
"Dia siapa, Pa?"
Axel terperangah begitu melihat pengantin perempuannya. Pertanyaan yang sedari tadi ditahannya, akhirnya keluar juga.
Pria itu memandangi perempuan cantik itu dari atas hingga bawah. Sangat jelas dia bukan Elynca. Dari postur tubuhnya saja, perempuan yang kini sudah resmi menjadi istrinya saat ini bahkan jauh dari kata tinggi.
"Dia anak Pak Damian, Axel. Memangnya siapa lagi?" jawab dan tanya Serafin---Papa Axel dengan senyum hangat.
Axel mengusap wajah frustasi. Masih tidak mengerti dengan segala yang terjadi saat ini. Sedari melaksanakan akad tadi, pria itu bahkan tidak mampu menerka alasan kehadiran perempuan asing di depannya.
"Anak Pak Damian kan Elynca, Pa! Dia siapa? Aku sama sekali enggak kenal," jawab Axel tidak habis pikir.
Serafin mengernyit bingung. "Loh ... masak enggak kenal sih? Dia kan putri bungsunya Pak Damian."
"Yang kutemuin itu Elynca, Pa! Elynca Narendra, bukan Azura Narendra," pertegas Axel yang dibalas helaan berat sang Papa.
"Sudahlah, Xel. Putri Pak Damian kan ada dua. Si Elynca sama Azura. Nah, istri kamu ini adiknya Elynca. Jadi ya enggak papa, sama-sama anaknya Pak Narendra juga kan?" tanya Serafin memberi pemahaman.
"Kan aku kira Papa jodohin aku sama Elynca, Pa! Kenapa malah jadi dia?" tanya Axel tidak terima.
"Papa sih enggak tau, tanya aja tuh sama istri kamu. Kalau Papa sih fine-fine aja kamu sama yang manapun, asal kamu bertanggung jawab. Karena dia putri Pak Narendra, Papa yakin mereka orang baik-baik dan cocok buat jadi istrimu."
Menepuk pundak Axel santai, pria tua itu memilih melenggang keluar. Membiarkan kedua pasangan yang sudah selesai dengan acara akad itu mendekam di kamar.
"A-anu ... maaf, ya. Kak Elynca bilang dia nggak mau nikah sama kamu, jadi dia kabur dari rumah."
Suara pertama yang keluar dari mulut Azura, membuat Axel melirik tajam. Sepersekian detik kemudian, memalingkan wajah dan berjalan keluar kamar.
Azura yang menyadari sikap acuh pria itu, mendengkus sebal. Tubuhnya yang masih terbalut gaun putih mewah yang terasa begitu berat, memilih duduk di pinggiran kasur yang banyak ditaburi mawar merah.
Mengabaikan sikap suaminya, perempuan itu justru menaikkan kaki dan memeluk lutut santai. Matanya menjelajah ke segala arah. Berikutnya, manik cokelat madu itu berbinar senang. Ruangan yang temaram dengan banyak hiasan bunga serta sangat wangi, membuat perempuan berambut hitam legam itu merasa nyaman.
"Jadi pengantin keren juga, ya. Kamarnya jadi bagus gini, kayak di kerajaan, hehe." Azura terkikik senang. Tidak menyadari kamarnya sebelumnya bahkan lebih besar dan indah dari ini.
Acara pernikahannya berlangsung sangat lama bagi Azura. Dia yang jarang keluar rumah selama ini jadi merasa lumayan pusing karena harus berinteraksi dengan banyak orang.
Beberapa orang bahkan begitu banyak bertanya. Tentu saja bukan tanpa alasan. Sejak SMA kelas 1, dia memang tidak tinggal bersama Damian dan Anyelir. Azura memilih tinggal bersama Neneknya di sebuah desa terpencil di Lombok karena sebuah alasan yang tak bisa perempuan itu ceritakan.
Setelah lulus SMA pun, Azura tak lantas ingin lekas pulang. Perempuan itu memilih diam di rumah Nenek Anin sambil bekerja sambilan sebagai penulis novel online. Sudah beberapa kali sang Mama, Papa bahkan Elynca membujuknya pulang tapi perempuan itu tidak pernah mau. Kalau saja berita tentang pernikahan sang kakak tidak sampai padanya, mungkin saat ini Azura tidak bakal berada di sini.
Sialnya, niat hati menyaksikan pernikahan sang kakak, dia malah jadi pengantin pengganti Elynca. Karena mengaku mencintai orang lain, perempuan yang jarak umurnya tak jauh dengan Azura itu memilih kabur dari rumah.
Mengingat rentetan kejadian mengejutkan hari ini, Azura menghela napas berat. Tanpa mengganti gaun yang lebarnya mengalahkan tubuh Bobby---temannya di Lombok yang gendut, perempuan itu berbaring telentang di kasur bertabur banyak kelopak mawar.
