Innocent Wife

Innocent Wife
eps 6~Namanya Perempuan Gagal



Azura mendesah frustasi sambil duduk selonjoran di anakan tangga rumahnya. Matanya tak lepas memandang Axel yang masih sibuk berkutat di dapur entah melakukan apa.


Dalam hati, Azura membenarkan bahwa Axel cocok untuk dijadikan pembantu atau cleaning service yang baik. Dua hari tinggal bersama pria itu saja, ia sudah tahu kalau si pria mata biru sangat mencintai bersih-bersih.


"Woi, Azura! Sini kamu!"


Mendengar panggilan dari arah dapur, perempuan itu semakin mendengkus sebal. Kapan Axel akan membiarkannya duduk anteng saja bak patung seharian? Seingatnya, selama tinggal di rumah nenek beberapa tahun belakangan, Azura tidak pernah merasa selelah ini.


"Mau ngapain sih?" tanya Azura begitu berjalan dengan malas-malasan dan berdiri di depan Axel yang tengah mengeluarkan sayuran dari dalam kulkas.


"Aku mau ngecek kemampuan masak kamu," jawab Axel sambil menarik lengan Azura agar mendekat padanya.


Azura melotot kaget. "Masak?! Aku bahkan nggak pernah ulek sambel sampai segede sekarang," curhat perempuan pendek itu.


Axel menoleh sejenak, kemudian kembali memilih sayur di dalam kulkas lagi. "Gampang, pakai blender buat halusin sambelnya kan bisa," jawab pria itu tidak mengerti masalah sebenernya.


Azura mendesis kesal. Tangannya memungut sepotong kentang kemudian melemparkannya hingga tepat mengenai tengkuk pria itu.


"Kamu nggak ngerti! Aku cuma bisa masak makanan-makanan sederhana doang," jelas Azura kesal.


"Yaudah kalau gitu, bikinin makanan sederhana. Kamu paling bisa masak apa?" tanya Axel penasaran. Berharap besar pada perempuan gagal di depannya dalam hal masakan.


Setidaknya, jika tidak secantik, setinggi, seanggun, dan sekalem Elynca, perempuan itu punya bakat di bidang mengenyangkan perut suaminya sendiri. Tapi, keterdiaman Azura membuat Axel semakin mengernyit heran.


"Jawab! Kamu paling bisa masak apa?" tanya Axel tidak sabaran.


"Mie."


Dan jawaban Azura, sudah cukup untuk membuat Axel ingin tukar tambah istri di toko online saja.


"Masak mie? Yang lain! Itumah makanan instan, anak SD juga bisa." Axel mengomel sewot. Tidak habis pikir dengan jawaban perempuan itu.


"Telur ceplok?" tanya Azura ragu.


Axel memandang perempuan di sampingnya aneh. "Masakan lain, Azura. Masakan sederhana!" pertegas Axel geregetan sendiri.


Azura mencebikkan bibir sebal. Salahnya di bagian mana lagi?


"Ya aku udah jawab! Masakan sederhana yang bisa kumasak cuma mie instan sama telur. Gimana sih?!" Kali ini, giliran Azura yang ngegas.


Perempuan yang masih mengenakan baju rajut biru muda itu, memilih memalingkan wajah. Enggan menatap wajah tidak percaya Axel.


"Kamu beneran cuma bisa masak itu?" tanya Axel masih mencoba mencari secercah harapan dari 'perempuan gagal' itu.


"Ada sih. Eum ... aku juga bisa tanak nasi."


Okey, lupakan saja! Axel tidak jadi bertanya. Karena sepertinya, pertanyaan itu terasa sia-sia. Azura tetap perempuan yang gagal dalam segala hal. Tidak ada yang tahu entah dari planet mana perempuan itu sebenarnya berasal.


"Jangan natap aku kayak gitu! Aku nggak suka," rajuk Azura begitu menyadari tatapan kasihan sekaligus tidak habis pikir Axel.


Azura sendiri sudah sangat sadar dia jauh dari kata perempuan idaman. Tidak bisa memasak dengan benar. Tidak rajin bersih-bersih rumah. Jorok dan berantakan. Jarang mandi apalagi bangun pagi.


Semua kriteria itu mungkin sudah berhasil membuat Axel sekarang jijik padanya. Lagipula, mana ada yang mau menjadi istri dari 'perempuan jadi-jadian' sepertinya kalau tidak karena terpaksa?


Axel yang menyadari raut wajah perempuan itu yang hampir menangis, sedikit merasa bersalah. Sepertinya, sejak semalam, dia sudah terlalu banyak mengatakan hal buruk sehingga membuat istrinya ingin menangis seperti sekarang.


