Innocent Wife

Innocent Wife
eps 16~Jadi Alien Saja Sana!



Axel duduk termenung di beranda belakang rumahnya. Pria bermanik biru itu memandangi hamparan laut yang berdebur keras di depannya.


Seketika, ingatnya kembali lagi pada pertemuannya dengan Elynca tadi sore. Sehabis mengantar Azura ke kantor Galen, pria itu memilih meninggalkan sang istri dan memilih bertemu perempuan itu yang bilang ingin bertemu.


"Dia mencintai orang lain, Xel. Dia bilang ... dia masih belum melupakan orang di masa lalunya," ucap Elynca kala itu dengan pandangan kecewa.


Axel menghela napas berat. Mengusir sesak begitu suara manis perempuan cantik itu melintas di benak.


Selama ini, Axel masih bisa tahan jika perempuan itu terus membicarakan Galen saat bertemu dengannya. Tapi, begitu menyadari Elynca yang bahkan masih membicarakan pria yang dicintainya setelah meninggalkan Axel di hari pernikahan mereka, perasaan pria itu luar biasa sakit.


Elynca ... apa tidak pernah mengerti bahwa selama ini Axel marah, ya? Kenapa perempuan itu tidak malu atau paling tidak meminta maaf atas perbuatannya? Setidaknya, jika memang tidak merasa bersalah, dia tidak terus-terusan memanggil Axel untuk kembali jatuh padanya, kan?


"Lalu aku bagaimana, Elynca?" tanya Axel kala itu.


"Kenapa apanya?" Bahkan, pertanyaan tanpa dosa itu berhasil membuat Axel menelan segala bentuk makian yang sudah tertahan di ujung lidahnya.


Axel bahkan tidak mampu mengatakan satu kalimat kasar pun pada perempuan itu. Karena pada kenyataannya, Elynca tetap jadi orang yang mengisi sebagian besar hatinya.


Tapi, tetap saja. Belum hilang, belum juga sirna, sesak itu tak juga lenyap. Hanya saja ... satu alasan menjawab setiap pertanyaan yang menjadi alasan terbesar kebodohannya.


"Aku begitu mencintaimu, Elynca. Sampai kamu diam saja setelah melakukan kesalahan sebulanan ini, aku tetap saja tidak bisa belajar membenci," ucap Axel kala itu setelahnya meninggalkan perempuan itu di kafe sendiri.


Lamunan Axel seketika harus terhenti begitu mendengar suara gedoran di pintu utama. Tapi, karena sedang dalam suasana hati buruk juga malas keluar, pria itu diam saja di tempatnya.


Lagipula, jika memang itu Azura, pasti perempuan jadi-jadian itu bakal masuk sendiri jika sudah lelah menggedor pintu rumah mereka.


DOR ... DOR ... DORRR ....


"Axel jeleeek! Axelsensensensen! Anaknya Papa Sera! Bukain pintunya dooong!" teriak Azura membuat Axel yang berada di beranda belakang bahkan terlonjak kaget.


"Itu mulut apa toa masjid, Ya Ampun!" heran Axel sambil mengusap-usap dadanya frustasi. Mencoba melapangkan hati agar tidak gampang emosi karena punya istri sejenis Azura.


Karena merasa sedang tidak berniat bertemu Azura, bukannya membukakan pintu, pria itu malah menyelinap keluar rumah dan memesan taksi online sambil berjalan menuju halte bus di tepi jalan dekat rumahnya. Azura dan tampang pemalasnya bahkan mampu membuat Axel ikutan malas melihatnya.


Sepertinya, dia ingin pergi bersenang-senang ke tempat lain saja. Terserah lah perempuan itu mau menggedor pintu rumah sampai pagi sekalipun.


Axel harap, Azura tidak cukup bodoh dan memilih masuk rumah tanpa ribet dibukakan pintu olehnya. Tidak mungkin saking malasnya, dia sampai lupa cara masuk rumah, kan?


Baru saja duduk di bangku halte, dering ponselnya mengalihkan atensi Axel. Begitu melihat nama kontak 'Mie Soto' memanggil, pria itu segera mengangkatnya malas-malasan.


"Halo? Axel, bukain pintu lah! Kamu di dalem, kan?" tanya sekaligus perintah perempuan itu dengan suara merengut sebal.


Axel memutar bola mata malas. "Aku tau kamu itu bodoh, tapi nggak cukup bodoh sampai lupa kalau kunci rumah selalu kutaruh di bawah keset depan pintu."


