Innocent Wife

Innocent Wife
eps 26~Terseret Ombak



"Kamarnya kok cuma satu, ya? Papa pelit amat ish," cerca Azura begitu mereka sampai pada kamar hotel yang sudah dipesankan khusus oleh Damian untuknya dan Axel.


Axel yang juga baru masuk dan menutup pintu, kontan menghela napas malas. "Ya pikir aja sendiri! Mana ada orang bulan madu kamarnya pisah. Dikira tempat ganti baju sekolah apa?" kesal Axel sambil membaringkan tubuh telentang di kasur dengan seprai berwarna putih susu.


"Di sekolah, nggak ada tempat ganti baju. Biasanya ganti baju di toilet akumah," jawab Azura dengan polosnya.


Tentu saja Axel tidak peduli. Ketimbang meladeni ocehan Azura, pria itu memilih berjalan ke kamar mandi. Lebih baik mandi terlebih dahulu. Perjalanan menuju Lombok rupanya jauh juga. Membuat tubuhnya terasa lengket dan lelah tentu saja.


"Mau kemana?" tanya Azura lagi sangat tidak berfaedah sekali.


Karena malas menjawab, akhirnya Axel hanya diam saja kemudian masuk kamar mandi. Azura yang menyadari dirinya yang malah diacuhkan, kontan mencebik sebal.


"Apa susahnya sih, jawab pertanyaan orang? Lama-lama kupotong juga mulutnya karena males dipake ngomong," omel Azura sambil ikut berbaring di tempat Axel sebelumnya.


Perempuan itu mengeluarkan ponsel di saku jaket abu-nya kemudian menggeser-geser beranda aplikasi berwarna biru. Tapi, entah karena bosan atau memang lelah sehabis perjalanan jauh, perempuan itu akhirnya tertidur dengan posisi tidak elegan serta kaki menjuntai di kaki ranjang.


Karena merasa tidak nyaman di sela tidurnya, perempuan itu akhirnya berguling-guling dan berhenti di sisi ranjang tanpa sadar. Ponselnya bahkan Azura tindih saking ngantuknya.


"Lah ... tidur dia? Udah capek ngomel kayaknya," kekeh Axel begitu melihat perempuan pendek itu berbaring di sisi ranjang sangat ujung.


Ia baru selesai mandi dan tentu saja sudah wangi. Berbanding terbalik dengan Azura yang kini malah tidur malas-malasan tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.


"Gerak dikit pasti jatuh dah tuh, mampos!" maki Axel tidak berperasaan.


Karena bingung melakukan apa selama Azura belum bangun, Axel akhirnya memilih duduk di sofa panjang dekat ranjang sambil menyetel TV. Tapi, melihat gaya tidur Azura yang tidak benar juga posisinya yang hampir jatuh ke lantai, Axel jadi tidak fokus pada tontonannya.


Beberapa kali pria itu mencuri lirik setiap pergerakan Azura yang nyatanya masih tertidur pulas. Tapi, begitu perempuan itu hendak menggulingkan tubuh lagi ke sisi ranjang, Axel berlari dan menahan tubuhnya.


"Ck ... makhluk pendek ini!" maki Axel lirih. Tangannya masih menahan tubuh Azura agar tidak jatuh membentur lantai.


Akhirnya, mengalah dengan egonya sendiri yang malah ingin melihat perempuan itu jatuh saja, Axel memilih mengangkat tubuh Azura hati-hati dan membaringkannya di tempat yang benar. Tak lupa, pria itu juga menaruh bantal guling di sisi kanan dan kirinya sebagai penjaga agar perempuan itu tidak bisa kemana-mana.


Baru saja akan berbalik menonton lagi, ponsel Azura yang terletak di ujung kaki ranjang dan masih menyala mengalihkan atensi Axel. Dengan berbekal niat jahilnya, pria itu meraih ponsel sang istri dan membawanya ke sofa.


"Waah ... banyak yang ngechat ya, ini alien," komentar Axel takjub begitu membuka aplikasi sosial media berwarna biru perempuan itu.


Kebanyakan, chat dari penggemar dan berbagai macam nama penerbit yang menawarkan untuk menerbitkan karya Azura. Tapi, perempuan itu sepertinya memang sengaja menganggurkannya. Beralih ke aplikasi berbalas chat berwarna hijau, isinya juga tak jauh berbeda. Kebanyakan kontaknya hanya berisi keluarga dan teman-teman penulia serta pihak penerbit.


