Innocent Wife

Innocent Wife
eps 31~Tetap Akan Pulang



Namanya Azura. Hobinya merepotkan orang.


Itu yang ada di pikiran Axel sekarang. Hari ini mereka sudah pulang ke rumah dan berada di Bandara hendak kembali ke rumah. Tapi, baru saja Axel meninggalkannya sebentar untuk membeli tissu, perempuan itu sudah menghilang entah kemana.


Entah harus menyalahkannya yang membiarkan perempuan itu duduk di bangku umum sendirian. Atau harus menyalahkan perempuan itu yang kakinya gatal dan tidak bisa untuk tidak tersesat.


"Kemana sih alien itu?! Udah pendek, kecil, tukang ngilang, gimana bisa cepet ketemu?!" decak Axel kesal di antara kerumunan orang-orang.


Matanya menelisik sekeliling tapi tidak berhasil menemukan batang hidung minimalis Azura. Seingatnya, dia meninggalkan perempuan itu di sini tadi. Tapi, perempuan itu bahkan sudah tidak ada dan hanya tersisa kopernya.


"Kalau Papa Damian sama Papa tau, bisa diamuk aku kalau kayak gini. Belum lagi si Mama Anye," gumam Axel panik begitu mengingat seberapa sayang ketiga orang tua tersebut pada perempuan pemalas itu.


Axel bahkan sampai menyimpulkan bahwa Papanya---Serafin, lebih menyayangi menantunya daripada anaknya sendiri.


Di saat sibuk mencari Azura, ponsel Axel justru berdering. Kontan pria itu mengangkat panggilan dengan setengah kesal.


"Siapa?" tanya pria itu datar dan singkat. Sedang tidak punya banyak waktu meladeni siapapun karena sibuk mencari sang istri.


Tapi, sahutan di seberang sana seketika membuat Axel terpaku di pijakannya.


"A-apa?! Elynca kecelakaan?" tanya Axel memperjelas pendengarannya.


Begitu menyadari orang di seberang sana malah mengiyakan kalimatnya, Axel menggigit bibir bawah gusar.


"Cepet kirim alamat rumah sakitnya! Axel ke sana sekarang juga," sahut pria jangkung itu kemudian segera menutup sambungan telepon.


Tanpa menoleh lagi pada Azura yang sudah berdiri di belakang tubuhnya, pria itu berlari keluar dari Bandara dan menghentikan Taksi. Azura yang mengejar sambil memanggilnya dari belakang bahkan tidak pria itu hiraukan.


Azura menghentakkan kaki kesal. Kenapa Axel malah melupakannya? Tadi dia tersesat dan mati-matian mencari pria itu. Tapi, begitu menemukan Axel, pria itu malah meninggalkannya lagi.


Apapun alasannya, seharusnya pria itu tidak melupakannya, kan?


Memilih kembali duduk di kursi tempat koper mereka semula, perempuan itu mengeluarkan ponsel dan menelepon satu-satunya orang yang menjadi sahabatnya di sini.


Dan bahkan, tidak butuh waktu lebih dari 30 detik untuk orang itu mengangkat panggilannya.


"Halo ... Galen." Azura memanggil dengan nada suara takut.


Bayangkan saja! Ini pertama kalinya dia berada di Bandara sendiri. Sebelumnya saat kembali dari rumah nenek ke sini saja, Damian menyuruh pengawal pribadinya untuk menemani Azura dari Lombok sampai ke rumah.


"Jemput aku di Bandara, aku nggak tau harus pulang kemana dan minta tolong ke siapa."


Sebenarnya, dia bisa meminta bantuan Damian atau Serafin. Tapi, meski telah ditinggalkan di Bandara begini, Azura tetap tidak mau melihat Axel dimarahi hanya karena meninggalkan istrinya sendiri di sini.


Pria itu, entah menggunakan sihir magis macam apa, selalu berhasil membuat Azura kehilangan alasam untuk membencinya. Apalagi semingguan ini Axel terus bersikap baik dan manis padanya.


Itu semua sudah berhasil membuat Azura buta. Abai pada fakta bahwa sebenarnya sang suami hanya mencintai Elynca---Kakaknya.


"Jemput aku lebih cepat, Galen. Moodku jadi buruk. Aku sangat pengen nangis sekarang," ucap Azura lagi.


