Innocent Wife

Innocent Wife
eps 13~Ngapain Suka Kamu?



Satu bulan tinggal bersama Axel sama dengan neraka bagi Azura. Harus beres-beres rumah dan menjaga tempat besar itu tetap bersih seharian tapi tetap punya kesempatan mendapat omelan. Atau memasak kapanpun suaminya ingin makan meski tak jarang mendapat hinaan.


Dalam hati, Azura sudah ingin memaki kelewat kasar kalau saja tidak ingat sekardus mie instan yang didapatinya tiap bulan. Contohnya seperti malam ini ....


"Ck ... udah berapa lama sih, kamu belajar masak?!" tanya Axel tidak mengerti.


Pria itu menyingkirkan mangkuk berisi lauk sayur asem di depannya agar menjauh dari jangkauan. Seolah masakan Azura tersebut adalah hal paling menjijikkan.


Azura yang pada dasarnya sedang mengantuk berat, hanya menguap tanpa menanggapi omelan 'wajib' pria itu setiap malam. Bisa dibilang, kicauan Axel adalah lagu selamat tidur baginya.


"Besok-besok, nggak usah masak beginian lagi! Males banget aku makannya, kebanyakan buah asamnya ini!" komentar pria yang bahkan belum melepaskan baju kerjanya itu.


Entah habis pergi ke mana, yang jelas Azura tahu pria itu pulang kerja pukul 4 sore. Jika lebih dari itu, kemungkinan besarnya dia pergi menghabiskan waktu bersama Elynca---kakaknya.


"Namanya juga sayur asem, Xel. Kalau manis, ya namanya sayur manis," sahut Azura logis.


Axel mendelik sinis. "Denger alasan kamu, jadi nyesel aku ngajarin kamu masak tiap libur kerja. Buang-buang tenaga aja, hasil nggak ada! Kayak ngajarin bebek buntung yang pengen bisa jalan tapi nggak punya kaki."


Okey, santai saja. Azura tidak merasa tersinggung sama sekali. Mau sepedas apapun kalimat pria itu, Azura sangat tidak peduli dan lebih peduli pada matanya yang tersisa setengah watt saat ini.


"Kamu kemana aja? Kok udah jam 10 malam baru pulang?" Ketimbang meminta izin untuk pergi tidur ke kamar lebih dulu, Azura malah menanyakan hal yang sudah diketahuinya.


"Eum ... cuma main. Maksudnya, ya jalan-jalan aja sama Elynca," jawab Axel santai. Tampak tidak merasa segan apalagi takut Azura akan tersinggung sama sekali.


"Ooo, yaudah deh. Aku ngantuk, pengen tidur. Kalau kamu nggak mau makan itu, simpen aja deh sana. Besok aku aja yang habisin," ucap Azura sambil berdiri acuh.


Axel mendekatkan lagi piring nasi serta mangkuk laut ke hadapan. "Karena aku lagi laper, meski nggak enak, ya mau nggak mau ya tetep kumakan," jawab pria itu terpaksa.


Azura mengangguk saja. Tapi, bukannya beranjak ke atas, perempuan itu kembali duduk di kursi meja makan di hadapan Axel.


Perempuan pendek itu berpangku tangan meski dengan mata setengah terpejam. Axel mendiamkan saja. Dengan acuh lanjut memakan makan malamnya karena sudah biasa ditonton makan oleh Azura.


Satu bulan tinggal bersama perempuan itu membuat Axel banyak mengenalnya juga. Perempuan itu gila mie instan. Suka menonton orang makan. Kekanakan. Kebanyakan bodoh dan polosnya. Menjadi penulis novel online. Suka marah-marah dan sensian setiap diganggu ketika tengah menulis cerita. Tidak hapal jalan. Tukang nyasar. Berantakan. Pemalas. Menyebalkan. Intinya begitu banyak sifat buruk bersarang di diri perempuan jadi-jadian yang anehnya malah berstatus istrinya.


"Oh iya, Zu. Besok pas hari minggu, libur dulu ya, belajar masaknya?" tanya pria itu di sela mengunyah makanan yang sayurnya bahkan belum matang benar.


"Iya, nggak papa." Sahutan singkat perempuan itu, entah kenapa membuat Axel merasa tidak terima.


"Kamu nggak penasaran atau tanya aku mau ngapain gitu?" tanya Axel kesal.


