
Begitu mengantar Elynca keluar guna pulang ke rumahnya, Axel baru menyadari bahwa Azura juga sudah pulang sedari tadi. Terbukti dari sendal jepit biru muda perempuan itu yang sudah bertengger di teras rumah.
Kapan perempuan itu sampai rumah? Kenapa dia tidak memberitahu Axel?
Mengingat kembali kemana perempuan itu sebelumnya pergi, Axel menggemelatukkan gigi kesal. Kenapa Azura harus ke tempat Galen? Apa perempuan itu tidak punya sahabat lain? Bukankah dia takut pada pria?
Mengabaikan segenap pertanyaan yang bercokol di tempurung kepalanya, pria itu memilih berlari dan segera menaiki tangga. Begitu sampai di depan pintu kamar Azura, Axel kontan membukanya secara kasar.
Azura yang tengah berbaring menyamping kontan tersentak dan menoleh kaget. Begitu menemukan Axel yang ada di ambang pintunya, perempuan itu memalingkan pandangan lagi.
Tangannya segera menarik selimut hingga menutup seluruh tubuh juga kepala. Menyadari keengganan Azura padanya, Axel malah semakin murka.
"Habis kemana? Seneng amat kayaknya diem di rumah Galen. Ngapain aja kalian di sana?" tanya Axel dengan kekehan mengejek.
Azura diam tanpa berniat menggubris pertanyaan bernada merendahkan sang suami. Ketimbang menyahut, perempuan itu justru semakin merapatkan selimut.
"Kamu nggak usah lah jual mahal ke aku kalau malah jual diri gratisan ke Galen kayak tadi," komentar Axel enteng membuat Azura yang sedari tadi terus mencoba tidak peduli, akhirnya tidak tahan lagi.
Tangan perempuan itu mencengkeram ujung selimutnya sambil bangkit duduk. Matanya menyorot sang suami tajam---tampak tidak bersahabat sama sekali.
"Kalau nggak tau apa-apa, mending mulut kamu dijaga! Ngecemarin telinga orang aja!" sahut Azura sarkas yang dibalas Axel dengan kekehan sinis.
"Buat apa jaga mulut sama perempuan kayak kamu? Udah nggak bisa apa-apa, suka selingkuh juga," jawab Axel membuat Azura berpikir bahwa pria itu tidak sadar diri sekali.
"Kan sudah kubilang jaga mulut! Aku juga bisa marah," gumam Azura lirih.
Tapi, Axel malah semakin menatapnya merendahkan. Tatapan itu malah mengingatkan Azura pada sesuatu; tatapan merendahkan teman-temannya dulu ketika mengetahui bahwa Azura hampir dinodai teman sebangkunya.
Sejenak, perempuan itu menghela napas berat. Mencoba menghalau sesak yang kini mulai menghimpit rongga dadanya.
"Udah sejauh mana kamu sama Galen? Apa kalian udah ngelakuin 'itu'? Oh ... atau mungkin kalian udah punya rencana buat nikah setelah kontrak pernikahan kita selesai."
Kali ini, Azura tidak bisa menahan diri lagi. Kalimat Axel sudah tidak mampu ditolerir kesabarannya yang hanya secuil.
PLAK ....
Satu tamparan Azura layangkan pada pipi Axel dengan amarah yang memuncak. Dada perempuan itu bahkan sudah naik turun seiring dengan seru napasnya yang tengah menahan murka.
Masih terasa. Belum hilang. Tidak juga lenyap. Sesak itu masih ada. Dan Axel malah membuka kembali luka masa lalu yang sudah mati-matian Azura jaga agar tidak melukainya lagi.
Dia kembali merasa tidak layak. Azura kembali merasa membenci banyak orang. Hanya karena kalimat Axel tadi ... Azura bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis sekarang.
"Padahal aku sempet ngira bisa percaya sama kamu," gumam Azura dengan nada suara bergetar karena tangis.
Axel yang masih terkejut dengan reaksi Azura, hanya diam sambil memegang pipinya yang terasa perih. Tapi, tidak pernah ia tahu bahwa melihat perempuan itu menangis karenanya begini, terasa lebih menyakitkan berkali-kali lipat.
