Innocent Wife

Innocent Wife
eps 11~Rumah Sakit dan Pamer (Papa Mertua)



Azura tengah fokus mengetik di laptopnya saat Axel tiba-tiba datang membuka pintu tanpa permisi. Pria itu terlihat memasang wajah panik membuat Azura ikut panik sendiri.


"Kenapa, Xel?" tanya Azura penasaran. Tidak dipedulikannya novel di laptop yang baru sampai seperempatnya.


"Anu ... si Elynca, si Elynca sakit, Zu."


Azura melotot kaget. Segera mematikan laptop, perempuan yang terbiasa mengenakan baju dalam serta rok pendek saja di kamar itu, segera menyomot sweeter berwarna hijau army berikut tas selempangnya.


"Ayo kita ke Kak Elyn!" ajak Azura sambil menarik lengan sang suami.


Keduanya berlari keluar dari rumah. Begitu mereka masuk mobil bahkan mulai melesat menuju jalan raya beraspal, wajah Azura tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya.


Selama ini, dia terus menahan diri ketika Elynca sakit karena jarak mereka yang jauh. Tapi kali ini, perempuan itu tidak punya alasan untuk tidak bertemu dengan sang kakak lagi. Meski di akhir pertemuan mereka, Azura sama sekali tidak mau berbicara dengan perempuan itu karena marah malah dijadikan pengantin pengganti, tetap saja dia mengkhawatirkan Elynca sekarang.


"Kak Elyn kenapa sih, Xel? Dia sakit apa emang?" tanya Azura masih tidak bisa menyembunyikan nada paniknya.


"Dia ditemuin pingsan sama orang di parkiran kafe. Terus orangnya nelepon aku buat ngabarin karena mungkin kontakku yang ada di paling atas. Ya aku suruh dia bawa ke rumah sakit terdekat dulu, makannya ini sekarang kita nyusul ke sana."


Azura menggigit bibir bawah gusar. Kakaknya memang sangat sering sakit. Beberapa kali, perempuan itu bahkan sempat hampir kehilangan nyawa karena kondisi fisiknya yang jauh lebih lemah dari Azura.


Begitu sampai di rumah sakit yang dituju, Axel keluar dan berlari masuk tanpa sempat menunggu Azura. Azura yang takut tersesat kontan segera keluar dan berlari mengejar pria itu.


Langkah Axel yang lebar dan cepat membuat Azura kuwalahan. Akhirnya, perempuan itu membiarkan saja sang suami menghilang di belokan lorong meninggalkannya.


"Aku harus kemana ini?" tanya Azura pada dirinya sendiri dengan napas ngos-ngosan.


Beberapa orang yang berlalu lalang memandang perempuan itu aneh. Seolah Azura adalah atlit lari marathon yang nyasar sampai rumah sakit.


Begitu menyadari dirinya yang mendapat atensi dari orang-orang di sekitarnya, Azura meringis malu kemudian berlari menjauh lagi. Bodohnya, bukannya menemukan keberadaan Axel, perempuan itu hanya menemukan lorong kosong juga begitu banyak belokan.


"Ini rumah sakit apa labirin? Kok banyak cabangnya?" tanya Azura pias, hampir menangis.


Oh ayolah! Di umurnya yang sudah hampir menginjak 20 tahun, dia bahkan tidak pernah keluar ke jalan raya sendiri. Apalagi dibiarkan berkeliaran di rumah sakit besar seperti ini?


Niatnya untuk melihat keadaan Elynca tertutupi oleh perasaan takutnya. Dia tersesat. Dan bodohnya lagi, Azura malu untuk bertanya pada orang lain harus berjalan kemana untuk menemui kakak dan suaminya.


Begitu berbalik, perempuan itu malah menemukan seseorang dengan warna mata yang sama seperti Axel. Begitu mengenali wajah Azura, pria itu bahkan terperangah kaget.


"Loh ... Azura? Kok kamu di sini? Mana Axel?" tanya pria bermanik biru jernih yang rupanya Papa mertuanya tersebut sambil mendekat dan menyentuh bahu sang menantu.


"Pamer, bantuin aku nemuin Kak Elyn sama Axel," ucap Azura memelas. Tidak ada pilihan lain. Karena hanya pria ini yang Azura kenali di sini.


"Suami kamu mana? Kamu dateng sama dia kan?" tanya Serafin memastikan.


Azura mengangguk. Wajahnya cemberut dalam sekejap begitu mengingat suami tidak pakai akhlaknya itu.


