
Azura berputar-putar memandangi tubuhnya yang terbalut mini dress yang tingginya selutut. Tetapi karena orang pendek sepertinya yang memakai, malah jadi di bawah lutut.
"Ish ... nggak cocok, Xel! Baju ini nggak cocok sama sekali buatku," komentar Azura sambil berlari dan duduk di kasurnya lagi.
Axel mendekat kemudian memandangi tubuh sang istri lekat. Beberapa detik kemudian, pria itu mengulum senyum guna menahan tawa.
"Aku baru sadar kalau kamu nggak pendek," komentar Axel membuat Azura mendongak cepat. "Tapi, ternyata sangat pendek!" lanjut pria jangkung itu tidak pakai akhlak.
Azura menunduk lagi. Membiarkan saja Axel perlahan terbahak di sampingnya.
"Gimana bisa baju ukuran S gini masih kedodoran juga di tubuh kerempengmu? Kamu ini ada masalah apa sih, Zu? Kamu selalu kukasih makan banyak, kan? Kok nggak besar-besar juga?" tanya Axel tidak habis pikir.
Azura yang terlanjur badmood, kontan melayangkan tinjunya pada pinggang Axel tanpa mengalihkan pandangan. Axel meringis sakit.
"Udah ah, aku ngambek," kesal Azura kemudian beringsut naik ke kasur kemudian berbaring menyamping.
Axel yang melihat itu kontan duduk di dekat kaki perempuan itu. Tangannya menarik-narik lengan Azura jahil yang membuat perempuan itu justru semakin menggeram sebal.
"Zu ... masak ngambek, sih? Kita nggak jadi jalan-jalan jadinya nih?" tanya Axel yang dibalas Azura dengan tendangan kaki perempuan itu di perut Axel.
Axel meringis sakit lagi. Kali ini, malah giliran dia yang kesal sendiri.
"Jadi cewek itu yang kalem dikit dong! Dikira nendang suami berkali-kali itu sopan apa?!" omel Axel yang tidak ditanggapi Azura.
"Jadi cowok itu yang keren dikit dong! Dikira ngehujat istri berkali-kali itu sopan apa?!" Azura membolak-balikkan omongan sang suami.
Axel yang mengingat kalimatnya pagi tadi di pantai, seketika diam. Pria itu memilih duduk bersila di sisi kasur kemudian menarik lengan Azura hingga perempuan itu duduk lagi. Perempuan pendek itu kontan mendesah malas.
"Kita seharusnya nggak bertengkar, kan?" tanya Axel membuat Azura memutar bola mata malas.
"Seharusnya iya, tapi kamu selalu aja seneng cari objek perdebatan," rutuk Azura membuat Axel menggaruk tengkuk yang tak gatal canggung.
Tidak tahu kenapa, berbaikan dengan Azura barang sehari saja terasa begitu berat. Apalagi mulai sekarang sampai satu minggu ke depan mereka akan terus bersama.
"Yaudah deh, maaf. Ayo kita jalan-jalan! Kamu pasti udah rindu Lombok, kan?" ajak sekaligus tebak Axel mengalah. Memilih segera menghentikan perdebatan tidak penting ini.
"Enggak kok, aku lebih rindu Nenek."
Sahutan santai Azura, sebenarnya membuat Axel ingin menghujatnya lagi. Tapi, karena takut membuat mood perempuan itu berantakan dan mereka berakhir bertengkar lagi, Axel memilih mengangguk mengiyakan saja.
"Yasudah, terserah lah kamu lebih rindu siapa. Yang jelas sekarang aku rindu udara luar dan makanan," timpal pria jangkung itu sambil mengajak Azura keluar.
***
Azura tidak tahu kalau pantai senggigi pukul 4 sore malah seramai ini. Ada begitu banyak pedagang dan pengunjung yang berkeliaran di sini.
Pasir pantai yang putih bersih, beberapa perahu nelayan juga perahu sewaan yang mengangkut penumpang, juga lokasi berfoto yang strategis mungkin menjadi alasan tempat ini dikunjungi banyak orang. Azura yang sebelumnya agak takut laut, perlahan ikut menikmati suasana pantai yang nyaman dan sejuk.
"Kamu mau beli sesuatu?" tanya Axel membuar Azura menoleh sejenak. Mengalihkan pandangan dari sekitaran pantai yang tampak mempesona mata.
"Aku bingung mau beli apa, terlalu banyak pilihan, hehe." Azura terkekeh geli.
