Innocent Wife

Innocent Wife
eps 41~Tidak Lebih Penting



Axel memandangi dalam diam Azura yang tengah sarapan dengan terburu-buru. Perempuan itu bahkan sudah rapi di jam 7 pagi dengan setelan dress selutut berwarna hijau muda yang (terpaksa) ia pakai karena keinginan Axel.


"Ayo, Xel! Aku udah selesai," ajak Azura terburu-buru yang dibalas Axel dengan lengosan malas.


Pria itu memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya lagi. Sengaja memelankan gerakan guna memperlambat waktu. Azura yang melihat itu kontan menarik piring sang suami dan menyuapkannya kepada pria itu.


"Makan yang cepet dong! Aku lagi buru-buru ini. Si Galen bisa marah kalau aku telat lagi nyerahin naskahnya," jelas Azura panik yang ditanggapi Axel dengan wajah tidak peduli.


"Emangnya lebih baik aku yang marah daripada si mata empat itu jadinya?" tanya Axel sewot.


Azura menggaruk pipi semakin panik. "Ya enggak gitu juga maksudnya. Kan nggak enak aja gitu, udah ditunda terlalu lama."


"Iya-iya!" sahut Axel malas.


Hubungan keduanya sudah lumayan membaik tentu saja. Meski beberapa kali, mereka tetap saja kerap bertengkar dan baku hantam.


"Kok lama amat sih sarapannya, Xel?" tanya Azura mulai sedikit kesal karena tidak sabaran menunggu.


Axel membanting sendok di tangannya. Pria itu menyorot Azura tajam.


"Yaudah sana pergi sendiri! Nggak liat apa aku juga lagi sarapan?" tanya Axel malah sensi.


Padahal, tadi pria itu yang menawarkan diri sendiri setengah memaksa agar Azura mau diantar olehnya. Sekarang, malah pria itu juga yang menyuruhnya pergi sendiri.


Azura cemberut. Dengan cepat, perempuan itu bangkit berdiri sambil mendumel lirih. "Tau gitu juga aku udah pergi dari tadi," gumamnya kesal sambil berbalik.


Tapi, baru saja akan melangkah, tangan Axel menahan lengannya.


"Nggak! Kamu tetep berangkat sama aku," putus Axel semena-mena berikutnya bangkit dan menyambar kunci mobilnya.


Azura menoleh pada meja makan lagi. Sarapan pria itu belum habis. "Aku berangkat sendiri aja. Lagian sarapan kamu belum habis. Aku juga pasti ngerepotin," ucap perempuan itu tidak enak hati sambil segera berjalan cepat keluar rumah.


Axel yang kesal kontan berlari dan segera mengangkat tubuh Azura ke dalam gendongan. Azura yang terkejut kontan memekik kecil.


"Kan udah kubilang aku mau pergi sendiri," gumam perempuan itu merasa bersalah karena mengganggu sarapan suaminya.


Axel yang melihat raut wajah murung istrinya, kontan melayangkan sebuah kecupan di pipi.


"Udahlah, sarapan nggak pernah lebih penting dari alien pendek ini."


Berikutnya, Axel menggendong Azura kemudian mendudukkannya di dalam mobil. Axel mengulum senyum senang. Meraba pipinya yang tadi dikecup Axel.


"Kenapa?" tanya Axel begitu melihat Azura meraba pipinya dengan raut aneh.


Azura menoleh sebelum kemudian menggeleng gelagapan. "Hah? Enggak kok."


Axel tersenyum sejenak, sebelum kemudian melayangkan sebuah kecupan lagi di pipi kiri istrinya.


"Pipi kamu merah tuh," komentar Axel tanpa dosa.


Azura sudah ingin meninjunya kalau saja Axel tidak lebih dulu menjalankan mobilnya. Aish ... pria ini!


***


Axel duduk sambil memandangi interaksi antara Azura dan Galen dari sofa sudut ruangan. Entah sedang membicarakan apa, tapi, senyum perempuan itu yang Azura berikan kepada Galen membuat perasaan Axel memanas.


Dia tidak suka berbagi senyuman istrinya. Apalagi untuk seorang Galen yang notabene-nya terang-terangan pernah bilang akan mengambil Azura darinya.


Mengingat itu, seketika kepala Axel terasa hampir meledak lagi..


Segera mengeluarkan ponsel dari saku celana guna mengirim pesan kepada Azura agar cepat menyelesaikan urusannya, pria itu malah menemukan ponselnya mati. Padahal, semalam Axel mengecas ponselnya sampai pagi.


Apa kabel datanya tidak tersambung, ya?


"Ck ... ngecas semaleman, yang penuh malam beban hidup." Pria itu merutuk.


Pandangannya kembali terarah pada Azura dan Galen yang tengah tertawa bersama. Seolah tidak peduli dan menyadari kehadirannya.


