Innocent Wife

Innocent Wife
eps 14~Galen Bagaskara



Axel memakan sarapannya dalam diam. Tidak dipedulikannya Azura yang sedari tadi terus mendengkus kesal.


"Ck ... aku bangun pagi loh! Masak mana beres rumah pagi-pagi. Kamu nggak ngerasa kagum gitu?" Azura akhirnya menyuarakan kekesalannya.


Axel memandang perempuan pendek itu sejenak. Beberapa detik kemudian kembali fokus pada sarapan dengan lauk tamagoyaki a.k.a telur gulung agak gosong serta nasi goreng dengan bawang merah masih mentahnya.


Sudah Axel bilang, kan? Azura tidak akan melakukan sesuatu dengan benar kecuali dalam hal memakan mie instan.


"Memangnya apa yang bisa dibanggakan dari nasi goreng yang sambelnya belum mateng kayak gini? Nasinya bahkan masih ada yang putih, nggak rata sama sekali!" cerca pria itu akhirnya ikut mengemukakan pendapatnya pada masakan Azura.


Perempuan itu cemberut. "Liat aja nanti! Kalau aku beneran bisa jadi perempuan rajin dan serba bisa, kamu pasti jatuh cinta sama aku!" sahut Azura dengan pedenya.


Axel mengulum bibir, menahan kedutan di ujung bibirnya agar tidak tertawa. "Kamu? Jadi perempuan rajin? Aku nggak salah denger?" tanya pria jangkung itu meremehkan.


Azura semakin menggusah sebal. "Mungkin sekarang kamu bisa bilang gitu, tapi liat aja ntar. Liat aja!" sahutnya berapi-api.


"Sebelum pasang niat bikin aku jatuh cinta, sana ubah penampilanmu dulu! Aku bahkan malu buat ngakuin kalau kamu ini adiknya Elynca, kamu terlalu berantakan dan pendek. Nggak cocok banget disebut putri keluarga Narendra," komentar Axel kelewat pedas.


Azura yang sedari tadi hendak memakan sarapannya, segera melepaskan sendok di tangan. Matanya menyorot Axel tajam. Axel yang melihat aura menyeramkan dari perempuan pendek itu, kontan balik menyorot tak kalah tajam.


"Apa liat-liat?! Aku daritadi ngomong fakta, kan?" pertegas pria bermanik biru itu tegas.


Tidak seperti hari-hari biasanya, kali ini, Azura tidak membalas ucapannya. Tapi, perempuan itu menarik piring sarapan Axel kemudian membantingnya di lantai.


PRANG ....


Suara pecahan piring kontan memenuhi ruangan. Axel memandang perempuan di depannya tidak percaya. Azura mulai gila, ya?!


"Kamu ngapain?! Dasar----"


"Tutup mulut kotor kamu itu atau kubakar rumah ini!" ancam Azura penuh penekanan membuat Axel merapatkan bibirnya.


"Hei ... nggak usah sok-sok'an ngatain mulut orang lain kotor di saat kerjaan kamu ngotorin rumah kayak gini!" peringat Axel merasa murka karena Azura berani mengancamnya.


Bukannya takut seperti dugaannya, perempuan itu malah terkekeh sinis. Azura berbalik dan menaiki tangga cepat. Tapi, begitu sampai di tangga teratas, perempuan pendek itu berhenti dan menyahut santai.


"Seenggaknya, ngotorin rumah nggak lebih buruk dari ngotorin mulut sendiri dengan ngomongin keburukan orang lain. Yang kayak gitu ... udah pasti lebih buruk dari sampah."


Masih terpaku di pijakannya, Axel menggemelatukkan gigi kesal.


Perempuan jadi-jadian itu, benar-benar membuat seorang Victoria Axelsen Zelardo murka.


***


Azura menggigit bibir bawah gusar. Tidak tahu harus meminta bantuan siapa. Dia ingin menemui seorang pemilik perusahaan penerbitan mayor yang tadi pagi menelepon dan bilang ingin bertemu dengannya. Tentu saja untuk urusan penerbitan naskah novelnya yang ia kirimkan satu bulan lalu.


Rasanya menyenangkan mengetahui naskahnya diterima dan akan segera terpampang di Gramedia maupun banyak toko buku di seluruh Indonesia. Ia bahkan tidak bisa mengekspresikan kesenangannya saking gugupnya. Ini mungkin memang bukan pertama kalinya naskahnya dipinang penerbit besar seperti sekarang.


Nama Azura sendiri bahkan sudah begitu melejit di kalangan para penikmat novel romantis terlebih fantasi. Penulis yang sudah melahirkan sekitar 5 buku juga berpuluh-puluh karya di platfrom menulis berbayar itu, bahkan mampu membeli sebuah rumah dari hasil menulisnya.