Tapi, mata Axel justru malah salah fokus ke kontak bernama 'Penerbit Bagaskara Media' yang berada di urutan chat teratas. Untuk pertama kalinya, Axel memilih lancang membukanya.


'Penerbit Bagaskara Media'


[Zu, sudah sampai di Lombok?]


[Saya tadi sebenarnya pengen bicara serius, tapi agak risih sama suami kamu.]


Axel mendelik sinis. Kenapa dia malah merasa jadi pengganggu di antara Azura dan Galen sekarang? Dan apa ini? Tiga bulan mengenal, dan nama kontak Galen bahkan belum perempuan itu ubah meski dia mengakui pria itu sebagai sahabatnya.


Axel tahu Azura itu makhluk super pemalas. Tapi tidak cukup pemalas sampai enggan mengganti nama kontak sahabatnya sendiri dengan lebih baik, kan?


'Anda'


[Mau bilang apa?]


Entah kenapa, Axel malah nekad membalas pesan tersebut. Dalam hati, pria itu sebenarnya takut. Kalau sampai Azura bangun, bakal sengamuk apa perempuan itu mengetahu ponselnya malah dibajak begini?


'Penerbit Bagaskara Media'


[Nanti saja, bakal aneh rasanya kalau lewat chat begini.]


Axel mengernyit bingung. Sambil menghapus pesan sebelumnya dari ponsel Azura guna menghilangkan jejak, pria jangkung itu terus berpikir keras.


Memangnya, hal sepenting apa yang ingin pria itu sampaikan pada istrinya sampai harus bertemu langsung?


Bunyi notifikasi dari ponsel Azura kembali membuat Axel mengalihkan atensi.


Dari Galen lagi.


'Penerbit Bagaskara Media'


[Eh tapi, saya ngasih tau sekarang aja deh.]


[Saya suka kamu, Zu.]


[Kalimat yang selama ini kamu anggap sebagai suka sesama sahabat, maksud saya adalah suka sebagai seorang perempuan dan pria.]


[Saya suka kamu sebagai Azura. Bukan sahabat apalagi rekan kerja.]


Melihat balasan pria itu, Axel melotot terkejut. Galen ... menyukai Azura?!


"Udah jam berapa ini?" Pertanyaan dengan suara serak Azura sehabis bangun tidur, seketika semakin membuat Axel melotot terkejut.


Pria itu kontan menyembunyikan ponsel Azura di belakang tubuh.


"Jam ... j-jam ... lupa. Bentar, cari hp-ku dulu!" jawab Axel gelagapan.


Azura melirik kesana kemari. Mencari keberadaan ponselnya yang seingatnya tadi berada di genggamannya.


"Ponselku kemana, ya? Perasaan tadi di kasur," gumam Azura sambil terus menelisik sekeliling.


Axel meneguk ludah kasar. Selagi Azura mengintip ke kolong kasur guna mencari ponselnya, pria itu segera mengahpus seluruh pesan tanpa terkecuali.


Terserah lah Azura mau mencurigainya membuka ponsel perempuan itu nanti. Yang jelas, sekarang bukti sudah dilenyapkan Axel.


"Nah ... tuh ponsel kamu!" ucap Axel sambil menunjuk ponsel yang sebelumnya dilemparnya ke kasur tanpa sepengetahuan Azura.


Azura kontan menoleh dan mengambil ponselnya cepat. "Perasaan tadi nggak ada," gumam perempuan itu heran.


"Kamu nggak nyari dengan bener kali," sanggah Axel dengan wajah berusaha semeyakinkan mungkin.


Bodohnya, Azura malah mengangguk dan percaya saja.


"Iya kayaknya, dulu soalnya aku pernah cari baju di lemari tapi nggak ketemu. Eh pas dicariin sama Papa langsung ketemu aja," cerita perempuan itu sambil terkekeh geli.


Papanya memang yang paling pintar soalnya mencari sesuatu.


"Oh iya, Xel. Baru bangun aku langsung nemu lelucon loh!" pamer Azura membanggakan diri.


Kali ini, topik 'ponsel hilang' Azura sudah selesai.


"Selucu apa?" tanya Axel meremehkan.


"Denger ya! Denger baik-baik! Kalau orang waras biasanya ngakak denger ini pasti," perintah Azura yang diangguki Axel malas.


"Kemarin kan aku keseret ombak."


"Terus?" tanya Axel tidak mengerti.


"Ombaknya yang kuseret balik, hahaha!"


Axel menghela napas berat.


Innalillahi wa'inna ilaihi raji'un. Telah meninggal terseret ombak; kewarasan Azura.