Innocent Wife

Innocent Wife
eps 35~Aku Terlalu Suka Dia



"Makan yang bener! Jadi anak baik biar cepet sehat!" peringat Azura begitu menyadari Galen sengaja memelankan kunyahannya.


Galen mendengkus kemudian mengunyah bubur ayam di depannya lagi dengan rakus. Azura terkekeh geli melihat ekspresi kesal pria itu.


"Coba kamu sini yang makan! Dikira bubur kayak gini itu enak apa?!" tanya Galen ngegas.


"Ya emang nggak enak, aku juga nggak suka bubur." Azura menjawab jujur.


Perempuan itu memilih menyelonjorkan kaki di sofa panjang sambil membuka ponselnya. Sekedar membalas beberapa komentar dari pembaca di novel online yang dipublish-nya.


"Ada rencana nerbitin novel kamu yang baru itu, nggak?" tanya Galen di sela makannya.


Azura berpikir sejenak sebelum kemudian menggeleng. "Ntar aja, mau kutamatin di platfrom dulu." Perempuan itu menjawab sambil tersenyum manis.


Membuat Galen yang melihatnya beberapa detik melongo kagum. Oh ayolah! Semakin sakit, Galen malah semakin menyukai Azura.


"Saya kira kamu bakal setres gara-gara mikirin Elynca yang ngambek. Taunya masih santai aja," kekeh Galen sedikit hapal dengan sikap perempuan itu.


Azura terlalu perasa dan tidak tegaan. Pembacanya bilang jangan hapus sebagian part untuk kepentingan penerbitan saja, kadang dia kabulkan kalau saja Galen tidak menegurnya. Meski pemalas dan bersikap banyakan bodoamatnya, perempuan itu justru sangat peduli pada setiap orang tanpa tahu cara menunjukkannya.


"Ya gimana ya ... lagian setelah dipikir-pikir, aku sama kamu kan cuma temenan. Masak dia nggak mau ngerti sih? Aku aja ngertiin dia tiap kali main sama Axel. Masak dia enggak mau ngerti juga sih?" jawab Azura logis.


Galen mengangguk-angguk paham. Sedikit senang dengan pola pikir Azura yang sebenarnya dewasa meski orang lain memandangnya kekanakan.


"Tapi ... aku tetep mau minta maaf deh. Mau ngejelasin juga, biar dia nggak salah paham terus sama aku. Lagian ... dia juga udah larang aku suka kamu sejak awal," jawab Azura lagi membuat Galen mendengkus kesal.


"Ngapain nggak suka saya? Emang suka orang harus dikasih izin sama kakakmu dulu?" tanya pria itu tidak habis pikir.


"Ya ... enggak sih. Tapi kan ... tapi kan Kak Elyn suka kamu. Masak aku suka sama gebetan kakak sendiri sih?! Lagian kan aku udah punya suami," jawab Azura membela diri.


"Tapi kan saya sukanya sama kamu! Gimana sih?!" kesal Galen enteng membuat Azura melotot kaget.


"Hah?" tanya perempuan itu mencoba memperjelas apa yang didengarnya.


"Kan sudah saya bilang saya suka sama kamu! Waktu kamu liburan ke Lombok juga saya udah ngomong gitu lewat chat. Kamu udah baca tapi nggak bales. Sekarang kamu udah denger, mau pura-pura nggak denger juga gitu?!"


Omelan Galen membuat Galen semakin memgernyit heran. Kapan pria itu mengirimkan pesan padanya?


"Kamu nggak pernah ngechat aku tuh. Bahkan chat kita yang lama udah kehapus. Nggak tau deh siapa yang hapus," jawab Azura jujur.


Seketika, Galen menoleh cepat. Matanya menyorot Azura menyelidik. Mencari kebohongan tapi tidak berhasil. Lagipula bagaimana bisa? Azura bahkan terlalu lugu untuk mengatakan kebohongan tidak berfaedah semacam itu.


"Berarti suami kamu yang baca," gumam Galen kesal.


Azura ber-oh ria kemudian kembali menggeser-geser layar ponselnya. Respon perempuan itu kontan membuat Galen semakin kesal.


"Kan sekarang kamu sudah tau kalau saya suka sama kamu. Terus respon kamu gimana?" tanya Galen tidak sabaran.


Azura menoleh polos. "Emang aku harus gimana?" tanya perempuan itu dengan bodohnya.


"Ya gimana kek gitu!" jawab Galen sebal.


"Ya nggak gimana-gimana. Kan aku nggak suka kamu," jawab Azura kelewat jujur.


Ketimbang patah hati, kenapa Galen sekarang ingin menggigit ponsel Azura saja saking kesalnya?


***


Axel berlari menuju ruang tengah karena mendengar suara bel tamu berbunyi. Pria yang hari ini pulang kerja lebih awal tersebut, segera membuka pintu. Mengira bahwa Azura yang pulang dan dia sudah menyiapkan sepaket omelan.


Oh ayolah! Ini sudah jam 7 malam dan perempuan itu bahkan belum pulang sejak Axel pulang tadi siang. Jika Damian sampai tahu, dia tidak berani membayangkan apakah perempuan itu masih dianggap anak.


Karena bagi papa mertuanya tersebut, anak perempuan pantang pulang malam dengan alasan apapun.


"Sebentaaar!" teriak Axel kesal karena bunyi bel terus berulang dengan tidak sabaran.