Hanya saja, ini pertama kalinya dia mengenakan nama aslinya. Selama ini, personal brandingnya sebagai penulis bernama pena 'Writer Gaje' membuat perjalanannya mudah dalam memasarkan buku juga diincar banyak penerbit besar.


Tapi, kali ini rasanya berbeda saja. Karena karyanya diterima tanpa embel-embel 'penulis besar yang sudah punya banyak penggemar'. Kali ini, naskahnya diterima karena memang itu karya berkualitas milik seorang Adisthy Azura Narendra.


"Kenapa wajah kamu sesenang itu? Habis menang undian mie sekardus?" tanya Axel ketus yang rupanya tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.


Azura yang tengah duduk di pojokan kamar sambil memandang laptopnya, kontan menoleh garang.


Axel menghela napas berat. Setelah berpikir sejak tadi pagi hingga siang ini, sepertinya sekarang dia harus meminta maaf. Selain karena Papanya---Serafin yang terus memperingatkannya untuk selalu bersikap baik pada sang istri, sepertinya ... kata-katanya juga terlalu pedas didengar untuk ukuran perempuan. Meski Azura cuma perempuan jadi-jadian sih.


"Mau ngapain?!" tanya Azura lagi. Lebih ngegas.


Axel yang tadi berniat minta maaf, akhirnya mengurungkan niatnya. Percuma saja bersikap baik pada perempuan seperti Azura. Tidak berguna dan membuang tenaga.


"Nggak ada! Cuma mau bilang, kalau ngomong sama aku, nggak usah lah pake hati atau perasaan! K-kamu ... kamu tau kan mulutku emang pedes dan kasar, jadi wajar kalau hobinya emang ngehujat orang kayak kamu tiap saat. Ck ... maksudnya, ya gitu deh!"


Kalimat panjang lebar Axel membuat Azura menoleh lagi. Tapi, perempuan itu tak mengatakan kalimat apapun membuat Axel canggung sendiri.


"Argh ... yaudahlah! Aku mau balik ke kamar dulu," pamit pria itu sambil menggeram kesal.


Pria itu baru saja berbaring dan hendak melangkah kalau saja tangan mungil Azura tidak lebih dulu menahan lengannya. Axel terpaku di pijakannya. Apa Azura berniat meminta maaf juga atas pertengkaran tadi pagi?


"Xel."


"Iya?"


"Anterin ke kantor penerbit deket sini dong! Aku ada urusan sama seseorang."


Kalimat bernada memohon Azura, seketika membuat Axel ingin mencopot kepala tidak berisi perempuan itu sekarang juga.


***


"Kenapa aku harus repot-repot ikut kamu masuk juga?" tanya Axel tidak mengerti.


Mentang-mentang sedang libur kerja, apa Azura pikir dia bisa menjadikan pria tampan sepertinya kurir sekaligus tukang ojek begini?


"Aku kan nggak hapal jalan mana malu nanya ke orang, jadi ya temenin aja pokoknya!" pinta Azura merengek yang dibalas dengusan malas Axel.


"Makannya kamu itu! Jangan lupa buat jalan-jalan sendiri ke mana kek gitu sesekali. Jadi orang kok pemalas banget, kamu ini perempuan atau alien?!" tanya Axel ngegas sambil terus berjalan memasuki sebuah gedung perusahaan.


"Lah apa salahnya jadi pemalas? Kan kami nggak ngelakuin apa-apa." Azura menjawab enteng.


Axel menyentil kening perempuan itu tidak berperasaan. Memang kalau urusan berdebat, perempuan ini selalu tahu caranya menjawab omongan orang.


"Nah, ini ruangannya. Masuk gih! Aku tunggu di luar," suruh Axel yang dibalas Azura dengan gelengan takut.


"Aku tumben disuruh ketemu pemilik perusahaan penerbitan gini. Jadi gugup dan malu. Temenin dong!" pinta Azura sambil menahan lengan sang suami.


Axel memutar bola mata malas. "Ck ... pergi aja sendiri sana!" tolaknya jengah.


"Ish ... ayo, Xel! Temenin laaah! Kalau ditemenin, aku janji nggak makan mie setengah hari deh," bujuk Azura sambil terus menarik-narik lengan suaminya.


"Zu----"


"Loh ... Axel?"


Perdebatan keduanya harus terhenti begitu pintu di depannya terbuka. Seorang pria berkaca mata dan tampan berdiri di sana.


"Lah ... Galen? Kamu kerja di sini?" tanya Axel terkejut.


Pantas saja sedari tadi Axel merasa mengenal tempat ini dan familiar dengan nama perusahaannya. Ternyata, ini perusahaan penerbitan milik Galen.


Galen Bagaskara; cinta pertama Elynca yang membuat perempuan itu kabur di hari pernikahannya dan Axel.