
Axel menggeram kesal begitu melewati ruang tengah. Pagi ini, dia baru kembali ke rumah setelah semalam mengantar Elynca pulang. Perempuan itu tertidur di rumah temannya dan teman Elynca yang mengenal Axel kontan meneleponnya untuk mengantar pulang perempuan itu.
Tentu saja dia tidak berani membiarkan Elynca menginap di rumah temannya tanpa alasan begitu. Mengingat terakhir perempuan itu menginap tanpa mengabari Damian, Papa mertuanya tersebut marah besar dan melarang tegas putrinya menginap di tempat orang lain lagi jika masih ingin dianggap anak.
"Padahal udah jam 7 pagi, tapi lampu bahkan belum dimatiin, ckckck!" omel Axel sambil mematikan lampu yang masih tetap menyala di saat pagi sudah terang benderang.
Selesai mematikan lampu rumah, pria itu memilih duduk di sofa panjang ruang tengah sambil berbaring. Matanya menoleh pada banyak macam snack yang terjejer di meja juga TV yang bahkan masih menyala.
Mematikan televisi dengan perasan kesal, berikutnya pria itu mengambil sebungkus snack dan membukanya.
"Kalau nggak minat dimakan, seenggaknya kan nggak usah dikeluarin dari kulkas. Ada masalah hidup apa sih itu makhluk pendek?" dumel Axel lagi dengan mulut penuh snack kentang goreng.
Begitu melirik pada dapur, pria itu mengernyit heran begitu teringat sesuatu. Semalam, apa dia mengatakan sesuatu pada Azura, ya?
Karena penasaran, pria itu akhirnya bangkit dan berjalan menuju dapur. Begitu sampai meja makan, Axel melotot begitu menemukan opor telur serta nasi di meja makan.
Apa Azura yang memasaknya? Perempuan itu benar-benar memasak ya, semalam? Axel jadi merasa bersalah karena malah tidak pulang juga tidak membelikan perempuan itu mie instan sesuai janjinya.
"Udah basi," gumam Axel kecewa begitu menyadari bau masakan yang sudah asam dan aneh.
Apa yang harus dia katakan pada Azura jika perempuan itu bangun nanti?
Belum selesai memikirkannya, sosok Azura sudah lebih dulu berjalan menuruni tangga. Wajahnya tampak muram dan 'agak' menyeramkan membuat Axel sedikit takut.
"Zu ... kamu masak ya, semalam?" tanya Axel dengan bodohnya meski pria itu sudah tahu jawabannya.
Begitu mendengar suara Axel, perempuan itu menghentikan langkahnya di tangga tengah. Matanya menoleh ke sana kemari kemudian berhenti pada sang suami yang tengah berdiri di ambang pintu dapur.
Axel kira Azura akan mengamuk kemudian melempari kepalanya dengan sandal jepit biru muda di kakinya. Tapi, rupanya perempuan itu hanya memandangnya tajam sebelum kemudian membuang muka acuh.
"Kamu marah?" tanya Axel yang sama sekali tidak ditanggapi perempuan pendek itu.
Azura sendiri tidak mengerti kenapa dia malah semarah ini. Tapi, begitu bayangan Axel dan Elynca semalam melintas di benaknya, perempuan itu bahkan merasa marah meski hanya untuk memandang wajah suaminya.
Menyadari kehadirannya yang diabaikan, Axel menghela napas berat. Ingin marah tapi salahnya juga membiat anak orang marah. Memilih menyeduh kopi, membuang lauk opor yang basi kemudian menyetel TV, pria itu memilih duduk santai di sofa ruang tengah sambil menonton.
Dia tidak punya bakat membujuk orang. Jadi, biarkan saja Azura dengan segala perasaan marahnya. Seperti kata Papanya---Serafin, perempuan kadang memang terlalu ribet dan merepotkan daripada pekerjaan di kantor.
Jadi, lebih baik didiamkan saja sampai moodnya membaik sendiri.
"Zura ... ambilin soda dong!" pinta Axel tanpa sadar.
Begitu menyadari tidak adanya sahutan, pria itu menoleh dan menemukan perempuan itu tengah sibuk menyapu dari pojok ruang tengah. Axel mengurungkan niatnya untuk memaki kemudian mengambil minuman sendiri.
Terlebih dahulu, pria itu memasukkan snack yang dikeluarkan Azura semalam.