Axel yang sudah tidak tahan dengan kedua orang menyebalkan itu, akhirnya segera bangkit berdiri dan menarik Azura agar berdiri juga.


"Udah ah, ayo pulang! Aku masih lapar. Urusan kamu udah selesai kan sama dia?" tanya Axel yang diangguki Azura.


"Zu, jangan pulang dulu! Ayo kita makan mie instan dulu, saya traktir deh." Galen mencegah membuat Axel meliriknya sinis.


Galen yang tidak mengerti kontan mengernyit heran. "Maksudnya?"


"Ya istriku ini bukan cuma mahal, tapi nggak bisa terbeli! Jadi jangan coba beli cuma dengan modal mie murahan kayak gitu," komentar Axel pedas.


Azura yang mendengarnya, kontan mengerjap polos. Tangannya bahkan sudah menarik ujung baju Axel membuat pria itu menoleh.


"Mie-nya nggak murahan kok, Xel. Dia belinya di kafe deket rumah Papa Mertua itu soalnya," sanggah Azura dengan tidak tahu situasinya.


Seketika, Axel ingin tukar tambah istri di toko online saja!


***


"Kapan-kapan, nggak usah lah kamu anter naskah lagi! Biar aku yang anterin, atau paling enggak, kirim aja lewat hp kan bisa. Ngapain pakai ketemu segala?" sewot Axel yang diangguki Azura patuh.


"Oh iya! Satu lagi, kamu harus inget ini! Pria yang ngomong lembut lebih baik daripada yang ngomong manis," peringat Axel tegas.


"Berarti kamu nggak baik dong, kan kamu suka ngomong kasar," jawab Azura dengan santainya.


Axel mendengkus. "Yaudahlah! Intinya jangan ketemu dia!" pertegas pria itu dengan nada tidak suka.


"Eh tapi ... kalau dia ngajak makan mie instan gimana?" tanya Azura.


"Ya ditolak! Kamu punya hak, kan?" kesal Axel yang dibalas Azura dengan anggukan lagi.


"Terus aku kasih alasan apa?" tanya perempuan itu lagi.


Axel menghela napas berat. "Nanti aku bantu kamu cari alasan," sahutnya penuh sabar.


"Yaudah, traktir aku makan mie dulu." Perempuan itu memutuskan membuat Axel mendelik tajam.


"Apa yang kamu suka selain mie instan sih?" tanya Axel sewot.


"Kamu kayaknya," gumam perempuan itu dengan santai.


Seketika, wajah Axel yang tadi masam berubah kalem. Tangannya menggaruk-garuk pipi berniat menghalau gugup.


"Terus, kalau aku suruh kamu milih mie atau aku, kamu pilih siapa?" tanya Axel lagi.


"Eum ... kayaknya kamu aja."


Mendengar jawaban istrinya, Axel tersenyum semakin senang. Tapi, kalimat Azura setelahnya, seketika menghancurkan mood Axel lagi.


"Kamu aja deh. Soalnya, kalau kamu kan bisa ngasih mie buat aku, tapi kalau mie mana bisa kasih kamu buat aku." Azura tersenyum cengengesan.


Entah Axel yang kelewat bodoh, atau perempuan ini yang memang pintar menjawab pertanyaan agar selalu menguntungkan dirinya sendiri.


Sampai ketika mobil Axel berhenti di sebuah kedai mie ayam, mata Azura kontan berbinar senang.


"Kita mau makan mie ayam?" tanya perempuan itu yang di telinga Axel terdengar tidak berfaedah sama sekali.


"Nggak! Mau makan hati liat istri sendiri diajak jalan-jalan sama pria lain!" jawab Axel ngegas. Hal itu membuat Azura mendelik sebal.


"Ayo turun!" suruh Axel begitu menyadari perempuan itu tidak juga turun meski Axel sudah membukakan pintu mobil.


Azura diam sambil bersedekap dada. "Nggak ah! Tadi katanya mau makan hati, aku kan nggak suka hati ayam!" tolak Azura sebal membuat Axel menghela napas berat.


"Kita makan mie ayam!" tegas Axel sambil mengangkat tubuh sang istri ke dalam gendongan.


Azura memekik kecil. Apalagi begitu menyadadi tatapan orang-orang di sekitar memandang mereka aneh, perempuan itu semakin menenggelamkan kepala ke dada bidang suaminya.


"Turunin, Axel! Maluuuu," rengek perempuan itu yang dibalas Axel dengan gelengan.


"Enggak, ngapain malu? Kamu kan istriku," jawab pria itu santai.


"Lagian ngapain digendong mulu sih? Aku kan bisa jalan," kesal Azura masih meronta minta diturunkan.


"Ya karena aku suka, kamu ringan soalnya, hehe."


makasih yah yang udah vote,like and koment kalau sampai 30 like aku up lagi