Innocent Wife

Innocent Wife
eps 23~Mencintai Seseorang Begitu Merepotkan



Hari ini, setelah mati-matian membujuk sang Papa agar diizinkan pulang, akhirnya Azura mendapatkan keinginannya. Perempuan itu diizinkan pulang ke rumah.


"Kamu yang anteng-anteng di rumah! Jangan nulis apalagi banyak ngerjain sesuatu dulu! Atau kamu pulang ke rumah Papa aja dulu kali, ya?" titah dan saran Damian membuat Anyelir menghantam perut sang suami dengan kepala cantiknya.


"Enak aja asal bawa-bawa Zura ke rumah! Menantu kita mau kamu kemanain? Dia pasti nggak suka lah, tinggal jauh-jauh sama istrinya!" omel Anyelir pada sang suami yang masih meringis nyeri akibat sundulan sang istri.


Azura dan Axel yang tengah sibuk menghabiskan buah yang dibawakan Elynca, hanya diam saja. Keduanya tampak acuh dan membiarkan kedua orang tua tersebut berdebat.


"Kamu beruntung amat, ya? Si Papa mana pernah jenguk aku kalau sakit, paling dia jenguk sebentar habis itu sibuk sama kerjaannya lagi," gumam Axel yang dibalas kekehan geli Azura dan Elynca.


Sejauh ini, hubungan Elynca, Azura dan Axel sudah membaik tentu saja. Hanya saja, Azura tahu suaminya masih begitu mencintai kakaknya tersebut tapi lebih memilih menutupinya.


Azura sendiri baru-baru ini mengetahui bahwa kakaknya malah menyukai pemilik perusahaan penerbitan yang kini jadi sahabat pria keduanya setelah Bobby di Lombok. Ketika Azura menanyakan perasaan Galen pada kakaknya, pria tampan itu malah bilang menyukai orang lain.


Mengingat semua itu, Azura menghela napas berat. Kenapa mencintai seseorang begitu merepotkan? Kenapa manusia tidak bisa memilih saja harus mencintai siapa? Kalau begitu kan, tidak akan jadi seribet sekarang.


Azura juga sadar dia menyukai Axel. Dan perempuan itu tidak suka menyadari fakta itu. Sebab itulah Azura selalu menutupi perasaannya dengan banyak makian dan kemarahan. Tapi, tetap saja kadang dia tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.


"Nah ... sudah! Ish kok imut sih?" gemas Elynca begitu selesai mengepang dua rambut adiknya.


Azura mengernyit risih begitu rambut panjangnya yang biasanya acak-acakan kini terasa wangi dan lembut karena diberikan minyak rambut. Kakaknya juga mengatur rambutnya sedemikian rupa sehingga jadi rapi dan terasa aneh bagi Azura.


"Tuh kan, kalau diiket dikit aja rambutmu jadi lumayan keren itu. Makannya yang rajin pakai sampo sama sisir rambutnya! Belajar juga kepang kayak gitu sama si Elynca," nasehat Axel dengan nada suara yang menyebalkan.


Azura memutar bola mata malas. Tapi, tangannya meraih ponsel Axel yang pria itu geletakkan di sisi ranjangnya sebagai cermin.


"Ponselku!" kesal Axel begitu Azura mengambil barang pribadinya tanpa izin.


"Pinjem bentar aelah! Cuma mau dipake ngaca juga," kesal Azura sambil membuka kunci ponsel tersebut dengan sekali usapan ke samping.


Begitu terbuka dan menemukan walpaper ponsel tersebut, Azura terpaku. Sebelum Elynca sempat meliriknya, perempuan itu mematikan ponsel Axel dan melemparnya pada sang pemilik lagi.


"Nggak jadi deh," jawab perempuan itu berikutnya memakan apel yang sudah dikupaskan Elynca sebelumnya.


Axel mengernyit heran dengan sifat plinplan perempuan itu. Membuka ponselnya guna mencari alasan perempuan itu malah tidak jadi meminjam ponselnya, berikutnya, Axel meringis canggung.


Foto Elynca.


Axel lupa mengganti foto walpaper depan ponselnya. Mengingat segala sikap bucin dan gilanya saat menyukai kakak istrinya tersebut, tanpa sadar Axel meringis malu. Entah kenapa, baru sekarang dia menyesal pernah berharap seberlebihan dan 'selebay' itu pada seseorang.


"Kok nggak jadi sih, Zu? Ayo liat dulu muka kamu! Sini, Xel, pinjem hp kamu!" pinta Elynca membuat Axel melotot terkejut.


"Ng-nggak bisa. Hp-ku tadi mati makannya Azura nggak jadi pinjem." Axel tentu saja refleks melayangkan alibi.


Elynca mengangguk-angguk mengerti. Perempuan dengan dress selutut berwarna hijau muda itu memilih mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya. Azura yang menyadari sang kakak membawa tas kontan merebut benda itu dan membukanya kelewat semangat.


