
Pagi-pagi sekali, Azura sudah dipaksa 'kerja rodi' oleh orang menyebalkan yang sialnya adalah suaminya. Ia tidak tahu Axel itu orang macam apa.
Tapi, yang ia tahu, pria jangkung itu terlalu punya banyak cara untuk menyusahkan orang lain. Contohnya saat ini.
Kira-kira, siapa yang mau disuruh mencabuti rumput liar pukul 5 pagi? Azura pikir, tukang kebun saja bahkan enggan. Apalagi Azura yang notabene-nya makhluk pemalas level akut.
"Hei, perempuan jadi-jadian! Matamu makannya itu dipake! Mentang-mentang matahari belum keliatan, masak rumput segede gitu aja nggak liat?!"
Okey, kapan-kapan mari membantu Azura mencabut rumput. Setelah itu, pakai rumput itu untuk menyumpal mulut banyak omong Axel. Pasti seru.
"Lagian, aku masih ngantuk. Jam segini biasanya aku tidur lagi habis sholat subuh," cerita Azura dengan unsur mengeluh.
Udara pukul 5 pagi tidak cocok untuknya. Azura sangat benci pagi hari sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Entah jiwa pemalasnya datang darimana, yang jelas, perempuan itu jadi lebih suka berdiam diri di kamar selama sebulan daripada berada di tempat ramai seharian.
"Ya karena kamu biasanya gitu, mulai sekarang aku bikin kamu biasanya gini." Axel menyahut enteng. Tidak memberikan celah sedikit pun untuk Azura mengelak apalagi melarikan diri.
Meski tidak protes lagi, tapi wajah Azura terus cemberut sambil mencabut rumput di sekitar bunga seribu daun dengan bunga berwarna ungu, merah dan putih. Kenapa pria seperti Axel malah suka melakukan hal-hal merepotkan begini?
"Kamu nggak pergi kerja?" tanya Azura mengganti topik.
"Ya kerja, tapi kan biasanya berangkat jam setengah 8," jawab Axel masih fokus dengan pekerjaannya.
Azura melirik sekilas. Dalam hati sedikit memuji setiap pekerjaan yang dilakukan suaminya dengan sangat telaten. Pria itu begitu banyak tahu cara melakukan sesuatu yang berguna. Sangat jauh berbeda dengan Azura yang serba tidak berguna.
Kurangnya, hanya pada cara Axel mengomel dan melontarkan kata pedas. Pria itu terlalu punya banyak koleksi kosakata sindiran untuk Azura.
Dua minggu tinggal bersama Axel, sedikit membuat Azura mengerti sifat dan kebiasaan pria itu selama ini. Selalu bangun pagi-pagi sekali. Tidak suka kotor dan tangannya selalu gatal untuk bersih-bersih. Mulutnya yang tidak bisa berhenti berteriak dan marah-marah. Serta selalu rapi dan ... tampan?
Okey, untuk itu, Azura tidak ingin memungkiri. Setelah dipikir-pikir, Axel memang terlalu sempurna untuk menjadi suaminya. Pria jangkung itu terlalu tampan, terlalu bersih, terlalu teratur dan rapi untuk Azura yang serba tidak memenuhi standar dan berantakan.
Lagipula, Azura juga tidak pernah membayangkan akan menikah dengan pria manapun. Semenjak kejadian dia yang hampir diperkosa dulu, perempuan itu jadi tidak pernah mau percaya pada makhluk berjenis pria. Terkecuali untuk sang Papa dan teman sekaligus sepupunya di Lombok---Bobby.
Bahkan, Azura sangat tidak menyukai Axel. Pria yang sempurna sangat tidak cocok untuk perempuan buruk sepertinya.
Ya, Azura merasa tidak pantas. Beberapa tahun sejak kejadian 'itu', ia masih merasa sangat buruk dan tidak layak diterima siapapun. Termasuk keluarganya sendiri. Sebab itulah sebenarnya Azura selama ini memilih tinggal bersama Nenek dan menjauh dari pergaulan manapun hingga kini.
"Eh, Zura. Kamu beberapa tahun belakangan ini kabur dari rumah, kan?"
Pertanyaan Axel seketika membuyarkan lamunan Azura. Perempuan itu menoleh linglung kemudian mengernyit begitu tidak sempat menangkap pertanyaan yanh dilontarkan Axel.
"Apa?"
"Kamu kabur dari rumah kan, selama ini?" tanya Axel lagi. Mencoba untuk tidak lebih banyak berbicara ngegas.
"Bukan kabur, cuma izin tinggal sama nenek." Azura menyanggah sambil kembali mencabuti rumput liar yang terasa tidak pernah habis untuk dicabutinya.