Bahkan, sekarang dia ragu untuk membedakan apakah dia menangis karena takut berada di tempat ramai, atau marah karena ditinggalkan oleh Axel.


"Zura!"


Panggilan dari arah samping membuat perempuan pendek itu segera menoleh. Begitu menemukan keberadaan pria berkaca mata itu, Azura kontan bangkit berdiri dan menangis lagi.


Axel yang tidak mengerti alasan menangis perempuan itu, kontan berlari mendekat dan memeluk Azura menenangkan.


"Udah jangan nangis, ayo kita pulang!" ajak Galen sambil membawakan koper Azura sekaligus merangkul perempuan pendek itu menuju mobilnya.


Begitu masuk mobil, Galen memilih mengusap air mata perempuan itu yang tak kunjung berhenti mengalir kemudian menjalankan mobil. Galen yang beberapa saat kemudian mendapati perempuan itu sedikit tenang, akhirnya membuka suara.


"Kenapa Axel bisa ninggalin kamu sih? Nggak bertanggung jawab banget! Saya nggak suka pria kayak gitu. Lagi sama istri aja bisa lupa, apalagi kalau lagi sama orang lain."


Untuk pertama kalinya, Azura menyadari ada nada amarah dalam suara pria itu. Dan perasaannya terasa menghangat begitu menyadari bahwa Galen mengkhawatirkannya.


"Axel tadi permisi beli tissu, terus kelamaan balik akhirnya aku cari. Taunya malah aku yang tersesat. Eh pas ketemu dia, dianya malah nerima telepon penting habis itu lari ninggalin aku," cerita Azura sambil memainkan jemarinya.


Galen berpikir sejenak kemudian teringat sesuatu. "Oh iya, katanya sih Elynca kecelakaan. Jadi mungkin dia buru-buru liat keadaan kakak kamu," jelas Galen yang semakin membuat bahu Azura merosot kecewa.


Entah kenapa, lebih daripada kekhawatirannya pada kondisi Elynca, perasaan Azura justru semakin memburuk begitu mengetahui fakta itu. Lagi-lagi Elynca. Alasan utama Axel selalu mengecewakannya selama ini selalu saja kakaknya sendiri.


"Kamu sedih?" tanya Galen membuat Azura mendongak dan mengangguk kelewat jujur.


"Kayaknya ... aku terlanjur suka Axel."


Kalimat Azura seketika membuat Galen terpaku. Jadi ini alasannya ungakapan perasaannya waktu itu tidak dibalas perempuan itu sama sekali?


"Tapi, aku makin benci dia karena sadar aku makin suka dia. Padahal dia terus bersikap nyebelin dan kejam. Ini nggak bisa diterima akal sehat!" gumam Azura yang tanpa sadar terus membuat Galen menghela napas berat. Mencoba mengusir sesak atas pernyataan perempuan yang selama ini dicintainya.


Tiga bulan mengenal Azura sudah cukup membuat Galen jatuh hati pada adik Elynca tersebut. Rasanya menyebalkan saat menyadari bahwa Axel malah menemukan Azura lebih dulu darinya.


Galen tahu bahwa mencintai perempuan bersuami itu bukan hal yang benar. Tapi, semua hal itu ia benarkan setelah melihat bagaimana cara Axel memperlakukan Azura.


Dari cerita Azura saja, Galen sadar kalau perempuan itu perlahan mencintai suaminya. Tapi, tetap saja hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk terus mendapatkan hati perempuan itu.


Elynca mencintai Galen. Dia juga tahu hal itu. Tapi, Galen begitu mencintai Azura. Galen mencintai Azura karena dia Azura. Tidak peduli dia jauh lebih buruk dari Elynca, terserah meski dia istri Axel sekalipun.


Bahkan, ketika sekarang Azura terang-terangan menyatakan mencintai suaminya, Galen tetap mencintai perempuan itu.


"Mau jenguk Elynca ke rumah sakit?" tawar Galen mengalihkan topik.


Azura memandang jalan sejenak sebelum kemudian menunduk lagi.


"Kayaknya enggak, aku mau tidur aja. Anter aku pulang, Galen!" putus Azura final membuat Galen mengangguk mengerti.


Dia mengerti. Sebanyak apapun Axel menyakiti perempuan itu, Azura tetap akan pulang ke rumahnya;


Rumah Azura dan Axel.