Innocent Wife

Innocent Wife
eps 24~Rumah Damian dan Anyelir



Anyelir baru saja turun dari lantai atas saat mendengar suara ribut dari dapur. Begitu mengecek, rupanya Azura tengah berada di sana. Perempuan pendek itu terlihat tengah memasak membuat Anyelir semakin bertambah kaget.


Apa yang terjadi dengan putri bungsunya setelah dia menikah? Kenapa perempuan itu bisa keluar kamar untuk memasak di waktu sepagi ini?


“Zura ... kamu masak?” tanya Anyelir seolah masih tidak percaya.


Azura menoleh sejenak kemudian mengangguk senang. “Selamat pagi, Mama!” sapa perempuan itu sambil memindahkan sewajan besar nasi goreng ke mangkuk besar khusus masakan dengan porsi banyak.


“Waah ... kenapa ini anaknya Mama? Siapa yang ngajarin masak? Terus, kok kamu bisa bangun sepagi ini?” tanya Anyelir beruntun yang hanya dibalas perempuan pendek itu dengan senyum cengengesan.


“Ntar aja nanyanya, Ma. Bantuin aku pindahin ini semua ke meja makan,” pinta Azura yang kontan diangguki Anyelir semangat. Melihat perubahan putrinya yang sedrastis ini, tidak bisa dipungkiri bahwa perasaannya merasa sangat senang. Entah apa yang dilakukan sang menantu pada Azura. Yang jelas, sepertinya hari ini dia harus berterima kasih pada Axel.


“Suami kamu udah bangun?” tanya Anyelir begitu mereka sudah selesai menghidangkan sarapan.


“Sudah kok, Ma. Malah, dia yang bangun lebih dulu tadi. Biasanya jam segini udah keluar, tapi karena aku mau duluan mandi tadi, pasti sekarang dia lagi mandi,” jawab Azura.


Keduanya banyak berbincang tentang kehidupan Azura semasa menjadi istri dan tentang Axel yang mengajarnya memasak serta banyak hal lainnya. Tentu saja tanpa menceritakan sikap menyebalkan Axel juga kontrak perjanjian pernikahan mereka.


Di sela mengobrolnya, Axel turun dan tersenyum hangat pada Anyelir. “Selamat pagi, Ma!” sapa pria jangkung itu ramah.


Anyelir membalas dengan ucapan yang sama sebelum kemudian menyuruh Azura segera membangunkan Elynca dan Damian. Perempuan pendek itu kontan berlari menuju kamar kakaknya lebih dulu.


“Kak Elyyyyn! Ayo bangun! Kak Galen dateng tuh! Katanya mau numpang sarapan!” teriak Azura nyaring yang tidak butuh waktu lama untuk dibukakan pintu kamar.


Beberapa detik kemudian, suara teriakan kesal Elynca terdengar. Mungkin merasa dibohongi oleh perempuan pendek itu. Tanpa sadar, Anyelir dan Axel yang sudah duduk di sofa ruang tengah terkekeh geli mendengar interaksi kakak beradik itu.


Tidak butuh waktu lama untuk Azura berhasil keluar dari kamar Elynca kemudian nyelonong masuk ke kamar sang papa. Lalu, begitu Damian yang sudah rapi keluar dengan punggung yang dihinggapi oleh Azura, Axel dan Anyelir menghela napas berat. Mencoba memaklumi sikap kekanakan Azura dan sikap terlalu penurut Damian.


“Lari dong, Pa!” pinta Azura merengek yang masih berada di gendongan belakang Damian.


Damian dengan senang hati kontan berlari membawa putri bungsunya hingga ruang tengah.


“Sekarang, mau mendarat di mana? Pangkuan Mama atau pangkuan suami?” tanya sekaligus goda Damian begitu sudah sampai di depan Axel dan Anyelir.


“Di pangkuan Kak Elyn aja,” jawab perempuan itu santai di saat Elynca baru saja duduk di samping Anyelir.


“Hah? Aku? Nggak mau ah! Aku masih ngambek ya, Zu!” peringat Elynca dengan nada merajuk.


“Yaudah kalau gitu, aku ngambek juga. Hari ini aku pulang aja kalau Kak Elyn nggak mau pangku aku,” jawab Azura santai yang dihadiahi tatapan panik Elynca.


Padahal, Azura hanya bercanda. Dalam hati, perempuan itu terkikik geli. Tidak mengerti kenapa Elynca jadi percaya pada ancamannya begini.


“Yaudah ayok sini duduk!” sahut Elynca akhirnya mengalah.