"Lah apa bedanya? Kata Mama Anye kamu maksa makannya dibolehin tinggal sama nenek kamu. Itu mah sama aja namanya kabur," sanggah Axel lagi.
Azura menghela napas berat. "Yaudah deh, terserah kamu," sahut perempuan itu mengalah. Malas berdebat.
"Kalau kamu kabur, dicariin nggak?" tanya Axel yang dibalas Azura dengan anggukan.
"Hu'um, udah dicari dan dibujuk hampir tiap bulan bahkan tiap minggu kayaknya. Tapi akunya aja yang nggak mau pulang," jawab Azura sambil terkikik geli. Merasa lucu begitu mengingat bagaimana ngambeknya Elynca saat Azura pertama kali merayakan ulang tahun tanpanya.
"Bisa gitu ya?" gumam Axel dengan wajah takjub dan heran.
"Ya bisa-bisanya kamu dicari. Lah aku dulu, kirain kabur dari rumah bakal dicari sama Papa, eh dia malah cuma nelepon terus bilang 'kalau udah laper, pulang aja, ya.' Kan ngeselin!"
Mendengar cerita Axel, Azura tertawa ngakak. Perempuan itu bahkan terjungkal dari jongkoknya saking merasa gelinya.
Axel yang melihat itu, kontan melempari Azura dengan rumput liar di tangannya.
"Nggak usah ketawa, nggak ada yang lucu juga!" sewot Axel membuat Azura meredakan tawanya.
"Makannya, seharusnya dulu kamu nggak usah pulang aja. Biar mati kelaparan sekalian."
Rasanya, Axel ingin jadi Iron Man saja. Daripada punya istri durhaka kayak Azura.
***
Baru pulang kerja. Dan Axel sudah menemukan bekas snack berceceran di ruang tengah. Kontan, pria itu mendekat pada pelaku yang tengah santai mengetik di laptopnya.
"Kamu ini! Rumah berantakan kayak tempat pembuangan sampah aja masih bisa duduk anteng. Kamu ini beneran perempuan bukan sih?!"
Okey, tanpa melihatnya saja, Azura sudah tahu kalau itu adalah Axel. Siapa lagi yang paling senang meragukan jiwa keperempuanannya jika bukan pria itu?
"Sudah pulang? Mau makan sore nggak? Aku gorengin telur ceplok deh," tawar Azura merasa tidak terganggu dengan hujatan pria itu sama sekali.
"Gimana aku bisa makan kalau ruangan bau sampah begini?" tanya Axel yang bagi Azura terdengar sangat 'lebay'.
"Ck ... bentar kalau gitu!" sahut perempuan pendek itu kemudian berlari menuju lantai atas.
Sekembalinya, dia menyemprotkan parfum beraroma apel ke seluruh penjuru ruangan sampai Axel terbatuk-batuk. Pria itu kontan merebut benda beraroma menyengat itu dari tangan sang istri.
"Kamu ngapain?!" tanya Axel semakin ngegas yang dibalas dengkusan kesal Azura.
Perempuan itu melempar parfumnya ke sembarang arah. "Jadi mau kamu apa sih?! Tadi bilang ruangannya bau kayak tempat pembuangan sampah, sekarang pas dikasih parfum malah marah-marah. Padahal cewek selalu benar, tapi kenapa aku selalu salah?!"
Selesai mengomel panjang lebar, perempuan itu mengangkat laptopnya yang masih terbuka lebar kemudian melangkah sambil menghentak sebal menuju kamar. Axel mengangkat alis sebelah, memandang kepergian perempuan itu tidak habis pikir.
Yang memberantakkan rumah Azura. Yang marah-marah juga perempuan itu. Sebenarnya, istrinya ada masalah hidup apa?
"Kamu itu udah pemales, tukang ngambek, nyebelin lagi. Minggat aja udah sana dari rumah!" maki Axel sambil berteriak keras.
Pria itu menendang bekas bungkus snack di sofa kemudian duduk sambil selonjoran. Tapi, suara pintu yang terbuka tiba-tiba membuat Axel mendongak ke lantai dua lagi.
"Oh iya, cuma mau ngingetin. Cukup malaikat raqib dan atid aja yang nilai orang, kamu nggak usah repot-repot."
BRAKKK ....
Pintu kamar tertutup lagi. Axel menghela napas berat, mencoba melapangkan dada.
Cukup Azura saja yang mengomel, dia tidak perlu repot-repot.
Perhatian pria jangkung itu seketika teralihkan begitu suara dering telepon di saku berbunyi. Begitu melihat nama penelepon, Axel mengangkat cepat.
Dari Elynca.