut keluar juga.


Untuk pertama kalinya, perasaan jijiknya melihat bekas muntah orang dikalahkan oleh perasaan kasihan. Pria itu merangsek maju dan membantu mengurut tengkuk Azura lembut.


"Kamu nggak papa?" tanya Axel panik begitu kaki Azura melemas dan hampir jatuh ke lantai kalau saja Axel tidak menahannya.


Azura menggeleng. Perempuan pendek itu berjalan sempoyongan kemudian berbaring lagi di tempat semula.


"Kok kamu muntah? Kenapa?" tanya Axel tidak mengerti.


Azura menyorot Axel sambil tersenyum tidak enak hati. "Sebenernya ... tadi aku mau bilang kalau aku nggak bisa makan bubur. Tapi, kamu malah nyuapin bubur ke mulutku." Perempuan itu berkata jujur.


Azura malah tersenyum geli. Lucu saja karena pria yang ia pikir 'tidak pakai akhlak dan hati' ini bisa merasa bersalah juga.


"Kasih aku makan mie aja, aku lapar," pinta Azura memanfaatkan keadaan.


Mumpung Axel sedang baik, diseduhkan sebungkus mie instan tidak akan berpengaruh apapun, kan? Terlebih, Azura memang benar-benar lapar.


"Yaudah, aku cariin mie instan dulu keluar. Di sekitar sini nggak ada pedagang soalnya."


Jawaban Axel seketika membuat Azura mendongak takjub. Suaminya mengabulkan permintaannya tanpa bantahan apalagi omelan. Ajaib sekali!


"Zura." Axel memanggil sambil berbalik menatap Azura begitu sampai di ambang pintu.


"Apa?" tanya perempuan itu bingung.


"Mie yang ini, kupotong dari jatah sekardus mie instan kamu tiap bulan itu, ya?"


Seketika, Azura menelan lagi segala pujian yang sudah sampai di ujung lidahnya.


Percuma saja. Sifat menyebalkan Axel sudah tidak tertolong.


***


"Kamu lagi ngapain?"


Pertanyaan Axel, membuat Azura yang sedari tadi sibuk dengan laptop di pangkuannya, menoleh. Lalu, begitu menemukan Damian beserta semangkuk mie instan yang mengepulkan uap panas di tangan, mata perempuan pendek itu berbinar senang.


"Waaah ... sudah matang?" tanya Azura yang di telinga Axel terdengar bodoh sekali.


"Kalau belum matang ya belum kubawa lah! Gimana sih?!" Axel menjawab sewot.


Azura mencebik sebal. Kan, dia hanya bertanya. Tidak perlu lah bicara pakai urat.


Tapi, kekesalan Azura langsung tertelan begitu sang suami berjalan mendekat. Aroma dari kuah soto dengan perasan jeruk limau membuat Azura tidak bisa menahan diri.


"Nih makan!" titah Axel sambil meletakkan nampan di pangkuan Azura setelah sebelumnya menyingkirkan laptop perempuan itu ke samping tubuhnya.


Berikutnya, pria itu meletakkan semangkuk mie instan rasa soto ayam di atas nampan tersebut.


"Kamu ngapain malah main laptop? Kalau sakit itu ya rebahan aja udah, ribet amat!"


Sepertinya, Axel tidak bisa berhenti mengomel barang satu jam sekalipun. Buktinya, sekarang dia sudah siap dengan topik omelan barunya.


Azura memilih mengabaikan dan segera menyendokkan kuah mie instan lalu memasukkan ke mulut. Karena masih sangat panas serta dia yang tidak meniupnya lebih dulu, perempuan itu meringis merasakan lidahnya yang terbakar.


"Nah kan, nah! Kan sudah kubilang kalau di kepalamu itu nggak ada otaknya. Mie masih panas gitu malah dijejelin ke mulut."


Azura melepaskan sendok di tangannya dengan perasaan kesal. Berikutnya, perempuan itu memindahkan nampan mie ke atas meja dekat bubur yang sama sekali belum disentuhnya lagi.


"Yaudah, orang nggak ada otak ini nggak perlu makan. Biarin aja udah! Gabutuh juga."


Azura merajuk.


Tidak tahu kenapa, setiap sakit dia memang selalu seperti ini. Lebih gampang sensi dan ngambek hanya karena hal-hal kecil. Biasanya, ketika dia sakit, Mama, Papa, Elynca bahkan Nenek sangat memahaminya dan sebisa mungkin tidak membuatnya jengkel.


Tapi, sejak tinggal dengan Axel sepertinya dia harus lebih banyak menyimpan stok sabar. Pria itu, kalimat-kalimat pedasnya, serta perlakuannya pada Azura ... tidak bisa diterima kepala.


"Zura, maaf." Azura menoleh sekilas sebelum kemudian memalingkan wajah lagi. Enggan menatap wajah pria itu.


"Dimakan dong mie-nya. Jangan sakit lagi," ucap pria itu lagi membuat Azura sedikit luluh.


Baru saja akan menoleh, tapi, sahutan Axel setelahnya  berhasil membuat perempuan itu ingin membunuh suaminya saja sekalian.


"Kalau kamu sakit, ntar yang masak sama beresin rumah siapa?"