
Azura terbangun dengan nyeri yang terasa menghantam kepala. Perempuan itu bangkit duduk dari berbaringnya kemudian mengucek mata.
Begitu melihat jam di ponselnya, perempuan itu meringis. Sudah jam 11 siang. Dan Azura baru bangun karena semalaman begadang untuk menulis.
Hal itu membuat kepalanya yang memang sedang ditimbun banyak pikiran, semakin pening dan nyeri. Bangkit dari berbaringnya guna beranjak mencari sarapan di dapur, perempuan itu malah oleng dan berakhir ambruk di lantai.
BRUGH ....
Perempuan itu meringis sakit. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Napasnya juga terasa panas. Sepertinya anemianya kambuh sekarang. Dan Azura sudah kehabisan stok obat anemia yang akan dicarinya ketika perempuan itu kambuh saja.
"Ck ... masak ke rumah sakit, sih?" tanya Azura pada dirinya sendiri kesal.
Sudah satu minggu dia mendekam di sini. Rumah kontrakan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Axel. Azura menyewa rumah tak berpenghuni milik seorang nelayan di sana.
Dia bersembunyi dari semua orang. Azura tidak ingin bertemu siapapun. Kalimat sindiran pedas Axel kala itu, melukai perasaannya dan membuatnya merasa malu untuk bertemu orang lain.
Azura bahkan menganggurkan seluruh pesan dari semua orang termasuk Galen meski perempuan itu bertanya tentang naskahnya yang akan diterbitkan. Deadline-nya sudah di depan mata dan sekarang Azura malah sibuk bersembunyi dari semua orang.
Meski kabur dari rumah, dalam hati, Azura merasa kecewa. Di antara semua orang yang menghubunginya, kenapa tidak ada nama Axel di sana? Apa pria itu memang tidak pernah peduli padanya?
Mengabaikan segenap keruwetan yang menghinggapi kepala, perempuan itu segera bangkit dan mencari sarapan di dapur. Karena bahan masakan sudah habis juga rasa malas, perempuan itu akhirnya hanya sarapan dengan mie mentah yang dia remukkan.
Tapi, selesai sarapan, Azura justru merasakan tubuhnya tidak kunjung membaik. Justru rasa mual mendominasi membuat perempuan itu berlari ke kamar mandi dan muntah di sana.
Selesai mengeluarkan seluruh isi perutnya, lagi-lagi Azura mengeluh lemas. Ini pertama kalinya dia tinggal sendiri. Dan dia bahkan tidak hapal alamat rumah sakit terdekat sama sekali.
Yang dia tahu hanya jalan menuju rumah orang tuanya, Axel, Serafin dan Galen. Selebihnya, perempuan itu benar-benar tidak tahu.
Tetapi yang jelas, Azura ingin pergi ke rumah sakit sekarang. Dia tidak ingin memperparah keadaannya terlebih sekarang perempuan itu tinggal sendiri. Jika terjadi apa-apa padanya, tidak akan ada yang mampu menolongnya di sini.
***
Axel memakan mie ayam yang dibawakan Elynca untuknya dalam diam. Pria itu terus melamun dan membiarkan Elynca mengoceh sendiri.
"Xel ... kapan-kapan, ayo kita ke Lombok! Di sana pantainya bagus-bagus banget tauk," cerita Elynca semangat.
"Aku udah pernah pergi ke sana sama Azura."
Jawaban jujur Axel seketika membuat Elynca kehilangan suara. Perempuan itu memilih diam kemudian melanjutkan memakan mie ayamnya lagi.
Siang ini, Elynca dan Axel tengah duduk di teras rumah sambil memakan mie ayam yang dibawakan Elynca. Meski kemarin perempuan itu tampak tersinggung dengan pengakuan Axel, tetapi hari ini dia sudah bersikap seperti biasa lagi.
"Tau nggak? Azura suka banget makan mie ayam sama Galen," cerita Axel tanpa sadar membuat senyum di wajah Elynca kian memudar.
Perempuan itu memandang Axel lekat kemudian melontarkan pertanyaan.
"Kamu cemburu, ya?" tanya Elynca dengan senyum getir.
