
"Azuraaa! Bangun woi! Perempuan jadi-jadiaaan!"
DOR ... DOR ... DOR ....
Mungkin, Azura salah karena memasang alarm di ponselnya. Karena sebelum benda berlayar pipih itu sempat berbunyi dan membangunkannya, suara teriakan juga gedoran pintu dari Axel lebih pandai mengusik telinga.
Seperti kemarin, hari ini pun, perempuan itu 'ngesot' menuju pintu kamar. Begitu membukanya, wajah seolah berkata 'ini perempuan gila' dari Axel menyambut Azura sebagai sapaan selamat pagi.
"Selamat pagi, Orang jelek!" sapa Azura malas-malasan sekaligus tidak tahu diri.
Memangnya, lebih jelek mana dari dirinya yang masih mengenakan jaket abu serta celana trining berwarna senada? Lalu, apa kabar rambut kusut dan acak-acakannya dibandingkan wajah segar bugar Axel yang kelihatannya sudah mandi pagi dan berpakaian rapi?
"Udah mau jam 6. Sana siepin sarapan! Habis ini mandi juga, ya! Ini hari bersih-bersih satu rumah."
Belum hilang ngantuknya, sang suami sudah berbicara sepanjang rel kereta. Azura yang bahkan belum mampu membuka mata dengan sempurna, hanya mengangguk-angguk saja.
Tapi, tentu saja bukan Axel namanya kalau membiarkan Azura hidup dengan tenang dan damai setelah mengacaukan hari pernikahannya dengan Elynca. Pria itu kini malah menerobos masuk ke kamarnya dan berkacak pinggang heran.
"Kamu lagi di kamar apa tempat pembuangan sampah sih, Zura?!" tanya pria bermanik biru itu tidak habis pikir.
Azura merangkak ngesot lagi mendekati Axel. "Ya kamar," jawabnya santai sambil ngesot ke sudut kamar kemudian menarik handuk biru muda yang tergantung di sana.
Axel menghela napas berat. Sudah dia bilang kan, Azura itu titisan suster ngesot? Pagi-pagi begini, kakinya pasti belum berfungsi efek keliaran jadi suster ngesot semalaman.
"Kaki kamu potong aja sini! Ngapain ada kalau nggak bisa dipake berdiri," komentar Axel sambil memungut bekas snack yang entah didapatkan Azura darimana.
Tidak berniat menyahut sama sekali, perempuan itu justru merangkak lagi menuju kamar mandi. Kali ini, Axel membiarkan saja. Terlalu sibuk mengurusi kekacauan yang diperbuat Azura di kamarnya yang bahkan baru ditempati dua hari.
"Ya Ampun! Aku makin yakin dia itu perempuan jadi-jadian. Mana ada perempuan jorok gini? Kamarnya bahkan lebih kotor daripada kamar cowok," omel Axel sambil memungut bekas chiki juga botol minuman yang tercecer dimana-mana.
Begitu melihat koper perempuan itu yang sedikit terbuka, Axel dengan iseng mengintip isinya. Begitu membuka resleting koper biru muda itu, Axel terperangah takjub.
Isinya cuma beberapa sweeter rajut dan celana panjang berwarna hitam. Sedangkan di atasnya, ada begitu banyak snack juga minuman teh berbotol plastik yang entah darimana perempuan itu seludupkan.
"Lagu potong bebek angsa itu ... yang dipotong bebek atau angsa, ya?"
Gumaman ngawur Azura yang baru keluar dari kamar mandi, seketika menghentikan kegiatan mengintip Axel. Pria itu menoleh dan menemukan Azura berjalan santai dengan handuk pendek yang hanya mampu menutupi sebagian kecil tubuhnya.
Sejenak, Axel menahan napas melihat penampilan perempuan pendek itu. Setidaknya, sejorok atau seburuk apapun Azura di matanya, Axel tetap pria, kan?
Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh yang hanya terbalut sepotong handuk biru muda itu berhasil membuatnya canggung mendadak.
