
Azura baru saja kembali dari taman belakang saat menemukan Axel tengah duduk di ruang tengah bersama seorang pria berjas formal. Hal itu membuat Azura mengurungkan niatnya menuju ruang tengah langsung.
Mengeluarkan ponsel dari baju gantung yang juga (terpaksa) dipakainya karena Axel yang membeli, perempuan itu menelepon sang suami. Beberapa detik kemudian panggilannya diangkat.
"Xel, orang yang di ruang tengah siapa?" tanya perempuan itu langsung begitu melihat Axel menempelkan telepon di telinganya.
Pria jangkung itu kontan menyelidik ke seluruh penjuru rumah. Mencari tahu dimana keberadaan sang istri yang memang paling malas kalau urusan bertemu dengan orang asing.
"Sini! Dia mau ketemu sama kamu ini," suruh Axel membuat Azura semakin memgernyit heran.
Seingatnya, dia tidak mengenal pria itu. Lalu kenapa dia ingin bertemu dengan Azura?
"Cepet ke sini atau nggak kubeliin kuota?" ancam Axel membuat Azura mendengkus kemudian berlari menuju ruang tengah.
Selama ini, memang cuma Axel yang paling rajin keluar membelikannya kuota. Perempuan itu mana suka keluar rumah terlalu sering. Bagi Azura, hal itu merepotkan.
"Nah, ini istri saya! Kenalkan, Pak, namanya Azura," jelas Axel begitu sang istri sudah berada di sampingnya.
Azura memberi senyum singkat sebelum kemudian melayangkan sorot tanya pada Axel.
"Kenalkan, Azura. Dia sahabat Papa, pemilik perusahaan penerbitan juga. Lebih besar dari punya si mata empat, ah ... iya, maksudnya Galen."
"Buat apa?" tanya Azura sambil naik ke sofa kemudian berbisik di telinga sang suami.
"Duduk dulu! Nggak sopan," bisik Axel balik membuat Azura segera duduk di sofa yang tadi dinaikinya dengan bersila.
Hal itu justru semakin membuat Axel menghela napas berat. Mencoba menabahkan hati memiliki istri macam Azura.
"Jadi, Azura. Sekarang kamu bisa kirim naskah ke penerbit Pak Xander. Dia juga bisa menangani naskah kamu dengan jauh lebih baik dari Galen. Kamu mau, kan?" tanya Axel dengan santainya membuat Azura diam-diam mencubit pinggang pria itu.
Matanya melotot kesal pada Axel. Kapan dia bilang menyetujui semua ini? Lagipula, kenapa Axel malah melakukan sesuatu tanpa menanyakannya pada Azura dahulu?
"Bagaimana, Nyonya Zelardo? Bisa kita mulai sekarang mengenal lebih jauh? Saya dengar Anda juga penulis yang terkenal di kalangan pecinta novel online maupun offline." Pria yang Azura ketahui bernama Pak Xander itu bertanya dengan senyum ramah.
Azura membalas dengan senyum terpaksa. "Okey, mari kita mengenal lebih jauh," jawab perempuan itu sebelum kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan Axel dan pria itu di ruang tengah.
"Loh? Katanya mau mengenal lebih jauh, kenapa malah pergi?" tanya Pak Xander heran.
Azura menoleh sejenak kemudian menyahut santai. "Ya iya, aku mau mengenalmu lebih jauh. Makannya sekarang aku ngejauhin kamu."
Seketika, Axel kehilangan kata-katanya. Susah-susah dia membawa pemilik penerbit besar ke rumah untuk istrinya, dan perempuan itu dengan entengnya malah mempermalukan Axel begini.
Ck ... perempuan ini!
***
Axel terus duduk di samping Azura yang masih sibuk mengetik di laptopnya. Perempuan itu bahkan seolah tidak menyadari kehadirannya.
"Zu ... masak kamu yang ngambek sih? Kan aku yang malu sama Pak Xander," panggil Axel yang dibalas Azura dengan kibasan rambut.
Rambut perempuan itu kontan menabrak wajah Axel membuat pria itu meringis sakit.
"Lagian kamu ini kenapa sih? Dicariin penerbit besar sama suami malah kayak gini? Seharusnya kan seneng," omel Axel sambil menyelusup di antara tangan Azura yang tengah mengetik di laptopnya.
