Innocent Wife

Innocent Wife
eps 33~Tidak Berarti Apa-Apa



"Aku berangkat kerja dulu!" pamit Axel sambil berlari melewati ruang tengah.


Azura yang tengah menyemil mie instan mentah sambil menonton TV pagi ini, kontan menoleh dan mendelik tajam. Tangannya mengambil sebuah remahan mie instan cukup besar kemudian melemparkannya ke arah Axel.


"Suami macam apa kamu ini? Istri udah capek-capek masak malah main nyelonong aja pergi kerja. Nggak mau sarapan dulu, gitu?" tanya Azura membuat Axel memutar bola mata malas.


"Habiskan saja sendiri! Lagian makananmu nggak pernah seenak itu sampai aku harus telat berangkat ke kantor cuma buat sarapan," gumam Axel yang dibalas cebikan sebal Azura.


Membuang muka dan menonton TV lagi, perempuan itu memilih membiarkan saja sang suami berjalan keluar rumah. Selalu saja begitu. Memaksa orang memasak dan menghina kemudian tidak mau memakannya.


Kapan-kapan, Azura tidak usah masak saja sekalian. Merepotkan dan sia-sia saja.


"Hari ini kamu mau kemana?"


Azura terperanjat kaget begitu Axel tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Padahal tadi pria itu sudah keluar. Dasar jelangkung!


"Ya nggak mau kemana-mana. Paling kalau diajak Galen, Mama, atau Elynca jalan-jalan baru deh keluar rumah," jawab Azura jujur.


Axel berpikir sejenak. "Hari ini Galen mau ngajak kamu jalan, nggak?" tanya pria itu kepo.


Azura melengos malas kemudian menyalin channel stasiun televisi dengan channel yang ada iklan mie instannya. Axel yang gemas karena pertanyaannya tidak dijawab, kontan menarik-narik rambut perempuan itu dari belakang tidak sabaran.


"Ayo jawab!" paksa Axel membuat Azura menghela napas berat.


"Ya mana aku tau!" sahut Azura ngegas.


"Ya makannya sana cari tahu!" Axel semakin memaksa tidak sabaran.


Beberapa detik kemudian, perempuan itu mengeluarkan ponsel dari saku celana treningnya.


"Halo ... Galen. Hari ini mau ngajak aku jalan-jalan apa enggak?"


Ternyata perempuan itu menelepon Galen. Dan pertanyaan enteng perempuan itu membuat Axel melotot kaget.


"Tumben nanya, Zu. Memangnya ada apa? Kamu mau jalan hari ini sama saya?" tanya pria di seberang sana yang tidak bisa menyembunyikan nada senangnya.


"Enggak, Len. Nih si Axel nanya," jawab perempuan itu dengan jujurnya.


Mendengar jawaban sang istri, Axel kemudian menarik ponsel Azura dan menjauhkannya dari sang pemilik. Mata pria itu melotot memperingati pada Azura sambil menjauhkan ponsel agar suara mereka tidak terdengar.


"Ngapain bilang kalau aku yang nanya, hah?!"


Azura mengangkat bahu acuh. "Lah terus aku harus bilang apa? Kan emang kamu yang nanya," jawab perempuan itu tanpa dosa.


Axel mendengkus keras sebelum kemudian menempelkan benda pipih itu ke kupingnya.


"Halo ... nggak usah percayain omongan Azura. Lagian ngapain aku peduli kalian mau jalan apa enggak," peringat sekaligus perjelas Axel sewot.


Bukannya menjawab, Axel malah mendapati Galen terkekeh geli. "Beneran juga enggak papa. Oh iya, kebetulan Azura bilang jalan-jalan, kasih tau ke dia ya, hari ini saya mau ajak dia makan siang di kedai mie instan!" sahut pria itu lagi.


Axel memggemelatukkan gigi sebal. Berani-beraninya pria ini terang-terangan bilang akan mengajak istrinya makan siang berdua.


"Enggak bisa! Azura ada banyak pekerjaan di rumah. Ngapain juga ngajak dia makan siang di luar segala? Kan kasihan bahan masakan di rumah nggak guna."


