Innocent Wife

Innocent Wife
eps 37~Kalau Sekarang Aku Suka Kamu?



Axel menyeruput kopinya sambil duduk di tepi pantai sore ini. Sebenarnya, dia memang sengaja memilih rumah yang berada di dekat pantai. Karena Axel memang suka pantai.


Hanya saja, sejak tinggal bersama Azura, kebiasaannya banyak berubah. Pria yang sudah berniat rajin mengunjungi tempat di belakang rumahnya ini, sejak tinggal bersama Azura, malah lebih suka berdiam diri sambil berdebat dengan perempuan itu di dalam rumah.


Axel tidak tahu sejak kapan dia jadi seaneh ini. Tapi, semenjak perempuan itu meninggalkan rumah mereka seminggu yang lalu, dia merasa rumahnya seakan mati. Tidak ada yang cukup menarik sampai dia harus berdiam lama di sana lagi.


Padahal, seharusnya tidak akan ada yang berubah. Ada atau tidak adanya perempuan itu, rumah selalu saja sepi. Azura hanya menyukai dua tempat; kamar dan sofa ruang tengah. Perempuan pendek itu juga pasif dan membosankan.


Tapi, ketika sekarang Axel menyadari bahwa dia tidak tinggal bersama Azura lagi, perasaan tidak rela menyelubungi hatinya. Dia tidak suka ketika tidak bisa melihat perempuan menyebalkan itu barang sehari.


"Dia menyebalkan, membosankan, menjengkelkan, payah, pemalas, nggak modis, kucel, males mandi, bodoh, gampang dibohongi, sensian, pendek, jelek, kang ngambek."


Entah sejak kapan, Axel malah jadi suka mengabsen setiap sifat Azura. Perempuan yang kerap ia sebut alien itu, entah punya sihir magis macam apa, terus merepotkan perasaannya meski sekarang dia tidak berada di sini.


"Dia pergi kemana, sih? Dia beneran nggak mau balik, ya? Padahal ... aku udah beliin dia tempat tidur yang lebih empuk, stok mie sekardusnya juga belum habis."


Axel menghela napas berat untuk kesekian kalinya. Pria itu memejamkan mata dan menikmati angin sore di tepi pantai petang ini.


"Ya! Sama seperti cincin pernikahan kita, kamu juga nggak berarti apa-apa buat aku! Jadi nggak usah lah repot-repot cuma karena masalah cincin! Ngeselin amat."


Axel membuka mata cepat begitu kalimat pedasnya kala itu menggema di benak. Saat itu, Axel kehilangan cincin pernikahan mereka. Dan reaksi Axel malah marah-marah padahal dia yang salah.


"Sebenernya ... aku terlanjur suka sama kamu. Jadi tolong jangan lebih nyebelin dari ini. Aku beneran bingung. Aku jadi harus marah tapi nggak pernah bisa beneran marah sama kamu."


Kalimat perempuan itu di malam ketika Axel meninggalkannya di Bandara, juga kembali menggema. Hari itu, apa Azura berkata jujur, ya?


"Kita sampai sini aja ya, Xel?"


Begitu kalimat terakhir Azura kembali menggema, pria itu menggeram marah. Tangannya bahkan tanpa sadar terkepal erat.


"Xel, ternyata kamu di sini?"


Suara seseorang seketika membuat pria itu membalikkan tubuh cepat. Tapi, begitu menemukan wajah Elynca, tanpa sadar Axel malah menghela kecewa.


Dia tidak tahu sejak kapan kehadiran Elynca bahkan sudah tidak mampu membuat perasaannya senang.


***


"Azura belum pulang juga, Xel?" tanya Elynca yang sejak satu jam lalu ikut duduk di pasir pantai tepat di sampingnya.


Axel tersenyum getir kemudian menggeleng. Elynca menggigit bibir bawah. Mencoba menahan perasaan tidak sukanya ketika menyadari Axel merasa sedih karena ketidak hadiran perempuan itu.


"Tenang aja, aku nggak akan aduin ke Papa sama Mama kok. Jadi, dia nggak akan tau kalau Azura nggak ada di rumahnya," jelas Elynca menenangkan sambil menepuk bahu Axel pelan.


Axel tersenyum tidak habis pikir. Entah kenapa, dia berharap Elynca mengadukannya pada mertuanya saja. Agar ketika mereka mengetahui semuanya, Axel akan dihajar habis-habisan oleh Damian.


Karena setelah semua hal yang diberikan padanya, Axel merasa memang patut mendapatkan hukuman. Selama ini Axel tidak pernah memperlakukan putri mereka dengan baik.


Padahal, dari pernikahan ini, Azura adalah korban. Perempuan itu hanya dijadikan pengantin pengganti kakaknya meski perempuan itu tidak mau. Dia hanya mengorbankan diri agar di hari itu, keluarganya dan keluarga Axel tidak malu oleh pernikahan anak mereka yang gagal.