Axel yang melihat raut senang perempuan itu, tanpa sadar ikut menyunggingkan senyum. Dia lega karena pada akhirnya Azura menikmati liburan mereka meski sedikit.
Begitu mendapatkan pesanannya, pria itu membawanya dan segera berlari menyusul Azura yang tanpa sadar sudah berjalan beberapa meter di depannya. Karena sedang tidak ingin merepotkan dan membuat kesal perempuan itu, Axel membawa tiga tikar panjang itu dengan sukarela.
"Wah ... kok tikarnya banyak? Kenapa nggak sewa satu aja?" tanya Azura sambil mengerjap kaget.
Axel mengangkat bahu acuh. "Ya enggak papa, aku cuma nggak mau ada drama rebutan alas duduk," jawab Axel santai membuat Azura terkekeh geli.
"Iya juga sih, aku juga pas masih belum beli kasur, dulu pakai satu tikar malah keguling ke lantai. Jadi pakai dua tikar aja biar leluasa gerak," cerita Azura membuat Axel meringis malu.
Mengingat seberapa kejamnya dia memberikan putri bungsu keluarga Narendra tidur dengan hanya beralas tikar, membuat pria itu malu sendiri. Oleh karena itu sepulang Azura dari rumah sakit, perempuan itu sudah mendapatkan banyak perabotan baru di kamarnya. Lengkap termasuk dengan ranjang dan kasur empuknya.
"Maaf ya ... sejak awal pernikahan, kayaknya aku nggak pernah memperlakukan kamu dengan cukup baik," gumam Axel lirih yang membuat Azura tidak mampu mendengarnya dengan jelas.
"Apa?" tanya Azura tidak mendengar dengan jelas.
Axel menoleh sejenak sebelum kemudian mengalihkan pandangan. "Enggak. Cuma nanya kita mau gelar tikarnya dimana," jawab pria itu cepat.
"Cari tempat yang lebih sepi aja," saran Azura membuat Axel melotot terkejut.
"Mau ngapain di tempat sepi?!" tanya pria itu yang kepalanya sudah lari kemana-mana.
"Ya enggak papa, biar bisa leluasa aja gitu. Aku kan malu kalau di tempat ramai," sahut Azura santai membuat Axel semakin membulatkan matanya.
"Kita nggak akan ngapa-ngapain! Kamu jangan ngarep, kita ini cuma nikah kontrak loh!" peringat Axel malah salah paham sendiri.
"Yaah ... masak nggak ngapa-ngapain sih? Terus ngapain kamu ajak aku ke sini kalau nggak makan atau paling enggak tangkep bintang laut kek gitu," gumam Azura dengan wajah cemberutnya.
Axel yang mulai mengerti maksud Azura kontan membulatkan mulut mengerti. "Ooo ... maksudnya makan," gumam pria itu lirih.
Dia pikir apa tadi. Ya Ampun, kelamaan tinggal bersama Azura sepertinya membuat otaknya ikutan error juga!
"Ayo kita gelar tikarnya dulu, habis itu beli makanan apapun yang kamu mau!" ajak Axel membuat Azura semakin mengernyit heran.
"Tadi katanya nggak mau ngapa-ngapain," bingung Azura dengan sikap pilnplan suaminya.
Axel memalingkan wajah ke arah lain kemudian menggelar tikar di bawah sebuah pohon besar yang entah namanya apa.
"Aku berubah pikiran, kayaknya nggak seru kalau ngelakuin apapun. Kita kan lagi liburan," sanggah Axel yang diangguki Azura dengan bodohnya.
Begitu tikar sudah tergelar, Axel mengajak Azura membeli makanan di penjual yang tersebar dimana-mana. Sebelum pergi meninggalkan lokasi tikar mereka, Azura melompat-lompat. Mencoba menggapai daun yang tingginya lebih beberapa jengkal dari kepalanya.
Axel yang lelah melihatnya kontan memetikkan daun tersebut dan menyerahkannya di telapak tangan Azura. Ingin bilang 'makannya tumbuh tuh ke atas!' tapi takut malah tergolong hujatan.
Ingat! Mereka sedang berbaikan.
"Buat apa sih daunnya?" tanya Axel tidak mengerti.
"Buat kasih penanda di tikar kita, siapa tau ntar malah diaku orang, hehe." Azura tersenyum cengengesan.
Axel menghela napas berat. Memang siapa yang mau repot-repot mengaku tikar sewaan seperti itu?