Innocent Wife

Innocent Wife
eps 34~Hanya Istri Kontrak



Sejak pertengkaran mereka tadi siang, Axel menyadari Azura banyak berubah. Perempuan itu jadi sangat pendiam dan banyak melamun.


Sehabis meluapkan kemarahannya, perempuan itu hanya mengucapkan kata maaf kemudian terus menghindari Axel. Hal itu justru membuat Axel risih sendiri.


Dia lebih suka Azura yang mendengkus kesal daripada diam tidak jelas seperti ini. Sempat Axel berpikir apakah perempuan itu marah? Tapi, Azura tidak menampakkan gerak-gerik bahwa ia tengah marah sama sekali.


Perempuan itu masih membersihkan rumah seperti biasa. Malam ini, perempuan itu bahkan duduk menonton TV di sofa ruang tengah seperti sedia kala.


"Minggir!" perintah Axel berniat menganggu perempuan itu agar mau berbicara padanya.


Tanpa membantah, perempuan itu meminggirkan tubuhnya ke sisi kiri sofa. Axel duduk dan mendesak perempuan itu di sofa yang sama.


"Minggir lagi!" perintah Axel yang anehnya diiyakan Azura.


Perempuan itu berdiri dan beralih duduk di lantai. Axel memandanginya dengan wajah tidak percaya. Dengan santai, perempuan itu bahkan kembali mengunyah mie mentah yang sudah diremukkan kemudian dicampurnya dengan bumbu bubuk.


"Jangan makan mie mentah terus! Nggak baik," komentar Axel yang diangguki perempuan itu dengan patuh.


Azura bahkan meletakkan bungkus mienya yang masih tersisa isinya banyak di atas meja. Axel terperangah lagi. Tidak menyangka Azura yang biasanya paling susah dilarang jika urusan mie, kini mematuhinya segampang ini.


"Sana masuk kamar aja! Aku mau nonton TV!" Axel memerintah lagi dengan semena-mena.


Tidak butuh waktu lama untuk membuat perempuan pendek itu berjalan menjauh sambil menjilati sisa bumbu mie yang menempel di jemarinya. Axel yang melihatnya kontan menggeram marah.


"Heh! Berhenti!" teriak pria itu murka. Tidak suka dengan sikap Azura yang sepenurut ini. Terasa sangat aneh.


"Kamu kenapa sih? Tersinggung sama kata-kataku tadi siang?" tanya Axel jengah sendiri.


Azura menggeleng. Kemudian, perempuan itu melangkah menaiki tangga lagi. Tapi, suara Axel kembali menahan langkahnya.


"Kamu punya mulut buat ngomong nggak sih?!" tanya Axel membentak.


Kali ini, Azura berbalik lagi. Perempuan itu menyorot Axel dengan senyum geli. Seolah lucu dengan sikap pria itu kali ini.


"Buat apa ngomong sama orang nggak penting? Nggak berarti apa-apa? Cuma ngehabisin tenaga dan sia-sia, kan?"


Kalimat perempuan itu, seketika membuat Axel kehilangan kata-kata. Mulai mengerti alasan perempuan itu terus mendiamkannya.


"Kamu marah?" tanya Axel kali ini dengan nada suara lebih rendah.


"Enggak, enggak berhak. Lagian, hakku di rumah ini cuma jadi istri kontrak. Buat apa harus nanggapin sesuatu pakai hati? Kayak bakal dipeduliin aja," kekeh Azura miris.


Tidak memberikan Axel menyahut lagi, perempuan itu kembali berjalan dan masuk kamar. Axel menghela napas gusar.


Apa kalimatnya tadi siang sangat keterlaluan? Apa Azura sakit hati karena hal itu?


***


Pagi ini, Azura sudah rapi dengan setelan dress selutut dibalut sweeter rajutnya---pakaian wajib perempuan itu. Sejak pagi-pagi sekali, ia sudah menyiapkan makanan juga membersihkan rumah.


Meski dia tahu Axel biasanya tidak akan memakan sarapannya sih.


Begitu melirik pada kamar Axel yang masih belum terbuka---pertanda pria itu masih mandi, Azura berlari keluar rumah dan segera masuk taksi yang sudah dipesannya sebelumnya. Dia ingin bertemu Galen. Berniat mencari ketenangan juga kesenangan setelah kemarin merasa puas sakit hati.


Axel hanya suami kontrak. Axel mencintai Elynca. Azura tidak berarti apapun bagi Axel.


Tiga fakta itu terus Azura gumamkan dalam hati untuk meneguhkan diri. Mencoba membentengi perasannya yang tanpa sadar sudah tumbuh sebesar ini terhadap suami yang nyatanya tidak mencintainya.


Ya, Axel tidak mencintainya. Seharusnya Azura sadar itu sejak sebelum ia menyadari perasaannya. Tapi, sekeras mungkin menyadarkan diri, tetap saja dengan bodohnya Azura tidak bisa mengendalikan diri.


