Innocent Wife

Innocent Wife
eps 45~Lebih Baik Minta Maaf



Pagi ini, Anyelir malah menemukan Axel dan Azura tengah tidur di sofa yang sempit berdua. Begitu melihat betapa erat mereka saling memeluk bahkan ketika masih tidur, membuat perasaan Anyelir menghangat.


Dia tidak menyangka pernikahan putri bungsunya akan membuat Azura bahagia. Sebab, sebelumnya Axel bahkan belum pernah bertemu perempuan itu. Anyelir pikir, sifat Azura yang serba pemalas dan tidak bisa apa-apa bakal membuat Axel berlaku kurang baik pada istrinya.


Tapi, Anyelir sepertinya terlalu meremehkan sang menantu.


"Geseran dikit, Xel!" rengek Azura begitu terbangun meski dengan mata masih setengah terpejam.


Anyelir menghentikan langkah. Memilih berdiri di depan keduanya sambil memperhatikan interaksi kedua pasangan suami istri yang masih belum sadar akan kehadirannya tersebut.


"Aku masih ngantuk, Zu. Jangan cerewet dulu," jawab Axel yang dengan enteng membungkam bibir sang istri dengan bibirnya juga. Berikutnya, keduanya kembali tidur dengan santainya.


Anyelir hampir memekik kaget begitu melihat kejadian itu. Tapi, senyum gelinya justru mendominasi. Oh ayolah! Apa pengantin yang mencintai setelah menikah memang selalu semanis ini?


Dulu, Anyelir dan Damian juga begitu soalnya.


"Heh! Ngapain kamu? Sini sini! Jangan ganggu mereka," tegur Damian yang baru turun dari lantai atas dan menemukan istrinya tengah tersenyum-senyum tidak jelas menatap putri dan menantunya.


"Hah? Enggaaak ... ayo kita masak buat semuanya!" jawab sekaligus ajak Anyelir guna mengalihkan topik.


Hal itu membuat Damian mengernyit heran. Apalagi begitu sampai dapur, istrinya bahkan tidak bisa berhenti terkikik sendiri.


"Kamu kenapa sih?" tanya Damian heran sambil membantu Anyelir memotong sayuran.


Perempuan itu menoleh, sebelum kemudian mengulum senyum dan melanjutkan memasaknya lagi. Hal itu membuat Damian mendengkus kesal. Apa yang istrinya lihat sampai wajahnya malah seaneh ini?


Biasanya ibu-ibu hamil sepertinya malah mengamuk dan badmood tidak jelas ketika pagi.


"Tau nggak, Mas? Tadi itu Axel kecup bibirnya Azura loh!" cerita Anyelir yang beberapa detik kemudian terkikik lagi.


Hal itu membuat Damian ber-oh-ria. Mulai mengerti alasan kenapa raut wajah istrinya secerah itu.


"Nggak boleh ngintip suami istri lagi mesra-mesraan!" tegur Damian tegas yang diangguki Anyelir santai.


"Kan tadi nggak sengaja, Mas. Jadi ya anggep aja bonus," kekeh perempuan itu membuat Damian ikut terkekeh geli.


"Axel ngelakuinnya kayak gimana?" tanya Damian iseng.


Anyelir mengernyit bingung. "Ngelakuin apa?" tanya perempuan itu malah tidak mengerti.


Damian memutar bola mata malas. "Ya yang kamu ceritain tadi!" jawab Damian kesal.


"Ooo ... ya kayak biasa. Emangnya kayak gimana lagi? Nggak usah sok nggak tau deh!" omel Anyelir begitu mengerti arah pembicaraan sang suami malah merembes kemana.


"Eh, Mas, tahu resep opor telur nggak? Aku nggak tau," tanya Anyelir yang dibalas Damian dengan lirikan acuh.


"Y kayak biasa. Emangnya kayak gimana lagi?" jawab pria itu menirukan kalimat Anyelir sebelumnya.


Hal itu seketika membuat Anyelir badmood seketika. Perempuan itu memilih mengeluarkan ponsel di saku celana Damian kemudian mengetikkan resep masakan opor di google pencarian.


Begitu menemukan resep yang diinginkan kemudian men-screenshootnya, perempuan itu malah salah fokus ke tubuhnya yang mulai sedikit melar karena sedang hamil.


Kemudian, perempuan itu memencet pencarian suara.


"Oke, Google, tips foto biar keliatan kurus." Anyelir berucap santai sambil memencet icon 'microfon' di aplikasi berinisial 'G' tersebut.