"Zuraaa ... awas ya kalau kamu rusak peralatan make up kakak lagi!" ancam Elynca yang tidak dihiraukan perempuan pendek itu.


"Enggak kok, cuma mau cari recehan, hehe." Azura tersenyum cengengesan sambil terus membongkar isi tas kakaknya.


Begitu menemukan dua uang pecahan 50 ribu terselip di sana, perempuan itu tersenyum girang dan mengambilnya.


"Uwwu ... uangnya buatku dong. Lumayan buat beli mie," gumam Azura membuat Axel dan Elynca memutar bola mata malas.


"Kamu itu! Jangan makan mie terus lah, kasihan usus kamu!" omel Axel yang dibalas Azura dengan gendikan bahu acuh.


'Dasar istri durhaka!' maki Axel dalam hati.


Azura menoleh kemudian tersenyum cengengesan lagi. "Dikasih Galen, hehe."


Mendapati sahutan jujur Azura, wajah Elynca berubah murung. Padahal, dia lebih dulu mengenal pria yang sering Axel sebut mata empat itu. Tapi, kenapa Elynca malah mendapati pria yang dicintainya itu lebih sering pergi bersama Azura bahkan membelilan adiknya banyak hal?


Apa Galen menyukai Azura, ya?


"Aku sama Galen cuma sahabatan kok, Kak!" sahut Azura panik begitu mendapati wajah murung kakaknya.


Elynca menoleh kemudian tersenyum tipis. "Ya baguslah, dia pemilik penerbitan besar. Kamu cocok kok, punya kenalan kayak dia. Terlebih adekku ini kan, penulis terkenal," timpal Elynca sambil mengusap puncak kepala Azura.


"Aku beneran nggak akan suka dia kok," gumam Azura masih panik sendiri.


Axel terus memandangi interaksi kedua kakak beradik itu dalam diam. Tanpa sadar, dia sedikit menyukai cara mereka mencoba menjaga perasan satu sama lain.


"Udah ah, ngapain ngomongin si mata empat itu? Mending rebutin aku!" sela Axel yang dibalas lemparan tas selempang dari kedua perempuan di depannya.


Axel meringis sakit. Putri keluarga Narendra, apa memang selalu sekejam ini, ya?


***


"Seneng amat kayaknya pulang ke rumah," komentar Axel begitu melihat Azura tidak berhenti tersenyum memandangi kamarnya.


Atas segenap paksaan dan kerempongan Anyelir dan Damian, akhirnya Azura dan Axel terpaksa tinggal di sini---di rumah besar keluarga Narendra. Atau mungkin, bisa dibilang hanya Axel yang terpaksa. Karena raut wajah Azura bahkan terlalu cerah sejak di perjalanan tadi.


"Yaiyalah! Kamarku di rumahmu kan jelek, nggak ada apa-apanya lagi. Nyebelin amat emang," jawab sekaligus dumel Azura yang kini sudah berbaring telentang di kasurnya.


Axel meringis malu. Teringat akan kekejamannya karena tidak memberikan sang istri kamar yang layak selama ini.


"Kamarnya cuma satu, ya?" tanya Axel yang dibalas Azura dengan putaran bola mata malas.


"Ya kamu pikir berapa? Ya satulah! Lagian ini kan kamarku dulu," jawab Azura membuat Axel menghela napas berat.


Sepertinya, dia harus tidur di lantai malam ini. Mengingat dulu Axel membiarkan perempuan itu tidur di lantai juga di malam pertama mereka, pasti Azura akan melakukan hal yang sama juga padanya.


"Yaudah kalau gitu, tidur gih! Udah malem, pasti capek habis perjalanan jauh," suruh Axel yang tak butuh waktu lama dipatuhi Azura.


Tapi baru saja mengambil sebuah bantal dan berbalik hendak mencari tempat tidur yang lain, tangan Azura malah menahannya.


"Kamu mau tidur kemana?" tanya Azura heran.


"Ya di lantai lah, kamu pasti risih tidur berdua," jawab Axel mengingat selama ini mereka bahkan tidur di ruangan yang berbeda.


Tapi, Azura menahan tangannya lagi.


"Enggak papa, tidur di sini aja. Lagian ... tidur di lantai itu bikin punggung sakit, makannya aku kemarin buru-buru beli kasur, hehe."


Kalimat jujur dan polos Azura, tanpa sadar membuat Axel malu. Di saat dia memperlakukan perempuan itu tidak baik bahkan sejak malam pertama mereka menikah, kenapa Azura sekarang malah berlaku baik padanya?


Kenapa Axel baru menyadari bahwa dia memiliki istri yang begitu polos dan baik?


"Oh iya, tadinya aku mau bales dendam nyuruh kamu tidur di lantai aja kayak aku waktu itu. Tapi ... ntar aja deh, kita baikan aja dulu tiga hari. Lanjut berantem besok kalau udah pulang ke rumah kamu."


Dan sahutan tidak pakai akhlak Azura, seketika menghapus citra 'istri baik' perempuan itu.