
"Kenapa harus pindah pagi-pagi banget, sih?!"
Azura melempar wajah sang suami dengan bantal di tangannya. Axel yang sedari tadi sudah siap juga wangi, mengendikkan bahu acuh dan kembali memasukkan baju ke dalam koper.
"Perempuan mana yang bangun jam setengah 6 pagi heh?! Kamu itu kayaknya bukan perempuan deh," komentar Axel yang dibalas putaran bola mata malas Azura.
"Di rumah nenek aku bangunnya jam 6, tetep dianggep perempuan kok." Azura menyanggah. Tidak terima karena identitasnya sebagai seorang 'perempuan' malah diragukan.
Axel terkekeh sinis. "Iya, perempuan jadi-jadian. Kalau udah nikah itu, jam 5 pagi seharusnya udah bangun. Masak, beres-beres, dan segala macem. Lah kamu, udah mau jam 6 tapi masih kucel gini," sindir Axel memandang Azura aneh. Seolah Azura adalah spesies alien yang tumben turun ke bumi.
"Kita cuma nikah ya! Bukan jadi suami istri beneran, lagian 6 bulan lagi juga kita cerai," sanggah Azura cepat.
Axel mendengkus. "Ya makannya, 6 bulan sebelum kita cerai, jadi istri yang baik kalau mau diperlakuin dengan baik juga."
Azura memutar bola mata malas. Memilih bangkit berdiri dan merapikan kasur yang seprai-nya acak-acakan sana sini.
"Aku mau kabur aja kalau sampai dikasih tidur di lantai lagi," gumam perempuan itu lirih yang sialnya didengar Axel.
"Mau kabur? Yaudah kabur aja sana! Biar kalau orang tua kita kecewa, kamu yang kusalahin karena kabur dari rumah." Axel tersenyum miring.
Azura cemberut. Dia tidak cukup bodoh dengan bertindak kekanakan begitu. Mana bisa mereka baru menikah satu hari dan pengantin perempuan sudah mau kabur dari rumah saja? Apa kata Papa dan Mama?
"Ish, tauk ah! Mau sarapan aja," kesal Azura sambil berlalu hendak keluar rumah.
Axel kontan melemparinya dengan bantal yang tadi juga dilemparkan perempuan itu padanya.
"Jangan lupa, kita lagi di rumah Papa. Dipikir pake baju kayak gitu sopan apa?" omel Axel membuat Azura memperhatikan pakaiannya.
Tanktop hitam dan celana legging panjang berwarna senada. Apa yang salah?
"Beliin aku baju kalau gitu, siapa suruh nggak bawain bajuku sekalian kemarin." Azura menjawab santai kemudian berbaring lagi pada karpet berbulu yang semalam jadi alas tidurnya.
"Ngapain tidur di bawah? Kan ada kasur, kayak gembel aja tidur di sana!" sewot Axel sensi sendiri.
Azura bangkit duduk. Perempuan itu menyorot sang suami tajam.
"Dari semalam juga aku udah jadi gembel!" sahut Azura ngegas.
"Ya makannya, biar nggak makin gembel, sana tidur di atas aja!" titah Axel mulai kesal beradu mulut dengan perempuan cerewet itu.
"Ogah! Nggak mau tidur di kasur bekas orang jelek," tolak Azura pedas.
Axel menggeram sebal. Tangannya yang sedari tadi sibuk memasukkan baju ke koper, beralih melempari wajah bungsu Narendra itu dengan bantal guling.
"Yaudah kalau nggak mau tidur di kasur! Nggak usah! Jadi gembel aja seumur hidup sekalian!" maki pria itu kemudian melenggang keluar kamar.
Azura melengos tidak peduli. Begitu Axel keluar kamar sambil membanting pintu keras, perempuan itu bahkan dengan santai merangkak naik ke ranjang dan tidur lagi.
Oh ayolah! Selama tinggal di Lombok, yang ia lakukan hanya tidur, makan, menonton film dan menulis. Tidak pernah terbayangkan di kepalanya begitu pulang ke rumah dia akan jadi pengantin baru begini.
Dan sikap menyebalkan Axel, benar-benar tidak bisa dicerna nalar. Azura bahkan sejak semalam sudah berniat kabur dari rumah kalau saja tidak ingat bahwa dia tidak ingat alamat rumahnya sendiri.
"Ini!"
