
Azura menepuk-nepuk perutnya yang sudah sangat kekenyangan. Setelah naik perahu dan berjalan-jalan bermain air di pinggir pantai, kali ini Axel memaksanya menghabiskan semua makanan yang dibeli Azura sebelumnya.
"Ayo makan lagi! Tinggal dikit ini," ajak Axel masih dengan mulut mengunyah sate ikan bercampur parutan kelapa muda di tangannya.
Tangan pria itu bahkan juga mencomot beberapa butir bakso, telur gulung, juga berbagai macam snack yang Azura sebelumnya inginkan. Bisa dibilang, Axel yang makan paling banyak sih.
Karena sedari tadi, Azura hanya makan dengan pelan karena sudah kekenyangan.
"Ya makannya tolong habisiiin!" pinta Azura merengek sambil mengunyah es batu dari es kelapa muda.
Axel yang juga mulai sangat kekenyangan, kontan menghentikan kunyahannya. Pria itu mencuci tangan dengan air mineral disusul Azura yang menyodorkan tangan minta dicucikan juga.
"Sisa apa?" tanya Axel begitu melihat banyak bekas bungkus makanan yang tercecer sekaligus menjadi penghalang di antara Azura dan dirinya.
"Cuma beberapa snack, nggak usah khawatir lah! Bisa dibawa ke hotel, nggak akan basi kalau snack mah. Lagian ... sekarang perutku kayaknya udah mau meledak," keluh Azura membuat Axel terkekeh geli.
Hari sudah hampir gelap. Hanya tersisa beberapa pengunjung yang mungkin memang sengaja singgah untuk menyaksikan matahari terbenam.
"Senja di sini katanya bagus, kita pulangnya nanti dulu, ya?" pinta Axel yang diangguki saja oleh Azura.
Perempuan yang masih merasa sangat kekenyangan itu memilih berbaring menghadap langit sore lagi. Axel ingin protes karena perempuan itu baru selesai makan sebenarnya. Tapi, ia mengurungkan niatnya dan memilih membersihkan semua bekas bungkusan makanan di samping mereka.
Begitu sudah bersih, Axel bahkan menggulung tikar alas makanan yang menjadi pembatas antara dia dan Azura kemudian memilih merapatkan tikarnya dengan tikar Azura. Pria itu mengambil tas selempang Azura kemudian mengeluarkan ponsel perempuan itu dari sana.
"Nih ... jadiin bantal biar kepalamu nggak sakit!" suruh Axel sambil mengangkat kepala Azura kemudian menyelipkan tas selempang perempuan itu di sana.
"Eeh ... ada ponsel---"
"Ponsel kamu udah kupindahin ke saku," jawab Axel sebelum Azura sempat melayangkan protesnya.
Berikutnya, perempuan itu berbaring dengan anteng. Axel ikut berbaring di samping Azura membuat perempuan itu menoleh sejenak.
"Kapan-kapan, jangan suruh aku pakai dress kayak gini lagi! Aku nggak suka," peringat Azura membuat Axel terkekeh geli.
"Kapan-kapan, biar aku aja yang beliin kamu pakaian. Aku nggak suka kalau istriku berpakaian nggak layak kayak kemarin-kemarin," timpal Axel membuat Azura menggusah kesal.
"Nggak layak gimana? Aku nggak pernah pakai baju kekurangan bahan," sanggah Azura membela diri.
Axel memutar bola mata malas. "Iya, tapi kamu selalu pakai baju kekurangan model. Gitu-gitu aja bentukannya bajumu. Kalau nggak sweeter, yang baju dalem, kalau nggak itu ya jaket. Kalau di rumah bahkan cuma pakai kaus oblong kedodoran," omel pria jangkung itu panjang lebar.
Azura yang mendengar kalimat suaminya, bahkan tidak mampu berkedip memandangi bibir Axel yang terus bergerak-gerak diiringi nada suara kesalnya.
"Tapi aku suka pakai baju kayak gitu, nggak ada yang boleh ganti model bajuku," jawab Azura final.
Axel menghela napas berat. Memang susah kalau berdebat dengan Azura. Perempuan itu cukup bodoh tapi juga selalu cukup pintar memancing kesabarannya. Padahal kan, mending dia memancing ikan saja. Mumpung sekarang mereka berada di lautan.
"Surat kontrak penerbitan buku kamu udah diurus sama Galen? Bulan ini kamu juga nerbitin buku baru lagi, kan?" tanya Axel teringat cerita perempuan itu beberapa waktu lalu.
Azura menoleh kaget. Matanya berbinar senang. Tidak menyangka selama ini Axel mendengar ceritanya. Padahal wajahnya selalu terlihat tidak peduli dan acuh tak acuh setiap Azura menceritakan tentang kehidupannya di dunia tulis menulis.
"Kamu tau?!" tanya perempuan itu kelewat semangat.
