
Karena semalam mengatakan lelucon soal terseret ombak, sepertinya Axel memang berniat membuatnya terseret ombak juga. Karena di pukul 4 pagi, pria menyebalkan itu bahkan sudah menyeretnya menuju pesisir pantai di depan hotel.
Axel dan Azura memang menyewa resort di dekat pantai senggigi. Bahkan, di dekat hotel tepatnya di pesisir pantai itu, ada banyak kursi-kursi juga meja khusus untuk pengunjung hotel mirip restaurant merah.
Angin pantai pukul 4 pagi seketika membuat mata Azura yang sebelumnya setengah mengantuk, semakin ingin rebahan saja di pijakannya.
"Kamu ini! Baru diajak bangun jam 4 aja udah kayak mau diajak hukum gantung," komentar Axel begitu Azura dan dirinya perlahan duduk di pesisir pantai menghadap laut.
Azura yang hanya membalut tubuhnya dengan tanktop hitam juga sweeter rajut berwarna hitam, memilih mengabaikan kalimat Axel. Perempuan itu dengan santai justru berbaring di pasir putih membuat Axel melotot garang.
"Woi! Bangun! Ck ... ini alien! Nggak bisa bedain mana kasur mana pasir, kah? Gara-gara Kelamaan tidur di lantai nih pasti," dunel Axel kesal.
Azura menoleh pada sang suami yang duduk sambil menyorot galak ke arahnya. Beberapa detik kemudian, perempuan itu memilih memejamkan mata.
Dia benar-benar sangat mengantuk dan dingin. Dan meladeni ocehan Axel bukan hal yang Azura ingin.
Tapi, sebuah tangan yang menyelip di bawah tengkuknya membuat perempuan itu membuka mata. Begitu menoleh ke arah samping, dia malah menemukan wajah Axel tengah menandang langit yang masih gelap sama sepertinya.
"Ngapain?" tanya Azura bingung dengan kelakuan pria itu.
"Ya enggak papa, kayaknya aku ngajak orang yang salah. Kamu nggak bisa bangun cuma buat liat matahari terbit jam segini. Kita emang nggak akan pernah cocok kayaknya," gumam pria itu kali ini lebih santai.
Azura membenarkan letak kepalanya agar menjadikan tangan sang suami sebagai bantal. Tangannya terangkat seolah hendak menggapai sesuatu di langit yang gelap.
"Emangnya kapan kita pernah cocok?" tanya Azura santai. Berniat membenarkan pendapat pria itu.
Axel mengembungkan pipi sejenak, kemudian menggeleng. Pertanda bahwa mereka berdua memang tidak pernah seakur dan secocok yang orang tua mereka harapkan.
"Lagian si Papa sih! Kita mau dikasih tiket bukan madu ke Lombok kek, Jepang kek, atau Benua Antartika sekalipun, tetep aja kita kayak gini. Nggak akan ada yang berubah," guman Azura sambil menaik turunkan kakinya karena bosan.
Axel yang iseng kontan ikut menaikkan kakinya dan sengaja menabrakkan kaki dengan perempuan itu. Hal itu membuat Azura mendengkus kesal.
"Zu."
Panggilan tiba-tiba Axel begitu dia dan Azura sudah selesai dengan perang kakinya, membuat perempuan itu menoleh. Sialnya, Azura malah salah fokus ke hidung mancung dan mata biru Axel.
Suaminya ... terlihat sempurna. Sangat tidak cocok jika disandingkan dengan Azura. Lagi dan lagi, perasaan 'insecure' itu menyelimutinya.
"Azuraaa," panggil Axel lagi menyadari panggilannya yang tidak ditanggapi.
"Apa?" tanya perempuan pendek itu membuat Axel ikut menoleh padanya.
Kontan, manik mata sepasang suami istri itu bersibobok. Hening cukup lama. Hanya tersisa suara debur ombak yang berangsur-angsur menabrak pesisir pantai. Juga ... debar jantung Azura yang menggila.
"Ayo kita habiskan liburan ini untuk bersenang-senang!" ucap Axel membuat Azura mengernyit tidak mengerti.
"Maksudnya?"
"Ayo baikan! Selama seminggu di sini, ayo kita jadi suami istri pada umumnya. Kita main kemanapun yang kita mau!" ajak Axel serius membuat Azura berpikir sejenak.
"Boleh juga sih, tapi aku nggak yakin kamu tahan nggak ngehujat aku barang sehari," jawab Azura santai membuat Axel mendengkus keras.
"Ya itusih salah kamu, ya! Siapa suruh jadi manusia bodoh? Resiko kamu lah kalau aku ngehujat," jawab Axel membela diri.
Azura terkekeh geli. Tampak tidak tersinggung sama sekali. "Nah tuh, kan! Kamu hujat aku lagi," timpal Azura membuat Axel tidak bersuara lagi.
Keduanya kali ini beralih duduk. Kembali memandangi deburan ombak yang menabrak bibir pantai sambil menikmati angin malam yang menusuk tulang.
Atau mungkin ... cuma Axel yang menikmatinya. Karena sekarang Azura sudah menggigil kedinginan lagi. Oh ayolah! Makhluk pemalas dan penulis sibuk sepertinya tidak pernah punya waktu untuk keluar rumah.
