
Axel mengusap wajah gusar untuk kesekian kalinya. Mencoba menghilangkan segenap kepanikan yang mendera kepalanya.
Azura yang tiba-tiba pingsan di mall membuatnya merasa ketakutan luar biasa. Axel sama sekali tidak mengerti alasan perempuan itu sampai tidak sadarkan diri begini.
Berbagai kemungkinan sedari tadi terus memenuhi kepalanya. Apakah Axel memang terlalu keras memberinya pekerjaan rumah selama ini? Atau memang karena alasan lain?
Kekalutan Axel sedikit teralihkan begitu derap langkah kaki yang berlari mendekat padanya. Anyelir dan Damian datang. Tak terkecuali Serafin. Tentu saja. Karena saking paniknya, pria itu sampai menelepon mereka bertiga selama perjalanan menuju rumah sakit tadi.
Tidak menyangka ketiganya malah datang secepat dan selengkap ini. Padahal, Axel sendiri juga sangat tahu seberapa sibuk Serafin dan Damian.
"Gimana Zura, Xel?" Pertanyaan dari bibir Damian sudah lebih dulu terlontar.
Sedangkan Anyelir, tidak berbicara banyak dan hanya diam mematung. Sepertinya perempuan itu masih terkejut. Pasalnya, seingat Axel, kata perempuan itu, Azura memang jarang sekali sakit. Tapi, sekalinya sakit, bisa sampai berminggu-minggu.
"Enggak tau, Pa. Dia masih diperiksa sama dokter di dalam," jawab Axel membuat ketiga orang tua tersebut duduk di bangku samping Axel.
"Gimana ceritanya dia bisa pingsan? Masak kamu nggak bisa bedain istri kamu sehat apa enggak sih? Malah dibawa ke mall!" cerca Serafin memandang serius putranya.
Axel menghela napas berat. Dia juga tidak tahu kalau Azura sedang sakit. Lagipula, seingatnya perempuan itu terlihat sehat tadi pagi.
"Keluarganya pasien?" tanya seorang dokter yang entah sejak kapan sudah keluar dari ruangan.
Keempat orang itu menoleh. Kemudian Damian adalah yang lebih dulu berdiri dan mengangguk.
Kemudian, Damian bersama dokter tersebut masuk lagi ke dalam ruang rawat Azura. Dari pintu kaca, sang papa mertua terlihat terlibat pembicaraan serius selama beberapa menit dengan dokter perempuan tersebut. Dan tentu saja Axel tidak mampu mendengarnya.
Beberapa detik kemudian, dokter tersebut keluar dan memberikan izin untuk Axel dan yang lainnya memasuki ruangan. Tentu saja dengan syarat tidak ribut dan mengganggu Azura yang katanya tengah beristirahat.
"Zu kenapa, Mas?" tanya Anyelir penasaran sambil mendekat pada suaminya.
Wajah Damian terlihat tegang dengan gigi bergemelatuk menahan murka. "Dia kayaknya nggak sengaja ketemu Lintang lagi di sana," jawab pria itu membuat wajah Anyelir seketika melotot terkejut.
"Zura nggak bakal pengen pulang ke rumah neneknya lagi, kan?" tanya Anyelir takut membuat Damian menangkup wajah sang istri lembut.
"Enggak akan, sekarang kan dia sudah sama suaminya. Dia pasti lebih ngerasa aman saat sama Axel," jawab Damian menenangkan.
"Lintang itu ... yang kata kamu hampir ngelecehin Anyelir dulu, ya?" tebak Serafin akhirnya ikut angkat suara.
Damian mengangguk. Seketika, Axel teringat pada cerita Anyelir waktu itu. Tentang masa lalu Azura semasa sekolah juga alasan perempuan itu memilih tinggal bersama neneknya.
Sebenarnya, di sini Axel yang paling merasa bersalah. Jika saja dia tidak mengajak dan membawa Azura untuk ikut bersamanya guna berbelanja, pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
Azura tidak akan bertemu dengan trauma masa lalunya lagi. Sejenak, mata Axel menoleh pada sang istri yang masih terbaring tak sadarkan diri di brankar rumah sakit.
Entah kenapa, melihat Azura seperti ini, terasa lebih menyebalkan daripada ketika istri pendeknya tersebut membantah ucapannya.
