
"Kalau makan itu ya biasa aja dong! Malu-maluin, kayak bukan perempuan aja!" cerca Axel sinis.
Azura melirik sejenak. Beberapa detik kemudian, menyendokkan nasi ke mulutnya lagi. Axel memandangi cara makan perempuan itu yang terkesan beleopotan dan mirip anak kecil.
"Dari tadi kamu bilang aku bukan perempuan mulu. Emang kalau rambut panjang gini bukan perempuan gitu?" tanya Azura sewot. Kali ini perempuan dengan rambut dicepol asal itu menyeruput kuah mie instan di mangkuknya.
"Kuda juga rambutnya panggang," gumam Axel lirih yang beruntungnya tidak didengar Azura.
"Jadi gimana? Tanda tanganin makannya cepet! Katanya kalau udah dikasih makan mie instan mau tanda tangan?" Axel mengingatkan perjanjian mereka sebelumnya.
Azura melirik dua surat kontrak perjanjian pernikahan mereka dengan raut jengah.
"Ntar duluuu! Belum habis ini," jawab perempuan bermata agak sipit itu kesal. Tidak suka karena kegiatan makan mie-nya diganggu.
Axel menghela napas berat. Ikutan jengah karena harus meladeni perempuan yang sampai detik ini masih ia ragukan sebagai perempuan.
Bayangkan saja! Sejak semalam dia repot-repot membuat dan menge-print kontrak perjanjian ini agar paginya bisa segera ditanda tangani. Menyebalkannya, perempuan banyak protes di depannya ini malah mengajukan syarat lagi.
"Nah udah habis. Cepet tanda tangan!" titah Axel begitu melihat Azura menyeruput kuah terakhir mie instan rasa soto ayamnya.
Meski kesal karena Axel yang tidak sabaran, Azura tetap menarik kedua kontrak itu asal dan menandatanganinya cepat. Matanya melirik pada kolom tanda tangan milik Axel yang sudah terisi entah sejak kapan.
"Tuh, udah! Yaudah deh, aku mau masuk dulu. Mau tidur lagi," ucap Azura santai kemudian bangkit dari meja makan.
Tapi, baru saja akan melangkah menuju undakan tangga, suara Axel menginterupsi.
"Siapa bilang kamu bisa tidur masih pagi begini?" tanya Axel dengan nada 'bossy'.
Azura memutar bola mata malas. Perempuan dengan sweeter rajut hitam itu berbalik dan bersedekap dada.
"Siapa bilang aku nggak boleh tidur pagi?" tanya Azura balik. Memandang sang suami menantang.
Axel berdiri dari duduknya. Tangannya meraih kontrak perjanjian kemudian mendekat pada Azura.
"Pasal 1, pagi hari adalah waktu bersih-bersih untuk pihak 2 dalam kurung Azura Narendra." Penjelasan yang sengaja dibacakan penuh penekanan itu membuat Azura melotot dan segera merebut kertas di tangan Axel.
"Ada pasalnya?!" tanya Azura tidak santai begitu meneliti isi kontrak perjanjian yang rupanya berjumlah beberapa lembar.
"Lah kok nanya? Liat aja sendiri," jawab Axel santai. Senyum kemenangannya terkembang sempurna.
Membaca dengan seksama tiap pasal tidak masuk akal yang tertulis di sana, Azura melotot kaget. Matanya melirik pada kontrak di tangannya dan wajah mengejek Axel secara bergantian.
"Mana bisa gini! Aku ditipu!" Teriakan Azura membuat Axel terkekeh.
"Ditipu? Ditipu dari mananya? Bukannya kamu sendiri yang asal tanda tangan aja, nggak baca pasal-pasalnya dulu?" perjelas Axel yang dibalas Azura dengan rengutan sebal.
Enyah saja Axel dari muka bumi ini! Sudah bucin, tukang tipu pula! Entah apakah Azura bisa hidup sampai 6 bulan ke depan dengan pasal-pasal tidak pakai akhlak ini.
Sudut hati perempuan itu sebenarnya juga memaki diri sendiri. Bagaimana hanya dengan semangkuk mie instan dia bisa luluh dan menandatangani kontrak perjanjian tanpa pikir panjang begini?
"Ohiya, waktu dan tempat untuk protes dipersilakan!" tutur Axel karena kasihan dengan wajah pias Azura.
"Bisa nggak pasal duanya diganti aja? Aaa jangan jam 6!" pinta Azura memelas.
"Oh nggak bisa. Kamu tetep harus nyiapin sarapan jam 6 pagi. Lewat dari itu, kamu kena denda 100 ribu kayak di pasal 4."