"Eh, masih di sini toh? Waaah ... kamarku dibersihin, makasih loh."
Entah Axel yang berlebihan, atau memang Azura yang sangat tidak pedulian. Tidak memikirkan fakta bahwa Axel adalah pria, perempuan itu dengan santainya melangkah melintasi Axel dan mengambil baju dalaman serta luarnya di koper.
Axel mencuri lihat ke arah Azura sekilas. Tapi, begitu punggung tanpa busananya tertangkap mata, pria itu mengalihkan pandangan lagi.
Sialnya, seolah tengah menggoda Axel, perempuan pendek itu dengan santainya memakai baju di hadapan pria itu.
"Heh kamu! Kalau ganti baju ya di kamar aja dong! Kamu mau goda aku? Nggak mempan tau!" maki Axel gelagapan sendiri.
Azura mengernyit heran kemudian memakai sweeter rajut berwarna biru mudanya lagi. "Ini kan emang lagi di kamarku," sahut perempuan itu santai membuat Axel semakin 'mati kutu'.
Sialan! Salahnya sendiri karena masuk ke kamar perempuan jorok dan tidak tahu tata krama memakai pakaian seperti Azura!
"Ck ... yaudah aku keluar dulu. Jangan lupa ke bawah ya setelah ini!" peringat Axel sambil berlari keluar kamar Azura.
Tapi, belum sampai ambang pintu, suara Azura mencegatnya lagi.
"Eh, Xel! Mau nanya," ucap Azura sambil memungut sampah bekas botol teh yang tadi dikumpulkan Axel di satu tempat.
"Apa?" tanya Axel yang diam-diam sedikit bernapas lega karena Azura sudah memakai bajunya dengan lengkap.
"Eum ... kalau teh botol dipindahin ke gelas, jadi teh gelas nggak, ya?"
Siapapun, bunuh saja Azura dari segala sikap bodohnya!
***
Azura berlari turun dari undakan tangga begitu teriakan Axel mencapai telinga. Dia tidak cukup lupa dengan pasal satu yang menyatakan mereka harus bersih-bersih rumah bersama selama 6 bulan ke depan.
"Lama banget sih! Ngapain dulu? Ngeringin ekor duyung?!" tanya Axel ngegas.
Axel terkekeh. "Oh, pantes. Kamar kamu kan kotor, banyak bekas makanannya. Jadi pasti dikerubungin banyak semut," sindir Axel tidak pakai akhlak.
Azura cemberut. Ingin menyanggah tapi memang benar. Karena bekas makanannya yang tercecer kemana-mana, jadi banyak semut yang mengerubungi sekitar tempat tidurnya. Bahkan, Azura juga sempat digigit semut merah beberapa kali. Menyebalkannya!
"Yaudah ayok, mulai bersih-bersih!" perintah Axel sambil mulai mengambil pel yang entah sejak kapan sudah ia sediakan.
Azura memandangi dengan wajah melongo. "Terus aku ngapain?" tanya perempuan itu bingung sendiri.
"Ya ngapain kek! Kan itu banyak kerjaan. Mau nyiram taneman kek, nyabutin rumput di belakang rumah lah, atau ngelap kaca jendela juga bisa. Gitu aja nggak tau. Kamu beneran perempuan bukan sih?"
Azura menghela napas jengah. Lagi-lagi identitasnya sebagai perempuan diragukan. Perempuan dengan sweeter biru muda itu berlari hendak menuju kaca jendela berniat mengelapnya kalau saja lantai yang licin tidak membuatnya tergelincir.
BRUGH ....
Tentu saja, tubuhnya terjatuh. Menyebalkannya, bukannya menolong, Axel malah tertawa ngakak. Tidak pakai akhlak sekali!
"Makannya kalau jalan tuh yang bener atau anggun dikit kek. Kamu beneran perempuan bukan sih?"
Bangkit berdiri dan berjalan menuju jendela kaca adalah pilihan terbaik daripada meladeni omelan sang suami. Azura mengambil penyemprot atau pembersih jendela sekalian lapnya yang entah sejak kapan juga sudah disiapkan Axel di atas meja dekat jendela.