"Mau ke pantai nggak?"


Karena tidak punya cukup gengsi serta niatan untuk meminta maaf langsung, pertanyaan itu malah keluar refleks dari mulutnya. Dan bodohnya, Azura langsung menoleh dengan binar senangnya.


"Pantai?!"


***


"Kenapa harus bawa beginian juga sih? Alay!" komentar Axel begitu melirik Azura yang sudah menggelar tikar plastik yang dibawanya di bawah pohon yang entah namanya apa.


Azura melirik Axel sekilas kemudian melengos tidak peduli. "Yaudah, ngapain sewot? Nggak usah duduk di tikarnya orang alay kalau gitu," jawab perempuan pendek itu santai sambil mulai duduk selonjoran.


Axel kontan mendekat dan ikut duduk di samping perempuan itu. "Ngapain nggak duduk? Yang kamu bawa juga tikar dari rumahku," sahut Axel santai.


Kakinya dengan sengaja ia rapatkan dengan kaki Azura---ikut selonjoran. Berniat menunjukkan pada perempuan pendek itu tentang seberapa pendek kakinya sendiri.


"Waaah ... liat tuh liat! Kakiku lebih putih dong."


Axel mendengkus sebal. Rupanya, niatnya malah diartikan lain oleh perempuan lola itu.


"Nggak papa nggak putih, tapi kakiku lebih panjang. Buat apa putih kalau nggak tinggi." Axel membela diri.


Azura mencebik sebal. Benar juga. Putih tidak bisa menyamarkan kependekannya. Karena minder alias 'insecure', perempuan itu memilih menekuk kakinya agar tidak bersisian dengan kaki Axel lagi.


Axel yang menyadari perempuan itu yang sepertinya tersinggung dengan ucapannya, kontan menepuk bahu Azura pelan. Tak butuh waktu lama untuk perempuan itu menoleh.


"Mau denger lelucon nggak?" tanya Axel yang kontan dibalas Azura dengan anggukan semangat.


"Mau!"


Axel berpikir sejenak. Mencari sesuatu hal lucu yang bisa ditertawakan.


"Kacang panjang kalau dipotong jadi kacang pendek nggak?"


Hening beberapa saat. Satu detik. Dua detik. Banyak detik.


"Nggak lucu, ya?" tanya Axel akhirnya sadar diri.


Azura mengerjap polos. Beberapa detik kemudian, mengangguk dan tersenyum cengengesan.


"Emang nggak lucu sih. Tapi nggak papa. Aku jadi sadar kalau lelucon tebak-tebakanku tadi pagi juga sama nggak lucunya."


Jawaban jujur Azura seketika membuat Axel merasa ingin menenggelamkan diri ke pantai sekarang juga. Malu karena meledek selera humor perempuan itu di saat dia sendiri malah melontarkan lelucon tak kalah garingnya.


Sibuk memikirkan lelucon apa yang lucu untuk diceritakan, Axel malah menemukan Azura sibuk membongkar kresek yang dibawanya. Begitu menemukan apa yang dicari, perempuan itu tersenyum sumringah.


"Mau kamu apain itu mie mentah?" tanya Axel heran begitu melihat Azura sibuk meremukkannya.


"Ya dimakan, jadi cemilan." Sahutan enteng Azura, membuat Axel melotot.


"Ngapain nyemil mie mentah?! Kayak nggak ada cemilan lain aja," omel pria itu tidak habis pikir.


Azura menoleh sejenak kemudian mulai membuka mie mentah yang sudah diremukkannya. Kemudian, perempuan itu menaburkan bumbu mie ke dalam bungkusnya.


"Emang nggak ada, sih. Stok makanan di dalam koperku udah habis semua, tinggal sampahnya doang yang kujejelin di bawah koper."


Axel meneguk ludah kasar. Membayangkan tidur di antara sampah bekas makanan begitu saja, sudah membuat bulu kuduknya merinding. Itu lebih menyeramkan daripada tidur bersama hantu baginya.


"Oh iya, Xel. Aku punya lelucon lain loh. Kali ini dijamin lucu. Asli no kaleng-kaleng!" yakin Azura sambil mulai mengunyah mie mentah yang katanya 'cemilan'.


"Apa?" tanya Axel yang tanpa sadar terus memperhatikan perempuan itu makan.


"Matahari kalau tenggelam, bisa berenang nggak?"


Sekali lagi, Axel sangat ingin mengkeramasi kepala Azura dengan minyak mie instan di tangannya!