"Dikira aku juga mau jadi istrinya kali, ya? Dih ... aku juga mending tinggal di desa lagi daripada tinggal sama dia! Aku kan juga nggak kenal dia," dumel Azura sewot.
Merasa tersinggung dengan tatapan meremehkan juga 'tidak suka' Axel padanya. Kalau saja tahu akhirnya bakal seperti ini, dia juga lebih baik tidak kembali ke sini saja sekalian.
Sisi lain dirinya juga memaki Kakaknya---Elynca. Perempuan yang di mata Azura begitu tinggi itu, seharusnya tidak berbuat serendah ini, kan? Jika memang tidak ingin menikah dengan Axel, kenapa tidak bilang dari awal saja? Kalau begini, kasihan Mama dan Papa juga dirinya yang jadi korban.
"Minggir!"
Azura melirik seseorang yang berdiri di ujung kasur. Tapi, begitu mengetahui orang tersebut adalah Axel, perempuan itu semakin tidak peduli.
"Ngapain minggir? Ini kan kamarku," jawab Azura santai.
"Siapa yang bilang ini kamar kamu? Rumah ini milik Papaku, ya kamarnya udah pasti kamarku!" sanggah Axel kesal.
"Aku nggak peduli, aku cuma mau tidur." Azura menjawab santai kemudian menarik selimut membuat kelopak mawar di atasnya berhamburan.
Axel memandangi dengan wajah garang. Tapi, Azura bersikap seolah tidak peduli.
"Okey, kalau gitu, aku juga nggak peduli."
Tak berselang lama setelah pria bermanik biru jernih itu berucap, tubuh Azura serasa melayang di udara kemudian mendarat di benda yang lebih keras dari kasurnya.
"Heh! Kok aku diturunin ke bawah?!" tanya Azura ngegas.
"Aku nggak peduli, aku cuma mau tidur." Axel menirukan kalimat Azura. Tapi, di akhir kalimatnya, pria itu memberikan senyum menantangnya.
Azura memberengut sebal. Memandangi dengan perasaan kesal luar biasa pria bermanik biru jernih yang kini sudah berbaring tengkurap di ranjangnya tersebut.
Azura meraba alas tempatnya duduk. Karpet persia dengan bahan lumayan tebal. Terasa hangat meski tidak seempuk kasur di atasnya.
Akhirnya, dengan setengah hati, Azura berbaring di sana. Lihat saja besok! Azura akan memberikan pelajaran pada suami tidak pakai akhlaknya.
Selama Azura menulis atau membaca novel romance, tidak pernah perempuan itu menemukan perempuan yang tidur di lantai begini. Paling tidak, di sofa lah. Aish, suaminya memang tidak bisa disebut suami!
Karena gerah, Azura tidak bisa tidur hingga pukul 12 malam. Dengan merengut kesal, perempuan itu bangkit duduk. Tangannya mencoba meraih resleting gaun berniat membukanya. Setidaknya, tidur dengan tanktop serta celana legging lebih baik daripada gaun seperti ini.
"Ish! Kok susah sih?!" teriak Azura murka.
Suara teriakannya kontan membangunkan Axel. Pria itu merangkak dan menaruh dagunya di pundak Azura.
"Kamu kalau nggak bisa tidur, ya anteng aja dong! Nggak usah bikin orang lain nggak bisa tidur juga," peringat Axel dengan mata setengah terpejam.
Azura mendorong kepala Axel agar menjauh dari bahunya. Perempuan itu mendengkus sebal berikutnya memandang sang suami pasrah.
"Bukain bajuku dong!" pinta Azura memelas.
Axel yang tadi setengah mengantuk, seketika melotot. "A-apa?! Buka baju?" tanya Axel sambil meringis canggung.
"Iyaaa, resletingnya. Tolong bukain resletingnya, tanganku nggak sampai. Aku mau ganti baju, gerah." Azura mengeluh.
Wajah Axel berubah santai lagi begitu mengerti maksud Azura. Pria itu kontan menarik resleting di punggung sang istri dalam sekali tarikan.
"Tuh, udah." Axel menjawab acuh kemudian beralih berbaring lagi.
Azura segera melepaskan gaun yang melingkupi tubuhnya kemudian melempar benda itu ke sembarang arah. Tapi, baru saja akan terpejam, sahutan Axel terdengar lagi.
"Oh iya, aku cuma mau ngingetin sama kamu, 6 bulan lagi, kita pasti cerai kok. Jadi jangan berharap apapun sama pernikahan yang salah ini."
Azura memutar bola mata malas. Siapa juga yang berharap? Lagian, seharusnya pria itu berterima kasih padanya.
Kalau saja Azura tidak ingin menjadi pengantin pengganti kakaknya, 'pernikahan yang salah' ini juga akan berakhir memalukan dua keluarga, kan?