"Kamu kalau nggak ada niat nyemil itu mending didiemin aja snack-nya di dalem kulkas! Ngerepotin orang lain buat mindahin aja," omel Axel sambil duduk kembali setelah mendapatkan sodanya.
Azura yang baru menyapu sampai sofa dekat TV, kontan melempar sapunya ke sembarang arah.
"Kamu kalau nggak ada kerjaan, mending lanjutin nyapunya gih! Muka jelek kamu bikin badmood aja," jawab Azura tanpa dosa kemudoan melangkah menuju kamarnya.
Azura buta atau matanya memang rabun sehingga tidak bisa membedakan mana ganteng mana jelek?!
***
Axel bersedekap dada dan menatap Azura tajam. Sedangkan yang ditatap hanya menoleh sejenak kemudian kembali menonton TV dengan acuh.
Sudah dua hari sejak perempuan itu terus diam dan marah tidak jelas hanya karena masalah 'telur opor basi'. Oh ayolah, apa kesalahan Axel sudah sebesar itu sampai pantas diperlakukan begini?
"Sampai kapan kamu mau ngambek nggak jelas kayak gini sih?! Kayak anak kecil banget tau nggak!" Pada akhirnya, yang mampu keluar dari mulut Axel memang hanya makian saja.
Padahal, dia sudah berniat akan meminta maaf tadi. Tapi, yasudahlah. Memang pada dasarnya seorang Victoria Axelsen Zelardo itu tidak berbakat dalam merendahkan dirinya hanya karena sebuah kata maaf.
"Siapa yang ngambek? Nggak! Aku biasa aja," jawab perempuan itu santai sambil duduk bersila memakan cemilannya.
"Halah ... bilang aja kalau kamu ngambek karena masakanmu nggak kumakan karena aku nggak pulang malam itu, kan?" tebak Axel yang dibalas Azura dengan tatapan sinis.
BRAK ....
Perempuan itu berdiri dan menggebrak meja di depannya. Matanya menyorot Axel menantang.
"Kalau aku ngambek karena itu memangnya kenapa?! Nggak ada efeknya sama kamu, kan? Kamu tetep bisa ketemu Elynca, kamu bebas mau nggak pulang seminggu sekalipun. Terserah kamu! Aku beneran nggak ngurus!" pertegas Azura sambil berjalan cepat menuju kamarnya.
"Cih ... lagian, masakanmu nggak pernah seenak itu sampai pantes buat dijadiin alesan ngambek," komentar Axel meremehkan membuat Azura kembali keluar dari kamarnya sambil membawa tas selempang.
"Iya! Masakanku emang nggak pernah enak. Terus mau apa?! Mau nyuruh aku masak lagi sampai jadi enak?! Atau cuma mau cari objek hinaan biar hidup kamu ngerasa yang paling keren?!"
Teriakan ngegas Azura bahkan membuat telinga Axel berdenging. Suara perempuan itu begitu nyaring kalau memang sedang benar-benar berteriak marah. Axel jadi sedikit merinding.
"Kamu ini lebay banget deh! Masak cuma gara-gara opor aja sampai marah kayak gini?" heran Axel dengan sikap istrinya yang selalu terasa melebihkan dan merepotkan banyak hal.
"Emang kalau aku lebay kamu rugi gitu?" sahut perempuan itu kali ini dengan nada lebih santai.
Tapi, tenru saja sahutannya membuat Axel melotot tidak santai.
"Kamu ada masalah hidup apa sih, Zu? Kayaknya suka banget berantem sama aku, heran." Axel menyahut jengah.
Pria itu duduk di sofa yang diduduki Azura sebelumnya sambil bersedekap dada tidak mengerti. Azura yang sudah turun dengan tas selempang di pundaknya, kontan ikut menghela napas berat.
Dia juga lelah marah-marah. Lebih lelah lagi karena tidak mengerti apa alasan kemarahannya dua hari belakangan ini.
"Ya intinya, cuma mau ngingetin sih. Kamu bisa ngelakuin kesalahan berulang kali. Tapi orang lain, belum tentu bisa maafin kamu berkali-kali." Selesai mengatakan itu, Azura melangkah menuju pintu utama.
Axel yang mulai tersadar dari tertegunnya, kontan mengernyit bingung. "Mau kemana?"
"Cari selingkuhan," jawab Azura tidak pakai akhlak berikutnya menghilang di ambang pintu utama.
Axel mendecak kesal. Aish ... si pendek itu!