Sahutan Axel membuat Azura melotot garang.


"Aku nggak mau makan siang sama kamu. Aku mau makan siang sama Galen aja!" kesal Azura yang tidak digubris Axel sama sekali.


"Udahlah, kamu pasti sibuk, kan? Yaudah sana lamjut kerja. Lagipula, siang ini aku sama Azura mau makan siang di restaurant. Jadi, jangan hubungi dia dulu ya!" Meski nada suara Axel sudah pria itu buat seramah mungkin, Azura sadar wajah suaminya justru tidak bersahabat sama sekali.


Begitu sambungan telepon terputus, Azura kontan merebur ponselnya dari genggaman Axel. Matanya menyorot suaminya kesal.


"Lain kali, jangan angkat telepon dari hp-ku tanpa izin! Aku nggak suka," tegur Azura membuat Axel berkacak pinggang.


"Terus aku harus angkat telepon dari hp siapa?! Lagian memangnya salah angkat telepon dari hp istri sendiri?!" tanya pria jangkung itu malah ngegas.


Azura cemberut. Tapi, mengingat kalimat Axel sebelumnya, perempuan itu tersenyum sumringah lagi.


"Apa bener kita mau makan siang di restaurant siang ini?" tanya perempuan itu semangat dan penuh harap.


Axel tekekeh miring. "Kurang kerjaan banget ngehabisin waktu kerjaku kalau cuma buat makan siang sama kamu," komentar Axel.


Azura menghela napas kecewa. Memang salah kalau berharap terlalu banyak pada makhluk menyebalkan seperti suaminya.


"Oh iya, jangan lupa masak makan siang. Aku berangkat kerja dulu!" pamit pria itu lagi.


Azura mendelik sinis. "Aku nggak akan masak! Aku nggak akan pernah mau masak meski kamu laper nanti!" teriak perempuan itu murka.


Axel memundurkam tubuh saking terkejutnya. Tapi, beberapa detik kemudian melengos tidak peduli.


"Yaudah sih, kamu mati kelaparan karena nggak masak makanan juga nggak papa. Aku nggak peduli."


***


"Waah ... siapa yang tadi pagi bilang nggak mau masak, ya?" sindir Axel begitu masuk dapur dan menemukan Azura tengah menghidangkan makanan ke meja makan.


"Aku cuma masak buatku! Nggak usah Ge'er!" pertegas Azura sewot yang dibalas Axel dengan kekehan geli.


"Siapa juga yang mau makan masakan nggak enak kamu? Aku juga udah beli nasi kotak sama ayam geprek kok," jawab pria itu santai.


Azura yang memang masih badmood, kontan duduk di meja makan kemudian mulai memakan masakan dengan lauk kedelai bercampur sawi putih rebusnya.


Axel ikut duduk di depan perempuan itu sambil membuka kotak berisi nasi juga ayam geprek di dalamnya. Bau sambal matah dari bumbu ayam geprek kontan menyebar dan membuat Azura melirik sekilas sambil meneguk ludah.


Sepertinya terlihat enak.


Mencoba mengabaikan makanan Axel, perempuan itu memilih mulai menyuapkan nasi ke mulutnya. Di suapan pertama, perempuan itu bahkan sudah mengeluh dalam hati.


Asin sekali. Padahal seingat Azura dia tidak memasukkan garam sebanyak ini.


"Pasti nggak enak," komentar Axel sambil terus melanjutkan makannya dengan lahap.


Azura yang masih badmood juga kehilangan nafsu makannya, kontan mendorong piringnya menjauh. Perempuan itu berdiri kemudian menghentak sebal dan masuk ke dalam kamar.


Axel yang melihat kekesalan perempuan itu, kontan terkikik geli. Niatnya memang mengganggu perempuan itu. Entah kenapa, tiga bulan menikah dengan Azura, hanya kekesalan perempuan itu yang paling bisa menghibur dan menyenangkannya.


Begitu menyadari Azura yang sudah masuk kamarnya, Axel memilih menyendok sedikit kuah rebusan kedelai dan sawi putih di depannya. Kontan, rasa asin yang pekat menguar ke seluruh lidah.


