
Axel baru saja akan pulang kerja saat menemukan sang Mama mertua berdiri di halaman kantornya. Kontan, pria itu mendekat dan menyapa ramah.
"Ma, kok di sini? Ngapain?" tanya Axel begitu menemukan Anyelir tengah jongkok di dekat parkiran bak gembel.
Melihat sang menantu yang sudah keluar kantornya, perempuan itu berdiri dengan senyum sumringah. Sejenak, Axel menghentikan langkah melihat senyum itu. Terasa begitu familiar.
"Axel! Waah ... akhirnya kamu keluar juga. Mama nungguin dari tadi tauk. Kamu ini lama banget ya, kerjanya. Sama tuh, kayak Mas Damian---Papa mertua kamu."
Lalu, begitu mendengar ocehan heboh perempuan yang tingginya hanya sebahu Axel tersebut, pria itu tersadar sesuatu. Mulai mengerti darimana sikap heboh, kekanakan, polos, berantakan dan tubuh pendek Azura berasal.
Bisa dibilang ... perempuan itu mewarisi seluruh sifat Mamanya. Menakjubkan sekali! Padahal yang wajahnya paling mirip dengan sang mama mertua adalah Elynca---orang yang selama ini terus mengisi sebagian besar hatinya.
"Mama nungguin aku? Memangnya ada urusan apa? Kalau emang mau ketemu, kenapa nggak langsung masuk aja?" Axel bertanya yang dibalas Anyelir dengan gelengan takut.
"Enggak ah, Axel. Papa mertuamu yang galak itu terus ngelarang Mama nemuin kamu. Padahal kan, Mama cuma mau nanyain keadaan Azura." Perempuan itu cemberut sambil memilin tali tas selempangnya.
Seketika, Axel menahan napas. Bisa-bisanya gerak-gerik bahkan cara cemberut istrinya sangat mirip dengan Anyelir. Ya memang sih, mereka itu anak dan anak. Tapi ... tetap saja terlihat aneh. Mereka terlihat seperti ... kembar?
"Mama boleh ikut ke rumah kami kalau mau," ucap Axel mencoba menyirnakan raut wajah muram perempuan yang bahkan tidak bisa disebut muda itu.
Anyelir mendongak kemudian tersenyum senang. "Boleh? Ayo!"
Axel segera mengangguk dan berjalan menuju mobil sebelum benar-benar gila. Entah kenapa, dari tadi, dia benar-benar merasa tengah berbicara dengan Azura.
"Axel, kok mobil kamu masih bersih?" Anyelir bertanya begitu Mama mertuanya tersebut sudah masuk ke mobil Axel.
Axel menoleh dari kaca spion. Mengernyit heran begitu sang mama mertua tampak menyelidik ke seluruh sisi mobil---seolah tengah mencari sesuatu.
"Nyari apa, Ma?" tanya Axel heran.
"Nyari sampah, Xel. Kok nggak ada, ya? Berarti Azura nggak pernah naik mobil lagi, ya? Biasanya kalau dia naik mobil, pasti adaa aja sampah yang dia jejelin di tempat-tempat sempit."
Mendengar cerita perempuan dengan dress merah muda selutut itu, Axel menghela napas berat. Tidak bisa membayangkan kalau Azura benar-benar melakukan hal itu.
Beginilah susahnya kalau perempuan jorok dan pria cinta kebersihan menjalin pernikahan. Ada begitu banyak ketimpangan. Termasuk dalam hal prinsip apalagi gaya hidup.
"Sifat jelek Azura apa lagi, Ma?" tanya Axel penasaran. Memilih mengetahui segala sifat buruk perempuan itu sejak awal agar besok-besok tidak terlalu kaget.
"Eum ... gimana ya, susah jelasinnya. Anak Mama yang satu itu agak nggak bener soalnya. Entah dia ngewarisin sifat siapa, ish ish ish!" omel Anyelir tidak sadar diri.
Padahal, siapapun yang melihat mereka, sudah pasti tahu sendiri Azura mewarisi sifat siapa. Siapa lagi kalau bukan Mamanya?
"Kalau gitu, ceritain masa lalu dia aja, Ma. Alasan kenapa dia nggak pernah muncul sebagai anak Papa Damian selama ini," pinta Axel mengalah.
