Innocent Wife

Innocent Wife
eps 40~Setelah Dipikir-Pikir



"Kok aku dibawa ke sini?" tanya Azura heran begitu Axel menggendongnya ke kamar pria itu.


Axel tidak menjawab. Justru, perempuan itu membuka pintu dengan kakinya santai. Azura yang kesal karena pertanyaannya diabaikan, kontan menggigit lengan sang suami membuat pria itu meringis tapi tetap mempertahankan Azura di gendongannya.


"Ish! Seminggu nggak ketemu kok sekarang kamu jadi vampir sih? Kenapa? Udah bosen jadi alien?" tanya Axel dengan unsur meledek.


Azura membuang muka. Ikut membalas dendam dengan mengabaikan pertanyaan pria itu. Axel yang gemas dengan wajah merajuk istrinya kontan mengusap-usapkan hidungnya pada rambut perempuan itu.


Begitu sampai di kamarnya, Axel membaringkan Azura di kasur. Perempuan itu bangkit duduk.


"Aku mau balik ke kamarku," ucap perempuan itu sambil hendak bangkit tapi ditahan Axel.


"Kan kamarmu ini," jawab Axel sewot.


"Aku emang udah seminggu nggak pulang, tapi aku nggak sampai lupa mana kamarku kok!" sanggah Azura ikutan kesal.


Axel menghela napas berat. Memang susah berbicara dengan perempuan kepala batu macam Azura. Batu saja kadang bisa pecah, tapi keras kepala perempuan itu tidak bisa.


"Mulai sekarang, ini kamar kamu, Azura. Ini kamar kita." Axel menjelaskan kelewat sabar sambil memegang bahu Azura.


Perempuan itu bahkan memundurkan wajahnya karena berjarak terlalu dekat dengan wajah suaminya. Bukannya bahagia, dia jadi aneh dan curiga jika Axel baik begini.


"K-kita beneran tidur sekamar? Malam ini doang, ya? Karena aku sakit makannya aku dikasih tidur di sini lagi kayak dulu? Aku udah sehat kok!" tanya sekaligus pertegas perempuan itu membuat Axel mendengkus keras.


Meski sedang sakit begini, kenapa Azura selalu ingat caranya menguji kesabaran Axel? Perempuan ini ada masalah hidup apa, sih?


"Mulai sekarang sampai seterusnya kamu tidur di sini. Udah sekarang mending ayo tidur! Kamu harus banyak istirahat, belum sembuh juga!" omel Axel sambil memaksa perempuan itu berbaring.


Azura berbaring menyamping menghadap Axel yang beberapa detik kemudian juga ikut berbaring di sampingnya. Mata keduanya saling bertemu tapi tidak ada yang mengeluarkan suara.


Axel bahkan mampu merasakan napas perempuan itu mengenai punggung tangannya yang ia taruh di depan wajah. Hal itu membuat sesuatu di dalam diri Axel terasa menggelitik geli.


"Kok rasanya aneh ya, tidur sama kamu gini? Apa kita perlu berantem dulu ya, biar rasanya nggak aneh?" tanya perempuan itu dengan bodohnya.


Axel mengangkat tangan dan segera menutup mata perempuan itu dengan telapak tangannya. "Tidur atau kulaporin ke Papa Damian biar kamu dirawat di rumah sakit seminggu sekalian?!" ancam pria itu membuat Azura mendengkus kesal.


"Aku nggak bisa. Besok aku harus ngirim naskah yang mau kuterbitin itu. Deadline-nya besok loh!" jelas Azura membuat Axel mengalihkan tangannya dari mata Azura.


"Hidup itu cuma dua hari. Cuma kemarin sama hari ini." Axel berucap sambil menggenggam tangan Azura kemudian menjadikannya bantal di bawah kepalanya.


"Nggak ada pokoknya yang namanya besok. Karena nggak ada yang bisa menjamin kalau besok itu kita masih bernapas atau enggak," sambung pria itu membuat Azura mengulum senyum geli.


Axel yang melihat raut wajah perempuan itu, kontan mendelik sebal. "Dinasehatin malah mau ketawa. Emang salah kalau ngomong sama alien mah," ratap pria itu sambil mulai memejamkan mata.


Tak lupa, tangan pria itu kembali menutup mata Azura agar sang istri segera terbang ke alam mimpi. Di sela kesadarannya yang hampir habis, Axel entah sadar atau tidak sadar malah menggumam.


"Setelah dipikir-pikir ... ternyata aku suka kamu ya, Zu."


Kali ini, Azura begitu bersyukur karena tangan Axel menutup matanya. Karena jika tidak, Azura tidak akan berani membayangkan dia harus memasang wajah macam apa setelah mendengar pengakuan pria itu.


