Innocent Wife

Innocent Wife
eps 39~Ayo Kita Pulang!



Axel memandangi punggung Azura yang sedari tadi terus diam membelakanginya. Dia tahu perempuan itu tidak benar-benar tidur. Tapi, pria itu juga tidak punya cukup nyali untuk memanggil nama sang istri.


Setelah pertengkaran mereka seminggu yang lalu, perasaan bersalah terus meliputi Axel. Dia ingin meminta maaf atau paling tidak menghubungi perempuan itu. Tapi, wajag kecewa Azura malam itu mengusik perasaan malunya.


"Xel ... Papa sama Mama pulang dulu, ya? Nanti setelah sore atau nggak malem ke sini lagi. Yang baik-baik jagain istri kamu!" pamit sekaligus perintah Damian yang diangguki pria itu dengan patuh.


Setelah diberikan rentetan omelan panjang kali lebar kali tinggi sama dengan rumus volume dalam matematika, tetap saja setelah itu sikap Damian baik kembali padanya. Azura juga sepertinya tidak menceritakan kalau mereka tinggal terpisah selama beberapa hari ini.


"Zu, hadep sini! Aku tau kamu nggak tidur," panggil Axel pada akhirnya mengeluarkan sapaan pertamanya setelah sekitar satu jam-an duduk di sini.


"Aku lagi tidur, jadi nggak denger." Axel sebenarnya ingin tertawa mendengar kalimat perempuan itu. Tapi, ini bukan saat yang tepat.


"Aku mau minta maaf." Axel berucap gugup. Tapi, Azura malah tidak menanggapi kalimat suaminya sama sekali.


Perempuan itu malah menarik selimutnya hingga menutup seluruh kepala. Hal itu membuat Axel semakin merasa bersalah. Azura belum memaafkannya.


"Aku harus gimana biar kamu maafin aku?" tanya Axel lagi.


"Nggak ada. Lagian nggak marah kok," jawab perempuan itu santai.


Axel menghela napas berat. Bingung harus meminta maaf dengan cara apa. Biasanya, jika perempuan itu marah padanya, Axel memilih tidak ambil pusing dan mendiamkannya.


Tapi, kali ini dia tidak bisa seacuh itu. Karena memang dia yang salah. Axel sadar mulutnya kadang memang kerap melontarkan kalimat menyebalkan dan menyinggung perasaan.


Tidak tahu harus berbuat macam apa lagi, akhirnya Axel bangkit berdiri berniat menunggu di luar saja. Mungkin Azura risih karena kehadirannya.


Tapi, baru saja bangkit dan hendak berbalik, cekalan di jemarinya seketika membuat pria itu menoleh terkejut. Tangan Azura.


"Di sini aja," ucap perempuan itu lirih membuat Axel tidak bisa menahan senyumannya.


Pria itu duduk lagi. Kali ini, Axel lebih leluasa karena Azura berbaring sambil menghadap langit-langit ruang rawat. Hal itu seketika membuat Axel menyadari seberapa pucat wajah Azura juga pipi perempuan itu yang sedikit menirus.


Sejenak, Axel meringis. Apa karena dia, ya? Azura tidak bahagia ketika bersamanya sehingga berat badannya malah semakin berkurang. Bahkan, perempuan itu juga jatuh sakit sekarang.


"Kamu masih marah sama aku?" tanya Axel lagi pada Azura yang kini sibuk berbolak-balik risih meski tidak mengeluarkan suara.


"Enggak. Aku nggak pernah marah." Perempuan itu menjawab santai. Terdengar seolah jujur meski Axel tidak mempercayainya.


"Kalau nggak marah nggak mungkin kabur dari rumah, kan?" tanya Axel sambil terkekeh getir.


Azura menoleh sejenak, sebelum kemudian menghela napas berat. "Aku emang nggak marah kok. Aku kan cuma nggak enak aja jadi orang ketiga di antara kamu dan Kak Elyn."


Jawaban lirih Azura, seketika membuat Axel semakin merasa bersalah. Dia terus menuduh Azura berselingkuh dengan Galen di saat dia terang-terangan bermesraan di rumah mereka.


"Stok mie-ku di rumah masih ada nggak? Kamu nggak seduh, kan?" tanya Azura malah kembali ke topik kesukaannya.


Axel mendelik tidak suka. "Kamu nggak nanyain aku gitu?" tanya pria itu tidak habis pikir.


Azura berpikir sejenak sebelum kemudian menggeleng yakin. "Ngapain? Kan Kak Elyn setiap hari dateng ke rumah," jawab Azura santai membuat Axel melotot.