"Yang bener ngelapnya! Kalau nggak sampai ke jendela paling atas, pakai kursi. Kamu kan pendek," tegur Axel lagi yang hanya dibalas Azura dengan anggukan pasrah.
Di saat Azura bahkan belum menyelesaikan satu bidang jendela, Axel sudah beralih merapikan sofa ruang tengah. Pria itu begitu lincah. Dalam hati, Azura terkikik geli. Pasti keren kalau Axel jadi pembantu. Lagipula, pekerjaannya cepat dan sangat bersih.
"Ngapain ketawa? Habisin itu kerjaanmu!" Sahutan ketus itu seketika membuyarkan lamunan Azura.
Perempuan itu cemberut kemudian mengelap kaca jendela lagi. Axel yang sudah menyelesaikan pekerjaannya dan mendapati Azura bahkan tidak mampu menangani sebuah jendela, kontan berjalan mendekat dan mengambil lap di tangan Azura.
"Ck ... lelet!" cerca pria tinggi itu sambil mendorong tubuh pendek Azura minggir.
Tak butuh waktu lama, dengan cepat serta bantuan lengannya yang panjang, jendela sudah kinclong mendadak. Azura membulatkan bibir takjub.
"Yeey ... sudah bersih! Sekarang, ayo ke pantai!" ajak Azura heboh.
Axel menoleh kemudian menggeleng keras. "Habis apanya?! Taman belakang rumah belum dibersihin, belum dicabut juga rumput liarnya." Axel mengingatkan tugas bersih-bersih yang lainnya.
Azura cemberut. Matanya menyorot deburan ombak yang jaraknya tidak sampai 100 meter dari rumah Axel dari kaca jendela. Sejak kemarin, dia sangat ingin pergi ke tempat itu. Tapi, karena tidak bisa berenang dan sebenarnya agak takut pantai, Azura jadi mengurungkan niat untuk pergi sendiri.
"Ayolah! Aku pengen pergi, temenin." Azura menarik-narik lengan Axel membuat Axel menepisnya kasar.
"Kalau dibilang enggak ya enggak! Lagian, aku lagi nggak mood ke pantai, mau rebahan aja." Axel menjawab sambil berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa.
Azura berlari dan ikut duduk di samping pria bermanik biru itu.
"Ayolah, Xel! Aku kasih jasa lawakan deh buat bayar jasa nemenin ke pantai," tawar Azura malah bernegosiasi.
Axel menoleh tertarik. Berhubung suasana hatinya sedang buruk, mendengar lelucon dari perempuan gagal di sampingnya sepertinya tidak buruk juga.
"Yaudah coba kasih aku lelucon! Kalau nggak lucu, awas aja!" ancam Axel yang dibalas senyum sumringah Azura.
"Nih ya, tebak ya! Ini lelucon tebak-tebakan," jelas Azura sambil mendekatkan tubuh pada Axel.
Axel berdehem singkat.
"Istri ada berapa?" tanya Azura semangat membuat Axel mengernyit bingung.
"Kamu ini bodoh apa gimana? Ya satu lah!" Axel menjawab ngegas.
"Salah!"
Axel menggaruk pipinya yang tak gatal. Lah salahnya di mana? Memangnya Azura pikir dia punya istri berapa?
"Nyerah nggak? Nyerah kan nebaknya?" tanya Azura yang diangguki Axel dengan setengah hati.
"Apa jawabannya jadinya?" tanya pria itu penasaran.
"Ya tiga dong! Kan istri. IsTRI! Tri (ditulis three) dalam bahasa inggris kan artinya 3. Kalau satu, namanya iswan (ditulis one). Hahaha ... lucu, kan? Udah cukup buat modal sewa jasa nemenin ke pantai belum?"
Di saat Azura sudah tertawa sampai matanya berair, Axel justru memandangi perempuan itu dengan wajah aneh.
Memang lucunya di bagian mana?