
Azura tengah mencoret tanggal di kalender besar yang ada di dinding kamarnya. Perempuan itu memang sengaja memasang kalender di dinding depan meja kerjanya, mengingat dirinya yang pelupa. Beberapa tanggal penting juga sengaja ia lingkari dan beri nama di bawahnya.
Tapi, begitu tengah mencoret tanggal hari ini, tanggal besok pagi seketika membuat perempuan itu mengerjap terkejut.
Sabtu, 23 Oktober. Besok adalah hari ulang tahunnya.
Perempuan itu kontan bangkit berdiri dan segera menutup laptopnya. Mengecek jam di layar ponsel yang menunjukkan pukul 10 malam, Azura seketika semakin bertambah gugup.
"Eeeh ... aku ulang tahun jadinya besok? Aku harus siepin apa, ya? Aku mau apa ya?" tanya Azura pada dirinya sendiri membuat Axel yang baru tiba di ambang pintu, mengernyit tidak mengerti.
"Kenapa kamu?" tanya pria itu seolah tidak tahu sama sekali.
Azura menoleh kaget. Perempuan itu berlari mendekat pada Axel dan memegang bahu sang suami erat.
"Tau nggak, Xel? Besok itu---"
"Ini udah jam berapa, hah? Ayo tidur!" ajak Axel memotong kalimat bernada semangat perempuan itu.
Axel merengek tidak terima. "Axeeel ... dengerin dulu!" pinta perempuan itu memelas.
Bukannya mendengarkan, Axel malah berbaring di sisi ranjang dan segera menarik selimut sampai menutupi seluruh kepala. Azura yang melihat sang suami malah hendak tidur, kontan ikut melompat ke atas kasur dan menyelusup di dalam selimut yang sama.
"Kamu nggak inget sesuatu gitu?" tanya Azura penasaran.
"Enggak, udah ah! Ayo tidur, Zura! Udah jam 10," tegur Axel yang dibalas Azura dengan anggukan setengah hati.
Perempuan itu perlahan ikut berbaring membelakangi Axel seperti yang dilakukan pria itu. Azura mencoba memejamkan mata dengan segenap perasaan bingung juga kecewa.
Tapi, meski mencobanya beberapa menit, tetap saja dia malah terjaga. Begitu merasa sudah tidak ada suara apalagi pergerakan dari suaminya, perempuan itu bangkit dan mengintip wajah terlelap Axel.
"Ternyata udah tidur," gumam Azura lirih.
Perempuan itu kembali membaringkan tubuhnya kemudian mematikan lampu kamar. Tangannya mengusap air mata yang entah sejak kapan malah mengalir di pipi.
"Padahal kan, aku ulang tahun," gumam Azura kecewa.
Mungkin terdengar sepele karena ini hanya masalah ulang tahun saja. Tapi, bagi Azura terasa begitu berharga.
Karena ini ulang tahun pertamanya selama menjadi seorang istri. Dan suaminya, malah tidak ingat bahkan tidak peduli.
Aish ... menyebalkan sekali!
***
Azura terbangun begitu mendengar ketukan di pintu kamar. Perempuan itu mengernyit heran sekaligus takut. Pukul 11 lebih 59 menit.
Siapa yang mengetuk pintu di jam segini? Melirik pada ranjang samping, perempuan itu malah terkesiap begitu tidak menemukan Axel di sana.
Perempuan itu kontan menoleh ke bawah ranjang. Sempat mengira suaminya malah jatuh dari kasur dan mendarat di lantai. Tapi, tidak ada.
TOK ... TOK ... TOK ....
Ketukan yang semakin nyaring di pintu, seketika membuat perempuan itu semakin takut untuk membuka. Terlebih, di luar masih hujan lumayan deras. Kondisi lampu kamar yang sengaja dimatikan juga semakin menambah ketakutan.
"Siapa?" tanya Azura dengan nada suara bergetar.
Tidak ada yang menyahut. Tapi, gedoran di pintu malah semakin menjadi.
"Axel, ya? Jangan bikin aku takut! Aku beneran nggak suka bercanda kayak gini," sahut Azura panik.
Kali ini, ketukan di pintu itu terhenti. Tidak ada suara lagi. Hal itu tentu saja tidak membuat Azura bernapas lega. Karena Axel juga tidak ada di sampingnya.
"Axeeel ... kamu dimana?" teriak Azura ketakutan.
Ingin mencari sang suami tapi tidak berani beranjak dari ranjang. Tapi, begitu suara tendangan tiba-tiba di pintu terdengar, Azura kembali memekik kaget.
BRAK ....
"AAA!"
"HAPPY BIRTHDAY, AZURA!"
Perempuan yang kini menutup mata dan telinga itu, kontan membuka matanya begitu mendengar suara ramai. Matanya menyorot orang-orang yang terlihat puas mengerjainya itu satu persatu.
Lampu kamar sudah menyala lagi. Ada Damian, Axel, Elynca, Anyelir, dan Serafin yang menatapnya sambil tertawa geli. Azura yang tidak terima dibuat setakut ini, kontan mengangkat bantal dan melemparnya kepada siapa saja yang mmapu perempuan itu gapai.
Axel kontan berdiri menengahi agar kue di tangan Damian tidak terkena lemparan bantal Azura.
"Aduh ... a-aduh ... udah dong, Zu! Kan ini namanya kejutan," ucap Axel sambil berlari dan memeluk istrinya. Mencoba menahan pergerakan perempuan itu agar tidak melayangkan lemparan lagi.
Azura yang tidak tahu harus mengungkapkan dengan cara apa perasaan terkejut dan senangnya, kontan menangis terisak. Hal itu membuat Axel termasuk Damian kontan bertanya panik.
