Innocent Wife

Innocent Wife
eps 15~Kamu Begitu Menarik



Azura duduk di sofa pojok ruangan sambil terus menunduk canggung. Tadi, begitu Axel dan Galen bertemu, suaminya malah langsung pergi tanpa mendengarkan Azura sama sekali.


Masih menunggu Galen menyelesaikan urusannya, Azura justru sibuk memainkan kakinya sendiri. Dia bosan. Atau bisa juga disebut ... benar-benar bosan. Coba saja kalau ini di rumah. Pasti sekarang dia sudah rebahan atau makan mie instan.


"Capek nunggu saya, ya? Mau dibelikan sesuatu?" tanya pria itu begitu menoleh sejenak pada Azura.


Azura mendongak kemudian menggeleng keras. "Enggak kok, lanjut aja, Pak." Perempuan pendek itu menyahut sopan sambil menyunggingkan seulas senyuman.


Galen balik tersenyum dan mengangguk kemudian fokus pada laptopnya. Tak butuh waktu 5 menit, pria itu terlihat sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Okey, Nona Adisthy. Mari kita membahas kerjasama kita!" ajak Galen sambil duduk di kursi depan Azura.


Azura menegakkan tubuhnya yang sedari tadi bersandar dengan raut luar biasa bosan. "Jadi gimana? Naskahku beneran mau diterbitkan, kan?" tanya perempuan itu semangat dan penuh harap.


"Tentu saja, memangnya siapa yang akan menolak karya penulis besar sepertimu?" kekeh Galen geli. Seolah merasa lucu dengan pertanyaan perempuan pendek itu.


Azura melotot kaget. "Bapak ... tahu?" tanya perempuan itu memastikan.


"Tidak, saya lebih suka tempe." Galen menyahut canda yang dibalas Azura dengan dengkusan sebal.


"Bercanda bercanda. Maaf, Azura." Pria berkaca mata itu terkekeh geli lagi.


"Gimana Bapak bisa tahu kalau aku ini Writer Gaje sih?" tanya Azura tidak bisa menyembunyikan nada kecewa juga kesalnya.


"Eum ... rahasia. Tapi, saya bukan menerima naskah kamu karena kamu penulis terkenal kok. Awalnya saya memang menyukainya bahkan di blurb paragraf pertama. Dilihat dari sinopsisnya pun, bisa dipastikan karya ini bakal laku di pasaran."


Penjelasan panjang lebar Galen, tidak berhasil melunturkan raut cemberut juga kecewa dari wajah Azura. Hal itu membuat pria berkaca mata itu mengulum bibir pelan, mencoba mencari sesuatu yang bisa membuat perempuan di depannya senang.


"Kamu tidak mempercayai yang saya katakan?" tebak Galen sambil memandang Azura tidak enak hati.


Azura mendongak kemudian mengerjap. Berikutnya, perempuan itu menggeleng panik. "Enggak gitu! Aku percaya kok, Pak!" pertegas Azura cepat.


Galen tersenyum tipis. "Berarti kamu memang tidak percaya," kekeh pria itu sambil bersandar pada sandaran kursi.


"Bukan---"


"Mau menemaniku makan mie ayam?" tawar pria berkaca mata itu tiba-tiba memotong kalimat Azura sekaligus mengalihkan topik.


Azura melotot.


"Hah? Mie?!"


***


Galen terus memandangi Azura yang sibuk memakan mie instannya kelewat lahap. Pria itu bahkan memangku dagunya menghadap perempuan pendek itu.


"Enak banget, ya?" tanya pria itu sambil terkekeh geli.


Azura mendongak sebentar hanya untuk mengangguk kemudian fokus pada makanannya lagi. Perempuan itu bahkan tidak sadar ada noda bekas kuah mie instan menempel di pipi mulus dan putih pucatnya.


Hal tersebut membuat tangan Galen gatal dan akhirnya mengambil tissu. Tapi, baru saja akan mengelapkan pipi Azura, perempuan pendek itu sudah lebih dulu mendongak membuat Galen menjauhkan tangannya.


Galen mengangguk yang kontan diambil Azura cepat. "Terimakasih," ucapnya sambil tersenyum.


"Tau nggak? Si Axel bahkan nggak pernah beliin aku mie ayam selama ini. Dia cuma taunya mie instan rasa soto doang, emang aneh itu orang!" cerita Azura tanpa sadar membuat Galen semakin mendekatkan tubuh. Terlihat tertarik dengan topik pembicaraan Azura.


