
Azura baru saja selesai memasak saat Axel turun dengan setelan jas hitamnya. Pria jangkung itu tampak sudah rapi dan sudah mandi.
“Mau kemana?” tanya Azura penasaran.
“Bukan urusanmu! Sana, urus saja si makhluk mata empat itu!” sahut Axel ketus.
Berikutnya, pria yang selalu terlihat menyebalkan di mata Azura itu duduk di sofa panjang ruang tengah. Matanya terus melirik setiap pergerakan Azura yang kali ini tengah mengambil sapu di sudut ruangan.
“Menyapulah yang benar! Sekalian sapu juga segala kebodohan yang mengotori kepalamu itu!” titah Axel tidak pakai akhlak.
Azura mendelik sinis. Tangannya menghempaskan sapu di tangannya dengan kesal kemudian berkacak pinggang. “Bukan urusanmu! Sana, urus saja selingkuhanmu!” sahut perempuan pendek itu menirukan kalimat sang suami sebelumnya.
Axel mendengkus keras. Tangannya memilih mengambil remote guna menyalakan TV. Kicauan Azura di pagi hari, selalu lebih buruk daripada iklan sabun cuci.
“Siapkan sarapan yang enak agar jatah mie sekardusmu nggak kukurangi!” Axel menyahut lagi. Tapi, Azura hanya melengos tidak peduli.
“Aku akan masak nggak enak! Sangat nggak enak sampai kamu mau muntah bahkan hanya karena menghirup aromanya,” sahut Azura ngegas membuat Axel mendelik tajam.
“Sesekali, jadilah istri yang penurut! Kamu ini!” maki Axel tidak habis pikir dengan sikap pembangkang sang istri belakangan ini.
“Nggak ada untungnya jadi perempuan yang baik dan penurut sama suami kekurangan akhlak kayak kamu,” komentar Azura kemudian melanjutkan menyapunya.
“Argh ... sudahlah! Jangan banyak bicara, kamu ini pagi-pagi sudah merusak mood orang saja!” kesal Axel berikutnya bangkit berdiri.
“Kamu mau kemana?” tanya Azura lagi begitu melihat sang suami berjalan menuju pintu utama.
“Ya kerja lah! Memangnya aku sepertimu? Cih ... cuma pengangguran nggak berguna dan pemalas,” jawab Axel disertai dengan kekehan menyebalkannya.
“Tapi masakanku sudah matang dari tadi, seenggaknya sarapan dulu lah!” pinta perempuan pendek itu merengek.
Oh ayolah! Dia sudah berusaha menjadi istri yang baik dan rajin belakangan ini, tapi Axel bahkan tidak melihat bahkan menghargai usahanya sama sekali. Pria itu memang yang terburuk soal menghargai orang lain. Padahal, kontrak pernikahan mereka sudah hampir berakhir 3 bulan lagi.
“Aku lagi buru-buru, habiskanlah makanan nggak enakmu itu sendiri!” suruh Axel berikutnya berjalan keluar rumah.
Azura cemberut. Perempuan itu berkacak pinggang sambil memandangi mobil Axel yang perlahan menjauh di halaman. Dalam hati, perempuan pendek itu bertanya-tanya.
Kira-kira, kapan masakannya akan mampu menyenangkan Axel sehingga membuat pria itu tidak sabar untuk pulang ke rumah mereka?
***
Axel baru saja pulang kerja saat menemukan beberapa mobil pengangkut barang terparkir dan menghalangi jalannya memasuki halaman rumah. Memarkirkan mobilnya sejenak, pria jangkung itu memilih turun dan berlari masuk rumah.
Begitu menemukan Azura tengah duduk di sofa dengan anteng sambil memandangi beberapa orang yang memindahkan barang ke ruang tengah, pria itu kontan menghampiri sang istri.
“Apaan ini?” tanya Axel begitu melihat sebuah kasur lipat, lemari pakaian, meja beserta komputer juga mesin printer berjejer di depannya.
“Eh, udah pulang?” tanya Azura masih mempertahankan senyum sumringahnya.
“Kamu beli ini semua?” tanya Axel tidak percaya yang di telinga Azura terdengar begitu meremehkan.
Apa ‘pengangguran tidak berguna dan pemalas’ sepertinya begitu mengejutkan karena bisa membeli semua ini? Aish ... pria jelek ini terlalu meremehkannya!
“Iyadong, nggak mungkin nyuri.” Azura menyahut dengan bangganya.
“Namanya Galen! Bukan mata empat. Sesekali belajarlah manggil nama orang dengan bener. Aku tau hidup kamu itu banyak nggak benernya, tapi nggak usah nggak benerin nama orang lain juga lah!” omel Azura yang dibalas Axel dengan angkatan bahu acuh.