Belum sempat Azura menyahut, Axel memilih lebih dulu memutuskan sambungan telepon. Tidak membiarkan Azura berkicau dan memperburuk harinya yang sudah buruk lebih buruk lagi.


"Udah pendek, akalnya pendek juga lagi. Ngerepotin orang aja!" maki pria itu merenungi kebodohan istrinya.


***


"Aku masih heran kenapa ada orang kayak dia? Apa hidupnya nggak pernah lebih keren dari ngomel dan ngehina orang lain?!" dumel Azura sebal sambil menghempaskan tubuh di sofa panjang ruang tengah.


"Argh ... aku lapar!" keluh Azura sambil merentangkan tangannya lebar-lebar pada sandaran sofa.


Tapi, begitu dering ponsel di dalam tas selempangnya berbunyi, perempuan itu membuka dan mengangkat telepon asal-asalan.


"Hal---"


"Jangan lupa masak! Nanti aku pulang dan pasti lapar," titah Axel semena-mena membuat Azura menggemelatukkan gigi sebal.


Perempuan itu menegakkan tubuh dan menyorot tajam meski pria itu tidak mampu melihatnya. "Apa untungnya?! Nggak. Aku nggak mau masak."


Dari seberang sana, Azura mampu mendengar dengusan sebal Axel. "Aku lagi nggak mood buat ngehujat. Jadi, masaklah! Nanti aku pulang bawa mie."


Azura tidak tahu Axel sedang kerasukan apa sampai punya inisiatif menyogoknya dengan mie begini. Tapi, bodoamat dengan kerasukan dan semacamnya, memikirkan mie lebih menggiurkan daripada berdiam diri begini.


"Okey, aku pasti masak!" Azura menyanggupi penuh semangat.


Di seberang sana, suara kekehan sinis Axel terdengar lagi. "Masak yang enak atau kalau enggak bisa, jadi alien saja sana!" sahut pria itu sebelum kemudian mematikan teleponnya.


***


Azura tersenyum bangga begitu menyadari pekerjaannya telah selesai. Setelah berkutat dengan resep di google juga inisiatif serta instingnya sendiri, kini, semangkuk besar opor telur telah jadi beserta nasi yang sudah matang.


Sudah pukul 8 malam dan hebatnya dia baru selesai memasak sekarang. Tapi, yang aneh, Axel belum pulang ke rumah juga. Padahal pria itu sudah bilang bakal pulang dan membawa mie instan jika Azura bisa memasak dengan hasil yang enak.


"Enak apa enggak, ya?" tanya Azura pada dirinya sendiri sambil mencoba mencicipi sesendok kuah opor buatannya.


"Eum ... agak aneh sih. Tapi masih bisa dimakan kok!" yakin perempuan itu percaya diri.


Berikutnya, Azura memilih duduk di ruang tengah sambil menyetel TV. Tak lupa, perempuan itu mengeluarkan banyak macam snack di kulkas sebagai teman menonton.


Tapi, bahkan sebelum membuka bungkus snack dan baru menyalakan TV saja, perempuan itu sudah ketiduran dengan posisi rebahan paling tidak elegan.


Begitu terbangun, Azura malah nyusruk ke lantai dengan sama tidak elegannya. Melirik pada jam di ponselnya yang tergeletak di meja, perempuan itu melotot kaget.


Sudah jam 12 malam. Lalu, kenapa Axel belum pulang juga? Pria itu kemana?


Segera menelepon Axel untuk menanyakan keberadaan dan keadaan pria itu, Azura mendapati teleponnya tersambung di panggilan pertama.


"Halo? Axel? Kamu di mana sih? Kok belum pulang?" tanya Azura beruntun yang dibalas dengusan sebal di seberang sana.


"Ck ... aku lagi sama Elynca. Malam ini kayaknya aku nggak bisa pulang. Udaaah, tidur aja sana! Ngapain ribetin aku," omel pria itu berikutnya memutuskan sambungan teleponnya.


Azura menggigit bibir bawahnya dengan mata memanas. Dia sakit hati. Perlakuan semena-mena Axel sudah melewati batas kesabarannya selama ini.


Tapi, Azura malah semakin ragu dengan alasan kemarahannya saat ini. Entah karena usaha memasaknya yang tidak dihargai pria itu, ketakutannya karena pertama kali tidur di rumah besar ini sendiri, atau mungkin ... pernyataan Axel tentang Elynca yang tengah bersama pria itu.