Innocent Wife

Innocent Wife
eps 22~Jika Aku Percaya Padamu



Sudah tiga hari semenjak Azura dirawat di rumah sakit. Dan selama itu pula perempuan itu terus merengek pada Damian untuk segera dipulangkan.


Selama tiga hari itu pula, Axel menyadari kesahalannya. Bisa dibilang, dia sudah terlalu banyak menyulitkan Azura selama tiga bulan mereka tinggal bersama.


Tapi, perempuan polos atau bisa dibilang 'lumayan bodoh' itu tidak pernah protes padanya. Melihat interaksinya dengan Damian dan Anyelir, termasuk kedekatannya dengan Serafin, di saat itu pula Axel menyadari dia selama ini malah berlaku seperti orang asing.


Azura yang di rumah hanya sosok pemalas dan tukang marah setiap masakannya dihina Axel, ketika bersama Damian malah jadi perempuan manja dan manis. Azura yang di rumah selalu tidur di kamar dengan alas tikar plastik tipis, di rumahnya justru dimewahkan dengan berbagai macam hal oleh Anyelir. Azura yang di rumah pekerjaannya hanya mendelik kesal dan berkacak pinggang marah pada Axel, di hadapan Serafin malah jadi menantu lucu dan menggemaskan ketika diajak mengobrol.


Jujur saja, Axel menikmati setiap tingkah juga setiap perubahan ekspresi wajah sang istri selama di sini. Tapi, tidak dapat dipungkiri bahwa dia merasa sedikit ... kesepian?


Pasalnya, karena hal itu Axel jadi menyadari bahwa perempuan itu tertekan berada di dekatnya. Azura tidak pernah bahagia selama 3 bulan menikah dengan Axel. Perempuan itu terus ia paksa menjadi sosok istri sempurna tanpa dia mau sekedar menjadi suami yang baik dan menyenangkan bagi Azura.


"Bawa apa?" tanya Azura begitu melihat kresek hitam di tangan suaminya yang baru masuk ruang rawat.


Perempuan itu beralih duduk meski beberapa detik kemudian meringis nyeri karena aneminya yang masih belum sembuh betul. Axel kontan membantunya menaikkan bed agar bisa dipakai berbaring setengah duduk.


"Baring di sini aja! Nggak perlu duduk langsung, kepala jelekmu masih butuh istirahat," perintah Axel masih sempat-sempatnya menempelkan kata 'jelek' di dalam sana.


Tapi, Azura hanya mengangguk patuh. Sejak sakit, perempuan itu memang jadi lebih bahkan sangat kalem dan penurut.


"Aku bawa mie instan," ucap Axel sambil meletakkan kresek hitam itu di atas meja dekat ranjang.


Seperti dugaannya, wajah perempuan itu malah biasa-biasa saja. Selama tiga hari ini, Axel bahkan Damian terus membawakan perempuan itu berbagai jenis mie instan untuk mengecek apakah Azura sudah sehat atau belum.


Sebab, perempuan itu hanya akan tertarik memakan mie instan ketika sehat. Karena jika sakit, jangankan mie instan, buah apel sekalipun tidak akan menarik perhatiannya. Padahal, perempuan itu begitu menyukai buah apel.


"Zu."


Axel memanggil begitu beberapa menit sebelumnya hening merajai. Azura menoleh kemudian melayangkan sorot tanya.


"Jangan kayak gini. Aku nggak suka," ucap Axel akhirnya mengutarakan isi hatinya dengan jujur.


"Hah?" tanya Azura tidak mengerti membuat Axel semakin merapatkan kursi ke arah ranjang.


"Jangan jadi orang lain, intinya ... ngomel lagi, marah-marah aja setiap hari, ayo bertengkar sampai tenggorokan kita serak. Soalnya ... rasanya aneh kalau kamu kayak gini," ucap pria itu diakhiri sebuah helaan napas.


"Aku ... aku kan emang kayak gini," jawab Azura sambil membuang muka ke arah lain. Asal bukan menghadap Axel.


"Iya, ya. Kamu emang kayak gini. Berarti ... aku selama ini buat kamu nggak nyaman, ya?" tanya Axel sambil tersenyum getir.