Tapi, bukannya membawa Azura pada kakaknya, pria itu malah mendaratkan tubuh putri bungsunya pada pangkuan Axel.


“Eeh ... Pa?!” Azura menyahut kaget begitu tubuhnya mendarat di pangkuan Axel.


Sejenak, mata keduanya bersibobok kemudian saling memalingkan wajah canggung lagi. Azura sadar dia lumayan pendek dan kurus. Tapi, pasti dia tetap saja berat, kan? Lagipula ... berada di posisi ini membuatnya luar biasa canggung dan malu. Pasti Axel juga risih, kan?


Damian terkekeh geli melihat sikap malu-malu putri dan menantunya. Dia jadi teringat pada Anyelir ketika mereka baru menikah dulu. Perempuan itu juga malu-malu seperti Azura saat ini.


“Dih ... udah dikasih duduk ke pangkuan suami kok malah mau di pangkuan Papa? Mama kamu ntar siapa yang pangku dong?” tanya Damian menggoda.


“Ish udah ah, ayok sarapan aja!”


Azura bangkit berdiri kemudian berlari menuju meja makan. Mencoba menghilangkan kegugupan yang menghinggapi perasaannya dengan aneh.


“Zura, mau dipangku lagi?”


Dan pertanyaan bernada menggoda Axel, seketika membuat Azura ingin menendang suaminya ke benua Antartika.


***


“Seneng rasanya liat kalian tinggal lama di sini. Papa juga ngerasa Azura jadi lebih seneng dari biasanya,” gumam Damian begitu malam ini dia dan sang menantu tengah mengopi bersama di teras taman belakang rumah.


Hujan baru saja reda dan menyisakan gerimis kecil. Azura dan Axel yang berniat pulang sore tadi, akhirnya punya alasan untuk berdiam lebih lama di sini karena hujan yang tidak berhenti sejak siang.


“Terima kasih ya, Axel. Terima kasih karena bikin putri Papa berubah bahkan mau ngajarin dia masak dan banyak hal lainnya. Selama ini, Papa sebenernya terus khawatir sama pernikahan kalian yang mendadak. Papa takut kamu nggak bakal bisa terima dia sebagai istri karena sikapnya yang kebanyakan lugu dan nggak taunya.” Sejenak, Damian menyorot Axel hangat kemudian memberikan senyum tak kalah hangat pada Axel.


“Tapi, ternyata Papa terlalu ngeremehin kamu. Meski tahu Azura banyak kurangnya, kamu tetep terima dia bahkan ngerubah dia dalam waktu secepat ini.”


Axel menggaruk tengkuk tak enak haati. Merasa tidak pantas dipuji seperti ini.


“Enggak gitu kok, Pa. Azura-nya aja yang emang mau berubah. Lagian ... meski gampang dibo’ongin, nyebelin, tukang ngomel, polos, mana suka nyasar gitu, dia tetep keren kok. Buktinya kemarin dia bisa beli kasur bahkan mesin printer dari hasil nulis,” cerita Axel membuat Damian mengernyit heran.


“Kasur? Buat apa dia beli kasur? Memangnya selama kalian nggak punya kasur?” tanya Damian tidak mengerti.


Seketika, Axel gelagapan. Tidak sengaja malah mengungkit benda yang tidak pernah mau ia belikan untuk Azura tersebut.


“Kalian beneran nggak punya kasur, Axel?” tanya Damian lagi.


Baru saja akan menyahut, seseorang tiba-tiba lebih dulu bersuara.


“Aku rencananya mau melihara kucing, Pa. Jadi beliin dia kasur dulu. Yakali kita nggak punya kasur? Malu lah, suamiku kan kaya juga. Masak Cuma papa doang yang bisa beli kasur?” sahut Azura membuat Damian terkekehh geli.


Azura berjalan mendekat dan duduk di pangkuan sang papa lagi. Perempuan itu berjalan bak barongsai dengan selimut merah muda tebal yang melilit tubuh pendek dan kecilnya.


“Udah ah, Pa. Aku mau ngajak Axel tidur dulu, sana ... Papa balik ke kamar aja! Kasihan tuh Mama,” ucap Anyelir berikutnya mengecup pipi Damian kemudian menyeret Axel menjauh.


Axel yang sedari tadi diam, kontan tersenyum tipis. Azura menyelamatkannya dari topik ‘kasur’ menyebalkan itu.


“Aku udah nolongin kamu, kamu nggak mau berterima kasih dengan nyeduhin aku mie instan gitu?”


Seketika, ucapan terima kasih yang telah sampai di ujung lidahnya, ingin Axel telan sampai usus saja.