Selama tinggal bersama nenek pun, dia hanya pernah ke pantai 1 atau kalau tidak salah 2 kali. Selebihnya, Azura tidak tahan. Sejujurnya, ia juga tidak pernah ke pantai ketika malam. Ini pertama kalinya.
"Dingin, ya?" tanya Axel tiba-tiba begitu melihat Azura terus mengusap-usap telapak tangannya.
Azura menoleh sejenak kemudian mengangguk. Lututnya perempuan itu tekuk dan peluk erat. Celana trening hitam panjangnya bahkan tidak mampu menghalau dingin sekarang.
Tapi, begitu merasakan sesuatu yang hangat tersampir di punggungnya, perempuan itu menoleh lagi. Ternyata jaket cokelat Axel.
"Ngapain? Pakai aja! Pasti dingin, kan?" tanya sekaligus tebak Azura pada pria yang masih sibuk memandangi pantai tanpa bosan itu.
"Hilih, aku nggak selemah kamu. Pakai aja cepet!" perintah Axel semena-mena membuat Azura mau tidak mau memasang jaket cokelat itu pada tubuhnya.
"Apa hebatnya sih, nontonin pantai jam segini? Mending tidur aja sampai siang. Kamu ini seenggaknya kalau nggak bisa ajak aku liburan, kasih aku libur bangun pagi aja." Azura menyarankan dengan mata kembali mengantuk.
Axel memilih tidak menyahuti ucapan perempuan di sampingnya. Cukup lama hanya terdengar hening. Sampai matahari perlahan muncul di ufuk timur, mata Axel berbinar senang. Ini yang sedari tadi ditunggunya dan ingin dia tunjukkan pada Azura pula.
Tapi, begitu merasakan kepala perempuan itu perlahan jatuh di bahunya, Axel menggeleng tidak habis pikir. Perempuan itu malah tertidur.
Awalnya, Axel berniat membangunkannya. Tapi, melihat wajah lelah juga tenang Azura saat tidur, membuat pria itu tidak tega.
Akhirnya, ketimbang membuang perempuan itu ke lautan seperti niatnya sehabis bertengkar setiap hari, Axel malah membiarkan saja perempuan itu tidur dengan nyenyak. Beberapa saat setelah matahari mulai terasa terik, Axel bahkan memilih mengangkat tubuh Azura dan membawanya ke hotel ketimbang membangunkan perempuan pendek itu.
"Dia makannya banyak mana nggak pernah olahraga padahal. Bisa-bisanya kurus mana ringan gini?" heran Axel dengan berat tubuh sang istri.
Sepertinya, berat tubuh Azura tertelan lelucon tidak lucunya.
***
Azura terbangun begitu mendengar suara ribut televisi. Begitu membuka mata, hal pertama yang didapatinya malah langit-langit kamar hotel yang berwarna putih susu.
Azura mengernyit heran. Seingatnya, tadi dia sedang berada di pantai. Bagaimana bisa sampai sini?
Lalu, begitu melihat Axel yang keluar dari kamar mandi, Azura mencegatnya.
"Xel ... perasaan tadi aku di pantai deh," komentar Azura membuat Axel melotot. Segera mungkin memikirkan alasan kenapa perempuan itu bisa pindah ke kamar ini tanpa mengungkit insiden 'gendong Azura sampai kamar'.
"Oh iya, tadi pagi kan aku ajak kamu ke pantai. Eh, kamunya malah ketiduran. Jadi kusuruh petugas hotel buat buang kamu ke lautan, tapi taunya malah dibalikin ke sini." Axel bercerita kelewat serius.
Azura yang memang pada dasarnya bodoh, kontan melotot garang. Sepertinya perempuan itu percaya pada cerita ngawurnya.
"Awas aja kalau kamu berani buang aku! Aku nggak bisa berenang loh, kalau tenggelem terus keseret ombak gimana?" panik Azura membuat Axel mati-matian menahan tawa.
Bisa-bisanya perempuan itu malah percaya.
Memilih duduk di sofa dan menyetel TV tanpa mempedulikan kepanikan tidak berdasar Azura, Axel berucap santai.
"Daripada buang kamu ke pantai terus dibunuh Papa Damian, mending buang aja sana dulu kepalamu itu! Otaknya ada tapi dipajang doang, malah nggak dipakai buat mikir."
Azura yang kesal dengan sindiran pria itu, kontan berniat melempar bantal ke wajah jelek Axel. Tapi, bukannya bantal, malah tubuhnya yang lebih dulu terjungkal dan jatuh dari kasur.
Ketimbang menolong, Axel tentu saja hanya tertawa ngakak.
Azura menghela napas berat.
"Makin ke sini makin banyak cobaan, ya? Jadi bingung mau nyobain yang mana dulu. Nyusruk dari kasur, atau dibuang ke laut?"
Seketika, mendengar ratapan sok miris Azura, Axel ingin benar-benar membuang perempuan itu ke laut sekarang juga.
"Yaiyalah! Kalau banyak namanya 'cobaan' kalau dikit namanya 'cobain', kan?" timpal Axel malah memperburuk keadaan.