
"Kenapa pintunya nggak bisa dibuka sih?!"
Azura mengerjap kaget begitu Axel menendang pintu yang masih terkunci. Bagaimana tidak? Sedari tadi, pria tinggi itu terus mengutak-atik pintu dengan perasaan kesal dan tidak sabaran.
"Ck ... sini aku aja yang buka!" Sahut Azura sambil menyeludup dari lengan sang suami yang tersangga di tembok bercat putih susu.
"Nih, kayak gini!" jelas Azura sambil memutar kunci ke arah kanan.
Tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka. Axel menendang pintu hingga terbuka lebar kemudian masuk sambil menyeret kopernya. Tanpa ucapan terima kasih. Tanpa menoleh ke Azura sedikit pun.
Sejak berbicara bersama Elynca pagi tadi, pria bermanik biru itu memang kelihatan dalam suasana hati yang buruk sekali. Di perjalanan menuju rumah ini, Azura bahkan ragu untuk mengajaknya bicara.
"Koperku nggak dibawain juga?" tanya Azura protes.
Sejenak, Axel menoleh. "Apa untungnya?"
Kemudian, pria itu melenggang masuk sebelum Azura melempari kepalanya dengan koper biru muda perempuan itu.
***
"Aku nggak mau sekamar sama kamu lagi!" tolak Azura begitu dengan susah payah berhasil naik ke lantai dua dan berdiri di ambang pintu kamar suaminya.
Axel yang tengah memasukkan beberapa baju ke dalam lemari pakaian, menoleh pada Azyra acuh.
"Lagian, siapa bilang aku mau sekamar sama kamu." Axel menyahut acuh kemudian memasukkan barang ke dalam lemarinya lagi.
"Terus kamarku dimana?" tanya Azura bingung.
"Tuh ... di depan kamarku. Makannya sana cepet keluar!" titah Axel malas melihat wajah perempuan pendek itu.
Meski mendengkus kesal, Azura tetap berbalik dan berjalan keluar.
"Eh, tutupin pintunya dong!" pinta Axel begitu melihat Azura yang sampai pada ambang pintu.
"Apa untungnya?"
Seketika, Axel ingin melempari wajah Azura dengan kotak ****** ***** di tangannya.
***
Begitu membuka pintu kamarnya, wajah Azura yang sudah sumringah, berubah murung lagi. Perempuan itu melepas sandal jepit biru mudanya dan melemparnya ke sembarang arah.
Matanya memandang sekitar kamar nyalang. Mana bisa seperti ini? Kamarnya bahkan tidak bisa disebut kamar. Dibandingkan dengan kamarnya di rumah Damian, ini lebih pantas disebut gudang.
Merasa tidak terima dengan perlakuan suaminya, perempuan pendek itu berlari menuju kamar Axel lagi. Rupanya, pintunya masih belum tertutup. Pria itu bahkan masih sibuk memindahkan bajunya ke dalam lemari.
"Kenapa kamarku nggak ada barang-barangnya?" protes Azura sambil menarik koper suaminya agar jauh dari jangkauan.
"Lah, terus kenapa?" tanya Axel acuh.
"Kok kamu tanya kenapa?!" tanya Azura tidak santai.
"Kenapa kamar kita beda?! Kamu punya kasur, lemari, bahkan laci. Ada lampu tidur juga. Kenapa kamarku nggak ada isinya sama sekali?!" tuntut Azura merasa tidak adil.
"Ya makannya sana kamu yang isi biar ada isinya," sahut Axel enteng.
"Terus aku taruh baju dimana?" tanya Azura tidak habis pikir.
"Ya terserah kamu, kok nanya aku? Kata kamu, kita bukan suami istri beneran kan? Jadi, aku nggak punya kewajiban untuk menuhin semua kemauan apalagi kebutuhan kamu," perjelas Axel membuat Azura tidak bersuara lagi.
Benar juga. Mereka hanya menikah karena perjodohan. Tidak ada cinta. Tidak ada saling peduli, apalagi saling mau mengerti.
Sejenak, Azura duduk di sisi ranjang Axel. Matanya menyorot kosong dan pias, terlihat hampir menangis. Entah nasib buruk apa yang menimpanya sampai berakhir dengan pria kejam seperti suaminya ini.