"Katanya, dia shock. Sama anemianya kambuh juga sih, pasti dia begadang, kan? Lain kali jangan biarin dia begadang lagi, Xel! Itu anak bandel sama ngeyelnya sama kayak Mamanya, jadi tolong dimarahin aja kalau ketahuan begadang," perintah Damian yang dibalas delikan tajam Anyelir di kata 'sama katak mamanya'.
Axel mengangguk patuh berikutnya memilih duduk di kursi samping ranjang Azura. Dibiarkannya para orang tua itu perlahan pamit keluar untuk mencari udara segar. Dia masih sangat mengkhawatirkan istrinya.
Entah karena ini pertama kalinya Axel mendapati perempuan itu pingsan, atau memang ia yang tidak tega melihat Azura kesakitan.
***
Axel baru saja membuka pintu ruang rawat sehabis makan siang di kantin rumah sakit saat menemukan Azura sudah sadar. Tapi, perempuan itu tampak menangis dan meronta di dekapan Damian.
Axel yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres, kontan mendekat dan melayangkan sorot tanya pada Damian. Tapi, sang papa mertua hanya membalas dengan pandangan paniknya.
"Aku mau pulang, Pa. Kalau ... k-kalau di sini, pasti orang itu nemuin aku." Suara bergetar dengan geletar ketakutan dari mulut Azura, tanpa sadar membuat Axel mematung di tempatnya.
Kenapa perasaannya terasa sakit mengetahui perempuan itu terlihat setakut dan seberantakan ini?
Kepala perempuan itu semakin tenggelam di dada Damian begitu melihat sebentar pada Axel. Tangannya bahkan belum berhenti bergetar membuat Damian terus membisikkannya beberapa kalimat-kalimat penenang.
"Dia nggak bakal bisa ke sini, Sayang. Kamu aman sama Papa dan Axel. Ada mama, ada Papa Serafin juga, kan?" ucap Damian menenangkan Azura lagi.
Seketika, Axel merasa jadi makhluk paling tidak berguna sedunia. Di saat Azura terlihat serapuh dan setakut itu, dia bahkan tidak bisa melakukan apapun selain berdiri memandangi.
"T-tapi ... tapi tadi dia di sampingku. Dia sampai sekarang pasti terus ngikutin aku. Zura nggak suka dia, Pa. Usir dia!" pinta Azura malah semakin menangis keras membuat Damian menghela napas berat. Tidak tahu harus membujuk dan menenangkan putrinya bagaimana lagi.
Sejujurnya, Damian juga merasa terpukul melihat putrinya malah seperti ini. Hanya karena pria tidak bermoral seperti Lintang yang dulu dengan nekad berniat hampir mengambil kehormatan Azura, putrinya harus merasakan tekanan mental bahkan di umurnya yang sudah sebesar ini.
Salahkan saja Damian yang sejak dulu tidak langsung membawa Azura ke psikolog. Salahkan juga dirinya karena membiarkan putrinya tinggal di rumah neneknya tanpa sadar bahwa mental Azura telah rusak.
"Papa mau anter Mama kamu pulang dulu, ya!" pinta Damian lembut yang malah membuat Azura semakin mempererat pelukannya di pinggang Damian.
"Sayang ... Mama kamu kan lagi ngandung adek kamu, dia harus lebih banyak istirahat biar calon adek sama mama kamu tetep sehat. Sebentaaar aja, ya? Papa pasti balik ke sini sebentar lagi kok," bujuk Damian yang akhirnya diangguki Azura meski dengan tidak ikhlas.
"Axel ... jagain istri kamu, ya!" peringat Damian sebelum kemudian keluar dari ruang rawat.
Axel yang sedari tadi tertegun di tempatnya, kontan mengangguk mengiyakan. Begitu Damian perlahan menghilang di ambang pintu, Axel bahkan masih mematung di pijakannya.
Azura melirik sang suami sejenak dengan mata sembabnya. Beberapa detik kemudian memilih berbaring.
"Kamu mau sesuatu?" tanya Axel akhirnya untuk memecahkan hening.
"Aku mau sendiri, kamu keluar aja." Perempuan itu berucap singkat kemudian berbaring membelakangi suaminya.
Untuk pertama kalinya, Axel lebih menyukai Azura yang menyebalkan saja.