Innocent Wife

Innocent Wife
eps 18~Sebuah Kata 'Khawatir'



Galen sedang sibuk-sibuknya saat seorang sekretaris menelepon dan bilang Azura ingin menemuinya. Kontan, pria itu mengiyakan tanpa banyak protes.


Selagi menunggu Azura masuk ke ruangannya, pria tampan itu mengulum bibir menahan senyum. Tidak dapat dipungkiri, kehadiran perempuan pendek yang di matanya terlihat menggemaskan itu, begitu banyak merubah moodnya menjadi lebih baik.


Atau bahkan mungkin, bisa disebut sangat baik. Galen Bagaskara benar-benar merasa bahagia hanya dengan mendengar nama Azura.


"Permisi!" Sapaan dari ambang pintu itu membuat Galen menoleh girang.


Senyumnya terkembang lebar begitu menemukan sosok berbaju sweeter biru muda berjalan mendekatinya. Tanpa membiarkan perempuan itu berbicara lebih banyak, Galen berdiri dan merangkul pundak Azura santai.


"Ayo kita cari tempat yang nyaman!" ajak pria itu sambil melangkah dengan riangnya.


Mengabaikan wajah Azura yang sudah melongo terkejut atas perlakuan pria itu padanya.


***


"Terimakasih ya, untuk hari ini." Azura tersenyum tulus sambil menggigit baksonya yang ia tusuk menggunakan sebuah sumpit bambu.


Galen menoleh sejenak kemudian tersenyum manis. "Santai saja, kita sekarang sudah jadi teman, kan?" ucap pria itu sambil membetulkan letak kacamatanya.


Azura terkekeh geli. Tidak menyangka dia bakal mendapat teman secepat ini. Tidak hanya tampan, suka mentraktirnya makan dan mengajaknya jalan-jalan pula.


"Aku nggak tau apa ini udah bisa disebut teman. Tapi ... nggak tau kenapa, aku ngerasa kayak kita udah kenal lama aja gitu. Jadi rasanya lebih gampang akrab aja gitu sama kamu, hehe." Azura menyengir sambil kembali menggigit bakso berlumur saus tomat pedasnya lagi.


"Ada masalah sama Axel, ya?" tebak Galen malah mengalihkan topik.


Hal itu seketika membuat nafsu makan Azura merosot drastis. Perempuan itu menurunkan tangannya yang tengah memegang bakso yang tersisa setengah potong karena sudah digigitnya.


Dia tidak suka Axel. Sangat tidak suka sampai saking tidak sukanya, nama pria itu saja sudah berhasil membuat suasana hatinya kacau balau dalam sekejap. Aish ... menyebalkan sekali!


"Sebagai seorang teman, saya siap kok denger cerita kamu," sahut pria itu lagi sambil memfokuskan atensinya pada Azura.


Azura menoleh bimbang. Bingung apakah harus membagi bebannya pada Galen atau tidak. Tapi, mengingat pria itu yang rela menunda segala kesibukannya hanya demi orang tidak penting seperti Azura, sepertinya Galen memang orang yang tepat.


"Aku ... nggak suka Axel. Aku sangat nggak suka. Dia terlalu menyebalkan untuk disebut suami. Aku benci dia lebih daripada aku benci makan bubur. Dia lebih menyebalkan dari itu," gumam Azura dengan wajah yang mulai cemberut lagi.


Galen terkekeh. Tangannya terangkat dan mendarat di puncak kepala Azura. Pria itu kemudian memberikan usapan lembut di sana membuat perempuan pendek itu kontan mendongak kaget atas perlakuan Galen.


"Kadang, hal yang kita tidak sukai itu hanya perlu semakin banyak tidak kita sukai agar menjadi suka." Galen menyahut berbelit-belit yang di telinga Azura terdengar sangat membingungkan.


"Hah? Maksudnya gimana?" tanya perempuan pendek itu tidak mengerti yang membuat Galen meledakkan tawa.


"Tidak perlu dipikirkan, kau hanya perlu lebih banyak tidak menyukainya, Azura. Itu saja."


Entah karena kalimat Galen yang terlalu sulit dicerna, atau memang kepala Azura yang bodohnya luar biasa. Yang jelas, perempuan itu bahkan harus merenung beberapa menit untuk menerjemahkan ucapan pria di sampingnya.


"Sudaaah, jangan dipirkan! Kepala polosmu ini tidak akan bisa menampungnya," ucap Galen yang Azura tidak sadari bahwa itu adalah sindiran.