"Lah, aku cuma bersikap selayaknya. Lagian, kan udah kubilang, kalau nggak tahan tinggal sama aku ya kabur aja sana. Biar orang tua kamu kecewa karena sadar pernikahan anaknya gagal, siapa suruh seenak jidat ganti pengantin," suruh Axel semena-mena.
Azura mendongak. Menyorot Axel dengan pandangan tajam. "Kalau nggak peduli sama perasaan mereka, jangankan kabur, aku juga nggak akan mau nikah sama orang jahat kayak kamu!" maki perempuan itu kesal.
"Yaudahlah, intinya tetep aja salah kamu. Kamu juga yang mau-mau aja jadi pengantin pengganti, kan?" sahut Axel menyimpulkan.
Dalam hati, Azura membenarkan kalimat pria itu. Lagipula, memang salahnya menerima semua ini. Kalau bukan karena keputusannya sendiri, dia juga tidak akan terjebak di sini sekarang.
"Aish ... yaudah ah, mau tidur aja!"
Memilih mengakhiri perdebatan, Azura bangkit dan berjalan keluar kamar Axel lagi. Kali ini, rasanya mood-nya benar-benar buruk.
"Jangan lupa besok bangun pagi-pagi! Aku mau nunjukin sesuatu," titah Axel begitu melihat Azura keluar dari kamarnya.
"Nggak! Perempuan jadi-jadian nggak cocok bangun pagi!" teriak Azura sebelum kemudian membanting pintu kamarnya. Kamar yang hebatnya hanya berbentuk ruangan kosong tanpa benda kecuali Azura dan kopernya.
***
"Heh Azura! Bangun!"
DOR ... DOR ... DORRR ....
Pagi-pagi sekali, Azura harus diusik oleh suara ketukan tak sabaran di pintu. Dengan mata setengah terpejam juga rambut acak-acakan, perempuan itu merangkak di lantai keramik berwarna putih susu dan membukakan pintu.
"Ya Ampun! Aku makin curiga kalau kamu ini bukan anaknya Mama Anyelir. Kamu pasti titisan suster ngesot, kan?"
Masih pukul 5 pagi. Dan mulut pedas Axel sudah meronta minta dimaki. Kurang ajar sekali!
"Kenapa sih? Aku masih ngantuk!" tanya Azura sebal.
"Ayo cepet turun! Ada yang mau kuomongin," suruh Axel dengan mata melirik ke dalam kamar perempuan itu.
Sejenak, wajahnya berubah ngeri. Entah dengan kekuatan macam apa, ruangan tersebut sudah berhasil diberantakkan oleh Azura dalam waktu semalam.
Bekas bungkus snack berceceran dimana-mana. Jangan lupa beberapa botol minuman teh yang sekarang bahkan bergelinding di segala sisi. Selimut serta gelaran tikar plastik yang digunakan perempuan itu tidur bahkan sudah acak-acakan segala sisi.
Mengenaskan sekali. Axel sampai malu mengakui bahwa ini kamar seorang perempuan.
"Kamu dapet makanan dimana? Bukannya di kulkas cuma ada bahan masakan mentah?" tanya Axel heran.
Azura mendongak, kemudian melengos tidak peduli. "Bukan urusan kamu," jawab perempuan itu datar.
"Nggak mau kuurusin juga, nggak guna." Axel menjawab santai kemudian melangkah meninggalkan kamar Azura.
Beberapa menit kemudian, Azura turun dengan rok hitam selutut serta sweeter rajut berwarna biru muda. Perempuan itu masih tampak 'kucel' dan berantakan. Rambutnya bahkan belum disisir.
"Mana sarapan?" tanyanya tiba-tiba begitu sampai di tangga terakhir.
Axel yang tengah duduk anteng di meja makan sambil memandangi nasi goreng yang masih mengepulkan asap, mendengkus sebal.
"Siapa bilang kamu boleh sarapan?" tanya pria itu santai.
"Yaudah kalau nggak boleh, aku balik ke kamar aja." Azura menyahut pasrah.
Sedang tidak ingin berdebat dan memilih tidur saja. Semalam, tidurnya tidak nyenyak sama sekali karena untuk pertama kalinya tidak memakai kasur dan alas yang empuk.
"Ck, bercanda! Sini sarapan! Sekalian kita bahas kontrak pernikahan kita buat enam bulan ke depan."
Mendengar ucapan sang suami, Azura menoleh bingung.
Kontrak pernikahan? Ini namanya pernikahan atau kerjasama antar perusahaan?!