Innocent Wife

Innocent Wife
eps 20~Tidak Boleh Cemburu



Azura tidak mengerti apa alasan Axel sebenarnya begitu suka mengganggu tidurnya di jam 5 pagi. Sehabis semalam mengatur tempat untuk barang-barangnya sekalian memakan mie pukul 3 pagi, perempuan itu tentu saja baru tidur 2 jam.


Akhir-akhir ini, karena merasa ide menulis lebih cepat datang saat malam, Azura memang kerap begadang. Hanya saja, kadang dia tidak tahan juga. Karena peraturan wajib meski tidak tertulis Axel di rumah ini adalah bangun pagi dan langsung membuat semuanya rapi.


Pria jangkung itu begitu banyak mengubah kebiasaannya 3 bulan belakang. Di saat Azura yang bisa tidur sampai siang karena begadang, di rumah ini beda lagi. Mau begadang jam berapapun, intinya bangun pukul 5 pagi adalah kewajiban tanpa ampun.


Menyebalkan sekali.


"Seenggaknya kasih aku waktu maksimal 15 menit, aku beneran ngantuk," gumam Azura sambil menyembulkan kepala di pintu kamarnya.


Axel tengah berdiri sambil bersedekap dada di sana. Tadi pria itu memang menggedor pintu kamarnya.


"Ck ... nggak ada lah waktu-waktuan segala! Ayo cepet bangun! Siep-siep! Jangan ngesot mulu kayak kuntilanak gini!" perintah Axel tidak sabaran begitu melihat Azura masih duduk sambil bersandar di kusen pintu kamarnya.


Axel bahkan tidak mengerti kenapa ada makhluk semalas Azura. Level kemalasan dan kebodohan perempuan itu bahkan membuat Axel sangat tidak ikhlas mengakuinya sebagai perempuan.


"Nanti dulu, Xel! Aku masih ngantuuuk," rengek perempuan pendek itu hampir menangis.


Sebenarnya, tidak hanya mengantuk sih. Kepalanya juga sedikit pening. Ah ... atau mungkin, sangat pusing. Dia sebenarnya tahu bahwa ini adalah efek begadang. Tapi, tetap saja Azura tidak bisa menghentikan kebiasaan barunya tersebut.


"Yaudah makannya cepet! Soalnya setelah sarapan, kita harus belanja banyak." Axel berucap membuat Azura mendongak.


"Mau belanja apa emangnya?" tanya perempuan itu heran. Tumben sekali dia diajak belanja begini. Biasanya, hanya Axel yang akan pergi membeli berbagai macam isi kulkas sebagai bahan masakan.


"Tadinya mau beli istri baru, tapi kasihan sama Elynca kalau adik pendeknya ditelantarin," jawab Axel ngawur membuat Azura segera menutup pintu kamarnya keras.


Padahal dia bertanya serius tadi.


***


Azura turun menuju lantai satu begitu sudah rapi dengan setelan sweeter merah muda juga dress selututnya. Terlebih dahulu, perempuan itu menggoreng telur dadar sebagai menu sarapan setelah semalam lebih dulu menanak nasi menggunakan magic com.


Begitu selesai menggoreng telur terakhirnya, Axel juga turun dengan setelan baju santai berupa turtle neck lengan panjang berwarna cream. Pria itu berjalan menuju dapur dan berdiri di belakang Azura yang tengah menyiapkan sarapan untuk dibawa ke meja makan.


"Itu telur dadarnya nggak ada ketinggalan cangkang telurnya kan, sekarang?" tanya Axel memastikan. Mengingat terakhir perempuan itu memasak menu ini, Axel malah mendapati cangkang telur tersisa di dalam dadar telur yang sudah matang.


"Enggaak! Aku nggak bodoh ya, sampai nggak bisa bedain mana cangkang telur mana bawang merah!" kesal Azura sambil membawa piring berisi beberapa telur dadar ke atas meja makan.


Axel dalam diam membantu membawakan piring beserta sendok dan nasi. Begitu siap, keduanya makan dalam kondisi anteng---hal yang tentu saja jarang terjadi.


"Seharusnya nggak perlu ajak aku belanja kalau nggak mau belanjain aku sesuatu juga," komentar Azura di sela sarapan mereka.


Axel menoleh kemudian mengangguk-angguk. "Okey, ntar kubeliin permen sebungkus," jawab pria itu enteng. Berniat semakin membuat kesal istrinya.


Tapi, tidak seperti dugaannya, mata perempuan itu malah berbinar senang. "Beneran dibeliin?!" tanyanya seolah tidak percaya.


Axel memutar bola mata malas. Merasa kesal karena rencana mengajak 'perang mulut'-nya malah gagal total. Azura rupanya juga suka permen.


