Innocent Wife

Innocent Wife
eps 43~Kado Untuk Alien Tidak Peka



Pagi ini, Azura sudah berada di kantor Galen. Sebenarnya, Axel ingin mengantarnya tadi. Tapi, karena pria itu sedang sibuk dan ada meeting penting dengan seorang investor besar yang Azura tidak mengerti itu apa, jadilah pria itu membiarkan istrinya pergi ke sini dengan setengah tidak rela. Sejenak, Azura terkikik geli begitu mengingat wajah sebal pria itu begitu Azura meminta izin untuk ke sini subuh tadi.


"Saya bingung sama suami kamu itu, Zu. Kayaknya dendam banget sama saya," kekeh Galen geli begitu Azura menceritakan rajukan Axel sebelum berangkat kerja tadi.


"Iya, dia sampai bilang mau tunda meeting aja cuma buat nemenin aku ke sini. Aneh banget!" omel Azura yang dibalas senyum menggoda Galen.


"Pantes si Axel kesel, ya? Perempuan itu memang selalu nggak peka," gumam pria yang kata Axel 'mata empat' karena memakai kaca mata.


"Hah? Nggak peka gimana maksudnya?" heran Azura dengan kalimat tidak jelas Galen.


"Enggak papa." Galen menjawab singkat sebelum kemudian mematikan laptopnya yang tadi masih menyala bahkan sebelum Azura datang.


"Oh iya, Zu. Bakat kamu nurun dari Mamamu ya kayaknya? Kulihat-lihat di akun social medianya, dia juga nulis novel loh dulu. Bahkan pernah jadi editor di Bagaskara Media ini juga kata Papaku," cerita Galen yang diangguki Azura dengan bangga.


Anyelir juga pernah menceritakan karirnya di dunia tulis menulis pada Azura. Sebab itulah dia sekarang menjadi penulis terkenal seperti sekarang.


Perempuan itu mengenalkan Azura pada teknik-teknik menulis bahkan sejak ia masih duduk di bangku kelas 6 SD. Sehingga ketika memilih mempublikasikan karya pertamanya di kelas 10 SMA, ceritanya bahkan sudah layak baca dengan teknik kepenulisan yang rapi.


"Pantes ya pas saya lihat karya pertama kamu yang terbit pas kamu kelas 1 SMA itu udah keren banget. Ternyata udah dibimbing dari kecil sama ahlinya," kekeh Galen membuat Azura semakin merasa bangga karena punya Mama sekeren Anyelir.


Meski perempuan itu kadang lebih kekanakan dari dirinya, tetap saja Anyelir adalah Ibu yang baik. Perempuan itu bisa jadi teman, orang tua, bahkan guru untuk Azura.


"Jadi gimana, Len. Aku harus nurutin kemauan Axel atau gimana baiknya?" tanya Azura kembali ke topik awal mereka.


"Saya sih seneng bahkan sangat seneng kalau kamu tetep nerbitin naskah kamu di kami. Tapi ... saya bakalan sangat nggak seneng kalau sampai kamu nggak matuhin omongan suami sendiri," jawab Galen yang Azura sudah mampu simpulkan artinya.


Perempuan itu mengembungkan pipi sejenak. Beberapa detik kemudian mengangguk yakin dengan keputusannya.


"Okey deh kalau gitu, aku ikutin Axel aja. Tapi ntar kalau aku ngerasa nggak cocok, dia nggak bisa halangin aku buat pindah ke penerbit yang lain," gumam Azura yang dibalas Galen dengan senyum senang.


Dia memang masih mencintai Azura. Tapi, mencintai tidak seharusnya memiliki, kan? Meski perempuan itu tidak mencintainya sebagai seorang pria dan wanita, setidaknya Galen bisa menjadi sahabat yang baik bagi perempuan itu.


"Kamu nggak mau traktir aku mie hari ini?" tanya Azura tanpa tahu malu begitu urusan mereka sudah selesai.


Seketika, Galen malah terkekeh geli begitu mengingat kalimat Axel di pertemuan terakhir mereka. Matanya memandang wajah penuh harap Azura jenaka.


"Nggak ah. Saya nggak mau nyari masalah dengan ngasih makan alien kesayangan Axel mie murahan," jawab Galen yang dibalas pelototan sebal Azura.