"Kamu mau ngapain?" tanya Azura kelewat patuh. Kalau sedang mengantuk, perempuan itu memang lebih banyak menjelma jadi makhluk penurut.


"Aku mau ketemu Elynca dong. Kita kencan," pamer Axel bangga.


Azura mengangguk-angguk.


'Diajak kencan aja bangga, giliran ngajak nikah, malah ditinggalin di pelaminan,' sindir perempuan itu dalam hati.


"Kamu nggak ngerasa gimana gitu?" tanya Axel menyadari raut tidak peduli dan kelewat acuh Azura.


"Gimana apanya?" tanya perempuan itu tidak mengerti.


Azura memasang wajah pura-pura ingin muntah. "Hilih! Ganteng dari lubang sedotan mah iya," cerca perempuan pendek itu tidak berperasaan.


Axel mencebik sebal. "Kenapa sih kamu nggak suka aku?" tanya pria itu menuntut.


Pasalnya, egonya sebagai golongan pria tampan merasa terluka. Apalagi begitu menyadari perempuan se'standar' Azura tidak menyukai pria yang kata orang nyaris sempurna seperti dirinya.


"Ngapain suka kamu? Mending suka sama mie instan." Azura menjawab santai. Seketika, wajahnya berubah senyam-senyum tidak jelas begitu menyebut makanan favoritnya tersebut.


Axel memutar bola mata malas. "Yaudah sana! Nikah aja udah sama mie instan!" titah pria jangkung itu sewot.


"Andai bisa, kayaknya kita udah hidup bahagia. Nggak kayak sekarang, makin punya suami kok makin berasa jadi babu kerajaan," gumam perempuan itu sambil berpangku tangan.


Axel menghela napas berat. Susah kalau ngomong dengan perempuan jadi-jadian mah. Bukannya tambah pintar, malah ikutan jadi setres dan bebal.


"Ayo taruhan! Kamu pasti suka aku dalam jangka waktu kurang dari 5 bulan ke depan!" ucap pria itu dengan bangganya.


Azura memandang Axel meremehkan. Dia pikir dia siapa? Mencoba menggoyahkan perasaan Azura yang lebih keras dari baja? Oh tentu saja tidak bisa!


"Hm, kita liat nanti." Azura menjawab santai kemudian melangkah menaiki anakan tangga.


Karena merasa lelah di tengah-tengah tangga yang jumlahnya lumayan banyak, perempuan itu jongkok. Tapi, begitu hendak berdiri, malas menyapa lagi. Akhirnya, perempuan itu duduk dan merangkak sambil ngesot menuju lantai atas kemudian kamarnya.


Axel yang melihat kelakuan ajaib istrinya, terperangah. Sudah satu bulan. Dan sifat tidak biasa Azura tetap saja berhasil membuatnya keheranan.


Dasar perempuan jadi-jadian itu!


****


Pukul 6 pagi. Dan Axel sudah mendengar grasak-grusuk di lantai bawah. Begitu keluar kamar, pria jangkung itu bahkan harus terperangah karena lampu rumah sudah dimatikan.


Siapa yang mematikannya? Bukannya setiap hari Axel yang mematikan lampu rumah? Tidak mungkin Azura, kan? Karena saat ini Axel bahkan belum membangunkan perempuan yang tidak pernah bisa bangun pagi tanpa dibangunkan lebih dulu itu.


"Zu ... Zura ... Azura ...." Axel memanggil sambil menggedor pintu kamar Azura yang berhadapan dengan kamarnya.


Tidak ada sahutan. Axel memgernyit heran. Aneh. Biasanya, baru mengetuk pintu saja, Azura pasti sudah lebih dulu teriak bilang 'iya ini mau bangun!'


Baru saja akan membuka pintu guna mengecek keberadaan perempuan itu, panggilan Azura dari lantai bawah mengalihkan atensinya.


"Selamat pagi!"


Axel mengerjap kaget begitu melihat perempuan yang tengah tersenyum manis sambil mengepel di lantai bawah ruang tengah.


"Sudah bangun, ya? Ayo sarapan dulu! Aku udah masak tamagoyaki sama nasi goreng loh," sahut perempuan itu lagi.


Axel semakin dibuat mengernyit heran.


Ini ... beneran Azura, kan?