
"Ini apa, Pa?" tanya Axel dengan bodohnya begitu Damian meletakkan dua tiket bulan madu di telapak tangannya.
"Kira-kira apa?" tanya Damian sambil terkekeh geli.
"Enggaaak ... maksudnya, m-maksudnya buat apa?" tanya pria jangkung itu lagi.
"Ya buat bulan madu lah! Kalian pergi liburan, ya! Ke Lombok aja biar si Azura cepet mau ikut. Kamu nggak akan nolak, kan?" jawab sekaligus tanya Damian dengan nada suara yang membuat Axel takut bilang 'tidak'.
"Eum ... tergantung Si Zura sih, Pa. Kalau dia mau, ya enggak papa. Itung-itung liburan," jawab Axel sambil tersenyum cengengesan.
Hari ini, dia dan Azura sudah diizinkan pulang setelah menginap 3 hari 3 malam. Axel sampai tidak mengerti kenapa dia bisa sebetah ini di sini. Karena, meski tidak dipaksa pun, sepertinya dia bakal betah tinggal di sini meski sebulan sekalipun.
Lagipula, selain karena ada Elynca, Axel suka saja. Keluarga ini terasa hangat dan nyaman. Setiap pagi, siang, sore bahkan malam, tidak pernah sepi.
Axel bahkan tidak berpikir seorang Adisthy Anyelir Narendra---sang mama mertua, bakal jauh lebih absurd dan polos dari Azura. Perempuan yang kini tengah mengandung anak ketiganya tersebut, rupanya juga begitu manja dan gampang dibodohi. Kembaran Azura garis keras lah intinya.
Axel juga mengagumi sifat luar biasa sabar seorang Damian Narendra. Papa mertuanya tersebut bahkan sudah melampaui label 'suami hebat'. Pria itu luar biasa. Harus dihadapkan kebodohan istri dan anaknya juga kemanjaan ketiga perempuan di sana, bisa-bisanya dia tidak bisa marah?
"Zu ... Sayang ... sini bentar!" Damian memanggil yang kontan membuat Azura berlari mendekatinya.
"Apa, Pa? Mau ngasih mie instan buat oleh-oleh?" tanya Azura dengan percaya dirinya.
Damian menggeleng keras. "Nggak ada lah mie instan buat kamu lagi! Dari tiga hari yang lalu kamu udah makan banyak. Papa nggak mau tanggung jawab kalau sampai usus kamu bermasalah gara-gara makanan itu," omel Damian membuat Azura cemberut.
"Nggak asik ish!" cerca perempuan pendek itu sambil mengembungkan pipi sebal.
"Tuh denger! Nakal sih," ledek Axel menimpali membuat Azura melototinya tajam.
"Oh iya, Zu. Nih, kemarin kata Papa kamu, kamu mau pelihara kucing, kan? Kalau Mama kasih kamu rawat cucunya Almarhum Mama Dolly, kamu mau, nggak?" tawar Anyelir sambil menyodorkan kucing berwarna orange ke arah Azura.
Sejak dulu, Anyelir memang penyuka kucing. Dan kucing yang ia sebut sebagai 'Almarhum Mama Dolly' itu adalah kucing pertamanya bahkan sejak sebelum menikah dengan Damian. Sayangnya, beberapa tahun lalu kucing kesayangannya tersebut meninggal. Jadi, hanya tersisa anak-anaknya saja.
"Kalau dia mati karena aku yang rawat gimana, Ma?" tanya Azura dengan santainya membuat Anyelir melotot garang.
"Kalau dia sampai mati, awas aja!" ancam perempuan itu galak membuat Azura tidak jadi meraih kucing orange tersebut.
"Enggak jadi deh, aku takut rawat apapun. Soalnya, aku kan pemalas. Takutnya ntar malah nggak keurus dengan bener," jawab Azura jujur yang akhirnya diangguki Anyelir paham.
"Iya juga sih, Mama juga nggak yakin sama kamu." Anyelir menyahut membenarkan.
"Loh ... terus kasur kucingnya buat apa jadinya?" tanya Damian malah mengungkit masalah kasur tiga malam yang lalu.
"Kamu beli kasur buat kucing, Zu? Kenapa nggak ngasih buat Mama aja kalau gitu? Besok Mama ke rumah----"
"Ma, Pa, kami pulang dulu, ya? Zura lagi dikejar deadline nulis soalnya. Daaah!" pamit Azura buru-buru memotong kalimat Mamanya.
Perempuan itu menyalami punggung tangan Damian dan Anyelir kemudian menyeret Axel segera keluar rumah.
"Ingat! Jangan terlalu capek! Nanti kalau anemia kamu kambuh lagi, Papa nggak bakal izinin kamu nulis lagi!" peringat dan ancam Damian sambil berteriak pada pasangan suami istri yang sudah sampai teras itu.
Azura terus berjalan sambil mengangkat jempolnya pertanda mengiyakan.