Sekarang, akhirnya dia kecewa, marah, merasa rendah, dan patah hati. Semua perasaan buruk itu bercampur aduk hingga membuat kepalanya terasa hampir meledak. Azura bahkan tidak berhasil menulis satu bab-pun kemarin. Pikirannya penuh oleh hal yang ia sendiri bahkan tidak mengerti.


Axel ... selalu berhasil melukai perasannya entah secara sengaja atau tidak sengaja. Meski begitu, Azura juga tidak bisa menahan dirinya sendiri ketika bersama pria itu.


***


Axel turun dari lantai atas dan sudah menemukan rumah bersih juga rapi. Beralih pada dapur, pria itu bahkan sudah menemukan nasi goreng juga telur ceplok terhidang di atas meja.


Kemana Azura? Biasanya jam segini perempuan itu tengah menonton TV sambil menyemil sesuatu. Lalu, ketika melihat Axel akan berangkat bekerja, perempuan itu melayangkan beberapa kalimat menyebalkan.


Rasanya aneh saat tidak menemukan perempuan itu di rumah begini. Seperti, ada sesuatu yang ... kurang?


"Zu! Buatin kopi dong!" pinta Axel sambil berteriak.


Tidak ada sahutan. Hingga panggilan kesekian kalinya, perempuan itu juga tidak menjawab. Mencoba mencarinya ke seluruh penjuru rumah, Axel malah menemukan sebuah note kecil tertempel di kulkas.


'Aku mau pergi main ke kantor Galen. Silakan sarapan sendiri. Dari: Orang pendek:)'


Axel menggeram kesal begitu membaca sticky note tersebut. Segera mencabut kemudian melemparnya ke tempat sampah, Axel memilih segera duduk di meja makan dan memakan sarapan.


"Dia pikir dia bisa pergi pagi-pagi cuma buat nemuin selingkuhannya?! Cih ... ngeselin amat," omel pria itu di sela makannya.


Axel bahkan tidak peduli dengan rasa asin nasi goreng yang mendominasi lidahnya. Pria itu terus menghabiskan nasi kemudian berangkat kerja dengan mood berantakan.


Lihat saja! Setelah Azura pulang nanti, akan Axel buat perempuan itu tidak bisa menemui Galen lagi.


***


Karena tidak menemukan Galen di kantornya, Azura memilih ke rumah pria itu langsung. Kata salah satu editor yang sudah akrab dengan Azura di sana (karena orang itu pernah mengeditkan naskah Azura), pria berkaca mata itu tengah sakit demam.


Beberapa menit setelah mengetuk pintu, akhirnya seseorang membukakan pintu. Galen berdiri tanpa kaca mata di depannya dengan wajah pucat. Hal itu membuat Azura panik dan segera membawa pria itu duduk di dalam.


"Kamu ke sini? Mau ngapain? Saya nggak bisa ajak kamu jalan-jalan sekarang. Saya lagi sakit," gumam Galen sambil memijat pangkal hidungnya.


Azura mendengkus keras. Tangannya segera menggeplak lengan sang sahabat membuat pria itu meringis pelan.


"Emangnya aku sahabat macam apa? Masak cari sahabat sendiri cuma pas mau diajak jalan-jalan doang? Dih!" maki Azura kesal membuat Galen terkekeh geli.


"Ya maaf," sahut pria itu sambil bersandar pada sandaran sofa.


"Sudah minum obat? Aku ganggu waktu istirahat kamu ya? Ish seharusnya kan kamu baring kalau lagi sakit!"


Omelan Azura membuat Axel terkekeh. Pria itu bahkan tidak bisa menahan senyum senangnya begitu tangan mungil dan dingin Azura menyentuh keningnya---berniat mengecek suhu tubuh.


"Ish panas! Udah minum obat?" tanya Azura yang dibalas gelengan Galen.


Perempuan itu mendengkus sambil berkacak pinggang.


"Yaudah! Aku beliin kamu obat dulu. Diem di sini, ya! Jangan nakal!" peringat Azura seolah tengah mengurus anak kecil.


"Aku bukan kamu, ya! Lagian ... nggak usah lah beli obat. Nanti kamu nyasar," tolak Galen yang dibalas gelengan keras Azura.


"Orang sakit itu seharusnya diem aja! Nggak perlu ngebantah!" omel Azura kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Zu! Nggak usah beli obat!" cegah Galen lagi yang tidak ditanggapi Azura sama sekali.


Perempuan itu tetap membuka pintu rumah. "Gamau tau pokoknya. Aku tetep---loh ... Kak Elyn?"


Azura mengerjap kaget begitu membuka pintu dan menemukan sang kakak berdiri di depannya. Elynca yang juga terkejut dengan kehadiran Azura, kontan menggumam gelagapan.


"A-aku balik aja deh. Kayaknya aku ganggu kalian," ucap perempuan itu kemudian berbalik dan berlari menjauh.


Azura menggusah panik. Kakaknya pasti salah paham karena melihatnya berada di rumah Galen sekarang.


jangan lupa like & koment yah 🧐