
Azura duduk di teras rumah sambil memandangi gerbang rumah yang tingginya hanya sedada. Dia sedang menunggu Axel pulang.
Tidak peduli tubuhnya yang meronta lelah sehabis perjalanan jauh, juga matanya yang sudah setengah mengantuk, Azura tetap memilih menunggu sang suami pulang. Padahal, seharusnya dia marah, kan?
Axel meninggalkannya di Bandara sendiri hanya demi Elynca. Lalu untuk apa Azura sekarang menunggu pria itu dengan bodohnya?
Oh iya, Azura lupa. Kata Axel dia memang bodoh sih. Oleh karena itu dia tidak pernah cukup mengerti tentang ini semua.
"Kapan dia pulang sih? Nggak inget jalan pulang apa emang nggak mau pulang?" gumam Azura sambil merapatkan sweetee rajut berwarna cream-nya.
Rumahnya dan Axel berada di dekat pantai. Sudah pasti udara malam di luar jam segini begitu dingin hingga merasuk ke tulang. Azura bahkan tidak ingat jika pernah keluar rumah ketika malam.
Suara deru mobil yang perlahan berhenti di halaman rumah, seketika membuat Azura berbinar senang. Tapi, begitu mengetahui itu adalah mobil Galen, perempuan itu merosotkan bahu kecewa lagi.
Bukan Axel.
"Zu ... kok di luar? Di sini kan dingin. Ayo masuk! Saya bawakan makan malam," ajak Galen begitu pria itu keluar dari mobilnya.
Azura mencoba memasang senyum selebar mungkin. Tapi, tetap saja Galen mampu menyadari bahwa saat ini ia tengah kecewa. Kecewa karena yang datang malah Galen, bukan suaminya.
"Ayo masuk! Kamu bisa flu kalau kelamaan duduk di sini," ajak Galen sambil menepuk bahu Azura yang dibalas perempuan itu dengan gelengan.
"Enggak. Aku mau nunggu Axel pulang," jawab Azura jujur.
Galen terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, pria itu tersenyum tipis. "Kamu bisa tunggu dia di dalem, kan? Ayo!" ajak pria berkaca mata itu lagi.
Azura menggeleng lagi.
"Aku nggak mood masuk rumah, beneran. Jadi ... di sini aja. Siniin makanannya!" jawab dan pinta Azura santai.
Galen mengangguk kemudian ikut duduk di samping perempuan itu. Tangannya membuka kresek putih kemudian mengeluarkan sekotak mie yang tadi dia beli di sebuah kedai mie dengan nama 'mie bro'.
Azura yang menyadari makanan yang dibawakan Galen untuknya, kontan berbinar senang. Tanpa menunggu lama, perempuan itu membuka bungkus sumpit kayu yang sepaket dengan mie tersebut kemudian memakan makanan favoritnya dengan lahap.
"Ini mie bro, ya? Waah ... rasanya tetep enak, ya? Padahal aku makan ini dua bulan yang lalu kalau nggak salah," gumam Azura di sela makannya.
Galen hanya memandangi perempuan itu yang makan dalam diam. Lihatlah! Terlalu mudah menaklukan mood Azura. Hanya dengan mie saja, perempuan itu sudah mampu tersenyum secerah ini.
"Kamu tau nggak, Len? Pas di Lombok kemarin, aku juga diajak makan banyak jenis mie sama Axel. Bahkan, kami pernah makan 4 kresek besar cemilan berdua doang di pantai. Aku sampai ngira perutku mau meledak waktu itu," cerita Azura panjang lebar di sela makannya.
Senyum Galen yang sedari tadi terkembang melihat Azura makan, kontan meluntur begitu menyadari topik pembicaraan perempuan itu malah berakhir ke Axel lagi.
"Aku ... kayaknya mulai nggak suka Axel," gumam Galen lirih membuat Azura yang tidak mendengar kontan mengernyit.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Azura mencoba memperjelas.
"Enggak, cuma mau pamit pulang aja. Suami kamu udah pulang soalnya tuh!" jawab Galen sambil menunjuk dengan dagunya mobil Axel yang baru saja terparkir di halaman rumah.
Galen berdiri dan berjalan menuju mobilnya cepat. Tapi, begitu berpapasan dengan Axel, pria itu menepuk bahu Axel seolah tengah memberi peringatan.
"Jaga baik-baik ya, istrinya! Jangan sampai ditinggalin lagi. Kalau sampai ditinggalin, saya pasti bakal ambil dan nggak akan ngembaliin lagi," bisik Galen penuh penekanan.
***
"Kamu nggak marah?"
Axel bertanya begitu Azura mulai menyajikan nasi dengan lauk mie instan dan telur ceplok di depannya. Tadi ketika pulang Axel malah mengeluh lapar.
