
Sampai Anyelir dan Damian datang menemani Elynca bahkan Papanya yang beranjak pulang, Axel tidak berhasil menemukan batang hidung perempuan jadi-jadian itu. Tanpa sadar, pria itu merasa tidak tenang.
Raut gusarnya tentu saja dengan cepat ditangkap Anyelir. Kebetulan, keduanya tengah duduk di kursi ruang tunggu bersama. Membiarkan saja Elynca mendapat ceramah dari sang Papa di dalam.
"Kamu kenapa, Axel? Keliatannya gelisah gitu? Oh iya, si Zura mana? Kok nggak keliatan? Kamu udah kasih tau kalau Elynca sakit? Dia nggak mau ikut jenguk kakaknya ke sini gitu?"
Pertanyaan Anyelir bahkan terlalu banyak untuk bisa dicerna kepala. Axel sampai pusing mendengarnya.
"Tadi dia dateng sama aku, Ma. Tapi ... sampai sekarang nggak tau deh dia di mana," jawab Axel entah berhasil atau tidak menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan mama mertuanya.
Anyelir yang mendengar penuturan Axel, kontan melotot dan menyorot sang menantu marah. "Kamu tau dia ngilang tapi kok kamu diem aja?!" tanya perempuan itu ngegas.
Axel bahkan sedikit termundur saking kagetnya. Perempuan itu menyorot Axel murka. Seolah mengajak Azura ke rumah sakit adalah dosa maha besar yang sudah dia lakukan sepanjang hidupnya.
"Memangnya kenapa, Ma? Mungkin dia lagi jalan-jalan. Kalau udah selesai pasti balik ke sini kan?" tanya Axel memastikan.
"Tapi kalau dia hilang terus diculik suster ngesot gimana?"
Okey, bantu Axel menahan tawa. Karena pemikiran Anyelir rupanya sangat mirip dengan hayalannya. Dia juga sempat mengira perempuan itu diculik suster ngesot tadi.
"Kamu ini! Cepet cari si Zura sana kalau nggak mau diamuk sama Papa mertuamu!" perintah Anyelir yang kontan diangguki Axel cepat.
Melihat Damian mengamuk ketika sedang rapat membahas pekerjaan saja Axel pernah. Dan itu lumayan mengerikan. Sekarang, pria itu tidak berani membayangkan kalau seorang Damian Narendra akan mengamuk padanya dalam sudut pandang Papa mertua.
"Kalau gitu, aku kejar Zura dulu ya, Ma! Siapa tau dia malah udah berangkat pulang," pamit Axel sambil berdiri dan berlari.
Tapi, panggilan Anyelir terdengar lagi dari belakang. "Axel!"
"Apa, Ma?"
"Mending jadi anak kecil dulu, ya! Soalnya kalau anak kecil ngejar orang semisal jatuh mah yang sakit lutut, bukan hati."
Okey, skip! Sepertinya kewarasan Anyelir dan Azura sama-sama tipisnya.
***
Axel mengendarai mobil dengan kecepatan pelan. Pria itu terus memandangi sekitaran jalan juga trotoar sore ini yang nampak padat karena jam pulang kerja.
"Ck ... mana sih itu perempuan jadi-jadian? Seenggaknya kalau dia mau pulang ya ngasih tau dulu atau paling enggak minta dianter. Udah tau diri sendiri suka nyasar, sok-sok'an pulang sendiri!" cerca Axel pada orang yang sekarang entah sedang berada dimana.
Bisa dibayangkan seberapa penging kuping Azura saat perempuan itu berada di dekat Axel sekarang.
"Tapi ... salahku juga sih. Udah tau punya istri nggak ada isi kepala selain mie instan kayak gitu, malah ditinggalin. Pantes aja orangnya nyasar," gumam Axel lagi. Sedikit merasa bersalah.
Atau mungkin ... banyak sih.
Hari sudah gelap saat Axel akhirnya memilih berhenti di tepi jalan raya. Sudah pukul 7 malam tapi dia belum juga menemukan keberadaan Azura. Sebenarnya, perempuan itu kemana?
Baru saja akan bersandar pada sandaran kursi mobil, matanya malah menangkap keberadaan seorang perempuan pendek yang tengah duduk sambil mengayun-ayunkan kaki di halte Bus. Dari kejauhan, bentuk tubuh, pakaian, serta gerak-geriknya saja, Axel langsung mengetahui bahwa itu adalah Azura.