Mendengar penolakan Axel, Azura cemberut. Perempuan itu berpikir lagi.
"Oh iya, kalau gitu ganti pasal 3 deh. Aku bukan pembantu ish! Aku kan istri kamu," sahut Azura yang lagi-lagi dibalas gelengan Axel.
Azura menggeram.
"Jadi buat apa aku protes kalau nggak ada yang mau diganti sama sekali?!" tanya perempuan pendek itu ngegas.
"Aku kan cuma bilang silakan protes, bukan bilang mau ganti pasal."
Mendengar jawaban pria tinggi itu, Azura melebarkan senyum terpaksa. Mencoba menabahkan hati. Memang salahnya berharap banyak pada pria setengah iblis ini.
"Kalau gitu, kasih aku nambahin satu pasal aja," pinta Azura akhirnya mengalah dan pasrah.
"Apa?" Axel bertanya penasaran. Sedikit tertarik karena perempuan itu yang hanya mengajukan satu tambahan pasal di saat dia sudah membuat 4 pasal.
"Sediain aku satu kardus mie instan setiap bulan." Azura menjawab dengan wajah berbinar senang.
Bahkan, dari binar matanya saja, semua orang bisa tahu kalau perempuan pendek ini begitu tergila-gila pada mie instan. Sedangkan, Axel yang mendengar permintaan sang istri, malah meneguk ludah kasar.
Mie instan? Sekardus? Sebulan? Ya Ampun, sepertinya istrinya memang benar-benar bukan perempuan! Parahnya lagi, mungkin dia juga bukan manusia. Mana ada orang normal yang makan satu kardus mie instan sendiri dalam jangka waktu satu bulan?
"K-kamu serius minta itu?" tanya Axel ragu.
Azura mengangguk mantap. Perempuan pendek itu mendongak dan memberi kode pada Axel agar membalikkan tubuh. Bodohnya, Axel yang masih terkejut, kontan berbalik dengan patuh.
Azura yang tak menyia-nyiakan kesempatan, segera menempelkan surat kontrak itu dan menuliskan pasal yang tadi ia sebutkan.
"Nomor 5, Pihak pertama dalam kurung Victoria Axelsen Zelardo wajib membelikan satu kardus mie instan untuk pihak kedua setiap bulan." Azura mendikte tulisannya sendiri sambil menjadikan punggung Axel sebagai alas.
Begitu selesai, perempuan itu bahkan bersorak heboh. Seolah dijadikan istri senada babu tidak cukup berarti di hadapan satu kardus mie.
"Kamu suka mie?" tanya Axel dengan bodohnya.
"Eum ... gimana ya? Ya gitu deh, hehe."
Cengiran cengengesan juga sumringah Azura, tentu saja sudah berhasil menjawab pertanyaan yang bercokol di tempurung kepala. Bukan suka lagi, sepertinya, perempuan itu sudah tergila-gila!
"Okey, karena kita udah buat dan tanda tanganin surat perjanjian. Ayok salaman dulu!" ajak Azura sambil menyodorkan tangannya pada Axel.
Axel memandangi tangan juga wajah Azura dengan raut aneh. "Harus banget, ya?" tanya pria itu malah mengacaukan suasana.
"Ish, ya harus pokoknya!" paksa Azura sambil menarik dan menjabat tangan sang suami yang jauh lebih besar dari tangannya yang pendek dan mungil.
"Yasudah, kalau gitu temenin aku sarapan dulu!" ajak Axel begitu sesi peresmian kontrak mereka selesai.
Azura mendongak terkejut. "Kita sarapan lagi?" tanya perempuan itu senang. Kebetulan, dia memang masih cukup lapar.
"Enggak, aku doang. Kamu kan udah tadi pakai mie! Aku minta ditemenin juga biar kamu sekalian cuci piring di dapur," jawab Axel menjelaskan alasannya mengajak Azura.
Azura memajukan bibir bawahnya kesal. Wajahnya berubah masam lagi. "Kirain mau diajak sarapan lagi," dumel perempuan itu yang sialnya didengar Axel.
Axel kontan merangkul pundak Azura yang kepalanya tidak sampai pundaknya. Perempuan pendek itu mengerjap kaget. "Nanti aku bikinin kamu sarapan lagi, dengan syarat bikin aku ketawa dulu."
Azura melengos malas.
"Enggak ah, kisah cinta kamu sama Kak Elynca aja udah cukup lucu; bertepuk sebelah tangan. Jadi ngapain nyari hiburan biar bisa ketawa ke aku lagi?"
Rasanya, Axel ingin mengkeramasi rambut kusut Azura dengan bumbu nasi goreng sekarang juga!