"Kok kamu tau?" tanya pria itu heran.


"Eum ... aku sewa rumah di deket rumah kita. Ya otomatis kalau mobil Kak Elyn lewat depan rumah pasti aku tau lah," jawab Azura santai.


Axel menggeram dalam hati. Tidak sempat berpikir bahwa Azura akan kabur di tempat yang dekat dari rumahnya.


Tanpa diduga, Azura malah meninju lengannya. Perempuan itu memandang Axel tajam.


"Kurang ajar banget kamu ini! Seenaknya ngomong kasar, seenaknya juga minta aku pulang," cerca Azura yang entah sejak kapan malah menangis terisak.


Hal itu membuat Axel kontan panik sendiri. "Lah kok nangis sih? Kan aku udah minta maaf, Zu. Jangan nangis dong! Kalau Papa Damian liat ntar aku diomelin lagi. Dianggep suami yang nggak becus lagi," panik Axel yang dibalas Azura dengan hantaman di lengannya lagi.


"Bodoamat! Mati aja sana! Kan udah kubilang jangan pernah lebih ngeselin dari ini! Aku nggak tau caranya marah sama orang menyebalkan kayak kamu." Perempuan itu terus berteriak sambil menangis. Meluapkan segala macam kekesalannya sampai kemudian terhenti karena Azura yang mengeluh pusing lagi.


Meski dipukuli, dimaki, bahkan diteriaki sedemikian rupa, tanpa sadar Axel malah tersenyum lega.


Begini saja sudah cukup baginya. Perempuan itu bahkan tidak perlu memberinya maaf. Cukup bersikap seperti biasanya, atau paling tidak berada di dekatnya, perasaan Axel saja sudah mampu berubah sebaik ini.


Sampai ketika Axel menyadari perempuan itu hampir memejamkan mata karena lelah atau mungkin memang mengantuk, pria itu segera menangkup jemari mungil sang istri.


"Oh iya, aku mau ralat omongan aku hari itu." Pria itu berucap serius.


Azura menoleh dengan wajah terlihat seolah bertanya 'apa?'


"Kamu nggak pernah nggak berarti apa-apa kok. Kamu ... bahkan sangat berharga lebih daripada yang kamu tahu."


Kalimat Axel tadi, seketika melunturkan segenap kecewa juga sakit hati yang selama ini membelenggunya. Hanya dengan pernyataan singkat pria itu saja, Azura merasa seluruh bebannya terangkat seketika.


Azura mencintai Axel begitu banyak. Sehingga untuk lebih lama pura-pura tidak peduli pada pria itu, terasa susah dan sesak.


***


Pagi ini, Azura sudah memasang senyum kelewat lebar di bibirnya yang masih pucat pasi. Sangat jauh berbeda dengan wajah Damian dan Axel yang menyorotnya tajam.


Oh ayolah! Anak kecil saja bisa bertahan lebih lama di rumah sakit. Tapi anak besar macam Azura, bahkan tidak bisa menahannya barang sehari.


"Udah puas sekarang? Masih mau nangis-nangis kayak bocil lagi?!" Damian bertanya sinis.


Azura yang tidak suka dengan tatapan sang papa, kontan mendengkus dan memalingkan wajah. Damian yang memang bucin tingkat dewa pada kedua putrinya, kontan segera mendekat dan memeluk Azura erat karena mengira perempuan itu merajuk.


"Aku kan nggak suka rumah sakit! Kalian ini mana ngerti perasaanku?" omel Azura membuat Axel menggeleng-geleng tidak mengerti.


"Awas aja kalau di rumah malah ngeluh kepalanya sakit lagi! Nggak kuurusin kamu!" ancam Axel membuat Damian melotot galak.


"Berani kamu nggak ngurus putriku?!" tanya pria itu murka membuat Axel menciut seketika.


Azura sampai di halaman rumah sakit diiringi nasihat Damian juga Anyelir. Sedangkan tubuhnya digendong Axel karena Azura yang keukeuh tidak ingin memakai kursi roda.


"Kak Elyn kemana ya, Xel? Kok dia nggak ngejengukin aku?" tanya Azura sedih begitu keduanya sudah berada di perjalanan pulang.


"Eum ... mungkin risih sama aku." Axel menjawab jujur.


Azura mengernyit bingung. "Loh, risih kenapa?" tanya perempuan itu tidak mengerti.


"Mungkin karena aku nolak dia waktu itu," jawab Axel santai.


Berbanding terbalik dengan wajah Azura yang sama sekali tidak santai.


Axel ... menolak Elynca? Ini Elynca loh!