Sedangkan perempuan di samping Axel sekarang, sudah sepatutnya tidak ia berikan cinta lagi. Elynca meninggalkannya hanya demi seorang Galen yang justru mencintai istrinya. Dan sekarang, perempuan itu kembali padanya karena Galen pasti tidak mampu menerimanya.


"Axel."


Panggilan Elynca membuat Axel segera menoleh. Kontan mata keduanya bersibobok.


"Kalau sekarang aku suka sama kamu gimana? Apa kamu bisa ngelepasin Azura buat Galen?"


Pertanyaan perempuan itu, seketika membuat Axel kehilangan kata-kata.


***


Karena tidak ada Azura, bahan masakan di kulkas jadi masih terisi penuh. Elynca yang memang pandai memasak kontan menyiapkan makan malam untuk Axel tanpa segan.


Pertanyaan sore tadi, tidak Axel jawab sama sekali. Tapi, hal itu tidak membuat Elynca berkecil hati. Dia percaya diri bahwa Axel masih sangat mencintainya. Apalagi sekarang sudah tidak ada Azura.


Axel memandang lauk sawi putih dicampur kedelai yang Elynca rebus untuk makan malam. Seketika, ingatan Axel kembali di malam Azura dan dirinya bertengkar karena cincin hilang.


Malam itu Azura memasak makanan yang sama. Tapi, masakan perempuan itu terlihat terlalu banyak air dan keasinan. Kedelainya bahkan belum terlalu empuk dan matang.


Masakan Axel memang jauh lebih enak dari yang dibuat Azura. Tapi, masakan dengan rasa dan bentuk yang lebih buruk itu, entah kenapa begitu dia butuhkan untuk membuat perasaannya membaik sekarang.


"Kenapa masakan kamu enggak asin?" tanya Axel begitu mencicipi masakan yang masih mengepulkan uap panas itu.


"Hah?" Elynca bertanya bingung dengan pertanyaan Axel.


Begitu menyadari ucapannya, pria itu menggeleng. "Enggak, ayo makan!" ajak Axel santai.


Keduanya makan dalam hening. Beberapa kali Elynca membuka obrolan tapi hanya dibalas Axel dengan dengan balasan seadanya. Sampai ketika Elynca selesai dengan makan malamnya, barulah Axel bersuara.


"Lyn."


"Iya? Kenapa?" tanya perempuan itu yang kini sibuk membereskan piring bekas makan malam.


"Kamu ... jangan berharap sama aku lagi, ya? Kayaknya ... aku mulai suka Azura."


Mendengar kalimat Axel, Elynca mengerjap kaget. Beberapa detik kemudian, wajah perempuan itu berubah getir.


"Oh ... yaudah." Elynca menjawab sebelum kemudian meraih tas selempangnya dan berlari keluar rumah.


Axel yang melihat reaksi perempuan itu, kontan berlari menyusul. Tidak mau kalau sampai perempuan itu sakit hati karena ucapannya. Tapi, dia juga tidak ingin membohongi perasaannya.


Elynca juga pasti akan lebih sakit hati jika Axel menerimanya tapi tidak mencintainya, kan?


Masih berlari mengejar Elynca yang kini sudah sampai halaman rumah, Axel mempercepat langkah. Kemudian, begitu dia mampu menyamakan langkah dengan Elynca, pria itu dengan cepat mencekal lengan sang sahabat.


"Lyn ... Elynca! Dengerin aku dulu! Aku cuma---"


"Oh ... pantes ya, si Zura nggak mau pulang. Pasti males liat suaminya sendiri bawa selingkuhan ke rumah mereka."


Sahutan sarkastik yang memotong ucapannya, membuat Axel menoleh cepat. Lalu, begitu menemukan keberadaan Galen di depan gerbang rumahnya yang tingginya hanya sedada.


"Kamu tau dimana Azura?" tanya Axel cepat sambil berlari mendekat ke arah pria itu.


"Kalau saya tahu atau nggak tahu memangnya kenapa? Nggak penting buat kamu, kan? Urus saja sana selingkuhan kamu itu!" Galen menjawab kesal.


"Dimana Azura?" tanya Axel lagi.


Galen tidak menjawab. Pria itu justru terkekeh sinis.


"DIMANA AZURA?!" bentak Axel kali ini sambil menarik kerah kemeja Galen.


Galen yang tidak terima dengan perlakuan pria itu, kontan mendorong dada Axel berikutnya mendaratkan satu bogeman di pipi pria itu.


BUGH ....


Elynca memekik terkejut tapi tidak berani melerai.


"Sampai detik ini, saya masih mikir. Kenapa bisa-bisanya Azura suka sama pria kayak kamu? Andai saya ketemu dia lebih dulu, saya nggak akan biarin kamu nyia-nyiain dia kayak sekarang."


Selesai mengatakan itu, Galen kembali masuk ke mobilnya dan melesat meninggalkan halaman rumah Axel.