"Jangan lupa juga kalau sempet, bawain kasur kucingnya!" Anyelir ikut-ikutan teriak.
"Nggak bisa, Ma! Udah kulelang buat beli mie instan!" sahut Azura asal kemudian masuk mobil.
Begitu mobil melaju keluar dari gerbang rumah besar Papanya, Azura dapat melihat Anyelir dan Damian masih melambaikan tangan ke arahnya lewat teras depan. Axel yang juga melihat itu, kontan terkekeh geli.
"Keluarga kamu lucu-lucu ya," gumam pria itu sambil fokus menyetir.
Axel memasang wajah meremehkan. "Hilih ... yang beli novel kamu pasti selera humornya anjlok semua. Dari awal kamu nyoba kasih lelucon, nggak pernah lucu tuh," komentar pria jangkung itu.
Azura membuang muka sambil bersedekap dada. "Lawakanku nggak bakal sampai buat orang yang otaknya ketinggian somobongnya soalnya," jawab perempuan itu balik menyindir.
Axel menggeram. Sejak kapan Azura jadi sedikit pintar membalas hinaannya begini?
"Jadi ... kamu mau ke Lombok besok, nggak?" tanya Axel memastikan.
"Ya mau dong! Sekalian ntar kita ketemu Nenek sama Bobby. Aku udah kangen banget sama mereka," jawab Azura semangat.
Axel mengernyit bingung. "Bobby siapa? Selingkuhan kamu di Lombok?" tanya pria bermanik biru itu enteng.
Azura mendelik sinis. "Aku nggak suka selingkuh, lagipula dia cuma sepupuku."
"Iya-iya, tahu deh. Kamu kan sukanya mie instan," sahur sekaligus sindir Axel lagi.
Kali ini, Azura tersenyum mengiyakan. Dasar otak mie!
***
Azura dan Axel baru saja membuka pintu utama rumah guna berangkat ke Lombok. Tapi, sebuah mobil yang juga baru saja terparkir di halaman rumah membuat keduanya menghentikan langkah.
Begitu pemiliknya keluar, Azura tersenyum sumringah. Merasa senang karena sahabatnya mengunjunginya.
"Eh ... Galen? Kok dateng nggak cerita-cerita sih? Ayok masuk!" ajak Azura semangat yang membuat Axel mendelik tidak setuju.
Pria itu memilih melepaskan koper di tangannya kemudian mendekati pria berkaca mata dengan jas biru dongker itu. Matanya menyorot Galen tidak bersahabat--mencoba menunjukkan isyarat ketidak sukaannya pada pria itu.
"Mau ngapain? Kalau nggak penting mending pulang aja! Aku sama Azura mau pergi liburan," tanya sekaligus jelas Axel datar.
Azura yang mendengar kalimat ketus pria itu, kontan menarik tubuh sang suami menjauh dari hadapan sahabatnya.
"Nggak usah dengerin dia! Ayo duduk dulu!" ajak Azura ramah membuat Galen tersenyum manis yang di mata Axel terlihat seolah tengah tebar pesona.
"Mau kubuatkan teh? Atau kopi?" tawar Azura yang dibalas gelengan Galen.
"Enggak, cuma mau mampir aja tadi. Awalnya mau ngajak kamu jalan sekalian mampir di kedai mie deket sini yang baru buka, tapi kayaknya nanti aja. Kamu mau pergi, kan?" jawab sekaligus tanya Galen tetap mempertahankan senyum menawannya.
Azura mengangguk dengan wajah sedikit menyesal. Mendengar kata mie membuatnya kehilangan sedikit semangat untuk liburan. Tapi, perempuan itu terlonjak kaget begitu merasakan sebuah rangkulan di pundaknya.
"Iya lah! Nanti aja, kapan-kapan. Kan nggak lucu kalau orang mikir kamu ini ganggu bulan madu orang," jawab Axel terkesan ngegas.
Azura mendelik kemudian mencoba melepaskan rangkulan Axel di punggungnya. Tapi, tidak bisa. Tangan suaminya terlalu kuat.
"Yaudah ya, Zu. Aku pamit dulu. Silakan nikmati liburannya!" Galen berdiri kemudian memberikan sebuah usapan lembut di puncak kepala Azura.
Azura tersenyum dan mengangguk tidak enak hati. Berbeda dengan wajah menahan kesal Axel yang seolah hendak menelan Galen bulat-bulat.
"Kamu ngapain gitu sih?! Malu tauk sama Galen!" kesal Azura begitu Galen sudah pergi yang dibalas angkatan bahu acuh Axel.
"Ayo berangkat! Makan mie sama selingkuhan nggak lebih keren daripada pergi liburan, kan?"
Meski mendengkus keras, Azura tetap masuk mobil. Sampai mobil perlahan melesat meninggalkan halaman rumah mereka, perasaan Azura membaik lagi.
Setidaknya, meski dengan orang tidak menyenangkan macam Axel, saat ini dia akan pergi bersenang-senang.