"Tapi dia tetap beliin kamu mie, kan?" tanya pria itu penasaran.


Azura mencebik sebal sebelum kemudian menyahut lagi, "iya, tapi katanya harus beresin rumah mana masak yang bener dulu. Tapi ... dia selalu protes sama hasil masakku! Padahal kan, dia juga yang ngajarinnya pake acara teriak. Ya aku mana ngerti kalau dibentak-bentak gitu, bawaannya pengen lelepin kepala jeleknya aja ke panci rebusan!" maki perempuan pendek itu panjang lebar.


Galen yang mendengar bahkan sedikit melongo saking fokusnya mendengarkan. Begitu Azura fokus memakan mie ayamnya lagi, pria itu tanpa sadar tersenyum geli.


"Axel ... masih sering ketemu sama kakak kamu kah?" tanya Galen lagi membuat Azura menghentikan kunyahannya.


Perempuan itu menyorot Galen menyelidik. "Pak Galen kenal sama Kak Elyn juga?" tanya Azura heran.


"Eum ... lumayan kenal lah. Saya juga tau kalau Axel suka dia," jawab pria berkaca mata itu jujur sambil menyeruput kopinya.


Azura menggigit bibir bawah gelisah. Terlihat berpikir apakah harus menceritakan yang sebenarnya pada orang yang baru ditemuinya ini atau tidak.


"Dia ... d-dia ... maksudnya, mereka nggak sering ketemu kok." Azura menjawab gugup sambil menunduk takut. Selama ini, dia tidak pernah terbiasa berbohong pada siapapun.


Tapi, tidak lucu sekali jika dia sebagai istri malah menceritakan suaminya yang berkencan dengan perempuan lain dengan gaya sesantai ini. Apa kata Galen bahkan orang tuanya jika mengetahui fakta bahwa Axel memang masih sangat mencintai kakaknya?


"Berhentilah berbohong jika memang tidak bisa, Nona Adisthy!" titah Galen disusul kekehan gelinya yang kesekian kali.


Azura mendongak kemudian ikut terkekeh kikuk. "Lagian ... aku emang seharusnya diem aja, hehe." Perempuan itu menggaruk pipinya yang tidak gatal sambil menyengir canggung karena ketahuan berbohong.


"Sejujurnya ... saya mengetahui banyak hal lebih daripada yang kamu bayangkan. Jadi, jangan mencoba menyembunyikan apapun lagi pada saya, Azura. Mulai sekarang, kamu bisa membagi apapun kepada saya tanpa terkecuali, saya berjanji kalau saya bisa sangat menjaga rahasia dan dapat dipercaya."


Kalimat panjang lebar Galen serta sebuah sentuhan di punggung tangan Azura, membuat perempuan itu merasakan sengatan aneh menjalari seluruh tubuhnya. Karena kaget, perempuan itu refleks menepis tangan Galen sambil memundurkan tubuh.


Matanya memandang Galen tidak mengerti. Mereka baru bertemu hari ini, kan? Tapi ... kenapa Azura merasa sudah sangat mengenal pria di depannya? Kenapa Galen begitu banyak mengetahui segala hal tentangnya?


Pria ini sebenarnya siapa?


"Saya tahu kamu sangat suka makan mie instan, tidak bisa memakan bubur, membenci laut, juga suka mengurung diri di kamar seharian tanpa bertemu siapapun." Galen mengabsen apa yang dia ketahui sambil tersenyum manis.


Saking manisnya, Azura sampai tidak mampu mengedipkan matanya barang sejenak. Oh ayolah! Siapapun pasti menyadari bahwa pria berkaca mata di depannya ini begitu tampan dan punya kharisma tersendiri.


"Jadi ... mari berteman, Azura! Kamu begitu menarik sampai saya tidak rela melepaskanmu untuk pria buta seperti Axel."


Azura meneguk ludah kasar. Kenapa dia merasa sedang diajak menikah sekarang? Siapapun, tolong sadarkan Azura dari pemikiran bodohnya ini!


"Aku ... a-aku kayak ngerasa kenal sama kamu. Kita udah ketemu sebelumnya, ya?" tanya Azura menebak kejanggalan perasaannya sedari tadi.


Tidak menjawab iya atau tidak, pria itu malah tersenyum semakin manis.


"Sudah mau pulang belum?" tanya pria itu malah mengalihkan topik.