Innocent Wife

Innocent Wife
eps 29~Naik Perahu atau Aku Cium?



Axel menatap belanjaan di tangannya juga di tangan Azura tidak habis pikir. Makanan sebanyak ini, siapa yang akan menghabiskan?! Perempuan ini mulai gila?!


"Makanan sebanyak ini siapa yang mau habisin, Zuraaa?" tanya Axel tidak mengerti.


"Ya kita! Memangnya siapa lagi?" tanya perempuan itu sambil mulai menjejerkan beraneka macam makanan itu di tikar kedua.


Ada begitu banyak makanan. Dari makanan ringan, makanan berat, sampai makanan aneh. Salah satu contoh makanan anehnya, tentu saja adalah makanan bernama 'pelecing kangkung' yang baru pertama kali Axel lihat.


"Ayo makan ayo!" ajak perempuan itu semangat begitu selesai menjejer makanannya.


Axel yang memang sedang lapar juga merasa tergugah dengan aneka macam makanan itu, kontan duduk dengan anteng. Keduanya duduk berhadadapan. Axel melirik Azura yang mulai mencomot satu cup mie yang sudah diseduh oleh pedagangnya sebelumnya.


Pria itu tanpa sadar menghela napas berat. Dalam hati terus memaki istrinya yang hari ini begitu menarik untuk dihujat. Kalau ujung-ujungnya makan mie instan, jadi buat apa perempuan itu membeli makanan sebanyak ini?


Memilih mengabaikan Azura agar dia tidak terus-terusan mencari topik hujatan, pria itu memilih ikut mencomot sebuah piring rotan dengan lapis daun pisang berisi pelecing kangkung---makanan yang ia sebut aneh sebelumnya.


"Dicoba deh itu! Enak tau nggak, Xel!" suruh Azura semangat. Masih sibuk dengan mie instannya yang kuahnya terciprat di pipi tembamnya.


Axel terkekeh sebentar. Baru menyadari bagian tubuh istrinya yang satu-satunya mengalami pertumbuhan. Pipi perempuan itu tentu saja.


"Pipi kamu makin gembul ya," komentar Axel membuat Azura menghentikan makannya.


"Aku gendutan berarti, ya?" tanya perempuan itu terlihat mulai panik.


Axel menggeleng. "Enggak juga sih."


Pria itu perlahan mencoba tauge dari makanan bernama pelecing itu. Azura yang menyadari cara makan suaminya yang salah, kontan memajukan tubuh dan mengaduk makanan tersebut hingga seluruh bahannya tercampur.


"Eh ... tangan kamu kotor itu!" kesal Axel menyadari Azura menyentuh makanan tanpa mencuci tangan.


Azura menghentikan kegiatannya kemudian memandang tangannya sebentar. Begitu tidak menemukan sesuatu yang salah, perempuan itu mengadukkan pelecing kangkung Axel lagi.


"Tanganku bersih kok, nggak pernah nerima uang suapan soalnya," sahut perempuan itu dengan menyebalkannya.


Baru saja akan memprotes lagi, suara Azura lebih dulu menyerobot dengan cerewet. "Ini tuh makanan khas Lombok. Namanya pelecing kangkung. Kalau mau dimakan ya harus dicampur dulu sama parutan kelapa, tauge, sekalian sambal 'bebero' '-nya," jelas Azura membuat Axel mengangguk-angguk mengerti.


Mengabaikan fakta tentang 'tangan kotor' Azura, Axel memilih mencoba makanan itu. Di suapan pertama, Axel yang pecinta pedas kontan langsung suka. Azura yang melihatnya tersenyum senang sambil terus memandangi Axel makan.


"Kamu mau juga? Apa perlu aku beliin lagi?" tanya Axel begitu menyadari sang istri terus memandanginya makan.


Azura menggeleng. "Mie instanku aja belum habis. Lagian ... aku beli itu emang sengaja buat kamu," jawab perempuan pendek itu.


Axel menahan dirinya untuk tidak tersenyum senang. Gengsi dong! Azura cuma membelikannya pelecing kangkung, bukan rumah mewah berlantai 4. Jadi, tidak perlu bereaksi berlebihan!


Begitu menghabiskan satu cup mie instannya, perempuan itu memilih berbaring menghadap langit. Axel yang melihatnya kontan mengernyit bingung.