"Aku ini emang nggak layak buat kamu atau siapapun. Aku nggak pernah layak. Jadi nggak perlu memperjelas dan makin nunjukin kalau aku emang senggak layak ini. Aku ... aku beneran benci itu."
Azura menyahut dengan tersenggal. Tidak mampu mengontrol nada suara juga sesak didadanya. Dia tidak suka dipandang serendah itu oleh Axel.
"Kita sampai sini aja ya, Xel? Aku mudahin semuanya buat kamu. Nggak perlu nunggu 6 bulan. Hari ini juga aku bakalan pergi dari rumah."
Bahkan sampai perempuan itu berlari keluar rumah pun, Axel masih tidak mampu menemukan alasan untuk menghentikan Azura meski pria itu ingin.
Dalam hati, Axel merutuk diri sendiri. Kenapa dia tidak bisa memberikan kata yang lebih baik selain dengan ucapan yang membuat Azura sakit hati?
***
Semalaman, Axel tidak tidur sama sekali. Pria itu memang berbaring tapi tidak sampai mampu memejamkan mata. Dia terus memikirkan Azura.
Rupanya, perempuan itu membuktikan ucapannya. Dia tidak kembali lagi meski hari sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
Axel ingin mencari perempuan itu. Sungguh. Tapi entah kenapa perasaan malunya membuat pria itu bertahan di tempat. Dia malu melihat wajah Azura lagi. Setelah apa yang dikatakannya, pasti perempuan itu tidak sudi bahkan untuk melihat wajahnya sekalipun.
"Kita sampai sini aja ya, Xel?"
Axel menggeram marah begitu kalimat perempuan itu kembali menggema di benaknya. Setiap pria itu akan tidur, selalu saja kalimat itu mengganggu pikirannya.
Selama ini, dia memang menginginkan Azura kabur dari rumahnya saja. Agar ketika orang tua mereka menanyakan, Axel tidak disalahkan karena memang perempuan itu yang tidak terima pernikahan mereka.
Tapi, sekarang ketika perempuan itu membuatnya terasa mudah, kenapa malah Axel yang sulit untuk menerimanya? Rasanya terlalu tiba-tiba. Axel ... belum ingin berpisah dengan Azura.
Tadi, dia mengatakan kalimat sepedas itu juga karena marah. Azura yang tidak pulang dari pagi hingga malam terus mengganggu pikirannya dan mengundang spekulasi negatif berkeliaran di kepala.
Dia lupa kalau Azura adalah orang yang sensitif ketika berbicara tentang 'kesucian'. Lagipula, memang Axel yang bodoh dan tidak tahu tempat.
Memangnya, tiga bulan tinggal dengan perempuan itu, apa Axel tidak mampu mengenal Azura barang sedikit? Perempuan itu bahkan baru sekarang berani saling bersentuhan dengan Axel. Apa kabar dengan Galen yang bahkan bertemu saja mereka jarang?
Mengabaikan segenap perasaan malunya, Axel memilih bangkit dan segera mengambil kunci mobil. Pria itu segera mengendarai mobilnya menuju rumah Galen. Karena jika tidak ke sana, memangnya kemana lagi perempuan itu akan kabur?
Begitu sampai di rumah Galen, Axel segera mengetuk pintu tak sabaran. Tidak butuh waktu lama untuk mendapati pria berkaca mata itu membukakannya pintu. Lalu, tanpa permisi, Axel menyerobot masuk dan mencari keberadaan sang istri di setiap penjuru ruangan.
Galen bersedekap dada. Tidak suka dengan cara bertamu pria itu.
"Kamu mau cari apa?" tanya Galen datar.
"Mana Azura?" tanya Axel pada akhirnya menyerah karena tidak berhasil menemukan istrinya.
Galen mengernyit semakin bingung. "Loh ... bukannya tadi magrib dia pulang? Soalnya dia ketiduran di sofa tadi siang, kebangunnya pas udah petang." Galen menjawab membuat Axel meringis.
Azura hanya ketiduran dan Axel sudah menuduhnya macam-macam.
Memilih menelepon Elynca dan Serafin guna mencari keberadaan istrinya, keduanya kompak bilang tidak tahu. Hal itu membuat Axel merasa semakin frustasi.
Azura tidak boleh meninggalkannya dengan cara seperti ini.