"Nggak jadi deh, aku beliin kamu jepit rambut aja." Axel menyanggah. Mengingat Azura yang tidak punya jepit rambut satupun, Axel pikir sepertinya perempuan itu tidak menyukai benda tersebut.


"Waah ... nggak papa deh! Aku bisa kasih ke Mama. Mama katanya dari dulu suka koleksi jepit rambut," sahut perempuan itu semakin antusias.


Axel mendengkus kesal. Gagal lagi.


"Nggak jadi juga, aku beliin kamu kancing aja deh," sahut Axel lagi mencoba membuat mood Azura turun.


Tapi, lagi-lagi mata perempuan itu malah semakin berbinar girang. "Bagus lah! Biasanya pengait sweeterku suka rusak, jadi bisa lah dipakein kancing, hehe."


"Jadi apa yang kamu nggak suka beli?!" tanya Axel tidak habis pikir.


"Eum ... aku suka semua hal asalkan dibeliin. Yang nggak kusuka cuma beli pake uang sendiri," jawab Azura sambil tersenyum cengengesan.


Axel melengos kemudian memakan sarapannnya lagi. Okey, lupakan saja. Dia tidak jadi bertanya.


***


Begitu sampai di sebuah mall besar, yang di lakukan Azura hanya mengekori kemana Axel berjalan dan membawakan barang-barang pria itu. Padahal, Azura kira mereka hanya akan ke minimarket untuk membeli bahan-bahan masakan dan isi dapur.


Tapi, pria menyebalkan itu malah membawa Azura ke sini. Tempat ramai yang malah membuat Azura mual saking bisingnya. Oh ayolah, kalau tahu bakal ke sini, mungkin ia sudah memilih untuk menolak dan tidak pergi sejak awal.


"Axel ... ayo pulaaang!" rengek Azura untuk yang kesekian kalinya.


Di tangan Azura sudah ada beberapa bungkusan berisi barang-barang yang dibeli Axel. Azura yang memang gemar tersesat akhirnya mau tidak mau terus mengikuti kemana pria itu pergi.


"Ck ... bentar dulu! Lagi bingung ini, mau beli yang warna apa," gumam Axel sambil memandangi dua dress selutut tanpa lengan di tangannya.


Tunggu dulu! Apa Azura tadi bilang dress? Untuk apa Axel membelinya? Apa pria itu berniat membelikan pakaian untuk Azura?


"Kira-kira, Elynca lebih suka warna yang mana, Zu?"


Pertanyaan Axel, seketika menjawab semua pertanyaan yang bercokol di tempurung kepala Azura. Sejenak, perempuan itu tersenyum getir.


Bukan untuknya.


"Woi, aku nanya!" kesal Axel sambil menyenggol lengan Azura yang terdiam di sisinya.


Azura mendongak gelagapan kemudian menunjuk asal dress berwarna biru muda. Bukan warna kesukaan Elynca sebenarnya. Itu justru warna favorit Azura. Tapi, anehnya Axel malah percaya saja.


"Okey, aku beli yang ini!" putus pria itu kemudian menaruh kembali baju berwarna merah muda yang modelnya sama dengan yang dipilihnya.


"Mau beliin Kak Elyn, ya?" tanya Azura meski perempuan itu tahu jawabannya.


Axel menoleh sejenak kemudian mengangguk dengan senyum tipisnya. Azura mengulum bibir, mencoba menahan geletar tak mengenakkan di dasar hatinya.


Dia tidak boleh cemburu. Axel bukan miliknya meski mereka berstatus suami istri. Mereka bakal bercerai 3 bulan lagi. Pernikahan ini bertahan hanya karena orang tua mereka.


Azura tidak boleh membiarkan perasaannya tumbuh lebih besar lagi. Atau jika tidak, dia lah yang akan terluka sendiri. Karena Axel tidak menyukainya. Tidak akan pernah menyukai Azura.


"Zu ... ayok!" teriak Axel yang entah sejak kapan sudah berada jauh di depannya.


Azura yang tersadar dari lamunannya, kontan menoleh kemudian berlari menyejajarkan langkah dengan pria itu. Tapi, baru saja menoleh ke arah kanan, langkahnya seketika terhenti.


Di sana, seorang pria berdiri dengan wajah sama terkejutnya seperti Azura.


Seketika, putaran memori masa lalu yang kelam itu membayangi benak Azura. Tanpa dapat dicegah, tubuh perempuan itu kontan bergetar saking takutnya.


Pria itu ... pria yang semasa SMA dulu hampir merenggut kesuciannya, berdiri di sana.


Belum sempat mampu mengendalikan diri apalagi mengeluarkan suara, pandangan Azura sudah lebih dulu berputar dan samar.


Beberapa detik kemudian, semuanya berubah gelap.


Azura tidak sadarkan diri.