Oh ayolah! Azura baru makan mie instan dan perempuan itu sudah rebahan dengan santainya. Lalu siapa yang akan segera menghabiskan ini semua?


"Kamu kok nggak makan yang lain? Kan tadi kamu yang beli ini semua?" tanya Axel tidak mengerti.


Perempuan itu menoleh kepada Axel sejenak sebelum kemudian memandang langit lagi. "Enggak ah, katanya tadi aku gendutan," jawab perempuan itu jujur. Wajahnya berubah cemberut.


"Aku kan cuma bilang pipi kamu yang gembul, bukan tubuh kamu. Jadi jauh beda lah!" sanggah Axel yang tidak berdampak banyak pada wajah cemberut Azura.


Kali ini, perempuan itu bangkit duduk lagi sambil memeluk lututnya dengan cebikan sebal. "Berarti aku jelek ya, kalau pipiku gembul?" tanya perempuan itu lagi. Terus menyalah artikan kalimat Axel.


"Enggak lah! Malah lucu lah, imut kalau perempuan tembem mah," sanggah Axel membuat Azura seketika melotot.


"I-imut?" perjelas perempuan itu sambil menangkup kedua pipinya yang perlahan terasa memanas.


Axel yang menyadari kalimatnya, kontan beranjak berdiri dengan gelagapan. Dia tidak bermaksud memuji Azura sebenarnya. Tapi kalimat itu refleks keluar dari mulutnya dan membuatnya malah malu sendiri sekarang.


"Mau naik perahu nggak?" tawar Axel cepat guna mengalihkan topik.


***


Azura terus bergelayut pada lengan Axel saking takutnya. Saat ini, keduanya tengah berjalan guna menaiki perahu yang sudah pria itu sewa untuk mereka berdua.


Tapi, karena Azura yang ternyata takut pada kepiting, akhirnya perempuan itu tidak bisa jauh-jauh dari Axel.


"Aaa ... kepitingnya lari ke sini, Axel! Kepitingnya lari!" heboh Azura sambil berlari menjauh.


Axel melirik pada kepiting-kepiting kecil yang perlahan berlari dan bersembunyi di balik pasir berlubang. Pria itu kontan menghela napas berat. Kenapa dengan hewan kecil ini Azura takut sedangkan pada pria sepertinya dia malah berani-berani saja?


"Mereka nggak akan nyapit kamu kok, Zu," sahut Axel menenangkan yang sayangnya tidak mampu meredakan ketakutan perempuan itu.


Sejenak, Axel menoleh pada supir perahu yang sudah menunggunya di jarak beberapa meter. Axel yang tidak enak ditunggu terlalu lama akhirnya segera menghampiri Azura.


Tanpa aba-aba, pria itu mengangkat tubuh sang istri dengan santai ke dalam gendongan. Pekikan Azura kontan semakin nyaring membuat beberapa pasang mata melirik ke arah keduanya penasaran.


Axel yang malu kontan menempelkan bibirnya pada bibir Azura. Tak butuh waktu lama, perempuan itu berubah anteng. Kalau tahu dengan begini saja perempuan itu bisa diam, kenapa tidak daritadi saja dia lakukan?


"Jangan terlalu ribut! Banyak yang merhatiin kita daritadi tau," tegur Axel dengan santainya masih terus berjalan sambil menggendong Azura.


Jangan tanyakan ekspresi Azura. Karena wajah perempuan itu bahkan sudah lebih tegang daripada siswa yang akan melaksanakan ujian nasional.


"A-aku sebenernya nggak berani naik perahu, takut jatuh. Kan nggak bisa berenang," jawab Azura akhirnya mampu mengendalikan diri.


"Mau naik perahu atau aku cium?" tanya Axel memberi pilihan yang sama sekali tidak menguntungkan bagi Azura.


"Yaudah deh naik perahu!" kesal Azura.


"Bagus! Tumben pinter," puji Axel santai.


"Kok istrinya digendong, Mas?" tanya supir perahu itu dengan senyum menggoda.


Azura yang malu kontan semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang Axel.


"Biasa lah, Mas. Pengantin baru, sukanya nempel mulu," jawab Axel dengan tidak pakai akhlaknya.