Axel menjalankan mobil dan memberhentikannya tepat di depan perempuan yang tengah duduk di halte tersebut. Begitu melihat dengan lebih seksama, ternyata memang benar-benar Azura.
Memangnya, siapa lagi perempuan yang punya pakaian hanya berupa sweeter rajut lengan panjang serta beberapa baju dalam? Entah perempuan itu memang tidak punya pakaian lain atau memang hanya menyukai baju seperti itu, yang jelas, Axel bahkan sampai hapal sweeter rajur warna apa saja yang Azura punya.
Begitu menemukan keberadaan Axel, Azura berdiri dengan wajah berbinar senang. "Axel! Kamu di sini?!" tanya perempuan itu heboh sekaligus terdengar sangat senang.
"Cepet masuk mobil sebelum kusleding kepala nggak punya isi kamu itu!" titah Axel datar.
Azura segera berlari dan masuk mobil.
***
Axel berpangku tangan sambil memandangi Azura yang tengah makan pop mie dengan lahap. Perempuan itu tampak menikmati. Seolah sudah tidak puasa 2 hari 2 malam.
"Apa enaknya sih mie instan?" tanya Axel entah untuk yang keberapa kalinya seminggu belakangan ini.
Azura menoleh kemudian menyengir lebar. "Ya enak aja gitu, hehe. Apalagi tadi habis jalan jauuuh banget, mana nyasar lagi, padahal pengen pulang."
Axel menjitak kening Azura tidak berperasaan begitu mendengar keluhan perempuan itu. "Ya siapa suruh sok-sok'an pulang tanpa ngasih tau dulu. Selain nyusahin diri sendiri, kamu juga nyusahin aku lah!" omel pria itu membuat Azura teringat alasannya memilih pulang sendiri.
"Kamu kenapa pulang sendiri sih? Kok nggak ngasih tau aku dulu?" tanya Axel penasaran.
Axel menoleh pada Axel sejenak sebelum kemudian cemberut lagi. Perempuan itu menyeruput kuah terakhir mie-nya sebelum kemudian membuangnya ke tong sampah dengan melempar.
Dan ... tentu saja tidak masuk. Kan sudah Axel bilang! Azura tidak pernah bisa melakukan apapun dengan benar kecuali untuk balapan makan mie instan.
"Ck ... pungut sampahnya cepet! Terus masukin ke tong sampah yang bener!" titah Axel galak.
Azura menghela berat tapi tetap menurut. Seperti biasa, Axel tetaplah Axel. Melihat sampah berceceran baginya sama dengan melihat Azura duduk tenang; sama-sama tidak bisa dibiarkan! Harus diganggu atau paling tidak disingkirkan.
"Jadi ... kenapa kamu pulang duluan?" tanya Axel lagi begitu Azura sudah membereskan bekas cup mie instannya.
"Aku sebenarnya cemburu sih."
Mendengar empat kata yang keluar dari mulut Azura dengan enteng, Axel yang semula anteng, malah melotot kaget. Pria itu menatap Azura tidak percaya.
Perempuan jadi-jadian itu ... cemburu? Maksudnya, Azura menyukainya?
"Kok ... k-kok kamu bisa cemburu?" tanya Axel gugup.
"Ya wajarlah aku cemburu! Tadi kamu suruh Papa beliin Elynca buah-buahan. Kok aku nggak dibeliin juga pas sakit kemarin?! Padahal kan, aku pengen makan apel."
Jawaban Azura, seketika mematahkan segala spekulasi Axel yang tersusun di kepala. Ternyata hanya karena apel? Wajah tampannya kalah saing cuma karena sebuah apel?!
"Kirain beneran cemburu sama aku," gumam Axel sewot. Merasa dibohongi pemikirannya sendiri.
"Eh, aku juga cemburu karena itu sih." Azura menyahut lagi.
"Maksudnya? Kamu cemburu sama aku?" tanya Axel memastikan lagi.
Azura mengangguk. "Iya, dulu Kak Elyn kalau sakit maunya disuapin sama aku doang. Kok sekarang dia mau-mau aja disuapin sama orang nyebelin kayak kamu sih?! Nggak adil ah!"
Okey, Axel berpikir untuk tidak mau mengerti arti kata cemburu lagi. Berbicara dengan Azura, sepertinya terlalu banyak mengundang emosi. Padahal kan, sedang tidak ada pesta.