Axel menoleh sejenak pada wajah senang Azura kemudian mengangguk. "Yaiyalah, emang aku kayak kamu? Nggak tau apapun," jawab Axel enteng.
"Belum sih, katanya masih urus ISBN buku terus isi-isi surat kontraknya dulu." Azura menjelaskan yang ditanggapi anggukan oleh Axel.
"Di Indonesia kalau ngurusin surat-surat kayak gitu susah, ya? Tapi kalau ngurusin orang lain gampang banget," kekeh Axel geli.
Azura malah mengernyit tidak mengerti.
Seketika, Axel jadi malas mengakui kalau istrinya adalah penulis terkenal. Lagipula, siapa pembaca setres yang mau-mau saja jadi penggemar setianya?
"Aku seneng banget loh tapi hari ini," ucap Azura lagi begitu beberapa menit mereka berbaring bersisian dalam hening.
"Seneng kenapa?" tanya Axel mencoba melupakan topik 'ngurusin orang' sebelumnya.
"Yaaa ... seneng aja gitu. Soalnya pertama kalinya naik perahu terus makan sebanyak tadi, hehe." Azura tersenyum cengengesan.
Axel balik tersenyum hangat. "Syukur deh kalau kamu seneng. Aku jadi ngerasa bangga, soalnya pertama kali nggak ngehujat kamu seharian penuh," kekeh pria jangkung itu membuat Azura mencebik sebal. Teringat sikap menyebalkan pria jelek yang entah kenapa malah jadi suaminya.
Tapi, kesenangannya hari ini membuat perempuan itu kembali tersenyum cerah. Apalagi begitu mengingat yang dilakukan Axel sebelum mereka naik perahu tadi, Azura semakin menggigit lidah---mencoba menahan teriakan yang sudah mencapai ujung tenggorokan.
"Terus besok mau kemana lagi?" tanya Axel meminta saran.
Azura berpikir sejenak sambil menaikkan kaki membuat Axel kontan menindih kaki perempuan itu keras. Azura yang merasakan kakinya terhantam pasir keras kontan mendelik sebal.
"Sakit tauk!" protes perempuan pendek itu yang dibalas Axel dengan toyoran di kening.
"Ya kamu sih! Udah tau pake dress pendek gitu, malah angkat-angkat kaki. Dikira ini di kamarmu apa?!" cerca Axel sambil melotot garang.
Azura yang tersinggung dengan toyoran di keningnya hanya menunduk sambil mencebik sebal. Tidak berniat menyahuti ucapan sang suami lagi.
Axel yang melihat wajah sedih perempuan itu, kontan berdehem pelan. Berniat mencairkan suasana lagi. Tapi, tetap saja jadi terasa canggung.
"Aku bilang gitu juga demi kebaikan kamu! Emang kamu mau warna ****** ***** kamu diintip orang lain dengan ngangkat-ngangkat kaki kayak tadi?" omel Axel mencoba membela diri atas perlakuan kasarnya pada Azura.
Tapi, perempuan itu tetap diam. Hal itu membuat Axel semakin kesal.
"Udahlah! Nggak usah ngambek! Apa kesabaranku seharian penuh ini nggak berarti apa-apa cuma karena omelan yang tadi?" tanya Axel tidak habis pikir.
Azura kontan mendongak dan menggeleng keras. "Enggak kok, Maaf." Perempuan itu menyahut penuh rasa bersalah.
Axel tersenyum begitu perempuan 'lumayan bodoh' itu akhirnya mengerti ucapannya. Tangan pria itu bahkan tanpa sadar mendarat dan mengacak puncak kepala sang istri gemas.
"Jadi, setelah ini mau kemana?" tanya Axel meminta pendapat sambil dengan iseng menindih kaki Azura yang masih berbaring di sampingnya.
"Eum ... rumah nenek?" tanya Azura berniat meminta izin.
"Okey!" sahut Axel cepat.
Azura sudah tersenyum semakin cerah kalau saja kalimat Axel setelahnya membuat perempuan itu terperangah.
"Tapi ... cium pipiku dulu buat jadi syaratnya!" perintah Axel sambil tersenyum jahil.
Tapi, tidak seperti yang dibayangkannya, Azura malah mengiyakan keinginan Axel. Terbukti dari beberapa detik kemudian perempuan itu sudah menempelkan bibirnya ke pipi Axel.
Singkat. Tetapi berhasil membuat pria jangkung itu tercekat.
"K-kamu ... kamu kok beneran?" tanya Axel gelagapan.
"Lah ... tadi itu cuma bales dendam. Sebelumnya kamu nyium aku tanpa izin soalnya," jawab Azura dengan entengnya.
Berbanding terbalik dengan pipi perempuan itu yang sudah memanas dan terlihat semerah tomat.
Oh ayolah! Jangan lupakan jantung Azura yang terasa hampir meledak sekarang.