"Iya, tapi dia malah lari-lari kayak orang gila masuk ke rumah sakit. Terus dia ninggalin aku. Terus aku ngejer, tapi dia terlalu cepet jadi aku nyasar. Bunuh aja anak jelek kamu itu, Pamer!" Azura mengomel panjang lebar membuat Serafin terkekeh geli.


"Pamer?" tanya Serafin begitu mendengar kata janggal dalam kalimat perempuan itu.


Serafin tertawa. Merasa lucu dengan menantunya yang sepertinya cukup menyenangkan untuk diajak berbicara.


"Yaudah ayok, sama Papa aja! Ntar Papa bantu bunuhin suami kamu kalau udah ketemu," sahut Serafin penuh canda.


Azura tersenyum senang. Papa mertuanya sepertinya punya peluang untuk menjadi anggota pertama komplotan pemberantas orang sok benar macam Axel.


***


Baru sampai di pintu ruang rawat, Azura malah menghentikan langkah begitu melihat Axel tengah sibuk menyuapi Elynca semangkuk bubur. Pria itu tampak telaten dan sangat hati-hati.


Hal itu membuat Azura mengurungkan niat untuk masuk dan membalikkan tubuh lagi. Serafin yang menyadari keengganan sang menantu, memilih diam dan masuk lebih dulu.


Membiarkan saja Azura perlahan duduk di bangku depan ruangan sendiri. Dia punya urusan lain. Menyeleding kepala suami tidak bertanggung jawab macam putranya misalnya.


Tok ... tok ... tok ....


"Boleh masuk?" tanya Serafin sambil mengetuk pintu ruang rawat.


Axel dan Elynca menoleh dan mengangguk begitu menemukan keberadaan Serafin pada pintu ruangan yang sudah terbuka sedikit. Pria tua itu mendekat dan mengusap puncak kepala perempuan yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


"Gimana keadaan kamu, Elynca? Sudah membaik?" tanya Serafin ramah.


Elynca tersenyum dan mengangguk. "Sudah kok, Om. Maaf membuat Om sama yang lain khawatir," jawab perempuan cantik itu tidak enak hati.


"Iya, enggak papa. Ini Om bawain buah-buahan, tadi Axel yang suruh Om beliin di jalan. Jangan lupa dimakan biar makin cepet sembuh, ya!" titah Serafin yang lagi-lagi diangguki Elynca.


Selesai berbicara dengan Elynca, pria itu mendekat pada Axel dan menyorot sang putra tidak bersahabat. Hal itu membuat Axel mengernyit heran. Apa dia melakukan kesalahan?


"Kamu nggak ngerasa ngelupain sesuatu gitu?" tanya Serafin berbisik kepada sang putra yang lebih tinggi sedikit dengannya.


Axel mengernyit bingung. "Aku nggak ngerasa ngelupain sesuatu. Kan buahnya Papa yang kusuruh bawain, jadi nggak ada yang kelupaan lah," jawab Axel tidak peka.


Serafin kontan menginjak kaki pria itu tidak berperasaan. Axel meringis kesakitan. Matanya memandang sang Papa tidak terima. Merasa tidak bersalah sama sekali.


"Kok kakiku diinjek sih, Pa?" tanya Axel protes.


"Bagus ya, sekarang. Sibuk ngurusin perempuan lain sampai lupa istri sendiri ditinggal sampai nyasar di rumah sakit," omel Serafin lirih tapi nada suaranya menekan dan menakutkan.


Axel melotot begitu menyadari sesuatu. Dia tadi ke sini bersama Azura kan, ya? Lalu lemana perempuan itu sekarang? Kenapa bisa-bisanya Axel lupa bahwa dia juga membawa perempuan jadi-jadian itu dari tadi?


"Sekarang dia dimana, Pa?" tanya Axel cepat. Memastikan keberadaan Azura yang notabene-nya kata Anyelir, suka tersesat dimana-mana.


"Tuh, minta maaf sana sama istri kamu dulu! Dia duduk di kursi tunggu depan ruangan," jawab sekaligus titah Serafin terdengar tidak menerima bantahan.


Axel segera berlari keluar dan membuka pintu. Tapi, begitu melirik pada kursi tunggu bahkan sampai ujung tiap lorong, Axel malah tidak menemukan perempuan itu dimanapun.


Kemana Azura? Tidak mungkin perempuan itu diculik suster ngesot yang nyatanya adalah saudaranya, kan?