Axel ... menyukainya.


***


Untuk pertama kalinya Azura merasa tidurnya begitu nyenyak. Begitu terbangun, perempuan itu bahkan langsung menyunggingkan senyum.


Bangkit dari kasur, perempuan itu malah merasakan pijakannya berputar-putar sebelum kemudian perempuan itu jatuh terduduk di lantai samping nakas. Sejenak, perempuan itu memijit pelipis juga pangkal hidungnya. Merasa kesakitan karena bukannya mereda, pening juga nyeri di kepalanya malah makin menjadi.


"Ssh ... kok masih sakit, ya?" ringis perempuan itu sambil kembali mencoba bangkit berdiri dengan berpegangan di nakas samping tempat tidur.


Tapi, bukannya bisa berdiri, perempuan itu malah tanpa sengaja menyenggol guci di sana hingga kemudian benda itu pecah.


PRANG ....


Azura yang juga kehilangan keseimbangan lagi kontan jatuh dengan telapak tangan mendarat di pecahan guci tersebut. Perempuan itu bahkan memekik karena sakit di kepala, terkejut, juga darah yang perlahan keluar dari telapak tangannya.


Tapi, hal itu rupanya tidak kalah mengejutkan dari bantingan di pintu kamar.


"Azura! Kamu ngapain?!" tanya Axel panik sambil mengangkat tubuh sang istri dan membaringkannya lagi di atas kasur.


Melihat darah juga pecahan kaca yang masih menempel di telapak tangan sang Azura, perempuan itu menggeram marah sebelum kemudian mencabutinya hati-hati. Tidak butuh waktu lama pula untuk pria itu mengambil kotak P3K dan membalut tangan sang istri dengan kasa steril.


"Ada yang luka bagian lainnya?" tanya Axel sambil meraba telapak kaki Azura.


Hal itu membuat Azura geli dan segera menarik kakinya menjauh dari jangkauan Axel.


"Nggak ada kok. Makasih udah ditolongin," ucap perempuan itu yang dibalas Axel dengan dengkusan sebal.


"Lagian ngapain sih? Mau apa? Ngapain pake turun dari kasur segala? Kamu kan lagi sakit! Seharusnya kalau butuh sesuatu ya diem aja. Tinggal panggil aku," omel Axel panjang lebar yang dibalas Azura dengan senyum cengengesan.


"Aku kan tadi mau masak buat sarapan kamu, kan ini udah siang banget. Kamu pasti mau berangkat kerja," jawab Azura jujur membuat Axel semakin menggeleng-geleng tidak habis pikir.


"Aku ini udah gede! Lagian mana mau liat istri lagi sakit tapi malah masak. Lagipula, aku juga nggak kerja hari ini." Axel menjelaskan.


"Lah ... kenapa?" tanya Azura bingung.


"Ya pikir aja sendiri pakai otak nggak ada isi kamu itu! Masak istri sakit tapi ditinggal kerja sih?!" Meski pengakuan Axel terdengar menyebalkan dan bernada menjengkelkan, tetap saja hal itu membuat Azura tersenyum senang.


"Oh iya ... minta waktu lagi ke penerbit kamu buat nggak kirim naskah hari ini. Bilang kalau aku yang larang karena kamu lagi sakit." Axel menitah semena-mena.


"Kalau mereka nggak mau gimana?" tanya Azura khawatir.


"Yaudah tinggal cari penerbit lain! Aku tau kamu penulis terkenal. Nggak perlu nyari, bahkan kamu bisa dapetin penerbit yang lebih baik cuma dengan nunggu naskah kamu dilirik." Axel menyahut yakin. Seolah begitu percaya pada kemampuan orang yang kerap pria itu sebut 'tidak ada isi otaknya'.


"Eum ... yaudah deh."


"Oh iya ... pembaca kamu yang udah nungguin gimana? Mereka kecewa nggak? Kamu nggak klarifikasi ke mereka kalau kamu sakit biar mereka nggak ngerasa digantung gitu?" tanya Axel yang entah kenapa di mata Azura begitu peduli.


"Nggak perlu lah. Soalnya, prinsipku, aku nggak mau tau urusan orang lain dan aku juga nggak mau orang lain tau urusanku."


Jawaban Azura, seketika membuat Axel tersenyum bangga. Kerap dikatai bodoh olehnya, sepertinya membuat istrinya termotivasi untuk sedikit pintar.


"Aku kok jadi makin suka kamu, ya?" gumam Axel sambil mengacak-acak gemas rambut Azura.


Sedangkan yang diacak rambutnya, malah mati-matian menahan senyum senang.


'Ya Tuhan! Yang diacak-acak rambut, kok yang berantakan malah hati, ya?' batin Azura berteriak keras.