"Kepalaku ada rambut, mana ada polos!" protes perempuan itu yang membuat Galen tidak berhenti gemas.


"Yasudah yasudah! Sekarang, kita kemana lagi? Merelakan pekerjaan saya yang banyak tidak cukup dibayar dengan hanya makan bakso dan berjalan-jalan seharian, kan?" tanya Galen yang dibalas Azura dengan senyum cengengesan.


Okey, sepertinya Galen salah bertanya.


***


Mungkin, ini sudah kali kesekian Axel mengecek jam tangannya. Dan konyolnya, dia semakin sadar alasannya melakukan hal bodoh itu adalah untuk mengetahui jam berapa Azura akan pulang ke rumah.


Bukan masalah rindu atau tidaknya sih. Lagipula, Axel tidak akan mati jika perempuan itu tidak pulang sampai besok pagi sekalipun.


Tapi, masalahnya dia anak seorang Damian Narendra. Jika Axel ketahuan membiarkan istrinya yang tukang nyasar itu keliaran di jalan kayak gembel tanpa rumah begini, apa tidak apa-apa? Jangan sampai sang papa mertua malah berniat memenggal lehernya mengingat seberapa protective pria itu pada Elynca.


"Aku pulang!"


Teriakan cempreng dari arah luar seketika membuat Axel berlari tunggang langgang dan segera memasang posisi tidur di sofa sesantai mungkin. Berniat mencoba menyamarkan fakta bahwa sedari tadi dia terus menunggu perempuan itu pulang di depan pintu.


"Oh ... sudah pulang? Kenapa nggak kelayapan aja sekalian sampai pagi. Nanggung amat!" sindir Axel sambil pura-pura sibuk menonton TV.


Azura yang hendak berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum, kontan melirik suaminya sinis.


"Aku bukan kamu, ya! Seenggaknya aku masih ingat rumah," pertegas perempuan itu sambil mengambil air di dispenser kemudian duduk di sofa samping Axel.


Sejenak, pria itu melirik pada sebuah gelang biru muda yang melingkar di pergelangan tangan Azura yang tengah memegang gelas. Matanya menyorot perempuan itu curiga berikutnya menarik lengan perempuan itu yang tengah minum.


PRANG ....


Gelas di tangan Azura tentu saja jatuh karena perempuan itu yang terkejut.


"Kamu dapet gelang darimana? Dikasih selingkuhanmu, ya? Waaah ... perempuan jadi-jadian kita mulai nakal ya sekarang," tanya sekaligus goda Axel dengan senyum jahilnya.


Reaksinya sangat berbanding terbalik dari suami pada umumnya. Di saat seorang suami seharusnya marah begitu mengetahui istri yang selingkuh, pria itu malah terlihat senang dan sumringah.


"Bukan urusanmu! Sana bersihin pecahan gelasnya! Gara-gara kamu gelasnya pecah tadi," titah Azura menyalahkan Axel.


"Kasih tau aku dulu pacar kamu siapa, baru aku mau bersihin," jawab Axel bersikeras yang dibalas putaran bola mata malas Azura.


"Ngapain selingkuh? Males amat!" kesal Azura karena dituduh yang tidak-tidak oleh pria di sampingnya.


"Aish ... sudahlah. Lagian nggak guna ngomong sama orang jelek, bikin mood ikutan jelek aja," gumam Azura sambil berdiri dan melangkah menuju tangga.


Axel yang merasa kesal karena diabaikan, kontan menggeram marah.


"Oh iya ... aku nggak peduli kamu mau hilang atau jalan-jalan sama selingkuhanmu sekalipun. Aku sangat nggak peduli! Tapi, makhluk tukang nyasar kayak kamu itu terus bikin orang khawatir. Jadi, kalau mau pergi seenggaknya ngabarin lah kamu mau kemana!" tegur Axel begitu Azura tengah berjalan di tangga.


Azura yang berjalan membelakangi Axel, tanpa sadar malah mengulum senyum. Tidak mengerti hanya karena kata 'khawatir' dari mulut suaminya, dia malah jadi sesenang ini.


"Tapi kalau kamu nggak mau ngabarin ... yaudahlah! Nggak ada efeknya juga sih, soalnya rumah malah jadi lebih rapi kalau nggak ada kamu."


Sahutan santai Axel berikutnya, seketika membuat Azura melunturkan senyumnya. Suaminya ... sepertinya memang orang paling hebat soal menjungkir balikkan mood seseorang.