Berikutnya, perempuan itu pamit hendak pulang sebelum Axel mengamuk lagi. Tapi, baru saja berbalik, suara Galen lebih dulu menghentikan langkahnya.


"Oh iya, Zu. Saya cuma mau ngasih tau, suami kamu sebenernya cemburu. Jadi, maklumi aja sikap menyebalkannya. Pria memang susah mengungkapkan perasaannya, jadi kalian sebagai perempuan harus lebih peka."


Azura terkekeh geli dengan ucapan pria berkaca mata itu. "Aku tau sih sebenernya. Tapi ya enggak papa. Soalnya Axel makin ngegemesin kalau lagi kesel," jawab perempuan itu sambil tersenyum cengengesan.


Sebelum Galen menghujatnya, perempuan itu sudah lebih dulu berlari dan keluar ruangan tentu saja.


***


"Jadi gini, besok itu istri saya ulang tahun. Kira-kira ... saya harus kasih dia kado apa, ya?" tanya Axel akhirnya memberitahu alasannya memanggil perempuan itu.


Seketika, perempuan itu menghela napas lega. Merasa senang karena tidak dipanggil sang bos karena melakukan kesalahan.


BRAK ....


"Saya manggil kamu buat kasih saran, ya! Bukan numpang napas nggak jelas," tegas Axel sambil menggebrak mejanya.


Seketika, perempuan itu ciut lagi.


"Jadi gimana? Kamu perempuan atau bukan sih? Jangan-jangan perempuan jadi-jadian juga kayak istri saya? Oh, tapi bagus sih. Sesama perempuan jadi-jadian berarti seleranya sama dong." Axel terus menggumam sendiri.


Hal itu dimanfaatkan sang sekretaris dengan berpikir jawaban apa yang harus dia lontarkan agar sang bos tidak murka lagi. Oh ayolah! Seorang Victoria Axelsen Zelardo di perusahaannya terkenal sebagai Presdir Galak dan Perfect.


Jadi, duduk di depannya saja sudah berhasil membuat bulu kuduk merinding.


"C-cewek ...."


"Dia perempuan! Bukan cewek," tegur Axel sambil melotot garang. Hal itu membuat Icha segera meralat ucapannya.


"Perempuan itu simple, Pak. Enggak perlu surprise gede-gede apalagi mewah, cukup dibeliin makanan yang dia suka aja dia udah seneng. Nggak usah ke tempat mewah, cukup duduk diem di rumah sambil cerita-cerita aja kami juga udah seneng. Nggak perlu ribet, cukup setia aja kami udah sangat seneng dan cukup, kok."


Penjelasan panjang lebar perempuan di depannya seketika membuat Axel mendengkus keras. Karena tidak ingin bertambah mengamuk pada perempuan di depannya lagi, Axel memilih menyuruh Icha---sang sekretaris keluar.


Tangan pria itu memijat pangkal hidungnya yang pusing. Apa kado yang cocok untuk seorang alien macam Azura? Apa batu asteroid dari luar angkasa? Atau meteor? Argh ... Axel merasa semakin pusing.


"Makanan yang dia suka? Dia cuma suka mie!" ketus Axel begitu mengingat saran sang sekretaris tadi.


"Tempat mewah? Cerita-cerita? Bahkan dia lebih suka rebahan di kamar sambil nonton film daripada ngomong sama suami sendiri," komentar Axel lagi untuk saran kedua Icha.


"Terus apa itu tadi? Setia? Emangnya mukaku ini tampang-tampang playboy apa sampai dia bilang gitu?!" sewot Axel sambil bersedekap dada.


Karena lelah berpikir dan tidak berhasil menemukan jawaban dari pertanyaannya, pria itu akhirnya bangkit berdiri. Sepertinya dia ingin pulang saja.


Nanti dia akan bertanya langsung pada Azura apa yang sedang perempuan itu inginkan sekarang. Lagipula terlalu susah untuk mencari kado yang pas untuk perempuan aneh seperti istrinya.


Lama-lama, Axel jadi berpikir untuk menghadiahkan Azura isi kepala saja. Biar perempuan itu tidak terlalu bodoh dan cepat peka jika semisal Axel cemburu dan gengsi mengungkapkannya.


Seketika, mengingat kata 'peka' dan 'cemburu', Axel malah tersenyum cerah.


Dia sudah menemukan hadiah yang tepat untuk Azura!


ingin update cepet caranya like, koment dan vote jangan lupa ok 😉