Axel meringis geli. Pantas saja Azura tidak melanjutkan makannya. Lagipula, masakan seperti ini siapa yang mau memakannya?


Melihat seporsi ayam geprek yang belum ia buka kotaknya di sampingnya, Axel segera membasuh tangan dan berjalan menaiki tangga. Sudah cukup membuat perempuan itu kesal. Sekarang Axel harus memberi istrinya makanan yang layak supaya punya tenaga menghadapi sikap menyebalkan Damian.


Tadi dia memang sengaja membeli dua porsi. Satu untuk dirinya dan satu untuk Azura. Tapi, karena mendapati perempuan itu yang sudah memasak, Axel jadi mengurungkan niat untuk memberikannya sejenak.


"Zu ... Zura ... bukain dong!" pinta Axel sambi menggedor-gedor pintu kamar Azura.


Tidak ada sahutan.


"Zuuu ... Azuraaa ... ayolah bukain! Kudobrak tau rasa nih!" ancam Axel lagi yang tetap saja tidak ditanggapi perempuan itu.


Axel yang kesal kontan menaik turunkan engsel pintu. Tapi, pintu tersebut ternyata tidak terkunci sehingga dengan mudah Axel dapat membukanya.


"Ck ... kenapa nggak bilang kalau nggak dikunci?!" tanya Axel sewot sambil memandangi pintu kayu di depannya galak.


Beralih pada kamar Azura, pria itu menemukan sang istri tengah sibuk tidur di lantai sambil memainkam ponselnya. Sepertinya perempuan itu tengah bermain game. Kaki perempuan itu naik ke atas ranjang sedangkan kepala juga tubuhnya berada di lantai.


"Nih, ayam geprek!" sodor Axel sambil meletakkan bungkusan ayam geprek di atas wajah Azura yang tengah berbaring.


Perempuan yang merasa terganggu dengan benda di wajahnya kontan menepis benda itu sehingga makanannya tercecer di lantai. Hal tersebut membuat Axel menggeram marah.


"Kamu ini! Udah dibawain sampai kamar juga. Ngapain malah ditumpahin?!" kesal Axel membuat Azura bangkit duduk dengan kesal.


"Ya siapa suruh naruhnya di atas mukaku! Lagian aku kan nggak sengaja!" sahut Azura membela diri.


Axel yang kesal kontan menunjuk makanan yang sudah dihancurkan Azura. "Tuh liat tuh! Kamarmu jadi kotor sekarang. Cepet bersihin!" perintah Axel.


Azura malah salah fokus ke jemari pria itu.


"Cincin kamu kemana?" tanya Azura mengalihkan topik.


Axel mengerjap kemudian menatap pada jemarinya. Selama ini dia selalu memakai cincin pernikahan mereka kemanapun pergi tanpa pernah berniat melepaskannya. Sebab Azura juga melakukan hal yang sama.


"Enggak tau, hilang mungkin," jawab pria itu acuh.


Azura kontan berdiri dan melotot. "Hilang?! Kok bisa?! Ngapain kamu hilangin?!" tanya perempuan itu terlihat murka.


Axel mendelik tajam. Tidak suka dibentak Azura. "Terus memangnya kenapa? Itu cuma cincin! Kan bisa dibeli lagi," jawab pria itu dengan entengnya.


Azura menendang kaki Axel keras membuat pria itu meringis sakit.


"Iya kalau cincin biasa! Itu kan cincin pernikahan kita! Cepet cari sana! Aku nggak akan maafin kamu kalau sampai itu hilang," ancam Azura murka.


"Apa pentingnya? Nggak akan. Sana cari aja sendiri." Axel menyahut malas.


"Apa pernikahan ini nggak berarti apa-apa sampai kamu ngilangin cincin pernikahan kita dan nggak ngerasa bersalah sama sekali?!" tanya Azura membentak lagi.


"Ya! Sama seperti cincin pernikahan kita, kamu juga nggak berarti apa-apa buat aku! Jadi nggak usah lah repot-repot cuma karena masalah cincin! Ngeselin amat."


Azura meneguk ludah kasar mendengar pengakuan suaminya.


Dia ... tidak berarti apa-apa?