Pria itu membaringkan kepala di paha sang istri sambil memandangi wajah Azura dari bawah. Saat ini posisi Azura memang tengah bersila sambil mengetik di laptopnya yang ia taruh di atas meja yang tingginya hanya beberapa centi.
Azura yang kesal akhirnya menunduk dan memandang wajah Axel datar.
"Siapa yang suruh kamu ngelakuin itu? Kamu udah tau kalau aku udah lama kerja sama sama penerbitnya Galen, kan? Ngapain harus sama penerbit lain lagi yang belum jelas sistem kerjanya?" Perempuan itu mengomel panjang lebar yang malah ditanggapi Axel dengan cengiran.
Pria itu bahkan melingkarkan lengan kekar dan panjangnya di pinggang Azura kemudian menenggelamkan kepala di perut sang istri. Hal itu membuat Azura mati-matian menahan geli karena hidung mancung Axel malah terasa menggelitik perutnya.
"Aku cuma mau ngurangin waktu kamu ketemu sama Galen soalnya. Maaf kalau kamu nggak suka," ucap Axel jujur.
Hal itu membuat Azura seketika bungkam. Axel melakukannya hanya karena ... cemburu?
"Kamu cemburu jadinya?" tanya Azura dengan senyum geli.
Axel yang mendengar pertanyaan Azura, memilih semakin mengeratkan pelukannya di pinggang perempuan itu.
"Enggak, cuma nggak suka aja," elak pria itu yang dibalas Azura dengan delikan curiga.
"Beneraaan? Kalau nggak cemburu, ngapain ngelarang aku ketemu Galen coba?" tanya Azura menggoda membuat pria itu semakin menggeram menahan malu.
"Ck ... kan udah kubilang aku nggak suka dia! Kamu mana ngerti. Udah ah, mau makan mie aja!" kesal Axel sambil bangkit berdiri dan berlari keluar kamar.
Azura yang mendengar kalimat pria itu, kontan segera mematikan laptop dan segera berlari mengejar sang suami.
"Mau mie jugaaa!" teriak perempuan itu sambil berlari menuruni tangga.
Axel membuka laxi dapur kemudian mengeluarkan dua bungkus mie instan mentah rasa soto. Kebetulan, di luar sedang turun hujan. Pasti cocok jika menyeduh mie saat ini.
"Mau seduhin aku juga ya?" tanya Azura kelewat percaya diri begitu melihat Axel membuka bungkus dua mie mentah.
"Dih, pede amat. Mau seduhin diri sendiri lah!" sanggah Axel membuat Azura memasang wajah cemberut.
"Nggak asik ah!" teriak perempuan itu kesal sambil bangkit berdiri dan berlari ke kamar lagi.
Axel terkikik geli. Kalau urusan mie instan, perempuan itu memang yang paling sensian. Axel sampai kerap bertanya pada dirinya sendiri, istrinya lebih menyayanginya atau mie instan, ya?
Begitu selesai memasak mie dan membaginya ke dalam dua mangkuk, Axel membawanya ke kamar. Azura yang hidungnya memang selalu peka dengan bau mie instan, kontan menoleh sejenak sebelum kemudian pura-pura fokus pada laptopnya lagi.
"Ayo makan!" ajak Axel sambil meletakkan mangkuk mie instan di karpet persia dekat kaki ranjang.
"Makan aja sendiri! Kamu bilang bukan buatku, kan?" tanya Azura ketus.
Axel terkekeh geli. Pria itu merangkak menuju sudut ruangan di mana Azura tengah sibuk dengan laptopnya.
"Jadi ... apa kamu nggak punya bisa apapun selain ngambek? " kekeh Axel yang dibalas Azura dengan delikan tajam.
"Yaiyalah, aku kan bukan ular, jadi ya nggak punya bisa." Perempuan itu menyahut logis membuat Axel semakin tertawa.
Berdiri dan segera mengangkat tubuh istrinya lagi, pria itu kemudian menyahut santai.
"Oh iya, aku lupa. Kamu kan alien, bukan ular." Pria itu mengusap hidungnya pada rambut halus Azura.
"Jadi, Alien Pendek, bisa sekarang kita makan mie aja? Buat balik ke planetmu di luar angkasa sana, kamu butuh tenaga juga, kan?"