
"Hachiiw ...."
"Hachiiw ...."
Axel memandangi dua perempuan di depannya ngeri. Setelah puas hujan-hujanan bersama, sekarang, mereka flu bersama juga.
"Ish, hidung Mama mampet! Mama balik dulu ya, Zura! Bisa gawat kalau sampai Papa kamu tau Mama main hujan apalagi nyamperin kamu ke sini. Ngamuk dia nanti," panik Anyelir sambil berdiri dan segera meraih tas selempangnya sebelum kemudian berlari keluar rumah.
"Ma, mau aku anter?" tanya Axel segera berlari mengejar sang mama mertua yang sudah sampai ambang pintu utama.
Anyelir menggeleng keras. "Nggak usah, Axel! Papa mertua kamu ntar makin curiga kalau Mama udah ke sini. Udaah, tenang aja. Mama udah telepon supir kok buat jemput ke sini, katanya juga udah sampai depan tadi."
Mendengar penuturan Anyelir, Axel menghela napas lega. Dalam diam, pria itu memandangi punggung sang mama mertua yang berlari keluar rumah. Beruntungnya hujan sudah reda. Kalau belum, mungkin sepasang anak dan Mama itu tidak akan berhenti bermain hujan.
Axel menggeleng tidak habis pikir. Mengingat bagaimana heboh dan senangnya Anyelir dan Azura mandi hujan tadi, seketika membuat Axel keheranan. Apalagi melihat punggung berbalut celana abu kedodoran dibalut sweeter rajut mocca milik Azura yang dipakai sang mama mertua, semakin membuat Axel merasa tidak percaya.
Demi apapun, dari belakang, Axel bahkan mungkin tidak bisa membedakan mana Anyelir dan mana Azura! Postur tubuh serta bentuk rambut mereka sangat sama.
"Hachiiw ...."
Mendengar suara bersin dari perempuan di dalam, Axel segera berjalan mendekat. Pria itu memandangi Azura lekat. Perempuan itu tampak memprihatinkan.
Dengan rambut masih setengah basah. Tubuh terbalut sweeter rajut lengan panjang berwarna merah muda. Serta hidung memerah juga mata berair.
"Makannya, jangan main hujan! Kayak anak kecil aja. Sakit kan jadinya," omel pria itu sambil berlalu ke lantai atas.
Azura menghela napas berat. Suaminya memang tidak berperikeistrian sama sekali. Masak istrinya sakit bukannya diberikan obat malah hanya diomeli?
Tapi, makian Azura yang sudah sampai di ujung lidah, seketika harus tertelan bulat-bulat saat seseorang menyampirkan jaket tebal dan hangat beserta selimut tak kalah tebal di pundaknya. Perempuan itu mendongak hanya demi menemukan wajah datar Axel yang menyorotnya sedikit ... cemas?
"Pakai ini!" titah Axel sambil berputar dan berdiri di hadapan Azura. Kemudian, pria itu berjongkok di hadapan istrinya yang duduk di sofa kemudian menaikkan resleting jaketnya hingga sebatas dagu.
Axel tidak bisa manahan kekehan gelinya saat menyadari tubuh pendek dan mungil perempuan itu malah tenggelam dengan jaketnya yang super besar. Azura menaikkan kakinya dan bersila di atas sofa sambil bersandar. Merasa nyaman sekaligus mengantuk karena rasa hangat yang melingkupi.
"Makasih," ucap perempuan itu serak.
Axel tidak menanggapi. Justru, pria itu malah menempelkan punggung tangannya pada kening Azura dengan wajah serius.
"Ck ... tuh kan, panas! Pusing nggak?" tanya pria jangkung itu serius.
Azura mengangguk saja. "Sedikit."
Axel menghela napas berat. Pria itu mengambil sebuah bantal di sofa dekat Azura dan meletakkannya di samping perempuan itu sambil memberi kode.
"Ayo baring!" paksa Axel tidak sabaran begitu perempuan itu malah tidak mengerti dengan isyaratnya.
Azura manut saja. Perempuan itu berbaring miring yang kontan membuat pandangan matanya bersibobok dengan manik biru Axel yang tengah jongkok memandangnya cemas.
"Ck ... ngerepotin aja kamu ini! Udah tau cuaca lagi nggak bagus akhir-akhir ini, malah sok-sok'an mandi hujan. Aku jadi ragu kalau di dalam kepalamu itu ada otaknya," maki Axel yang seketika membuat citra baik pria itu hilang seketika di kepala Azura. Kepala, yang isi otaknya diragukan pria menjengkelkan di depannya ini.