Damian kontan merebut ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku. Sebelum Anyelir sempat protes, suaminya lebih dulu membungkam mulutnya dengan bibir---sama seperti yang dilakukan Axel pada Azura.


"Kurus dulu baru foto, Sayang!"


***


Begitu terbangun, masakan sudah terhidang di meja makan. Tapi, karena Anyelir yang merengek ingin sarapan sama-sama di tepi pantai, jadilah semuanya mengikuti keinginan bumil tersebut.


Maka, saat ini Elynca, Azura, Axel, Serafin juga Damian dan Anyelir sudah menggelar tikar plastik di pantai belakang rumah Axel. Wajah Anyelir adalah yang paling terlihat senang tentu saja. Karena ini semua memang idenya.


"Ayo ayo makan! Zura ... kamu juga makan! Malah tidur lagi! Mentang-mentang pangkuan suami nyaman," omel Anyelir yang dibalas Azura dengan delikan tajam.


"Halah! Mama juga sering tidur di pangkuan Papa dulu. Nggak boleh iri, ya!" balas Azura membuat yang lain terkekeh geli.


Terkecuali Elynca. Sedari tadi, perempuan itu memang yang terlihat paling tidak nyaman menyaksikan keromantisan Axel dan Azura.


"Sampai kapan kamu mau tidur?" tanya Axel tidak habis pikir begitu perempuan itu semakin mengeratkan pelukannya di pinggang juga menenggelamkan wajahnya di perut Axel.


"Lagian ngantuk, semalam siapa suruh ngajak begadang sampai subuh." Azura malah menyalahkan Axel.


Padahal perempuan itu yang kembali bangun setelah beberapa saat tertidur hanya karena ingin menonton drama korea.


"Yaudah duduk dulu makannya! Makan bentar habis itu tidur lagi," jawab Axel yang diiyakan Azura malas-malasan.


"Xel ... tuker rumah, yuk! Mama tinggal di sini aja, biar deket sama pantai," pinta Anyelir kelewat enteng. Seolah tukar rumah segampang tukar tambah hp di toko.


"Nggak ah, rumah Mama terlalu gede. Aku capek kalau mau jalan ke dapur," jawab Azura dengan jujurnya.


Beberapa orang di sana menghela napas berat. Bertanya-tanya level kemalasan Azura sudah sampai mana. Perempuan itu bahkan kadang mengeluh lelah mengunyah juga bernapas. Damian kadang jadi berpikir niat hidup putri bungsunya tertinggal di tubuh Anyelir.


Pantas saja istrinya semakin bertambah umur bukannya semakin kalem malah semakin bar-bar.


"Oh iya, Xel. Saranin nama anak buat Mama dong!" pinta Anyelir mengalihkan topik. Tidak tahan mendengar seberapa akut tingkat kemalasan putrinya.


"Eum ... maunya cewek atau cowok, Ma?" tanya Axel serius.


"Cowok dong, Xel! Yang cool gitu. Bosen cewek mulu, ditinggal nikah terus Mama ini," ratap Anyelir membuat yang lainnya kembali tertawa. Berbanding terbalik dengan Damian yang memutar bola mata malas.


"Mau anak cowok yang cool?" tanya Axel lagi. Anyelir mengangguk semangat.


"Ester Kulkasio aja, Ma! Kan es sama kulkas cool tuh," sahut Azura menyela obrolan dengan tidak pakai akhlak.


Anyelir merengut sebal. "Bukan cool yang kayak gitu maksudnya, Zuraaa!" kesal Anyelir sambil melempar potongan tempe goreng ke arah anaknya.


Azura yang mendapat lemparan makanan, kontan menangkapnya dan segera memasukkan sepotong tempe itu ke dalam mulut. Axel yang melihatnya segera memaksa perempuan itu duduk.


"Makan itu sambil duduk!" tegur Axel.


Azura tidak menanggapi dan memilih memungut tempe lainnya di piring Elynca.


"Minta izin dulu biar sopan, Astaga!" kesal Axel dengan sikap istrinya.


Perempuan itu menoleh sejenak sebelum kemudian memasukkan tempe itu ke mulutnya.


"Lebih baik minta maaf daripada minta izin. Kan kalau minta izin, belum tentu diizinin. Kak Elyn kan pelit," jawab Azura dengan santainya.


Seketika, kedua kakak beradik itu terlibat adegan baku hantam.


bersambung


maap yah baru update πŸ₯ΊπŸ™πŸ™πŸ™