Azura menoleh sejenak sebelum kemudian memalingkan wajah lagi. "Enggak kok," sahut perempuan itu singkat.


Axel menghela napas berat. Tahu kalau Azura memang sedang berbohong.


"Kamu bisa berbagi ke aku, seenggaknya kalau nggak bisa jadi suami yang baik, aku bisa jadi temen yang baik, kan?" tanya Axel sambil memandangi wajah sang istri lekat.


Azura menoleh kemudian menunduk. Tangan perempuan itu meraih ujung selimut kemudian memilinnya dalam diam.


"Salah nggak sih, kalau takutku sama orang itu seberlebihan ini?" tanya Azura akhirnya mengungkapkan segenap kegamangannya selama ini.


"Aku nggak tau harus mulai dari mana. Yang jelas, sejak dia hampir ngelakuin hal itu waktu itu, aku rasanya mau mati aja. Aku mulai benci semua cowok kecuali Papa. Aku takut ke sekolah. Aku selalu ngerasa nggak pantas bicara sama siapapun." Axel menyadari ada geletar ketakutan dalam setiap nada suara perempuan itu.


"Aku ... beneran takut bahkan buat bernapas besok paginya lagi."


Axel tidak tahu ketakutan Azura bakal sebesar itu. Tapi yang jelas diketahuinya, perempuan itu mulai berani jujur padanya sekarang.


Karena melihat tubuh Azura yang perlahan terlihat bergetar lagi, Axel merangsek maju dan menenggelamkan kepala perempuan itu pada dada bidangnya. Axel dapat merasakan tubuh Azura menegang begitu ia secara tiba-tiba memeluknya.


Tapi, tangan pendek dan mungil perempuan itu yang perlahan melilit di pinggangnya membuat semuanya terasa melegakan dan sempurna. Axel sendiri tidak tahu dalam artian apa.


"It's okey. Kamu nggak bisa ngehapus masa lalu karena itu emang udah bagian dari hidup kita di masa sekarang maupun masa depan. Tapi, kamu bisa maafin diri sendiri, kan?" tanya Axel dengan nada paling lembut yang belum pernah Azura dengar dari mulut pedas pria itu.


"Aku nggak ngerti," gumam Azura yang kepalanya masih tenggelam di dada bidang Axel.


Hal itu membuat Axel sejenak mendengkus sebal. Memang susah kalau berbicara dengan perempuan lugu dan polos macam Azura.


"Ya maafin diri sendiri. Belajar nerima semua kejadian di masa lalu yang udah terjadi. Karena nggak ada gunanya ngeratapin itu semua di saat kita punya masa sekarang dan masa depan untuk jadi yang lebih baik," jawab Axel mempertegas kalimatnya.


Azura tersenyum di dalam dekapan pria itu. Tangannya tanpa sadar semakin erat memeluk Axel.


"Axel."


Azura tiba-tiba memanggil. Axel membalas dengan deheman.


"Jujur aja, aku nggak pernah mau percaya sama pria selain Papa sejak hari itu. Aku mulai benci spesies kayak kalian. Tapi, aku lebih nggak percaya dan benci sama diriku sendiri sih." Azura bergumam lagi.


Axel setia mendengarkan dalam diam. Jujur saja, posisi seperti ini sebenarnya membuatnya merasa lucu saja. Di saat sebelumnya dia dan Azura biasa bertengkar dan baku hantam, kali ini justru jauh berbeda.


Mereka saling meragkum lewat hangatnya sebuah pelukan.


"Axel."


Azura memanggil lagi.


"Kenapa? Hm?" tanya Axel semakin lembut.


"Sampai sekarang, kepercayaanku sama cowok masih sama kayak dulu. Bahkan, aku juga semakin nggak percaya diri."


Kali ini, Azura melepaskan pelukan mereka. Kemudian, perempuan itu mendongak sambil menyorot Axel lekat.


"Jadi ... kalau aku percaya sama kamu juga, enggak papa, kan?"


Pertanyaan Azura, seketika membuat Axel tertegun.


Perempuan ini ... ingin mempercayainya? Tetapi kenapa?