"Eeh ... kok nangis sih? Kami keterlaluan ya ngerjainnya? Maaf, Zura. Kami beneran nggak bermaksud bikin kamu takut kayak gini," gumam Axel panik sendiri.
Damian yang merasa posisinya tersingkir, segera mendorong Axel menjauh. "Sini, biar aku aja yang bujuk dia! Kamu mah mana bisa," sahut Damian tajam sambil memeluk putrinya yang kini masih menangis.
"Ayo, putri cantiknya Papa. Kita potong kue, ya?" ajak Damian lembut sambil menangkup pipi Azura.
Perempuan itu tanpa perlawanan malah mengangguk patuh kemudian naik ke gendongan belakang Damian tanpa beban. Hal itu membuat Axel mendengkus sebal. Sepertinya sekarang dia lebih cemburu pada Papa mertuanya ketimbang sahabat pria Azura yang lainnya.
***
"Nah ... ini hadiah kami semua buat kamu," ucap Damian sambil memindahkan semua kado di atas meja ke pangkuan Azura.
Hal itu membuat Azura yang sedari tadi terus tersenyum senang, semakin berbinar girang. Bahkan, dengan tanpa sabar, perempuan itu langsung membuka semua hadiahnya di tempat.
Karena sudah terlalu malam, semuanya menginap di rumah Axel dan Azura. Elynca tidur dengan Anyelir di ruang tamu. Sedangkan Damian tidur bersama Serafin di kamar Axel dan Azura.
Sedangkan kedua pasangan suami istri itu bilang akan begadang sampai pagi. Padahal nyatanya, memang tidak ada kamar lain. Hanya ada satu kamar dan satu ruang tamu. Ruang tamu pun adalah bekas kamar Azura sebelumnya.
"Kok nggak ada yang ngadoin aku mie instan, ya?" tanya Azura heran membuat Axel mendengkus jengah.
"Kamu nggak bosen makan mie instan terus? Aku aja yang liat bekas bungkusnya di bak sampah sampai enek sendiri," omel pria itu tidak habis pikir.
Azura yang saat ini sedang duduk di atas pangkuan Axel sambil memangku kadonya, kontan membungkam ocehan sang suami dengan bibir kelewat santai. Sebuah kecupan sekilas. Tapi berhasil membuat Axel kehilangan waras.
"Udah, hari ini kan hari ulang tahunku. Jadi mending jangan ngomel dulu," perintah Azura masih fokus membuka satu persatu kadonya.
Lalu, ketika membuka sebuah kado berukuran sedang, perempuan itu mengernyit heran. Matanya kontan menyorot pada Axel tajam. Axel yang menyadari Azura yang sudah membuka kadonya, kontan mengalihkan pandangan. Pura-pura tidak sadar.
"Ini kamu yang ngasih, kan?" tanya Azura lebih terdengar ke menuduh.
"Apa? Enggak," jawab Axel santai.
"Ish! Ngaku aja deh!" paksa Azura membuat Axel akhirnya tidak bisa menahan cengiran cengengesannya.
"Bisa-bisanya kamu bikin ini. Gimana caranya sih? Astaga ... nama penulisnya juga nama kamu lagi. Aaa ... Axel, kapan kamu bikin ini?" tanya Azura antara ingin kesal tapi tidak tahu harus kesal karena apa.
Lagipula, buku dengan judul 'Cara Menjadi Istri yang Baik' dengan nama penulis 'Axel Ganteng' ini terlalu mengejutkan matanya. Azura bahkan tidak habis pikir kenapa buku ini dicetak oleh Bagaskara Media.
Kapan? Kenapa Azura tidak tahu?
"Suka nggak?" tanya Axel menggoda sambil menaik turunkan alisnya.
"Gimana ... maksudnya, kok kamu bisa bikin buku?!" tanya Azura akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Axel tersenyum bangga kemudian memberikan sebuah kecupan di puncak kepala istrinya.
"Karena tadi pagi bingung mau kasih kamu hadiah apa, gatau kenapa ide ini malah muncul. Aku bikin buku isi 10 bab dalam waktu sehari. Langsung kusuruh si Galen terbitin dan cetak hari ini meski ISBN-nya belum keluar. Dan semua ini cuma buat ulang tahun kamu. Keren, kan?"
Mendengar cerita panjang lebar Axel, Azura jadi tidak tahu harus memasang ekspresi apa.
"Kamu nggak seneng sama hadiahnya? Yaudah sini balikin aja!" ketus Axel merajuk begitu melihat wajah tidak terbaca Azura.
Seketika, Azura menggeleng panik. Perempuan itu memeluk buku di genggamannya erat-erat.
"Aku suka kok. Jangan diambil! Ini udah hakku," jawab perempuan itu cepat.
Wajah panik Azura, entah kenapa malah terasa menggemaskan bagi Axel. Menyadari rumah yang sudah sepi karena semuanya sudah tidur di kamar, pria itu segera memeluk Azura sangat erat kemudian melayangkan banyak kecupan di seluruh wajah perempuan itu.
"Axeel ... geliii," rengek Azura sambil tertawa karena sensasi menggelitik di lehernya yang dikecup Axel berulang kali.
Entah sejak kapan, keduanya bahkan sudah berbaring di sofa yang sempit masih dengan saling berpelukan begitu erat. Sampai ketika mata Azura hampir terpejam saking mengantuknya, kalimat lirih Axel di samping telinganya membuat perempuan itu tersenyum senang.
"Happy Birthday, My Innocent Wife."
Kue mie instan, kehadiran mereka semua, juga kalimat Axel sebelum kesadarannya direnggut lelap, seketika membuat ulang tahun ke-20 Azura terasa sempurna.
Aish ... rasanya Azura ingin berharap malam ini tidak pernah berakhir saja.