Tapi, begitu membuka pintu utama, seluruh omelan yang tertahan di ujung lidahnya malah tertelan seketika. Ternyata bukan Azura.


Dia Elynca.


"Loh ... Lyn? Mau ngapain? Kok malem-malem ke sini? Kamu nganterin Azura pulang, ya? Mana dia?" tanya Axel bingung mendapati perempuan itu berdiri di depan pintu rumahnya.


"Axel ... Azura di rumah Galen," adu perempuan itu dengan wajah pias---terlihat menahan tangis.


Mendengar penuturan Elynca, pria itu merapatkan bibirnya dengan rahang mengeras murka. Permintaan maaf yang sudah disiapkannya karena merasa bersalah sejak tadi siang, seketika menguap.


"Kenapa dia di situ?" tanya Axel dengan nada suara rendah dan datar.


"Galen sakit, jadi mungkin dia dateng ngejenguk." Elynca bercerita dengan wajah sedihnya.


Axel berpikir sejenak sebelum kemudian membuka pintu lebih lebar.


"Ayo masuk!"


***


Azura berlari dari jalan kecil agar segera sampai rumahnya. Entah karena apa, Azura malah ketiduran di sofa rumah Galen. Begitu bangun, hari sudah hampir gelap.


Jadilah sekarang Azura berlari tunggang langgang agar segera sampai rumah begini. Kalau tidak, bisa dipastikan mulut pedas Axel akan memakinya tanpa ampun.


"Astaga astaga! Udah jam berapa iniii?" rutuk perempuan itu sambil melirik ponsel di genggamannya.


Begitu sampai depan gerbang rumah, perempuan itu menghentikan larinya kemudian jongkok sejenak. Tangannya memegang perut bagian kanan yang terasa sakit sehabis berlari.


Tapi, begitu mendapati mobil yang sudah sangat dikenalnya terparkir di samping mobil Axel, perempuan itu bangkit berdiri. Manatap nomor plat nomor mobil itu, Azura semakin yakin bahwa itu adalah mobil yang dikenalnya.


Itu mobil kakaknya---Elynca.


***


Elynca mengayun-ayunkan kaki di teras belakang rumah Axel sambil memandang deburan ombak yang bahkan mampu terdengar dan terlihat dari sini. Beberapa pelita penerang di dekat sana juga menambah indah tempat yang selalu takut untuk Azura kunjungi ketika malam itu.


"Teh?" tawar Axel sambil menyodorkan secangkir teh ke hadapan Elynca.


Perempuan itu tersenyum kemudian menerimanya. Menyeruput sekali, perempuan itu memilih meletakkan gelas teh di sisi kanannya.


Axel ikut duduk di samping perempuan itu. Ikut memandang ombak pantai sambil mengayun-ayunkan kaki sama seperti Elynca.


"Xel." Elynca memanggil lirih.


"Hm?"


"Aku ... terlalu suka Galen. Saking sukanya, aku sampai egois dan pura-pura buta kalau dia malah terlalu suka sama Azura."


Axel terkekeh. Cinta ... apa memang selalu semerepotkan itu, ya? Tapi, pria itu sedikit aneh begitu menyadari tidak ada lagi perasaan sakit di hatinya saat Elynca membahas Galen untuk kesekian kali padanya.


Apa karena Axel sudah kebal, ya? Atau ... dia sudah tidak mencintai Elynca? Bahkan, sekarang Axel lebih sibuk memikirkan sedang apa Azura dan Galen di rumah pria itu.


Sungguh, jika sampai Axel mengetahui mereka melakukan sesuatu melewati batas, ia tidak akan memaafkan keduanya. Memikirkannya saja sudah berhasil membuat kepala Axel serasa ingin meledak sekarang.


"Kamu pasti lagi mikirin Azura, ya?" tebak Elynca membuat Axel segera menggeleng.


"Udaah ... nggak usah bohong sama aku mah. Aku sangat kenal kalian berdua. Azura adikku, dan kamu sahabatku sejak kecil."


Axel tetap tidak menanggapi ocehan Elynca tentu saja. Pria itu lebih memilih menyeruput tehnya lagi.


"Saran aku, jangan sampai telat sadar sesuatu." Elynca berucap ambigu.


"Maksudnya?" tanya Axel tidak mengerti.


"Enggak papa, lupain aja. Sekarang, aku boleh peluk kamu, nggak? Aku beneran lagi pengen bunuh Galen sekarang," ucap Elynca membuat Axel terkekeh geli kemudian membawa perempuan itu ke dalam dekapannya.


"Kayaknya udah 1000 kali kamu bilang mau bunuh dia, tapi nggak pernah jadi." Axel terkekeh geli sambil nenggetok-getok kepala perempuan itu yang masih berada dalam pelukannya.


"Argh ... udah kubilang aku terlalu suka dia!" rengek Elynca sambil semakin menenggelamkan kepala di dalam dekapan Axel.


Keduanya tidak sadar, Azura baru saja sampai teras belakang dan menyaksikan keduanya yang tengah berpelukan hangat. Karena takut mengganggu, akhirnya perempuan itu mundur dan berlari masuk kamar.


Dia tidak boleh mengganggu mereka. Azura tidak berhak atas suaminya.


ohh yah sekedar info mulai besok author hiatsu soalnya udah mau lebaran next lagi habis lebaran tapi kalau komentn & vote banyak auto semangat buat chapter nya


°°°minal aidin wal faizin°°°


°°°mohon maaf lahir & batin°°°


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