“Kenapa beli beginian sih? Ini lagi, buat apa coba kasur lipat jelek kayak gini?” tanya Axel sewot dengan barang-barang yang dibeli istri pendeknya.
“Lah terus kalau bukan aku yang beli memangnya siapa? Kamu nggak mungkin beliin aku kasur apalagi lemari buat kamarku, kan?” tebak Azura sambil melirik sinis.
Hari ini, setelah mengumpulkan gajinya sejak awal menikah dengan Axel, akhirnya Azura mampu membelikan dirinya sendiri barang mahal apapun yang dia mau. Sejenak, perempuan itu merutuki nasibnya sebagai istri dari seorang pria kekurangan akhlak macam Axel.
Tiga bulan mereka menikah. Dan selama itu pula pria itu anteng-anteng saja melihatnya tidur di lantai beralas tikar plastik tipis. Kadang, Azura sampai mempertanyakan apa pria seperti suaminya itu punya hati dan empati? Karena sikapnya bahkan terlalu menyebalkan untuk bisa Azura akui sebagai suami.
“Jangan banyak berharap diberikan sesuatu kalau sampai sekarang kamu bahkan belum bisa ngelakuin sesuatu apapun!” peringat Axel berikutnya melenggang menuju kamarnya.
Azura diam saja. Sudah biasa dengan sikap Axel yang banyak menguji kesabaran dan mentalnya. Sesekali, Azura bahkan sempat punya niatan untuk kabur saja. Tapi, ingatan tentang bakal seberapa kecewa orang tuanya juga sang papa mertua lebih banyak mengambil kesadarannya.
Dia sadar dia adalah sosok anak yang gagal. Jadi, perempuan itu tidak ingin lebih terlihat lebih mengecewakan karena menjadi istri yang gagal pula.
“Oh iya, jangan lupa siapkan makan malam! Aku lapar,” sahut Axel sambil menyembulkan kepalanya dari pintu kamar di lantai atas.
Azura menghela napas berat. Begitulah Axel. Selalu menghujat hasil masakannya, tapi tidak pernah bosan menyuruhnya menyiapkan makanan.
***
“Sebenernya, ini terlalu buruk untuk orang yang udah belajar masak 3 bulan. Tapi, karena yang buat ini kamu, jadi lumayan lah!” komentar Axel yang tidak Azura mengerti aakah termasuk ke dalam kalimat pujian atau hinaan.
“Jadi sebenarnya kamu mau muji atau ngehina sih?” tanya Azura kesal.
“Makannya punya kepala itu dipake, jangan dipajang doang! Mubazir kan jadinya. Tadi itu pujian.” Axel menjelaskan dengan bumbu makian.
Meski tidak suka dikatai tukang pajang kepala, Azura tetap tersenyum senang. Setidaknya hari ini masakannya lebih baik daripada sebelumnya. Axel memang yang paling jujur soal mereview masakannya, jadi Azura percaya pada kalimatnya meski pedas.
“Oh iya, Papa Ian sama Papa Sera tadi siang nelepon. Katanya besok malam kita diundang makan malam keluarga di kafe punyanya Kak Elyn.” Azura menceritakan yang dibalas Axel dengan pelototan kaget.
“Berarti ada Elynca juga dong?” tanya pria jangkung itu semangat.
Azura yang sedari tadi lahap memakan makan malamnya, kontan menghentikan kegiatannya. Dengan berat hati, perempuan itu mengangguk pelan.
Tidak dapat dipungkiri, semakin hari mendengar nama Elynca dari mulut Axel selalu berhasil menyakiti hatinya. Mengetahui suaminya begitu mencintai sang kakak selalu berhasil menyesakkan dadanya.
Berulang kali, Azura terus menyangkal bahwa dia tidak mencintai Axel. Pria itu terlalu kasar, pemarah, tukang ngomel, menyebalkan dan kejam. Tidak mungkin Azura mencintainya.
Tapi, semakin Azura mengatakan tidak mungkin, sebanyak itu pula Azura sadar bahwa dia memang mulai menyukai Axel. Axel---suaminya, yang menyebalkannya malah mencintai kakaknya.
“Kok berhenti makan?” tanya Axel heran begitu melihat wajah cemberut Azura.
Azura mendongak kemudian menggeleng. “Nggak papa, cuma pengen makan mie.”
“Yaudah sih tinggal nyeduh, stok kamu yang sebulan itu masih banyak kan di dapur?” tanya Axel santai.
“Enggak jadi, kayaknya hari ini aku pengen makan orang aja.”
Selanjutnya.