Axel terkekeh miris dengan pertanyaan perempuan itu. "Ngapain cemburu? Ribet."
Mendengar jawaban tidak jujur Axel, perempuan itu meninju lengan sang sahabat membuat Axel tergeser dari posisinya.
"Jangan terus bertindak bodoh kayak gini! Aku jadi ngerasa jahat karena suka sama kamu kan sekarang," omel Elynca membuat Axel mengernyit heran.
Dari Damian.
"Halo, Pa. Kenapa?" tanya Axel gugup. Takut jika sang papa mertua malah menanyakan tentang Azura.
"Kenapa apanya?! Cepet ke rumah sakit! Bisa-bisanya kamu biarin istri kamu yang lagi sakit ke sini sendirian?!"
Omelan Damian di seberang sana seketika membuat Axel membulatkan mata.
"I-istri? Maksudnya Azura?!" tanya Axel cepat.
"Terus siapa lagi?! Memangnya kamu punya selingkuhan makannya punya istri yang lain?!"
Kemarahan Damian seketika membuat Axel buru-buru bergegas menuju rumah sakit yang alamatnya dikirim sang papa mertua lewat chat. Meninggalkan Elynca yang masih duduk di teras rumahnya sendiri.
Elynca tersenyum getir. Axel mulai melupakannya karena mengingat Azura. Pria itu sudah berpaling dari Elynca.
Axel ... sudah mencintai Azura.
***
Damian dan Anyelir terus memandangi Azura yang berbaring di ranjang rumah sakit khawatir. Perempuan itu tampak pucat dan kehilangan tenaga bahkan hanya untuk bicara.
"Kenapa bisa-bisanya kamu ke rumahs sakit sendiri dengan keadaan kayak gini?! Kalau kamu kenapa-kenapa di jalan gimana?! Lagian suami kamu itu, masak nggak tau kalau istri sakit sih?!" Damian menggeram murka disertai rentetan omelannya.
Anyelir menyundul perut sang suami keras membuat pria itu meringis. Perempuan itu bahkan menggigit lengan sang suami membuat pria itu menjerit kecil.
"Jangan ribut! Kamu kira dia bakal sehat dengan diomelin kayak gitu?! Biarin dia istirahat dulu! Nanyanya nanti aja!" Anyelir balas mengomeli sang suami kesal.
Dia juga penderita anemia. Jadi dia sangat mengerti bagaimana rasanya diomeli ketika kepala sedang pusing-pusingnya.
"Yaudah, awas aja si Axel itu kalau sampai sini!" Kalimat Damian membuat Azura yang sedari tadi diam sambil menutup mata, kontan membukanya dengan susah payah.
Tangannya menggapai lengan Damian dan menggeleng keras. "Jangan salahin Axel. Aku yang ke sini tanpa ngasih tau dia. Jadi dia nggak tau apa-apa," bela Azura membuat Damian menghela napas berat.
"Nggak mau tau, Papa tetep mau marahin itu anak." Damian memutuskan final membuat Azura tidak bersuara lagi.
Tadi, ketika ke rumah sakit ini dengan bantuan ojek online juga google maps, Azura malah bertemu dengan orang tuanya. Keduanya yang menyadari kondisi Azura, kontan dengan panik membawa Azura ke dokter.
"Mama sama Papa ngapain ke sini?" tanya Azura mengalihkan topik.
"Cek kandungan Mama kamu, Zu. Sekalian check up juga. Dia kan anemia juga sama kayak kamu," jawab Damian yang diangguki Azura paham.
Karena merasa pening mendera kepalanya lagi, perempuan itu memilih berbaring menyamping membelakangi Damian dan Anyelir. Tapi, suara pintu yang terbuka juga suara pria yang sudah sangat dihapalnya, seketika membuat perempuan itu kembali membuka mata.
"Nah ini dia suami nggak peka itu! Istrinya sakit malah dibiarin pergi ke rumah sakit sendiri!" omel Damian.
"Maaf, Pa. Aku beneran minta maaf." Axel berucap menyesal.
Azura mengepalkan jemari tangannya sendiri. Dia tidak siap bertemu Axel.
Lagipula, Azura sudah mengakhiri semuanya, kan?