"Azura itu putri bungsu Mama, Xel. Tapi, waktu semester 1 kelas 1 SMA, dia sempet hampir diperkosa temen cowoknya. Sejak itu, Zura nggak pernah fokus sekolah, nilainya anjlok, dia bahkan jadi lebih sering bolos. Padahal, pelaku yang hampir perkosa dia udah dihajar habis-habisan sama Papa mertua kamu waktu itu. Cowok itu juga sampai dikeluarin dari sekolah." Anyelir mulai bercerita panjang lebar.
Axel mendengarkan dalam diam sambil fokus menyetir. Mulai tertarik juga tidak percaya karena orang se'berantakan' Azura memiliki masa lalu tak kalah berantakannya.
"Puncaknya, waktu liburan sehabis ujian semester. Setelah ngambil raport, Azura minta izin buat tinggal di Lombok---tepatnya di rumah neneknya dan ngelanjutin sekolah di sana. Awalnya, Mas Damian yang paling nggak setuju. Tapi, emang pada dasarnya itu orang galak hatinya hello kitty kalau sama anak-anaknya, akhirnya dia ngizinin Azura buat tinggal sama neneknya di Lombok." Anyelir bercerita sambil mulai membongkar tas dan mengeluarkan permen beraroma kopi.
"Kami pikir, Azura mau balik dalam jangka waktu singkat. Tapi, sampai dia lulus SMA bahkan kakaknya ulang tahun ke sekian kali tanpa dia, itu anak nakal nggak mau balik juga. Coba aja kalau Elynca nggak ngancem nggak jadi nikah kalau dia nggak pulang, baru deh si Zura balik ke sini." Anyelir menuntaskan ceritanya dengan membuka permen beraroma kopi itu kemudian memasukkannya ke mulut.
Axel menggigit bibir bawah gusar. Setelah mendengar cerita dari Anyelir, Axel jadi menyesal sempat berlaku tidak buruk pada istrinya. Mungkin, sedikit bersikap baik dan berdamai dengan Azura tidak akan merusak kontrak perjanjian pernikahan mereka, kan?
Perjalanan pulang Axel diiringi dengan ocehan sepanjang rel kereta sang mama mertua juga gemercik hujan yang perlahan turun dan membasahi kaca jendela mobilnya.
"Rumah kalian jauh banget ya, Xel? Mama jadi ragu kalau Mas Damian mau nemenin Mama buat jengukin Azura sering-sering," gumam Anyelir dengan nada takjub.
Axel terkekeh. "Meski jauh, tapi pemandangan dan ketenangannya menjamin kok, Ma. Rumahku ada di depan. Di deket pantai," cerita Axel yang semakin menambah lebar senyum perempuan yang tak berhenti berdecak kagum itu.
Begitu sampai pekarangan rumah, Axel segera memarkirkan mobilnya. Hujan masih mengguyur deras. Jadi, sepertinya ia akan turun lebih dulu untuk mengambilkan Anyelir payung.
"Loh ... mau kemana, Xel? Jangan turun dong! Hujan itu," cegat Anyelir begitu melihat Axel mulai membuka pintu mobilnya.
"Mau ngambilin payung buat Mama," jawab Axel jujur.
Perempuan itu menggeleng tegas. "Nggak boleh hujan-hujanan. Ntar demam, biar Mama aja."
Berikutnya, perempuan pendek itu keluar dari mobil. Axel terperangah begitu dengan santainya sang Mama mertua malah sibuk bermain hujan.
"Waah ... udah lama ya, nggak main hujan. Seru juga," teriak Anyelir sambil merentangkan tangan menghadap langit.
Axel melongo. Anyelir beneran Mama mertuanya bukan sih? Kok kelakuannya bahkan lebih kekanakan dari anak SD?
"Bentar, Xel. Mama mintain kamu payung ke Azura dulu biar nggak kehujanan," ucap Anyelir yang diangguki Axel dengan pasrah.
Tapi, baru saja Anyelir berbalik, sosok perempuan yang sama pendeknya berlari dari samping rumah dan langsung melompat naik ke gendongan Anyelir.
"Mamaaa!"
"Eh, Zuraaaa!"
Okey, sudah Axel putuskan. Baginya, mereka berdua memang benar-benar kembar.