Azura yang semula berbaring anteng, kontan bangkit duduk lagi dan melepaskan selimut juga jaket yang dikenakan Axel untuknya.
"Kalau nggak mau minjemin jaket, ya nggak usah ngehina juga," ucap perempuan itu sambil berdiri dan melangkah menuju kamarnya meski dengan langkah sempoyongan.
Axel memandangi perempuan itu dengan alis terangkat sebelah. Baru tahu 'perempuan jadi-jadian'-nya rupanya bisa ngambek juga.
"Heh ... nggak usah 'baper' aelah! Baru dimaki dikit udah lembek," teriak Axel menggoda yang rupanya tak ditanggapi Azura.
"Woi, sini! Pakai jaketnya lagi! Udah tau sakit, sok-sok'an ngambek kayak perempuan beneran aja," panggil Axel lagi yang rupanya tidak pernah mampu mengontrol kalimat pedas yang keluar dari mulutnya.
Pria itu menggigit lidahnya. Mencoba menahan diri sekaligus berpikir kalimat apa yang pas agar perempuan itu mau menuruti ucapannya.
Oh ayolah! Jika perempuan itu sakit terlalu lama, siapa yang akan Axel kerjai besok pagi dan seterusnya?
"Zura, ayo kita makan mie!"
Dan ... berhasil.
Perempuan itu menghentikan langkah dan berbalik memandang Axel sumringah. Axel mencebik sebal. Kalau sudah urusan mie, perempuan itu dengan mudah malah 'manut' begitu saja.
"Tapi besok, kan aku nggak punya stok mie instan."
Lalu, Axel harus meringis kesakitan begitu sebuah sendal jepit biru muda mendarat di kepalanya dengan tidak pakai akhlak.
Sandal Azura.
***
Axel berbaring telentang di kasur king size-nya. Sudah pukul 12 malam. Tapi, pria itu tidak bisa tidur karena sedang gelisah.
Jujur saja, dia mengkhawatirkan Azura. Perempuan jadi-jadian itu tidak berhenti bersin sedari tadi. Beberapa kali juga Axel mendengar grasak-grusuk entah apa di kamar Azura. Entah dia tengah melakukan apa.
Mengingat kamar yang diberikannya juga kondisi Azura, membuat Axel merasa bersalah. Istrinya sedang sakit dan dia malah dengan santai tidur di kamarnya.
"Hachiiw ...."
Karena tidak tahan untuk tidak mengecek ke kamar perempuan itu, Axel segera bangkit dan berjalan menuju kamar perempuan itu. Tak butuh waktu lama untuk ia membuka pintunya dengan terburu-buru.
Lalu, begitu pintu terbuka lebar, hal pertama yang dilakukan Axel adalah melongo kaget.
"Kalau mau masuk ke kamar orang itu ya ketuk pintu dulu! Nggak sopan kamu ini," omel Azura dengan santainya.
Axel merapatkan bibir. Mencoba menahan makian agar tertelan hingga usus halus. Melihat Azura yang tengah duduk di dalam kopernya juga isi koper perempuan itu yang dibiarkan terjejal di sudut kamar, sudah berhasil membuatnya berpikir istrinya kehilangan kewarasan.
"Kamu ngapain, Azura?" tanya Axel mencoba santai.
"Ya duduk," jawab perempuan itu seadanya sambil menarik ujung baju untuk dialih fungsikan menjadi tissu.
"Kenapa duduknya di atas koper? Kamu ini ada masalah hidup apa sih?" tanya Axel akhirnya tidak bisa menahan nada tidak santainya.
Azura yang menyadari alasan kekagetan Axel, kemudian turun dari dalam koper dan beralih duduk di tikar alas tidurnya.
"Ya gitu deh, lagian dingin. Jadi masuk ke dalam koper aja biar agak hangat," jawab perempuan itu jujur.
Hal tersebut membuat sudut hati Axel merasa semakin bersalah. Bisa-bisanya dia membiarkan anak seorang Damian Narendra tidur beralas tikar plastik begini?
Jika saja Anyelir melihat kamar yang diberikan sang menantu untuk anak kesayangannya, apa kabar Axel sekarang?
"Eh ... mau ngapain?!" pekik Azura begitu tanpa aba-aba, Axel malah mendekat dan mengangkat tubuhnya ke dalam gendongan.
"Udah, diem aja! Malam ini, tidur di kamarku," putus Axel final.