Tidak dibiarkan cukup lama terlelap, tidurnya harus terganggu begitu sebuah benda mendarat di wajah. Perempuan itu mendengkus keras.
"Ck ... kapan aku bisa tidur dengan bener?!" tanya Azura ngegas. Manik cokelat terangnya menyorot Axel seolah berkata 'enyah saja dari bumi!'
Azura memungut benda yang tadi mengenai wajahnya. Ternyata isinya sebuah dress selutut tanpa lengan berwarna hitam.
Sejenak, perempuan itu memberikan cengiran pada sang suami. Ingin bilang terima kasih tapi sudah terlanjur memarahi pria itu tadi.
"Udah! Nggak usah cengar-cengir kayak gitu. Cepet ganti ganti baju habis itu kita ke rumah Pak Damian! Sekalian pamit buat pindah ke rumah dan ngambil semua baju kamu."
Tanpa berucap apapun, Azura berdiri di atas ranjang dan segera memasang dress itu. Begitu pas. Sangat cocok untuk menyamarkan tubuh pendeknya. Kontras juga dengan warna kulitnya yang putih pucat.
Axel terperangah. Apalagi begitu perempuan pendek itu perlahan melepaskan legging hitamnya dan melemparnya ke segala arah.
Dalam hati, pria berbola mata biru jernih itu bertanya-tanya. Azura beneran saudara Elynca bukan, sih? Kok sifatnya sangat jauh berbeda sekali?
"Ngapain kamu ngeliatnya kayak gitu?! Mesum ish," tegur Azura sambil bergidik ngeri.
Axel melengos. "Tubuh tepos gitu aja sok ngerasa diliatin. Lagian, nggak ada yang lebih menarik dari Elynca," gumam pria itu remeh.
"Aku nggak menarik jadinya?" tanya Azura cemberut.
"Tergantung yang liat sih. Kalau yang liat kamu orang yang suka sama kamu, ya kamu bakal keliatan paling cantik."
Azura berpikir sejenak. "Berarti kamu nggak suka aku, ya?" tanya perempuan pendek itu memastikan
"Ya pikir aja sendiri!" sewot Axel sambil berlalu keluar kamar lagi.
"Lagian, aku kan suka Elynca." Axel menyahut lagi sebelum kemudian menghilang di ambang pintu.
Azura memutar bola mata malas. Padahal, sudah jelas kakaknya tidak mau menikah dengannya bahkan meninggalkan pria itu di hari pernikahan mereka. Lalu, kenapa suaminya masih saja dengan bangga mengaku suka pada Elynca?
Apa cinta memang selalu sebodoh itu?
***
"Aaa ... Sayang! Sini peluk Mama!"
Azura menghambur ke dalam dekapan sang Mama---Anyelir. Perempuan yang tampak awet muda meski sudah menginjak usia lumayan tua itu, memandang sang putri sendu.
Tidak menyangka anak bungsunya bakal lebih dulu menjadi seorang istri. Padahal, baru beberapa hari mereka bertemu secara intens lagi. Tapi, mereka lagi-lagi harus terpisah karena alasan ini.
"Ma, kata Axel kita mau sebentar aja. Cuma mau bawa barang-barang penting sama bajuku." Azura menjelaskan apa yang dari mobil tadi suaminya sempat peringatkan.
Sejenak, Axel mendelik tajam pada istrinya yang memasang wajah polos tanpa dosa. Perempuan itu seharusnya tidak perlu membawa-bawa namanya juga.
"Bentar dulu lah, Axel. Mama udah lama nggak ketemu sama dia, baru beberapa hari dan dia udah mau pergi sama suaminya aja."
Axel tersenyum canggung. "Enggak papa kok, Ma. Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu, kami bisa pindah ke rumah baru nanti."
Mendengar izin sang menantu, wajah Anyelir berbinar senang. Jauh berbeda dengan wajah Azura yang sudah menyorot dingin pada sosok di belakang sang suami.
"Kak Elynca."
Hanya dengan mendengar gumaman Azura serta arah pandang perempuan itu, Axel tidak butuh waktu lama untuk menoleh ke arah belakang. Lalu, begitu sosok yang begitu ditunggunya berdiri di belakang, pria itu terperangah.
"Axel, kita perlu bicara."
Kalimat singkat perempuan bertubuh tinggi itu, bahkan berhasil membuat detak jantung Axel memacu dua kali lebih cepat.