Tapi, karena tidak ada bahan makanan, akhirnya Azura memasak seadanya saja. Setidaknya bisa mengganjal perut lapar suaminya.
"Marah?" tanya Azura masih tidak mengerti dengan topik pembicaraan Axel.
"Ck ... yang tadi di Bandara! Aku nggak sengaja ninggalin kamu," sesal Axel sambil menunduk dalam.
Azura yang tidak menyukai wajah bersalah Axel, kontan menghela napas berat.
Pria itu kemudian makan dengan lahap. Azura memandangi dalam diam sambil berpangku tangan. Seolah menonton Axel makan lebih menyenangkan daripada menonton iklan mie instan.
"Xel."
Azura memanggil di sela-sela Axel memakan makan malamnya. Axel menoleh sejenak masih dengan mulut penuh mie instan.
"Aku nggak suka kalau kamu ngelupain aku karena inget orang lain," jawab Azura dengan jujur.
Axel yang mendengar pernyataan serius perempuan itu, kontan menghentikan kegiatan makannya. Matanya memandang tepat di manik mata cokelat terang Azura lekat. Seolah tengah mencari kebohongan di dalam sana.
"Sebenernya ... aku terlanjur suka sama kamu. Jadi tolong jangan lebih nyebelin dari ini. Aku beneran bingung. Aku jadi harus marah tapi nggak pernah bisa beneran marah sama kamu."
Tidak sanggup mendengar reaksi sang suami atas pernyataannya yang tiba-tiba dan pasti sangat sepele, Azura memilih berdiri dan berlari menuju kamarnya.
Meninggalkan Axel yang wajahnya bahkan sudah lebih tegang dari napi yang hendak dieksekusi mati.
***
Entah kenapa, pagi ini Azura merasa Axel terlalu aneh. Pria itu tidak menyuruhnya bangun pagi. Suaminya tidak mengomentari pekerjaan rumahnya sama sekali.
Ada apa dengan pria itu sebenarnya?
"Mau ngapain?" tanya Axel begitu melihat Azura tengah memegang selang guna menyiram tanaman di taman belakang rumah.
"Kira-kira memangnya mau apa? Apa aku kelihatan lagi main-main?" tanya Azura dengan unsur sarkastik.
Axel mengangguk-angguk paham. Untuk pertama kalinya tampak tidak tersinggung sama sekali.
"Mau kubantu?"
Pertanyaan Axel seketika membuat Azura melotot kaget. Bahkan ketika pria itu perlahan mengambil alih selang di tangannya dan mulai menyiram tanaman, Azura masih terperangah kaget.
Matanya tak berhenti mengawasi gerak-gerik Axel yang tengah menyiram tanaman dengan sangat telaten dan merata.
"A-aku aja, Xel!" pinta Azura merebut kembali selangnya. Masih tidak terbiasa dengan sikap baik suaminya.
Karena selama ini, jangankan membantu Azura, pria itu bahkan hanya mengomel dan terus mengomeli pekerjaannya yang buruk tanpa pernah mau memberikan contoh yang baik. Dan sekarang? Kenapa bisa-bisanya seorang Victoria Axelsen Zelardo yang menyebalkan mau membantunya begini?
"Kamu semalam mimpi apa, Xel? Kok jadi baik gini?" tanya Azura penasaran.
Seketika, wajah ramah Axel tadi berubah dengan delikan tajam. Tangan pria itu bahkan membanting selang di genggaman.
"Kamu ini! Gimana mau diperlakuin dengan baik kalau pas aku berusaha baik aja malah gini?!"
Azura termundur begitu teriakan Axel perlahan memekakkan telinganya. Perempuan itu memandang suaminya semakin tidak mengerti.
"Lagian ngapain kamu baik hari ini? Dalam rangka apa?" tanya perempuan itu lagi.
"Ya ... ya ... suka-suka aku lah! Yang baik kan aku! Lagian kan semalam kamu sendiri yang bilang biar aku nggak makin nyebelin. Gimana sih?" kesal Axel kembali ke sifat awalnya---tukang ngegas.
"Aku bilang gitu ya semalem? Owalah ... aku nggak inget." Perempuan itu terkekeh tanpa dosa.
Axel menggeram. Jangan bilang perempuan itu juga tidak serius tentang pernyataan sukanya semalam?
"Terus soal suka aku itu ... kamu beneran nggak?" tanya Axel memastikan. Takut salah kaprah lagi.
"Kayaknya aku lagi kurang waras waktu bilang gitu semalem," jawab Azura dengan santainya.
Axel memejamkan mata guna menahan emosi. Dalam hati bertanya pada diri sendiri;
Memangnya ... kapan Azura cukup waras?